
"Mah!" Seru Dimas karena lagi lagi terkena tamparan syantik dari sang Mama.
"Ini apa Dim?" Ucap Tamara dingin sambil menyerahkan surat undangan kepada Dimas.
"Beberapa hari kamu pergi sana dia, beberapa kali juga istri kamu melihat kamu sama dia. Apakah untuk ini hah?" Sentak Tamara.
Dima tidak memperdulikan ucapan Tamara, ia memilih kembali mendekati Chaca yang tengah terisak di pelukan Aiden.
"Mah, beri Dimas waktu sebentar saja Dimas mohon." Ucap Dimas menatap ke arah Tamara. Dirinya butuh privasi dengan Chaca untuk menjelaskan semua nya.
"Aiden gak mau pergi." Ucap Aiden menggelengkan kepalanya kuat.
"Aiden, Papi mohon." Ucap Dimas memohon kepada Aiden.
"Ayo sayang." Kata Tamara lalu menuntun Aiden. "Mama kasih waktu kamu setengah jam kalau sampai Mama denger Chaca nangis lagi awas kamu!" Ucap Tamara mengancam lalu ia segera keluar dari kamar perawatan Chaca.
"Om jahat sama Chaca hiks hiks om jahat." Gumam Chaca lirih sambil membelakangi Dimas.
"Sayang, dengerin mas dulu plis." Ucap Dimas lalu ia ikut berbaring di belakang Chaca dan memeluk Chaca dari belakang.
"Kamu jahat mas kamu jahat hiks hiks." Racau Chaca lirih sambil memeluk perut nya sendiri.
"Dengerin penjelasan mas dulu yank." Pinta Dimas sambil mengusap perut Chaca yang masih rata.
"Hiks hiks Chaca gak butuh penjelasan, semua sudah jelas. Chaca benci sama om, Chaca benci hiks hiks." Kata Chaca berusaha menyingkirkan tangan Dimas namun Dimas tetap bertahan.
"Hey, dengerin penjelasan mas dulu baru kamu boleh membenci Mas, sayang percaya sama mas. Mas gak pernah hianatin kamu." Ucap Dimas.
"Maaf karena akhir akhir ini Mas sibuk tapi kamu tau tidak hanya Mas yang sibuk, Arya dan Bian pun sama karena kami sedang ada proyek sayang. Dan untuk Mas yang bersama Astrid kamu salah paham sayang, Mas tidak sengaja bertemu dengan nya." Jelas Dimas.
"Bohong! Nyatanya kamu pergi berkali kali sama mbak Astrid. Chaca lihat itu Chaca lihat sendiri hiks hiks." Seru Chaca.
"Berkali kali?" Tanya Dimas lalu ia menghela napasnya pelan.
Dimas bangkit dari tempat tidur, lalu berpindah kini jongkok di depan Chaca.
"Mas ingin memberikan kejutan untuk kamu." Ucap Dimas kecewa karena usaha nya selama beberapa hari ini hancur karena ke salah pahaman.
Dimas merogoh saku jas nya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil lalu membuka nya tepat di depan waja Chaca.
"Happy birthday kesayangan Mas, bidadari Mas." Kata Dimas seketika membuat tangis Chaca terhenti.
"Sebenernya masih besok ulang tahun kamu, tapi mas gak mau ke salah pahaman ini terus berlanjut." Ujar Dimas.
"Emang besok Chaca ulang tahun yah hiks hiks?" Tanya Chaca masih dengan isak tangis nya.
"Kamu lihat mas sama Astrid dimana? Bilang sama Mas?" Tanya Dimas.
"Caffe kak Fahmi." Jawab Chaca.
"Caffe Fahmi? Mas sudah menelfon kamu berkali kali sayang tapi gak ada jawaban. Dan kamu bilang hape kamu ketinggalan kan, mas sudah berniat mengajak kamu. Dan setelah dari sana mas kembali kerja dan mas sangat lelah saat itu maafkan mas." Ucap Dimas tulus.
"Di mall? waktu itu Astrid mendatangi mas di kantor dan memberikan undangan pernikahan nya, dia minta ingin bertemu Aiden." Lalu mas ajak dia bertemu di Caffe Fahmi, dan untuk di Mall itu karena dia mau memperkenalkan calon suami nya." Kata Dimas.
"Tapi kenapa nama mas yang tertera di kartu undangan itu!" Seru Chaca kembali menangis.
"Sayang hey denger dengerin mas. Nama nya memang Dimas tapi apa kamu sudah membuka amplop itu? Ada foto mempelai nya di sana dan gak mungkin itu foto ku." Jelas Dimas lalu ia membuka kartu undangan itu untuk memperlihatkan kepada Chaca.
Dan benar saja, foto mempelai pengantin memang bukan Dimas suami nya tapi--
"Ini--" Kata Chaca menatap Dimas.
"Iya, dia calon suami nya." Kata Dimas membuat Chaca terdiam.
"Pantas saja dia bilang minta maaf atas namanya." Gumam Chaca pelan.
"Iya, tadi mas juga sudah bertemu dengan nya dan dia juga minta maaf sama mas karena sudah teledor membuat kamu dan calon anak kita terluka. Tapi disini kesalahan juga ada sama kamu." Ucap Dimas menatap Chaca dingin.
"Maaf." Ucap Chaca lirih.
"Bagaimana bisa kamu mendonorkan darah kamu di saat kondisi kamu sendiri seperti itu hem?" Ucap Dimas ingin marah.
"Chaca cuma punya mama, Chaca gak mau mama kenapa kenapa. Apa salah kalau Chaca ingin berbakti sama mama?" Tanya Chaca kembali menangis.
"Chaca juga gak tau kalau Chaca lagi hamil, Chaca cuma merasa pusing karena tidak enak badan. Chaca gapapa kalau harus merelakan nyawa Chaca sekalipun hiks hiks." Kata Chaca terisak kembali.
"Kamu gak punya hak bicara seperti itu karena Sekarang kamu milikku, mas gak akan ngebiarin kamu terluka barang sedikit pun jadi jangan pernah bertindak bodoh lagi tanpa izin mas." Ucap Dimas semakin membuat Chaca menangis.
"Kemana aja Mas beberapa hari ini? Kenapa baru ngomong kaya gitu sekarang hah? Chaca dari kemarin sakit nyariin Mas tapi gak ada. Sibuk aja terus sama kerjaan smaa mantan sampai lupa sama Chaca. Terus giliran Chaca kaya gini mas nyalahin Chaca kenapa harus Chaca yang di salahkan kenapa mas gak nyadar sama kesalahan mas sendi huaaaaa." Tangis Chaca semakin histeris.
"Mas yang buat Chaca begini tapi mas juga yang marahin Chaca. Chaca salah apa coba kenapa selalu di salahin harus nya mas sadar diri. Kalau bukan karena mas, Chaca gak akan sampai disini hiks hiks. Mas jahat Chaca benci lagi sama mas Dimas, Chaca benci." Teriak Chaca.
"Sayang, bukan maksud mas marahin kamu. Tapi mas khawatir sama kamu." Ucap Dimas memberi penjelasan.
"Intinya tetep sama aja mas udah marah marah sama Chaca padahal mas yang salah, Chaca benci sama mas Chaca benci." Seru Chaca lagi.
Ceklek!
Tamara masuk ke dalam kamar perawatan Chaca dengan ekspresi terkejut karena melihat Chaca yang menangis histeris sambil memukul Dimas dengan bantal.
"Dimas!" Seru Tamara.
"Mama sudah bilang jangan buat menantu mama menangis kan!" Ucap Tamara tajam.
"Mah--" Kata Dimas terhenti kala di potong oleh Chaca.
"Mama, Chaca di marah marahin sama anak Mama. Chaca salah apa Mah? yang salah anak mama yang udah buat Chaca hamil dan masuk rumah sakit tapi dia juga yang nyalahin Chaca. Chaca di omelin dari tadi hiks hiks." Ucap Chaca mengadu sambil terisak membuat Tamara seketika specles karena tangis Chaca bukan lagi karena Astrid melainkan apa tadi? Batin Tamara.
"Mama balik marahin anak mama itu. Udah tua hobi marah marah sama anak kecil. Chaca lagi sakit Mah, tapinya di marahin terus dari tadi boro boro di sayang sayang di manja manja hiks hiks." Ucap Chaca lagi benar benar membuat Tamara menggaruk tengkuk nya.
'Ini kenapa menantu ku jadi seperti ini?' Batin Tamara.