
"Tenang sayang, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan yang sebenarnya"
Arkan terus melontarkan ucapan yang menggoda, sambil terus menikmati tubuh istrinya.
"Lihat! Kamu sudah basah seperti ini, aku akan memulai dengan memasukkan milikku"
Dinda terkejut melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Arkan meminta Dinda untuk menyentuh miliknya dan mulai memasukkan miliknya,hal itu membuat Dinda takut dan tegang.
"Arghh..pelan"
"Ahh.. sa.. sakit"
"Tenang sayang.. awalnya memang sakit"
Dinda mengerang kesakitan tetapi Arkan tetap melanjutkan dan tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya.
"Apa itu sudah masuk semuanya?"
"Belum sayang..ini baru semuanya"
Arkan menyatukan miliknya lebih dalam.
"Aarghhhh..."
Dinda tersentak merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dan menangis kesakitan.
"Berhenti! hentikan.."
"Ahh.. sakit"
Arkan yang baru memasukkan semuanya pun berhenti sejenak melihat istrinya menangis.
"Tahan sayang, aku akan pelan"
Arkan mengecup ujung mata Dinda yang mengeluarkan air mata dengan penuh kasih sayang dan itu berhasil membuat Dinda sedikit tenang.
Arkan mencium bibir Dinda dan mulai menggerakkan sesuatu yang masih tertahan di sana dengan pelan.
Dinda memeluk erat dan menahan rasa sakit yang mulai berkurang karena sudah mulai terbiasa dengan gerakan Arkan.
Akhirnya mereka selesai menuntaskan gairah yang selama ini terpendam dengan sangat panas. Malam pertama yang tidak akan pernah Dinda lupakan.
Keduanya saling berpelukan dalam keadaan tanpa sehelai pakaian,hanya ditutupi selimut dan saling menatap.
Dinda tersenyum melihat wajah Arkan yang terlihat lelah dan mengantuk.
Meski Dinda merasa suaminya seperti sudah berpengalaman dan merasa ini bukan pertama kalinya dia melakukannya.
Sakit memang tapi Dinda sudah tidak bisa mundur karena kenyataannya dia sudah menikah dengan Arkan dan harus menerimanya terlepas bagaimana masa lalunya.
Sesekali Dinda menyentuh wajah Arkan dengan jarinya dan itu membuat Arkan terkejut dengan sentuhan itu dan memandang Dinda sambil mengecup keningnya.
"Kamu mau lagi istriku?" Arkan membisikan kata itu untuk menggoda Dinda
"Hah..? gak..cukup, aku lelah"
"Ayolah sayang"
Arkan terus menggoda dengan menyentuh bagian sensitif Dinda hingga akhirnya ia tidak bisa menolak keinginan suaminya.
Akhirnya mereka pun melakukannya lagi beberapa kali sampai mereka kelelahan.
Keesokan harinya mereka terbangun setelah menghabiskan malam yang panjang.
"Selamat pagi, istriku sayang"
Wajah yang cerah dan senyum yang seakan puas akan pelayanan istrinya tergambar jelas di wajah Arkan.
"Hemm"
Dinda yang baru terbangun melihat suaminya pun tersenyum, meski tubuhnya terasa sakit. Mengingat kejadian semalam membuat Dinda malu dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sayang aku minta maaf ya, hari ini aku harus pergi"
Dinda tidak tahu bahwa suaminya akan pergi padahal baru sehari mereka bersama.
"Kenapa?" Dinda kecewa dan sedih.
"Aku kan baru pindah kerja jadi aku gak bisa cuti lebih dari sehari"
Arkan beralasan bahwa hanya di berikan cuti sehari saja. Padahal setahu Dinda biasanya bisa cuti semau kita selama masih banyak sisa cutinya.
"Berarti aku juga boleh ikut?"
"Untuk sementara kamu di rumah orangtuamu dulu ya sayang, aku usahakan datang setiap minggu"
"Hemm"
Dinda tidak senang mendengar jawaban Arkan dan merajuk.
"Jangan ngambek ya sayang, aku usahakan setiap libur pasti ke sini kok"
"Hmm.. yasudah"
"Padahal aku masih kangen" Dinda bergumam
Entah karena alasan apa, bukannya mereka sudah menikah dan harusnya tinggal bersama. Tapi kenapa Arkan tidak mau membawa istrinya bersama.
Sebagai istri Dinda hanya bisa percaya dan menuruti suaminya meskipun dalam keadaan kecewa.
Baru saja merasakan kebahagiaan bersama suaminya sekarang harus terpisah.
Dinda awalnya mendapatkan tawaran pekerjaan sebulan sebelum hari pernikahannya tapi di karenakan Arkan baru pindah pekerjaan dan tidak ada yang mengurus pernikahan mereka akhirnya Dinda menolak tawaran pekerjaan tersebut dan mengurus semuanya sendiri.
Mulai dari membuat undangan, memilih gaun, fitting dan lainnya dilakukan sendiri oleh Dinda.
Arkan hanya meminta di pilihkan saja jas yang akan ia kenakan.
Seharusnya semua itu dilakukan oleh mereka berdua tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan akhirnya Dinda mengalah dan mengurusnya.
Meskipun dalam hatinya dia iri dengan orang lain yang mengurus pernikahan dengan pasangannya sehingga ada yang bisa berpendapat jika menghadapi pilihan yang membingungkan.
Arkan hanya memberikan sejumlah uang kepada Dinda yang sebenarnya masih belum cukup untuk seluruh biayanya.
Itupun uang yang mereka tabung bersama untuk pernikahan mereka.
Seharusnya uang yang mereka miliki sudah lebih dari cukup tapi karena sebulan sebelum pernikahan mereka, Arkan mendapatkan masalah yang harus mengeluarkan banyak uang sehingga uang yang sudah terkumpul itu akhirnya di pakai setengahnya untuk menutupi masalah Arkan.
Dinda sangat kesulitan dan hampir membatalkan pernikahannya karena kecewa dengan Arkan yang merugikannya tetapi semua sudah terlanjur dan pernikahan mereka sudah dekat.
Dinda tipe orang yang jarang meminjam uang tapi dia kebingungan dalam membagi uang yang ternyata tidak cukup untuk pernikahan mereka sehingga dia meminjam ke salah satu temannya.
Beruntung ada salah satu teman Dinda yang mau membantunya.
Arkan juga mencari pinjaman untuk menutupi kekurangan biaya pernikahan mereka.
Permasalahan yang Arkan buat menjadi pemicu dalam pertengkaran mereka.
Dinda terkadang mengungkit kesalahan Arkan yang membuatnya kesusahan dan Arkan pun tidak terima dengan sikap Dinda yang selalu menyalahkannya walaupun dia sudah meminta maaf.
"Sayang, kamu baik-baik ya disini! aku pergi sekarang"
Arkan berpamitan ke Dinda, tak lupa juga dia memeluk dan menciumnya.
"Iya sayang, hati-hati di jalan"
Dinda melambaikan tangan ke suaminya meski tidak rela di tinggal pergi olehnya.
Arkan akhirnya pergi meninggalkan istrinya untuk kembali ke rumah yang dia sewa karena dekat dengan tempat kerjanya.
Pengantin baru yang seharusnya masih dalam suasana yang bahagia karena selalu bersama, nyatanya itu hanya angan-angan belaka.
Dinda menyadari ada yang tidak beres dengan suaminya, terkesan seperti menyembunyikan banyak rahasia di balik perhatian dan cinta yang dia berikan.
"Semoga suamiku tidak membohongiku"
Meski dalam hatinya merasakan ada yang janggal tetapi dia selalu menepis hal itu dan tetap percaya kepada suaminya.
Meskipun pernah di bohongi pun, Dinda masih tetap memaafkan dan menerima suaminya seakan hal itu tidak pernah terjadi.
Bahkan kesalahpahaman sebelumnya saja belum terselesaikan tapi Arkan terkesan tidak mempunyai rasa bersalah dan menyelesaikan kesalahpahaman tersebut.
Terkesan hanya Dinda yang memikirkannya. Padahal hal itu membuat hati Dinda terluka dan mulai meragukan kesetiaan suaminya.
"Sayang jangan lupa makan ya, kalau sudah sampai tolong hubungi aku."
Dinda mengirim pesan ke suaminya tapi tak kunjung mendapatkan balasan apapun.
Dia mulai khawatir karena biasanya Arkan selalu cepat membalas pesan darinya.