Misteri Danau Kelinci Hitam

Misteri Danau Kelinci Hitam
Bab 29 - Hades


Ares memandang Opa, seakan tidak mempercayai kata-kata Opa.


Papa Hades, orang yang selama ini dikenalnya sebagai orang yang dingin dan kejam, ternyata adalah orang yang sangat mencintai ibu kandungnya, bahkan menjadi penyelamat Mama saat Mama terpuruk. Terima kasih, Papa Hades. Jika Papa terlambat menyelamatkan Mama, Ares tidak tahu kejadian buruk apalagi yang terjadi pada keluarganya, batin Ares.


Ares berusaha menahan perasaan terharunya di depan Opa Mark. Selama ini takpernah terbersit sedikitpun dalam pikiraan Ares bahwa Papa Hades menyayangi Mama Hera, bahkan Ares sudah salah menerka siapa penyelamat Mama, karena sikap Papa Hades yang cuek bahkan tidak pernah menemui Mama Hera selama ini.


Bagaimana mungkin dalam satu kehidupan ada dua cinta yang datang bersamaan? Mencintai Mama Hera dan Mama Edith sama besar, batin Ares.


Ares menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang hanya Papa Hadeslah orang yang sanggup berlaku seperti itu. Lalu Ares kembali memandang Opa Mark.


“Opa, aku akan bicara pada Papa dan memikirkan solusi untuk masalah ini," ucap Ares.


Opa mengangguk.


“Hanya kamu yang dapat menyelamatkan Athena. Terima kasih, kau sudah membawa Athena pergi sebelum polisi menangkapnya. Semoga Athena baik-baik bersamamu. Jaga cucu Opa dan Oma baik-baik, Ares. Lindungilah adikmu dengan baik. Karena Zeus sudah memintanya padamu sebelum Athena ahir ke dunia ini,"ucap Opa sambil menggenggam tangan Ares.


Ares mengangguk pasti.


“Jangan khawatir, Opa," ucap Ares meyakinkan Opa.


“Kalau begitu, sekarang Opa pamit pulang. Opa akan menginap di apartement Athena selama beberapa hari. Opa tidak menceritakan kejadian ini pada Oma, Opa khawatir Oma sakit lagi. Cepat selesaikan masalah ini, Ares," ucap Opa.


“Iya, Opa. Salam sayangku untuk semuanya," ucap Ares saat mengantar Opa masuk ke dalam mobilnya yang kemudian meninggalkan halaman Hades Mansion.


“David, di mana Papa Hades sekarang?" tanya Ares pada Sekertarisnya.


“Di vila yang ada di dekat Pantai Melasti, Bali, Tuan," jawab David.


“Okay, sekarang kita ke pulau pribadi dulu. Besok kita baru terbang ke vila Papa Hades," ucap Ares.


*


*


*


Athena sudah tertidur pulas di kamarnya. Dia tidak menyadari jika ada seorang pria masuk ke dalam kamarnya. Berjalan pelan ke arah tempat tidurnya dan duduk di sampingnya. Pria itu menatap Athena lekat-lekat, lalu membelai rambut Athena dengan lembut.


Athena tiba-tiba menggeliatkan tubuhnya.


Klik… Pria itu segera memadamkan lampu tidur yang menyala di sebelah tempat tidur Athena, khawatir Athena terbangun, membuka matanya dan melihat wajah pria itu. Kamar langsung berubah menjadi gelap karena semua cahaya yang ada di kamar itu padam. Hanya cahaya lampu di luar kamar Athena yang masuk ke dalam ruangan melalui pintu kaca yang menjadi pembatas antara kamar Athena dengan pantai yang ada di luar kamar.


Athena membuka matanya perlahan. Kamarnya gelap. Athena mulai ketakutan, jantungnya berdebar kencang, pikirannya kembali pada malam terjadinya pembunuhan, gelap… Athena sangat membenci kegelapan, sehingga dia sengaja membiarkan lampu di samping tempat tidurnya selalu menyala, apalagi di tempat asing sekarang ini.


Athena mulai panik dan meraba-raba meja di samping tempat tidurnya untuk mencari tombol lampu tidurnya. Tapi tiba-tiba sebuah bayangan hitam bergerak cepat dari samping tempat tidurnya menuju ke pintu kamarnya.


“Kyaaaa…," jerit Athena panik, lalu segera menutup wajahnya dengan ketakutan.


Brakkk… pintu kamarnya terbuka dan seseorang sudah berada di sebelahnya.


“Nona… nona… apakah Anda baik-baik saja? Ada apa, Nona?" tanya Robert kaget dan panik melihat kondisi Nona Athena yang sudah menangis terisak-isak ketakutan. Robert segera menyalakan semua lampu yang ada di kamar tidur Athena karena kamar Athena sangat gelap.


“Ada… ada… bayangan hitam di kamarku. Aku… aku… takut sekali, Robert," ucap Athena terbata-bata.


“Nona… Nona tidak usah khawatir, tidak ada apa-apa di sini. Lihat… kamar ini sudah terang sekarang, Nona. Bayangan hitam itu sudah tidak ada, Nona," kata Robert berusaha menenangkan Athena.


Athena menengadahkan wajahnya dan menatap Robert.


“Tolong jangan tinggalkan aku, aku sangat ketakutan," ucap Athena.


Athena mengangguk-angguk.


Betapa bodohnya aku, meminta seorang pria untuk menemaninya dalam satu kamar, padahal dia baru saja mengenal pria itu, batin Athena.


“Apakah ada pelayan wanita yang dapat menemaniku di ruangan ini?" tanya Athena malu.


“Maaf, Nona. Di rumah ini hanya ada saya dan beberapa pengawal pria di luar. Semua pelayan yang ada di rumah ini pria, Nona," ucap Robert.


“Kenapa begitu?" tanya Athena bingung.


“Karena Tuan Muda kami menginginkannya, Nona," jawab Robert yang berharap Athena cukup puas dengan jawaban yang dilontarkannya.


“Baiklah. Terima kasih, Robert. Kamu boleh pergi sekarang. Maafkan saya sudah membangunkanmu semalam ini. Kembalilah beristirahat, Robert," ucap Athena sudah dapat mengontrol ketakutannya.


Robert mengangguk dan keluar dari kamar Athena.


 


*


*


*


“Bagaimana keadaan Athena sekarang," tanya Ares pada Robert setelah Robert masuk ke kamarnya.


“Aduh, Tuan. Anda mengagetkanku saja," ucap Robert sambil mengelus dadanya, karena kaget mendengar suara Tuannya saat membuka pintu kamarnya. Tuannya yang mengenakan pakaian serba hitam dengan topi hitam sedang berdiri di dekat tempat tidurnya.


Pantas saja Nona Athena histeris begitu, karena Tuannya berpakaian seperti seorang pembunuh bayaran yang ada di film-film, tiba-tiba muncul di samping tempat tidur Nona, batin Robert.


 “Dia histeris sekali saat melihatku berada di sebelahnya," ucap Ares.


Setelah debaran jantung Robert kembali tenang, dia baru menjawab pertanyaan Tuannya.


“Benar, Tuan. Nona sangat ketakutan sampai menangis. Dia meminta pelayan wanita untuk menemaninya," jelas Robert pada Tuannya. Dan lebih memilih untuk tidak mengatakan bahwa Nona Athena memintanya menemaninya di dalam kamar, berduaan saja.


Ares tersenyum pada Robert. Karena Ares memang tidak mempekerjakan wanita di kantor, di Mansionnya dan di semua property milik Hades Group. Menurutnya bekerja dengan pria jauh lebih nyaman dan bebas dari rumor.


“Lalu?" tanya Ares ingin tahu lebih lanjut bagaimana pendapat Athena setelah tahu bahwa tidak ada wanita selain dirinya di rumah ini. Apakah Athena makin ketakutan?


“Dia mengucapkan terima kasih, minta maaf karena sudah membuat saya terkejut dan mempersilahkan saya kembali beristirahat," jawab Robert sambil mengangkat bahu dan berjalan ke tempat tidurnya untuk tidur kembali.


“Okay. Syukurlah kalau dia sudah baik-baik saja.”


“Tuan, lain kali jangan mengagetkannya lagi. Sepertinya Nona masih sangat trauma dengan kejadian malam itu. Jadi lebih baik, Tuan menemuinya siang hari dan tidak sembunyi-sembunyi lagi," ucap Robert.


Ares diam dan kemudian keluar dari kamar Robert.


Robert benar, seharusnya dia tidak berbuat seperti itu. Suatu saat nanti, aku harus menemui Athena dan memperkenalkan diri sebagai Kakaknya, batin Ares.


“Ah… Sepertinya aku masih tak ingin dia tahu siapa aku," gumam Ares dan kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Ares segera melepas topi dan jaketnya, lalu berbaring di tempat tidurnya. Jam di nakasnya sudah menunjukkan dini hari.


“Lebih baik kamu tidak pernah tahu siapa aku, karena kehadiranku akan membuatmu mengetahui kisah kelam yang terjadi di hidupmu," gumam Ares sebelum tertidur.