Menikahi Camelia

Menikahi Camelia
Sepuluh


Hallo balik lagi nih...


Happy reading semua... ❤


* * *


"Hallo Kek."


"Kapan kamu pulang.?" Tanya sang kakek di seberang sana.


"Kek, aku minta maaf kayaknya aku gak bisa ikut sama kakek ya.. "


"Kenapa?"


"Aku ada urusan kek, lagipula kakek bisa pergi berdua sama diakan? "


"Terserah kamu Davin..!! "


Dan sambungan telepon-pun terputus begitu saja, sang kakek merasa kecewa karena Davin menolak keinginannya.


"Ada apa sayang..?" Tanya Yuan pada kekasihnya itu.


Davin tersenyum, ia menatap wajah cantik kekasih hatinya itu. "Gak apa-apa, cuma ada urusan sedikit."


"Urusan apa? "


"Kakek."


"Memangnya dia kenapa?"


"Kakek minta aku untuk nemenin dia ke suatu tempat."


Yuanita terdiam, ia menatap wajah kekasihnya itu. Sekilas dia melihat kalau Davin sedang terlihat resah. Sebenarnya Davin baru saja membujuk Yuan agar dia tidak marah lagi karena kejadian semalam dimana saat itu Davin tidak memenuhi janjinya untuk makan malam bersama dengannya.


"Ya sudah sekarang kamu temui kakek mu itu." Ucap Yuan kembali.


Davin menoleh dan ia tersenyum, "Gak apa-apa, nanti saja aku temui dia, lagian aku masih pengen berdua sama kamu."


Yuanita langsung berhambur memeluk tubuh sang kekasih, ia memeluknya dengan begitu erat. Ia benamkan wajahnya di dada bidangnya Davin.


Davin-pun membalas pelukannya, ia mengelus rambut panjang yang harum itu. Davin memejamkan matanya, sebenarnya ingin sekali ia mengatakan pada kekasihnya itu kalau sang kakek ingin menjodohkan dia dengan gadis lain.


Sementara di tempat yang berbeda, kini kakek Wijaya dan Camelia sedang menatap sebuah pusaran milik almarhum kakek Camelia yaitu Seno.


Mereka berdua berada di tempat itu, karena kakek Wijaya ingin sekali mengunjungi makam sahabatnya itu. Mereka mendoakan sahabat sekaligus kakek bagi Camelia, mereka sedikit berbincang disana. Dan yang membuat terkejut Camelia adalah ketika mendengar ucapan dari kakek Wijaya yang mengatakan meminta ijin-nya agar almarhum Seno merestui Camelia bersama dengan Davin.


"Kek." Ucap Camelia ketika mereka sudah berada di dalam mobil mewah milik sang kakek.


"Kenapa, apa yang mau kamu tanyakan nak.?"


Camelia menatap lekat wajah kakek wijaya itu."Kenapa kakek ingin sekali aku yang menjadi calon istri untuk kak Davin?"


Kakek Wijaya menatap balik sang gadis, ia tersenyum lebar. "Karena kakek hanya mau kamu yang menjadi menantu di keluarga Wijaya."


"Tapi... Maaf sebelumnya kek, kenapa mesti aku? apa kakek tau kalau kak Davin itu sudah mempunyai pacar.?" Dengan sedikit gugup Camelia mengatakan itu.


"Kakek tau, dan kakek sudah memintanya untuk mengenalkan kekasihnya itu sama kakek, dan kakek sudah menyuruhnya untuk segera menikah dengan perempuan itu."


"Terus kenapa kakek masih meminta aku untuk menjadi calon istrinya.?"


Camelia terdiam, ia menjadi pendengar setia saat sang kakek menceritakan semuanya tentang Davin dan kekasihnya itu.


"Darimana kakek tau.? "


Kakek Wijaya tertawa dengan begitu nyaring di dalam mobil yang sedang melaju itu, ia menepuk lembut tangan Camelia. "Kakek akan tau semuanya, meskipun Davin tidak menceritakan nya, Kakek juga tau kalau kamu mempunyai kekasih."


Camelia melohok dengan mata membulat sempurna. Bagaimana bisa kakek Wijaya mengetahui semuanya. Camelia tersenyum tipis, kalau kakek Wijaya sudah tahu, kenapa dia masih mau menjodohkan mereka berdua.


"Maaf kek, aku datang terlambat. " Suara itu sontak membuat mereka menoleh secara bersamaan.


Kakek Wijaya tersenyum ketika melihat Davin sudah berada di hadapannya saat ini, kakek Wijaya tahu kalau Davin cucu-nya itu pasti akan datang.


"Tidak apa-apa, ayo duduk? "


Davin-pun duduk di salah satu kursi restoran tersebut, Davin datang dengan sangat tergesa-gesa karena sang kakek menghubungi nya kembali. Bahkan Davin harus mengantarkan kekasihnya Yuanita untuk pulang kerumahnya dulu. Davin sangat kesal sekali dengan kakek-nya itu, ia terus-terusan menghubungi Davin agar dirinya segera menyusul kesini. Dan untungnya saja Yuanita mengijinkannya, karena dia tahu kalau kakek-nya yang menyuruh. Hanya saja Yuan tidak mengetahui kalau bukan hanya kakek-nya yang menunggu tetapi ada gadis lain yang juga ikut bersama dengan mereka berdua.


"Baiklah, sekarang kalian berdua sudah ada disini. Kakek tidak akan basa-basi lagi, kalian berdua sudah mengetahui keinginan kakek bukan.?"


Davin dan Camelia saling menatap dalam diam, mereka sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Keinginan dari sang kakek sangatlah membuat mereka merasa bingung, mereka berdua menjadi pendengar setia saat kakek-nya itu bicara panjang lebar dan mengutarakan keinginannya agar mereka berdua mau menerima perjodohan ini.


"Kek, maaf sebelumnya. Tapi aku gak bisa memenuhi keinginan kakek." Ucap Davin dengan wajah memelas.


"Kenapa?


"Karena aku mencintai orang lain, aku punya kekasih kek. "


"Kakek tau, terus kenapa kekasih mu itu tidak mau menikah denganmu? "


"Dia meminta aku memberinya waktu selama dua tahun, setelah itu baru kita akan menikah."


"Bukankah kakek sudah pernah bilang sama kamu, waktu dua tahun itu terlalu lama. Apa kamu yakin selama dua tahun itu kakek masih ada.? "


Davin-pun terdiam, ia menatap wajah kakek-nya itu lamat-lamat. Entah kenapa hatinya selalu merasa bersalah ketika sang kakek mengatakan hal itu.


"Baiklah, kakek akan beri kalian waktu untuk saling mengenal. Tapi kakek tidak mau jika harus menunggu lama. Kakek tunggu keputusan kalian berdua." Kakek Wijaya terdiam dan ia kembali bersuara. " Davin... Kamu antarkan Camelia pulang ya?" Imbuhnya kembali dan kakek Wijaya pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.


Davin dan Camelia menatap kepergian sang kakek yang begitu saja. Mereka berdua saling melempar tatapan dan terdiam seribu bahasa.


"Apa kamu mau tetap disini?" Ucap Davin dengan santainya.


Camelia terperanjat kaget, saat mendengar suaranya Davin. Ia menatap lekat wajah laki-laki itu dengan tatapan kesal.


Davin segera melangkah pergi dari restoran itu, diikuti oleh Camelia di belakangnya. Mereka menuju ke tempat di mana mobil Davin terparkir. Davin sudah berada di kursi kemudi, ia menatap heran pada gadis yang kini tengah duduk di kursi penumpang.


"Kenapa duduk di belakang? "


"Gak apa-apa aku duduk disini ja.. "


"Kamu kira aku supir.?" Imbuh Davin kembali.


Camelia menggerlingkan kedua bola matanya kesal, ia segera membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Davin saat ini. Tidak ada suara sedikitpun dari mereka berdua, mereka hanya terdiam membisu. Davin hanya fokus saat sedang mengendarai mobilnya, sedangkan Camelia ia hanya menatap keluar jendela kaca mobil.


Ngeselin....!!!!


* * *


Salam dari saya untuk semuanya.. ❤