
'Sruuugg! Srruugg!'
Pada saat akademi libur, Lucius sama sekali tak mengambil istirahat. Ia langsung berjalan ke Guild untuk menemui kelompok Ironclad untuk bekerja. Kenapa?
Tentunya, untuk membayar hutang pedang yang saat ini tergantung di sabuk kanannya.
Sebuah pedang dengan bahan infernal steel yang bisa meningkatkan kemampuan Lucius terhadap sihir elemen api.
Dan pedang itu, baru saja selesai dibuat pagi tadi.
"Hah.... Apakah aku membuat pilihan yang tepat dengan membeli pedang ini?" tanya Lucius pada dirinya sendiri.
'Itu adalah pedang yang sangat bagus. Aku kagum manusia bisa sedikit meniru kemampuan Dwarf dalam hal kerajinan.' balas Carmilla.
"Hmm? Kemampuan Dwarf?"
'Tiga huruf Rune yang ada di pedangmu itu, adalah seni yang dikembangkan oleh Dwarf. Hanya dengan keberadaannya saja akan meningkatkan kemampuan pedang itu secara drastis. Apalagi saat diaktifkan.' jelas Carmilla.
Lucius kemudian menarik pedang dengan bilah merah gelap itu. Pada bagian tengah bilah pedang yang memiliki warna keperakan, terdapat tiga buah huruf Rune yang tertulis dengan indah.
Rune pertama adalah "Vor" yang berarti kekuatan. Huruf Rune "Vor" memiliki bentuk menyerupai sepasang tanduk yang melengkung ke atas, dimana ujung tanduknya membentuk menyerupai anak panah.
Dimana pun Rune "Vor" dipahat, akan mampu meningkatkan kekuatan dari benda itu secara drastis. Meskipun, memahat Rune itu sendiri bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan teknik dan kemampuan sihir yang tinggi.
Jika dialiri kekuatan sihir atau Mana, maka Rune "Vor" itu akan menjadi semakin kuat dan mampu meningkatkan kekuatan fisik penggunanya.
Rune kedua yang berada di tengah yaitu "Dur". Huruf Rune "Dur" memiliki bentuk menyerupai sebuah perisai dengan lingkaran kecil di tengahnya.
Rune "Dur" akan meningkatkan ketahanan dari benda dimana Rune itu dipahat. Jika dialiri Mana, juga akan meningkatkan ketahanan fisik penggunanya.
Terakhir yaitu Rune "Vel" yang memberikan kecepatan. Rune "Vel" memiliki bentuk menyerupai sebuah sayap dengan tiga buah bulu.
Untuk pedang, Rune "Vel" akan membuat logam yang digunakan terasa ringan di tangan penggunanya.
Sedangkan untuk penggunanya sendiri akan mampu meningkatkan kecepatan gerak mereka setelah mengaktifkan Rune itu.
"Jika dipikir-pikir lagi, bukankah pedang ini sangat hebat?" tanya Lucius pada dirinya sendiri setelah menyadari betapa kuatnya 3 buah Rune itu.
'Tentu saja! Aku baru tahu manusia bisa memasang 3 buah Rune di satu pedang tanpa menghancurkannya.' balas Carmilla.
Itu benar.
Kekuatan Rune memang lah luarbiasa. Tapi bukan berarti seorang pengrajin bisa memasangnya secara asal-asalan.
Semakin banyak Rune yang dipasang pada suatu benda, maka akan semakin besar pula peluang benda itu akan hancur karena tak mampu menahan kekuatan Rune itu sendiri.
Karena itu lah, Rune "Dur" bisa dibilang wajib untuk dimiliki agar bisa sedikit menahan efek samping dari Rune itu sendiri.
"Yah, ku harap aku bisa menghasilkan uang dengan ini." balas Lucius sambil kembali memasukkan pedangnya pada sarungnya.
Lucius kemudian membuka pintu Guild ini. Mencari keberadaan kelompok Ironclad.
Tapi setelah 10 menit mencari, Lucius sama sekali tak bisa menemukan mereka. Dan pada akhirnya, memutuskan untuk menunggu sambil sarapan.
"Sialan, dimana mereka? Jangan katakan libur?" tanya Lucius pada dirinya sendiri.
Saat pelayan Guild itu mengantarkan jus jeruk dingin dan sepiring salad, Ia menemukan jawabannya.
"Akhir-akhir ini aku sering melihatmu dengan kelompok Ironclad." sapa gadis itu ramah.
"Ah? Ya, begitu lah. Tapi entah kenapa dia belum ada di sini?" tanya Lucius.
"Eh? Kau tak tahu?"
"Apa?"
............
"Aaaaaahh!!! Tidak!"
"Hahaha! Rasakan ini!"
"Jangan kejar aku!!!"
"Hei! Jangan lari!"
Di hadapan Lucius, terlihat banyak anak-anak kecil sedang bermain kejar-kejaran di tanah lapang.
Sesekali terlihat salah seorang anak itu terjatuh ke tanah. Meski begitu, mereka tetap bangkit dan kembali bermain.
Seorang wanita dewasa terlihat berdiri di depan sebuah rumah dua lantai yang sederhana itu. Ia nampak begitu bahagia melihat anak-anak bermain dengan gembira.
Tapi yang paling menyita perhatian Lucius, adalah sosok pria dewasa dengan badan kekar di samping lapangan ini. Ia nampak duduk di atas sebuah bongkahan batu besar, melihat anak-anak bermain dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Eh? Bocah, kenapa kau disini?" tanya pria berbada kekar yang tak lain adalah Ironclad itu sendiri.
"Itu adalah pertanyaanku." balas Lucius sedikit kesal.
Sambil meregangkan badannya yang hanya tertutupi oleh kaos hitam polos dan celana pendek itu, Ironclad membalas pertanyaan Lucius.
"Kenapa? Bukankah itu sudah jelas? Aku liburan. Termasuk Lyra, Sera dan Drakon. Ini hari Minggu kau tahu?" balas Ironclad.
'Tentu saja mereka libur. Apa yang ku pikirkan?' keluh Lucius dalam hatinya.
Bukan karena Ironclad malah bersantai di tempat seperti ini. Tapi karena Ia berpikir orang lain tak pernah beristirahat seperti dirinya.
Selama beberapa Minggu ini, pikiran Lucius hanya dipenuhi oleh satu hal. Yaitu menjadi jauh lebih kuat lagi.
Tak ada kata istirahat baginya sebelum Lucius memperoleh kekuatan yang dicarinya. Atau setidaknya, merasa cukup aman dengan kekuatan itu.
Mengingat tak lama lagi William Goldencrest akan kembali ke akademi, nyawanya benar-benar menjadi taruhannya disini.
"Jadi kau memiliki hobi melihat anak kecil?" tanya Lucius sedikit sinis. Ia memang agak kesal karena rencananya untuk berburu dimana dirinya bisa berlatih dan mencari uang sekaligus harus gagal.
"Begitu lah." balas Ironclad singkat.
"Eh?"
Lucius sendiri terkejut mendengar jawaban itu dan merasa sedikit ngeri. Tapi....
"Kau tahu? Mereka adalah anak-anak yatim piatu. Tanpa ada yang merawat mereka, mungkin mereka harus terjun ke neraka hanya untuk bertahan hidup." lanjut Ironclad.
Lucius kembali melihat penampilan anak-anak itu. Memang dapat terlihat dengan jelas, bahwa semuanya mengenakan pakaian bekas yang terlihat sedikit lusuh.
Bahkan tubuh mereka semua terlihat cukup kurus untuk anak seumuran mereka.
Meski begitu....
"Melihat mereka bisa tertawa puas seperti itu, membuatku turut bahagia." ujar Ironclad dengan senyuman tipis di wajahnya.
Lucius hanya terdiam sambil memandangi wajah bahagia Ironclad dengan perasaan yang aneh dalam hatinya.
"Jadi, apa urusanmu kemari?" tanya Ironclad setelah sekian lama ditunggu.
"Begini ya, aku butuh uang untuk...."
"Bocah, pernah kah kau berpikir untuk beristirahat? Ku dengar kehidupan di akademi juga tidak mudah.
Melihatmu setiap hari bersekolah di akademi sejak pagi, lalu berburu monster hingga tengah malam bahkan dini hari terkadang membuatku bertanya-tanya. Kau tak kelelahan?" tanya Ironclad.
Lucius terlihat menggigit bibirnya sendiri sambil mengepalkan tangan kanannya dengan kuat.
Tentu saja. Ia tahu jawaban dari pertanyaan itu.
Manusia mana yang tak kelelahan setelah semua kegiatan yang menguras stamina itu? Beristirahat hanya sekitar 3 jam sehari atau saat makan dan membersihkan diri.
Dan itu terjadi setiap hari?
Jelas saja Lucius tahu dengan betul bahwa dirinya kelelahan. Tapi tetap saja....
"Aku.... Memiliki alasan untuk tak bisa beristirahat...." balas Lucius sambil menatap tanah.
Bagaimana pun, nyawa adalah taruhannya.
Mempersiapkan diri untuk melawan pelajar kelas B? Yang bahkan beberapa tahun di atasnya? Dari keluarga yang terkemuka? Memiliki dendam kuat pada dirinya?
Persiapan biasa saja takkan mampu menjamin Lucius untuk selamat.
Tentu saja, Ia bisa lari dan meninggalkan akademi. Tapi bagaimana dengan keluarganya? Statusnya? Berapa lama keluarga Goldencrest akan membiarkannya hidup diluar akademi?
Satu-satunya penyelesaian yang logis, hanya lah dengan menghadapinya secara langsung.
Melihat ekspresi rumit di wajah Lucius, Ironclad memandangi bocah 16 tahun itu dengan perasaan iba.
Terlebih lagi....
"Kalau kau mau beristirahat, baiklah. Aku akan pergi sendiri. Tapi tolong nanti bantu aku menjual semua hasil buruanku. Tanpa kartu petualang, aku tak bisa menjualnya." ujar Lucius yang segera bangkit dari duduknya. Berjalan pergi meninggalkan Ironclad untuk beristirahat.
"Ya, serahkan saja padaku soal itu. Tapi beristirahat lah! Kau terlihat sangat kelelahan!" teriak Ironclad.
Lucius terus berjalan pergi tanpa membalas. Meninggalkan Ironclad merasa semakin kasihan pada sosok bocah itu.
"Hah.... Bocah, melihat sosokmu mengingatkanku pada diriku yang dulu. Sialan."