
Ares segera masuk ke dalam vilanya yang ada di Bali. Alunan musik piano sudah menggema di udara sejak Ares masuk ke dalam ruang tamu, dan menemukan Mama Edith dan Papa Hades berada di ruang keluarga yang sangat mewah dengan sebuah piano unik yang ada di tengah ruangan. Piano tersebut adalah piano dengan desain khusus yang dibuat oleh Yunani Kingdom Group sejak masuk ke bisnis desain interior.
“Papa, Mama…," sapa Ares saat bertemu orang tuanya.
Mama Edith tersenyum dan tetap melanjutkan permainan pianonya. Papa Hades hanya berdehem dan kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu lalu meminta Ares duduk di sofa juga.
Begitulah Papa Hades, sedikit bicara dan terkesan acuh setiap bertemu Ares.
“Tunggu Mamamu selesai bermain piano, setelah itu kita bicara di ruang kerja Papa," ucap Hades pada Ares yang sudah siap membuka mulut untuk mengajak Papanya berbicara di tempat lain.
Ares mengangguk dan duduk diam sampai permainan piano Mama Edith selesai, sekitar 15 menitan.
Plok… plok… plok… Papa Hades tepuk tangan setelah Mama Edith selesai memainkan pianonya.
“Luar biasa, selalu mempesona," ucap Papa Hades, tersenyum manis pada istrinya dan mengedipkan sebelah matanya seperti sedang menggoda saja.
Mama Edith tertawa senang dan menghampiri mereka berdua yang sedang duduk di sofa.
“Silahkan bicara dengan Ares, Sayang. Aku menunggu kalian di meja makan, mari kita makan siang bersama," ucap Mama Edith kemudian berjalan ke arah dapur untuk meminta pelayan menyiapkan makan siang.
Hades lalu berdiri dan berjalan ke ruang kerjanya. Ares segera mengikuti langkah Papanya. Setelah mereka berada di ruang kerja Papa, Ares segera mengutarakan maksud kedatangannya.
“Terima kasih, Pa. Papa sudah membantu Mama mengatasi semuanya. Tapi Ares minta Papa juga membantu Athena, Pa. Gadis itu tidak bersalah," ucap Ares tegas walaupun dia tahu sulit sekali untuk membujuk Papanya, membantu putri kandung Zeus Anthony.
Papa hanya berdehem lagi. Dia tidak mengatakan apapun.
“Pa, Ares tahu pelakunya bukan Mama maupun Athena. Jika Papa bersedia menyerahkan rekaman cctv yang masih complete, belum dihapus, ke polisi, kasus pembunuhan ini pasti terungkap," ucap Ares tegas.
“Apa yang membuatmu yakin bahwa bukan Hera atau Athena yang melakukannya?," tanya Hades sambil menatap tajam Ares.
“Karena mereka adalah orang-orang berhati baik, Pa. Mereka tidak akan berbuat sekeji dan sejahat itu, Pa," jawab Ares yakin.
“Bagus, aku suka dengan jawabanmu. Aku senang kamu mempercayai Mamamu dengan seyakin itu," ucap Hades.
“Jadi Papa akan membereskan semua masalah ini secepatnya?," tanya Ares tetap tenang, padahal sebenarnya jantungnya sedang berdetak kencang, karena menunggu persyaratan yang akan dilontarkan Papa Hades jika Papanya bersedia menolong Athena membereskan semua masalah ini.
Papa Hades kembali berdehem dan kemudian terdiam cukup lama.
Ares terus menunggu jawaban Papanya dalam diam.
“Kita makan siang dahulu sekarang," ucap Papa Hades dan kemudian keluar dari ruang kerjanya.
Ares menghembuskan nafasnya, walaupun Papa Hades belum memberi kepastian untuk menolong Athena, tapi setidaknya dia sudah mengutarakan permintaan Opa Mark dan dirinya sendiri.
“Athena, bersabarlah… Aku akan membujuk Papa lagi nanti," janji Ares dan dia segera menuju ke ruang makan untuk bersantap siang dengan keluarganya.
*
*
*
Budi bersama Hari dan Linda sudah tiba di sebuah pondok kecil yang ada di dekat Danau Kelinci Hitam, tempat ditemukannya mayat seorang pria tanpa identitas dengan leher tercekik tali dan kedua bahu yang lebam dan retak.
“Pondok kecil ini adalah sebuah pondok yang tidak diketahui pemiliknya. Lalu bagaimana kita memulai penyelidikan ini?" tanya Linda bingung harus menyelidiki apa karena kasus ini benar-benar buntu.
“Di pondok ini tidak ada cctv dan seorang gelandangan yang menemukan mayat ini di pondok sudah tidak diketahui keberadaannya, karena sudah menghilang entah kemana," ucap Linda lagi.
“Sebaiknya kita periksa pondok ini sekali lagi, mungkin kita akan menemukan sesuatu di pondok ini," ucap Budi sambil terus memeriksa pondok ini lebih teliti.
“Hmm… tak ada banyak barang di pondok ini, bahkan nyaris kosong, hanya debu dan sarang laba-laba yang banyak di sini," ucap Hari sambil meniup sarang laba-laba yang ada di dekatnya.
Deg… Jantung Hari seakan berdetak kencang, saat matanya membaca tiga ukiran huruf di tembok pondok tepat di hadapannya. Huruf itu sangat kecil dan tipis. Orang yang tidak memperhatikannya dengan seksama, pasti tidak akan dapat melihatnya. HEF itu adalah huruf yang terukir di tembok. Hari langsung menghapus semua debu yang menempel di tembok, dan dia akhinya menemukan beberapa huruf lagi.
“HEFASIUS," pekik Hari saat membaca huruf-huruf itu dengan teliti.
“Apaan sih? Bikin kaget aja deh," ucap Linda kaget.
“Ada apa, Har?" tanya Budi segera menghampiri Hari.
“Lihat ini, ada tulisan HEFASIUS di tembok ini. Sebentar aku akan memfoto tembok ini dulu. Mungkin jika dilihat di kamera, tulisan ini akan lebih jelas terbaca," ucap Hari sambil mengeluarkan ponselnya, memfoto tulisan di tembok dan segera memeriksa hasil fotonya di gallery ponselnya.
“Benar, tulisannya HEFASIUS," ucap Budi yang membaca rangkaian huruf di ponsel Hari.
Budi segera menggosok debu yang menempel di tembok pondok dan kemudian menemukan inisial huruf LkM di beberapa tempat. Budi menarik nafas panjang.
“Foto semua huruf yang ada di tembok. Sepertinya korban mengukir banyak huruf di tembok dan seseorang berusaha menutupi semua huruf ini dengan mengecat ulang tembok dan menaburkan banyak debu di tembok, agar tidak terlihat kotor dan lebih alami," ucap Budi lebih semangat karena sudah menemukan sebuah titik terang.
Hari dan Linda juga langsung terlihat bersemangat, mereka segera membersihkan semua bagian tembok pondok dan memfoto tulisan di tembok, jika menemukannya.
Hari lalu mengecek foto yang ada di gallerynya.
“HEFASIUS, LkM, KILLER, THE, IS," ucap Hari sambil menggeser layar ponselnya.
“Hefasius is the killer, LkM," ucap Budi menebak maksud tulisan korban pembunuhan.
Semua yang ada di dalam pondok terperanjat dengan ucapan Budi.
“Ayo kita segera kembali ke kantor polisi dan melaporkan hal ini pada Pak Hendra," ajak Budi.
“Siap, Pak," balas Linda dan Hari bersamaan.
*
*
*
Di kantor kepolisian Z.
Setelah Hendra mendengar penjelasan dari anggota timnya, dia segera memberikan perintah.
“Cari tahu siapa saja orang yang memiliki nama Hefasius di dunia ini," perintah Hendra cepat.
Lalu Hendra terdiam.
Kenapa setahun yang lalu, tulisan huruf ini tidak ada ya? Dan kenapa huruf-huruf ini baru muncul setelah Hefasius meninggal? batin Hendra.
“Lalu bagaimana dengan inisial huruf LkM ini, Pak?" tanya Budi menyadarkan Hendra untuk kembali fokus.
“Sepertinya ini juga inisial nama, Bud. Tapi aku masih bingung, kenapa huruf k yang ada di tengah ini ditulis dengan huruf kecil ya? Apakah ini bukan inisial nama tapi suatu tempat atau inisial huruf apa ya?" tanya Hendra lagi.
Dan Linda datang tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan.
“Pondok kecil itu berada di dalam area porperti keluarga Mentri Hukum negara ini, Pak. Lucius Malcom. Cocok dengan inisial LM yang ada di tembok pondok," ucap Linda dengan nafas tersengal-sengal.
“Wow… hebat sekali kamu, Linda," jawab Hendra senang.
“Putra dari Lucius Malcom, bernama Lukas Malcom, Pak. Dan dia adalah sahabat dekat Hefasius Anthony. LkM berarti Lukas Malcom, bukan?" ucap Linda lagi.
“Kerja tim yang sangat hebat. Sekarang segera temui Tuan Lukas Malcom dan menanyainya lebih lanjut. Sepertinya titik terang kasus ini sudah mulai terbuka," ucap Hendra kemudian menepuk punggung Linda.
"Dan hati-hati, jangan sampai ada orang tahu sebelum kalian bertemu Lukas Malcom, karena sepertinya kasus ini terhubung dengan kasus pembunuhan Zeus dan Hefasius," ucap Hendra mengingatkan anak buahnya untuk lebih berhati-hati.