
Setelah hampir 2 bulan Arkan akhirnya membawa Dinda tinggal bersamanya semua itu karena Arkan lelah jika harus ke rumah orang tua Dinda setiap dia libur yang jaraknya sangat jauh.
Sesampainya di sana, Dinda merapikan barang bawaannya dan menata rumah itu dengan rapi. Rumah yang Arkan sewa termasuk kecil karena sebelumnya Arkan tinggal di luar kota saat belum pindah kerja dan hanya bisa menyewa tempat itu untuk sementara.
Hal itu tidak membuat Dinda keberatan selama bisa bersama suaminya tinggal di manapun tidak masalah yang penting bisa untuk berteduh.
"Oh, ya sayang. maaf untuk sementara aku belum bisa kasih tahu perusahaan kalau aku sudah menikah"
"Kenapa?" Dinda merasa bingung
"Ada peraturannya sayang, karena aku belum 3 bulan kerja di sana jadi belum boleh menikah. Tapi nanti setelah 3 bulan pasti aku bilang ke atasan"
"Ya, mau gimana lagi kalau memang begitu peraturannya" meskipun terdengar tidak masuk akal tetap saja Dinda mempercayai suaminya
"Makasih ya sayang" mengecup kening istrinya
Setidaknya sekarang Dinda tenang karena bisa tinggal bersama suaminya.
Di saat Dinda sedang membersihkan rumah, Dinda mendapati kond*m yang masih baru di tas Arkan.
"Lho, sayang ini buat apa?" Dinda menunjukkan ke Arkan
"Oh itu, aku sengaja beli karena penasaran rasanya kalau pakai itu" menjawab dengan santai
"Kenapa? mau coba sekarang?" menggoda istrinya dengan tatapan nakal
"Ada-ada aja sih" meletakkannya di atas meja samping tempat tidur mereka
Dinda masih belum terbiasa dengan sisi lain Arkan yang nakal dalam berhubungan.
Setelah selesai beberes rumah, mereka pergi berbelanja berbagai kebutuhan yang di perlukan.
Makan bersama di luar dan melakukan aktivitas berdua yang terasa bahagia.
Lelah yang terasa setelah cukup lama berkeliling di area perbelanjaan sedikit berkurang karena perhatian yang di berikan Arkan.
"Sayang, kamu capek?" ucap Arkan sambil memijat kaki Dinda yang sedang duduk di sofa.
"Eum..iya"
Sikap Arkan benar-benar seperti memanjakan istrinya sehingga Dinda percaya bahwa suaminya memang mencintainya.
Dinda tertidur karena kelelahan.
Melihat istrinya sudah tertidur, Arkan mengambil handphone nya dan menghubungi seseorang di luar rumah.
"Halo"
"Iya nanti aku ke sana, kamu tunggu ya"
"Iya, iya sabar. istriku ada di sini sekarang"
Dinda terbangun dan tidak melihat Arkan,kemudian dia mencarinya dan melihat pintu rumah yang sedikit terbuka.
"Kamu bisa gak sih ngertiin aku" suara Arkan yang sedang telfon dengan seseorang
"Iya, tapi tolong kamu tahu posisiku sekarang" Arkan terlihat sangat emosi
Dinda menghampiri suaminya.
"Sayang, kamu ngapain?" ucap Dinda sambil membuka lebar pintu rumah
Arkan terkejut melihat Dinda dan langsung mematikan telfonnya.
"Ah, ini teman kerjaku telfon, karena takut kamu bangun jadi aku telfon diluar"
"Oh, yasudah"
Dinda tidak menaruh kecurigaan apapun dan tetap mempercayai suaminya.
"Huh"
"Untung Dinda gak dengar" ucap dalam hati Arkan
Arkan menutupi sesuatu yang rapi di belakang Dinda yang terbungkus dengan perhatian dan kasih sayang palsu.
Dia memutar otak agar tidak ketahuan bahwa dia menyembunyikan sesuatu. Itulah sebabnya dia tidak mau membawa Dinda tinggal bersamanya.
Keesokan harinya Arkan berangkat kerja dan berpesan ke istrinya untuk tidak perlu menyiapkan apapun karena dia lembur dan pulang malam.
Kenyataannya Arkan tidak lembur sama sekali tetapi dia pergi menemui seseorang yang dia hubungi semalam.
"Maaf aku baru bisa ke sini" Arkan memeluk perempuan itu
"Hemm.. padahal aku kangen banget sama kamu" menyender ke bahu Arkan
"Aku juga kangen kamu Putri sayang" membelai perempuan itu
Ternyata Arkan menduakan Dinda dengan teman kerjanya yang baru dia kenal 2 bulan yang lalu. Dimana perempuan itulah yang mengirim pesan di akun Arkan.
"Putri, aku minta maaf untuk sekarang sepertinya nggak bisa terus berhubungan lagi sama kamu" ucap Arkan sambil menyentuh pipi putri
"Maksudnya?"
"Sekarang kan kamu tahu kalau aku sudah menikah dan istriku sekarang tinggal di sini. Aku takut dia tahu tentang kita" menjelaskan dengan tatapan yang sedih
"Kita kan bisa main yang rapi, aku nggak mau putus dari kamu Arkan, aku sayang sama kamu. Kamu kan terpaksa nikah sama perempuan itu" menyentuh wajah Arkan dengan kedua telapak tangannya
"Iya, tapi aku nggak mau kamu terluka karena nunggu aku lama" membalas menyentuh tangan putri
Ternyata Arkan mengaku bahwa dia menikah dengan Dinda bukan karena cinta tapi karena terpaksa dan terlanjur sudah di persiapkan semuanya.
Arkan menempatkan tangannya ke belakang kepala putri dan mendorongnya ke depan wajahnya lalu menciumnya dengan penuh nafsu.
"Sayang,kamu lebih cantik daripada istriku" ucap Arkan yang kembali mencium Putri
"Ahh.."
Putri membalas ciuman Arkan dan meletakkan kedua tangannya di antara leher Arkan sambil memeluknya.
"Sentuh aku, Arkan"menarik salah satu tangan Arkan dan mengarahkannya di dadanya
" Di sini?" meremas yang sedang dia sentuh
"Iya, Ahh" Putri mendesah menikmati sentuhan Arkan
Mereka terhanyut dalam hubungan panas dan kenikmatan yang sesaat.
Mereka berdua melakukannya tanpa memperdulikan perasaan Dinda.
Setelah selesai melepas hasrat dan merasakan kenikmatan bersama. Arkan mencium kening Putri seperti yang dia lakukan kepada istrinya.
"Sayang, aku harus pulang" menatap Putri yang berada di sampingnya dan sedang memeluknya
"Apa nggak bisa menginap di sini? seperti biasa"
"Sayang, ngerti kan sekarang posisi aku gimana? aku nggak bisa"
Arkan beranjak dari tempat tidurnya dan mengenakan pakaiannya.
Putri yang dalam keadaan polos tanpa sehelai pakaian, memeluk Arkan dari belakang.
"Iya, tapi kamu lebih cinta sama aku kan?"
"Pastinya sayang, kamu yang terbaik apalagi saat di ranjang" Arkan menyentuh tangan Putri yang masih memeluknya
Arkan bergegas pergi meninggalkan Putri karena sudah terlalu lama di sana dan sudah larut malam.
Di lain sisi, Dinda menunggu suaminya yang belum pulang juga padahal sudah sangat larut.
"Sayang, aku pulang" Arkan sudah di depan pintu dan memanggil istrinya
"Iya sayang" Dinda membukakan pintu dan hendak memeluk suaminya
"Tunggu sayang, aku keringatan" menahan Dinda agar tidak bisa memeluknya
"Nggak apa-apa sayang" mencoba memeluk Arkan
"Sayang, aku mandi dulu ya baru nanti bisa peluk sepuasnya"
Arkan masuk ke dalam rumah dan langsung mandi untuk menghindari kecurigaan istrinya setelah berhubungan dengan wanita lain.
Dia tersenyum puas di bawah kucuran air yang membasahi tubuhnya setelah berhasil mendapatkan 2 wanita yang cantik.
Mempunyai istri yang mempunyai sifat yang baik, sangat cantik, tubuh yang menggoda, mau menerima keadaannya dan sangat menggairahkan meskipun belum mempunyai banyak pengalaman di ranjang.
Dan mempunyai pacar yang agresif selalu berinisiatif memulai aktivitas yang panas dan tentu saja mempunyai pengalaman yang baik di ranjang meskipun parasnya tidak secantik istrinya.
Dia beruntung memiliki 2 wanita cantik yang memenuhi hasrat yang tidak pernah puas tanpa memperdulikan perasaan istrinya seperti apa.