
Usai mendirikan tenda, Udin berpamitan kepada para pria kemudian segera menuju Rihlah yang berlabuh di perairan dangkal muara sungai Tabuan Lasi. Tak lama nampak dari hadapannya Zayn yang melompat ke perairan dangkal dari atas Valhalla dan berjalan dengan celana yang dilipat setinggi paha menuju Rihlah yang berposisi hanya beberapa meter melabuhkan jangkar di selatannya.
Udin kemudian menyodorkan tangan kanan untuk membantu Zayn yang hendak memanjat ke atas Rihlah. “Apa kau rasa buaya-buaya akan kembali ke muara ini Zayn?” tanya Udin kepada Zayn yang baru saja keluar kamar dengan menggunakan sarung dan menjemur celananya yang sedikit basah di bagian atas Rihlah.
“Entahlah Din, kurasa kita tidak perlu memikirkan hal itu, yang penting kita terus waspada, malam ini tolong tetap terbangkan drone dan selalu dalam kesiagaan, jika ada beberapa buaya kembali tinggal kita bantai sekali lagi,” jawab Zayn.
“Yahhh hanya sesimpel itu aja sih, btw ngomong-omong kenapa tadi kamu tadi tidak berbicara rencana panjang yang kita bicarakan sebelumnya bersama mereka, padahal aku sudah menunggu loh?” tanya Udin yang memasang wajah penuh selidik kepada Zayn.
“Hemm gimana ya Din, aku sebetulnya masih agak plin plan tadi dan kurasa kita sebelumnya masih terlalu emosional dan belum matang dalam merencanakan hal ini.” jawab Zayn. “Coba jelaskan maksud omonganmu,” Udin menimpali.
“Ketika hampir selesai membakar daging buaya tadi, selepas kepergianmu untuk memanggil yang lain, dalam pikiranku berkecamuk lagi beberapa hal, mulai tentang tujuan kita disini, berapa lama kita bakal terdampar di planet ini, apa yang kita lakukan disini, akan bekerja sama dengan siapa disini. Untuk membantu Johnny membuat mobil dalam bahasamu (make a car) kau tahu kan itu hanya mulut manisku saja, aku juga tak terlalu mempercayainya. Belum tentu putra mahkota dan raja Suleka juga bukan orang yang baik, adil dan bijaksana. Tetapi bagaimanapun juga kita harus menentukan tujuan hidup jangka pendek, menengah bahkan jangka panjang jika mungkin misalnya kemungkinan terburuk kita terjebak tinggal di planet ini selamanya.” Curhat Zayn.
“Apa yang kau pikirkan sebetulnya juga ada di pikiranku Zayn. Btw ini sepertinya sudah masuk waktu maghrib apakah kita akan beribadah sekarang? Dan juga ini adalah hari ketiga kita di planet aneh ini, jadi apakah mulai besok menurutmu kita tidak lagi menjamak qashar ibadah kita?” tanya Udin kepada Zayn yang termenung memandang matahari terbenam di ufuk barat Samudra Alaves.
“Bagaimana jika kita akhirkan ibadah jelang pukul 21.00 sebelum kita tidur Din. Pemahaman agamaku sendiri sebetulnya jauh dibawah pemahamanmu, namun dalam sebuah bacaan yang pernah ku baca, imam Tirmidzi ada menjelaskan sebuah hadis tentang rhuksoh atau keringanan ibadah. Kurang lebih seperti ini, siapa yang tidak berniat mukim dan tidak menentukan jumlah hari singgahnya, mereka tetap mendapatkan rukhsoh Qashar dan jamak sholat, walaupun lamanya sampai tahunan. Menurutku selama kita belum mulai membangun pemukiman untuk tetap disini seperti istana di Alamut yang kita bayangkan, maka kita masih masuk orang yang belum masuk fase mukim, apalagi kita masih menganggap rumah kita di Bumi, bagaimana menurutmu,” tanya Zayn.
“Ya kurang lebih sama sih, ok lah kita tunda nanti menjelang tidur ya, kemudian bagaimana masalah esok hari dan kedepannya?” tanya Udin. Menurutku kita perlu segera memerintahkan Johnny dan pasukan untuk pergi dari wilayah ini untuk sedikit menjalankan rencana kita, berbelanja daftar list kita atau cari budak misal, itu pun setelah kita menanyakan hal yang perlu ditanyakan. Selanjutnya kita perlu lebih mendengar pembicaraan para budak, kurasa banyak diamnya mereka sejauh ini selain masalah trauma juga ada ketakutan jika harus berbicara hal sensitif. Dan tanpa para pria itu bukankah kita bisa lebih bersenang-senang haha.” Udin mengutarakan pikirannya.
“Ckckck kamu tuh Din, Udin. kesitu aja pikirannya. Sepakat dan bahkan bagaimana jika selama Johnny segera kita perintahkan untuk memulai misi dan kita mulai proxy 2 kaki kita? Kita bisa melakukan pelayaran singkat dan melakukan kontak kepada Putra Mahkota atau pihak pemerintahan di kota Kebon Gede, kurasa kita perlu bermain 2 kaki dalam hal ini apakah kau setuju Din?” tanya Zayn.
“Brilian, ini baru Zayn yang kukenal, lets do it haha.” jawab Udin sambil slonong boy menuju haluan Rihlah di bagian depan.
“Btw mau ngapain lo di haluan malam-malam banyak angin gini?” reaksi Zayn melihat Udin yang tiba-tiba ke haluan.
“Haha dasar turunan India, ARMY lagi, ok wait for minutes aku masih perlu menyalakannya.” Jawab Zayn bergurau sambil menyalakan laptop.
Musik mulai menghentak dan mereka mulai menyanyi di haluan kapal, mendengar suara asing di dekat mereka para gadis yang penasaran akhirnya melihat Zayn dan Udin menari dan mengira suara yang keluar dari pengeras suara yang terinstal di Rihlah adalah suara mereka berdua.
“Meski aneh tapi mereka berdua tampan dan pintar, mereka datang dari kerajaan yang luar biasa maju dan melihat fisik, senjata dan pakaian yang digunakan sepertinya mereka bukan orang sembarangan,” Rena berbicara kepada Anna yang mengintip mereka berdua menarikan lagu dari BTS.
“Aku setuju dengan perkataan kak Rena,” Gina menimpali. “Kurasa mereka juga orang yang cerdas, dalam beberapa jam mereka bisa menguasai bahasa kita dan caranya mengambil keputusan juga cepat tap bijaksana.” tambahnya lagi.
“Aku tidak paham lagu yang mereka nyanyikan, bahasanya tak kumengerti sama sekali, tapi aku heran bagaimana mereka berdua bisa membuat suara mereka sekeras itu. Seperti saat hari itu Tuan Zayn meneriaki para mafia di kapal ini dari Rihlah pada pertempuran singkat di pagi hari 2 hari lalu. Tapi yang jelas takdir dewata agung tidak salah kepada kita, justru kita sangat beruntung, suara mereka sungguh merdu dan mereka tampan. Padahal sangat tabu lelaki menari tapi mereka sungguh percaya diri dan gerakannya indah. “ Anna mengungkapkan pendapatnya.
Para gadis berebut untuk mengintip Zayn dan Udin yang terus menari, bahkan kini playlist mereka sudah berganti menjadi lagu Butter masih dari BTS. Sedangkan para balita nampaknya sudah tertidur setelah seharian bekerja keras. Karena berebut melihat Zayn dan Udin yang menari diujung buritan Valhalla yang tidak terlalu lebar itu Anggi terjatuh dan membuat suara berdebam yang disadari mereka berdua di Rihlah dimana Zayn yang dalam mode sangat waspada segera masuk ke dalam sambil mematikan musik melalui voice command yang sudah mereka aktifkan, Udin pun sigap dengan segera mengambil posisi stelling di haluan merunduk sambil mengeluarkan pistol SIG P938, sementara Zayn mengambil posisi di ruang kemudi.
“Siapa disana,” teriak Zayn dengan mikrofon. “Mohon maaf tuan Zayn kami hanya coba mengintip, untuk menonton tuan-tuan menyanyi dengan merdu dan melakukan tarian indah. Maafkan jika kami mengganggu,” jawab Rena mewakili para gadis.
“Ahh kirain siapa, kalian mengganggu saja,” jawab Udin. “Oke gak papa kami hanya sedikit waspada saja, segera tidur selamat beristirahat, semoga mimpi indah, jangan lupa berdoa sebelum tidur,” jawab Zayn dari ruang kemudi Rihlah melalui pengeras suara.
“Sepertinya sudah jam 8 lebih Din, ibadah yuk seperti biasa tolong jadi imam, lalu seperti biasanya juga please kamu lagi ya yang jaga shift pertama sambil memantau sekitar menggunakan Drone!” ucap Zayn.
“Ok wudhu dulu om,” jawab Udin.