Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
sembilan belas


Happy reading... ❤


* * *


Sudah satu minggu terlewati, kini Davin dan Camelia sangat di sibukan dengan rencana pernikan mereka berdua. Saat ini Davin dan Camelia sedang melakukan fiting baju pengantin, meski mereka menikah secara diam-diam, tetapi keluarga nya meminta agar mereka melakukan pernikahan ini seperti biasanya. Hanya saja untuk acara mereka nanti akan lebih tertutup untuk khalayak apalagi media yang akan meliputnya.


Camelia sedang mencoba beberapa gaun pengantin yang akan ia kenakan nanti, begitu juga dengan Davin ia sedang mencoba beberapa jas pengantin yang sudah di sediakan oleh pihak keluarga nya.


"Kamu cantik sekali sayang.." Kata mama Rossa yang begitu takjub melihat Camelia mengenakan baju pengantin itu.


Camelia tersenyum. "Apa ini cocok buat aku tante.?"


"Cocok sekali, apa kamu mau yang itu.?


Camelia mengangguk. "Ya udah, yang ini Tan... soalnya ini sederhana aku sangat menyukainya."


"Baiklah sayang, mau pakai yang mana saja hasilnya pasti kamu cantik kok."


Dan gaun putih polos itulah yang di pilih oleh Camelia, ia tidak ingin mengenakan gaun yang terlihat mewah. Camelia sangat menyukai gaun yang terbilang sederhana itu, ia menatap dirinya sendiri di depan cermin. Camelia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menikah di saat usianya masih sangat muda. Bahkan ia baru saja duduk di bangku kuliahnya.


Sebentar lagi aku akan menikah dan menjadi seorang istri, meski pernikahan ini bukanlah yang aku harapkan. Aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku. Tetapi semua ini sudah menjadi takdirku. Ini adalah pilihanku.


* * *


Tepat hari ini acara pernikahan mereka berdua di gelar, acaranya tidak terlalu mewah, dan terkesan sangat tertutup untuk media. Dan tamu yang hadir-pun hanya dari kalangan saudara mereka saja. Camelia meremas tangannya gugup. Ada rasa takut di lubuk hatinya saat ini, pernikahan yang mereka lakukan bukanlah pernikahan sesungguhnya, mereka menikah hanya karena keterpaksaan, dan bukan karena saling cinta dan menyayangi.


Suasana saat itu begitu khidmat dan penuh haru. Camelia sampai menitikan air matanya saat Davin sudah resmi menjadi suaminya, meski hanya sebagai suami pura-puranya untuk satu tahun ke depan. Semua orang mengikuti prosesinya dengan sangat bahagia.


Camelia terlihat sangat cantik dengan gaun yang ia kenakan hari ini. Baju pengantin putih panjang yang sederhana tetapi sangat cocok melekat di tubuh mungilnya. Semua orang yang hadir dan menyaksikan pernikahan mereka sangat kagum melihat dua pasangan suami istri yang baru saja mengikat janji suci di hadapan Tuhan. Dan seluruh rangkaian acara pun berjalan sesuai dengan rencana.


"Kenapa liatin aku kayak gitu.?"


Davin sedikit melirik, kemudian ia menyeringai. "Gak pa-pa, cuma aneh ja liatnya." Davin masih saja terus menatap Camelia dari atas sampai bawah.


Dengan segera Camelia menatap seluruh tubuhnya yang terbalut gaun putih itu, perasaan Camelia menjadi tidak enak, apa ada yang salah dengan gaun itu? atau gaun itu memang tidak cocok untuknya?.


Bukan ... Bukan itu maksud dari Laki-laki itu, pasti yang ada di pikiran laki-laki itu sekarang hanyalah ingin mengolok-olok dirinya saja.


Camelia memicikan matanya dan menggigit bibir bawahnya.


"Kamu gak kelihatan kayak cewek manja." Ujarnya santai.


Camelia mendengkus kesal. Apa selama ini Davin selalu melihatnya sebagai gadis yang manja. Dasar ngeselin, menyebalkan! Kalau saja mereka sedang tidak berada di hadapan semua orang, mungkin Camelia sudah membungkam mulut laki-laki itu.


"Ayo sekarang kalian menghadap kesini.?" Ujar sang fotografer kala itu.



"Kalian bisa kayak gini kan.?" Ucap sang fotografer kembali sontak membuat keduanya membulatkan matanya lebar. Ya ampun, gimana ini? Ada perasaan canggung di antara keduanya saat ini. Dan dengan terpaksa mereka melakukannya.


"Jangan gugup kayak gitu.?" Bisik Davin pelan.


"Kita ikuti saja maunya dia."


"Apaan sih.? " Jawab Camelia ketus.


"Ayo senyum.?"




* * *


Setelah acara pernikahan mereka selesai, Mama Rossa menangis saat anak kesayangannya itu berkata akan tinggal terpisah dengannya, Davin bersama Camelia akan tinggal di apartemen miliknya untuk sementara. Sebelum mereka pindah ke rumah yang sudah di siapkan oleh sang Kakek sebagai hadiah pernikahan mereka.


Mama Rossa terus membujuk dan merengek seperti anak kecil agar Davin mau tinggal selama beberapa hari saja dirumahnya. Dan hal itu berhasil membuat Davin dan Camelia menyetujui untuk tinggal selama tiga hari di rumah keluarga Wijaya.


"Jadi ini kamarnya cowok mesum kayak kamu.?" Dengan terkekeh Camelia berkata seraya membuka satu persatu jepitan pada rambutnya.


"Apa kamu bilang? " Sewot Davin tidak terima, sembari melepas baju yang ia kenakan dengan terus menggerutu kesal.


"Ya, memang benar kamu cowok mesum yang pura-pura dingin kan.?"


Dan semua jepitan pada rambutnya itu telah terlepas, rambut panjang yang bergelombang jatuh. Camelia sangat cantik meski kini wajahnya terlihat sangat lelah.


"Dasar anak manja...!" Gerutu Davin sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Camelia menatap dirinya dalam pantulan cermin itu, beberapa jam yang lalu ia telah resmi menjadi istri dari laki-laki yang sama sekali tidak ia cintai, bahkan sama halnya seperti Davin. Mereka menikah hanya karena terpaksa. Tetapi kini mereka sudah menikah secara resmi, Camelia akan berusaha untuk menjadi istri yang baik selama mereka menjalani pernikahan itu.


Camelia beralih menuju jendela kamar itu, ia sedang berpikir menjadi seorang istri di saat usianya masih muda. Tidak ada cinta di antara keduanya. Camelia ingin menangis saat ini, tetapi ia tahan karena dirinya sendirilah yang memilih untuk tetap menikah dengan Davin.


Camelia teringat dengan sang mantan kekasih, Rakha adalah laki-laki yang masih ia cintai sampai saat ini. Camelia tersenyum kecut, saat mengingat Rakha yang begitu kecewa terhadapnya. Apa yang akan terjadi jika seandainya Rakha mengetahui kalau dirinya menikah dengan sabahat nya sendiri. Camelia menutup matanya erat, rasanya sangat sulit sekali untuk bernafas saat ini.


"Ngapain bengong ja.?" Suara Davin yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Mau sampai kapan kamu berada disitu.?"


Camelia mendengkus kesal, ia menatap Davin dengan tatapan jengah. "Aku mau mandi.." Ucapnya ketus.


Davin hanya mengedikan bahunya acuh, sembari langsung memakai kaos dan celana pendek rumahannya.


Camelia baru saja keluar dari kamar mandi, dengan hanya memakai handuk yang melilit di tubuhnya. Ia sangat terkejut saat mendapati Davin yang tengah tiduran sambil melihat ke arahnya.


"Ngapain kamu ada disini.?"


* * *


Terima kasih untuk semua yang sudah mampir membaca ceritanya aku.. Semoga kalian suka.


Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote-nya juga buat aku ya.?


Salam saya untuk semua... ❤