
Tak ada persiapan berarti yang Hyera lakukan. Ia langsung mengetuk pintu kamar dan tak lain milik Emran. Karena pintu tak kunjung dibukakan, Hyera yang tidak sabar, segera mengeluarkan ponselnya dari tas di pundak kanannya.
Menggunakan ponselnya, Hyera menelepon kontak : Franda. Ia mengawasi suasana sekitar yang memang sepi. Tak lama setelah ia menunduk, ia mendapati pintu di hadapannya terbuka. Sepasang kaki masih memakai kaus kaki khas seorang laki-laki ia dapati. Tatapannya naik dari sepasang kaki itu.
“Sejak kapan tubuh Arkanda jadi tegap berisi begini? Bentar deh, aroma parfumnya saja bed...