
'Zraaaatt! Sraaashh! Swuuooosshh!!'
'Blaaaaarrr! Blaaaarrr!!'
Dari balik salah satu ruangan di dalam goa ini, dapat terdengar suara yang cukup beragam.
Sesekali, teriakan pria dewasa dapat terdengar. Setelah itu, suara batu yang hancur juga dapat terdengar.
Tak terbatas di sana, suara dari kobaran api seakan-akan telah menjadi suara yang umum terjadi di dalam goa ini.
"Bo-Bos! A-apa yang sebaiknya kita lakukan?!"
"Bos! ini buruk! Puluhan anggota kita telah terbunuh!"
'Braaakk!!!'
Tiba-tiba, seseorang terlihat membuka pintu di ruangan ini.
"Bos! Tolong a...."
'Jleebb! Braaakk!'
Dari balik bandit itu, sosok seorang bocah laki-laki dengan pakaian rapi di balik jubah hitamnya nampak berdiri dengan tenang.
Tangan kirinya terlihat membawa sebuah pisau yang berlumuran dengan darah.
"Hah.... Pisau benar-benar merepotkan. Jangkauannya pendek, beratnya yang ringan juga membuatnya tak bisa memberikan luka dalam, terlebih lagi sangat rapuh.
Kau pikir berapa banyak pisau yang telah patah di tanganku dalam setengah jam ini?" tanya Lucius sambil memberikan tatapan yang tajam pada seorang pria di ujung ruangan ini.
Pria itu terlihat mengenakan zirah kulit yang dilapisi bulu serigala yang cukup tebal. Tubuhnya terlihat begitu terlatih, juga memiliki Mana dalam jumlah yang cukup besar.
"Bo-Bos! Tolong kami!" teriak para bandit lain sambil memohon kepada pria berziarah kulit itu.
"Hoo, tak ku sangka bocah sepertimu bisa sekuat itu. Biar ku tebak, kau bangsawan?" tanya bos bandit itu sambil duduk di atas peti harta.
Di sekelilingnya, terdapat cukup banyak koin emas dan barang rampasan yang berserakan dimana-mana. Mulai dari perhiasan, pedang, perisai, makanan hingga pakaian.
Semuanya tersimpan di ruangan ini.
Jika dijumlah keseluruhannya, semua harta di ruangan ini bernilai lebih dari 10 ribu koin emas.
"Jadi kau bosnya?" tanya Lucius setelah membunuh beberapa bandit yang tersisa di ruangan ini dengan cepat.
"Menarik.... Bangsawan benar-benar menarik. Tapi apakah kau tak tahu siapa yang kau hadapi? Irving si keji. Membunuh lawan adalah...."
Tiba-tiba, mulut bos bandit itu berhenti bergerak. Tentu saja. Karena saat ini, pisau di tangan kiri Lucius telah berada tepat di depan wajahnya.
Meski begitu, tangan Lucius juga berhenti sesaat sebelum menusukkannya. Itu karena di depan dadanya telah terdapat sebuah pedang melengkung yang siap untuk menebasnya.
"Menarik. Benar-benar menarik." ucap Irving sambil tersenyum lebar.
Lucius di sisi lain yang telah cukup terbiasa melawan banyak monster masih saja terkejut. Terhadap refleks yang mengerikan dari bos bandit bernama Irving itu.
'Jika aku tak berhenti, aku akan terluka cukup parah oleh pedang itu. Orang ini.... Tak seperti bandit-bandit yang lainnya.' pikir Lucius dalam hatinya.
'Swuushh! Braaakk!!'
Dengan cepat, bandit itu menggunakan pedang di tangan kanannya sebagai pengecoh. Membuat Lucius memfokuskan pertahanannya disana.
Tapi pada kenyataannya, serangan yang sebenarnya berasal dari tendangan memutar kaki kirinya. Melemparkan tubuh Lucius sejauh beberapa meter ke samping.
"Responmu lumayan. Fisik mu juga kuat. Tapi sayangnya, teknikmu benar-benar lemah. Melihat responmu barusan, ku tebak kau baru mulai bertarung sungguhan kurang dari setahun ini." ucap Irving sambil meremas jari jemarinya sendiri. Membunyikan beberapa tulangnya.
'Kuat.... Orang ini kuat. Kalau begitu....'
Dengan cepat, Lucius bangkit dan mengangkat tangan kirinya. Bersiap untuk melawan dengan menggunakan pisau itu.
'Swuusshh! Klaaangg!! Klaaangg!!!'
Pertarungan antara keduanya terlihat begitu cepat dan juga sengit.
Di satu sisi, Lucius berhasil mengungguli Irving murni dengan kekuatan fisik dan juga kecepatannya yang telah ditingkatkan dengan Overflow.
Tapi di sisi lain, Irving dengan pengalaman dan tekniknya yang telah disempurnakan mampu menahan seluruh serangan Lucius dengan mudah.
"Ada apa ini? Kau panik dan berusaha mengalahkan ku hanya dengan kekuatan fisik saja? Sadari lah kalau itu mustahil!" teriak Irving sambil mengayunkan pedangnya dengan kuat.
'Zraaaaatt!'
Tebasannya seakan-akan membelah udara itu sendiri. Dan dari jalur tebasannya, terdapat tekanan udara yang kuat hingga membelah dinding di kejauhan.
"Hah.... Kau benar-benar kuat. Aku hampir saja terbelah barusan." ujar Lucius yang kini mulai membuat kuda-kuda untuk bertahan.
"Hoo, kau menyadarinya? Barusan adalah tebasan angin andalanku. Sudah puluhan ksatria kerajaan yang menjadi korban dari serangan barusan." balas Irving masih dengan wajah sombongnya.
Ia melihat sosok Lucius sebagai lawan yang kuat. Tapi kemenangan sudah jelas di mata Irving.
Itulah kenapa Ia bisa bersikap santai.
"Kalau begitu, temani aku sedikit lebih lama lagi." balas Lucius yang segera berlari ke depan. Bersiap untuk sekali lagi menyerang Irving.
'Klaaangg! Swuussh! Sraaashh! Klaaangg!!'
Serangan cepat dan bertubi-tubi dari Lucius seperti sebuah serangan yang lambat di mata Irving.
Tak peduli seberapa tinggi kekuatan fisik Lucius, Irving mampu mengimbangi bahkan melebihinya dengan tekniknya.
Di sisi lain, Lucius sendiri tertekan oleh tebasan angin milik Irving yang selalu digunakan di saat-saat yang tak terduga.
Sama seperti saat ini.
Saat Lucius berpikir Irving hanya akan memberikan tebasan pedang biasa yang bisa ditangkis oleh pisaunya....
Tapi pada kenyataannya, Irving menggunakan tebasan angin itu.
'Zraaaaassshh! Krettaakkk!!!'
Lucius yang terkejut hampir saja gagal untuk menghindarinya. Tapi Ia berhasil melompat ke samping dengan cepat dan selamat dari maut.
"Hahaha! Bocah! Kau benar-benar kuat! Sangat kuat hingga aku ingin menjadikanmu sebagai bawahanku!" teriak Irving sambil tertawa puas.
"Jangan pernah bermimpi." balas Lucius yang kini mulai menjaga jarak.
Pertarungan antara keduanya telah berlangsung selama hampir 20 menit. Pertukaran pukulan, tendangan dan tebasan itu kini sedikit mereda untuk keduanya mengatur nafas.
"Begitu kah? Sayang sekali. Kalau begitu aku akan membunuhmu." balas Irving, kini dengan tatapan yang begitu serius.
"Hah? Apa maksudmu?"
"Kau tahu? Sedari tadi, aku sama sekali tak serius."
Lucius terkejut mendengar perkataan Irving. Dan benar saja. Kini Lucius dapat melihat pergerakan Mana yang tersebar di sekujur tubuh Irving. Memperkuat fisiknya secara drastis.
"Ka-kau...."
"Hahahaha! Takut lah! Karena kini, aku takkan segan-segan untuk.... Hah? Kenapa kau tertawa?" tanya Irving penasaran.
"Hahaha.... Tidak. Hanya saja...."
Saat itu lah, Irving baru tersadar atas apa yang sebenarnya di hadapinya sedari tadi.
Lucius terlihat membuang pisau di tangan kirinya jauh-jauh sebelum memberikan tatapan yang siap untuk menerkam mangsanya.
"Ku rasa aku memang tak cocok dengan pisau." lanjut Lucius.
Kedua tangannya kini dibalut oleh kobaran api kemerahan yang kuat. Begitu juga dengan telapak kakinya yang diselimuti angin tipis berwarna kehijauan itu.
"Jangan katakan.... Kau...." ucap Irving dengan tubuh yang gemetar.
Dengan tatapan yang begitu mengerikan, kontras dengan senyuman di wajahnya, Lucius pun membalas.
"Ya. Itu adalah pertama kalinya aku menggunakan pisau dalam pertarungan barusan. Karena sebenarnya, aku adalah seorang penyihir." balas Lucius dengan senyuman.
Bahkan tanpa Clairvoyance Eye sekalipun, jumlah Mana yang dikeluarkan oleh Lucius sangat lah besar. Hingga orang biasa sekalipun bisa menyadarinya.
Dan tanpa kesempatan bagi Irving untuk bereaksi, bahkan dengan refleksnya yang luarbiasa itu, pukulan tangan kanan Lucius telah melubangi dada Irving dan membakar apa yang tersisa di tubuhnya itu.
'Braaaakkk!!'
Tubuh bos bandit itu tergeletak tak berdaya di tanah. Meninggalkan hanya Lucius sendirian di markas bandit ini.
"Kau tahu? Terimakasih. Aku cukup banyak belajar darimu. Kini aku tahu apa lagi yang harus ku latih." balas Lucius sebelum pergi meninggalkan goa ini beserta semua harta yang ada di dalamnya.
Ia berniat untuk melaporkan semuanya pada Alex dan mengambil hadiahnya.
Sementara itu Carmilla yang melihat seluruh pertarungan Lucius barusan, hanya bisa tersenyum bahagia.
Bayangan Carmilla dapat terlihat di kubangan air dalam goa ini. Memperlihatkan sosoknya yang begitu bangga atas pertumbuhan Lucius hingga hari ini.
'Itu benar, Lucius. Tak peduli seberapa banyak Mana yang dimiliki seseorang, kalau tak bisa memanfaatkannya dengan baik maka tak akan ada gunanya.'