Mahakarya Syefani

Mahakarya Syefani
Mereka Anak Baik


“Andai dia tau, kalo gue pernah terbengkalai karenanya. Mengejar makna yang sesungguhnya terikat erat, sampai akhirnya gue menyerah dan berhasil menemukan jalan pulang. Sepedih itu ternyata, tapi akan jadi kenangan gila sekaligus simulasi mental speechless.”


“Oi Lion, ngapain lo ngelihatin gue kayak gitu?” Keyza menepuk tangan tepat di depan mata Lion yang tengah melamun sembari senyum-senyum sendiri.


Lion hanya membalaskan senyuman tanpa menatapnya. “Emang gue ngelamun?”


Keyza membalas menohok, “Sinting!”


Cowok itu menyeringai lebar dengan rahang yang terangkat menunjukkan gigi-giginya.


“Bisa-bisanya gue dulu pernah sejatuh itu, sedalam lautan samudra, dan sekuat intensitas palung mariana. Andai bisa gue gapai, pasti sekarang akan bahagia.”


“Aluna pertama yang mendarat di lubuk hati paling dalam, begitu terukir indah layaknya lukisan mawar merah menawan, yang membuat adrenalin merasa nyaman.”


Sepintas, isi sel saraf otaknya terbuai akan masa-masa indah Lion saat berada di jenjang SMP.


Di lapangan badminton, hanya ada Keyza dan Lion. Cewek itu masih berdiri tepat di hadapan Lion, membawa bola basket yang ia taruh di samping badannya dengan tangan kiri. Ia memicingkan mata serius pada sosok Lion yang tiba-tiba berubah menjadi zombie.


Bugh!


Bola basket berukuran besar dan kuat itu ditimpukkan pada perut Lion. Sontak, cowok itu langsung menangkap bola basket yang baru saja mendarat di perutnya. Tangan kanannya menyentuh perut dengan mengelus-elus pelan, walau terasa sakit tapi ia merasa bahagia.


Ia juga tak berhenti menatap intens manusia cantik di depannya. Bukannya marah, Lion justru menyugar rambut hitam dengan highlight pirang.


Plak!


Tamparan mulus mendarat bebas di pipi Lion. Keyza kali ini benar-benar murka, bola matanya seperti memancarkan tombak api, pipi memerah, bahkan ekspresinya gagal menunjukkan raut santai. Benar-benar menggemparkan!


Gadis berambut pirang itu dengan handuk melati yang tersampir di bahunya beranjak pergi dari hadapan Lion setelah memberi tamparan manis untuk cowok yang tidak tau diri. Senyum-senyum tidak jelas, ditanya tapi tidak direspon, hal ini membuat Keyza berpikir jika Lion sedang mengalami gejala ODGJ.


Punggungnya sudah tidak terlihat jelas dari pandangan mata, Keyza benar-benar sudah pergi menuju arah kelasnya. Sementara Lion baru sadar ketika gadis yang menamparnya sudah pergi.


“Lion, lo jangan kembali ke masa lalu. Mau lo dapat penolakan tragis?” Batin cowok itu seraya mengambil bola basket yang tergeletak di samping kakinya.


“Makasih, lo udah buat gue jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Gue ga bisa berhenti menatap handuk favorit lo saat latihan badminton. Gue ingat, dulu lo sering pake handuk untuk lap keringat dengan motif bunga melati. Masa SMP gue indah banget, ya?”


Lion memainkan bola basket dengan men-dribble langkah demi langkah. Saat bola basket ia pantulkan ke arah ring, tepat sekali masuk dengan sempurna. Ia senyum sambil berkata, “MY FIRST LOVE, SYEFANI.”


..


“Kebutuhan merupakan keinginan manusia berupa barang atau jasa untuk dipenuhi sehingga tercapai kemakmuran. Kebutuhan manusia menurut intensitasnya ada kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Menurut sifatnya—”


“Lo belajar ekonomi?”


Gadis itu mengangguk pelan, kemudian melanjutkan hafalannya yang sudah setengah jalan.


“Lo kok percaya banget sih? Hari ini ga ada kuis ekonomi, lo diprank sama ketua kelas biadab kayak, Ragav. Bu Berlina aja ga masuk hari ini, dia ngasih tugas doang. Nih tugasnya titipan dari kelas sebelah,” Salma menunjukkan lembaran tugas ekonomi yang tertanda Bu Berlina selaku wali kelas 10 IPS 1.


“Oh ya udah kalo gitu. Makasih infonya,”


Salma tercengang mendengar jawaban santai dari teman sekelasnya itu. Pasalnya, dia sama sekali tidak marah ketika sudah hafalan banyak, tapi kenyataannya diprank sama teman sendiri. Itu sakit banget ga sih? Dia kok biasa aja sikapnya?


Melalui anak tangga, Syefani melangkah berjalan menuju rooftop sekolah. Tak lupa ia membawa foto polaroid ukuran 2r di genggaman tangannya. Gadis itu memposisikan diri duduk di kursi panjang yang mengarah ke gedung-gedung besar di sekitar lokasi SMA Laskar Titanium.


Di depan kursi itu terdapat setengah dinding sebagai pembatas, tapi jika duduk di sana masih terlihat indahnya pemandangan dari atas rooftop.


Ukiran foto bernuansa langit-langit malam, ia raba dengan begitu pelan. Mengusap dua wajah cantik yang terlukis indah di sana. Senyum maut yang disemburkan begitu terasa nyata, walaupun hanya sebuah kenangan abadi.


“Cantik, kapan pulang? Ayo kita main sama-sama lagi, gue butuh pelipur lara saat ini.” Tak terasa satu tetes air mata jatuh tepat di ukiran foto itu.


Ada banyak luka tanpa suara yang tidak memberi aba-aba kapan ia akan datang, pada akhirnya hanya air mata yang jatuh tanpa bicara tapi ia bisa mengendalikannya dengan sempurna.


“Syefani?” panggil seorang gadis dari anak tangga.


Syefani menoleh ke arah tangga pada wajah gadis yang barusan memanggil namanya. Dengan sigap, foto yang sedang ia tangisi diumpatkan di belakang tubuhnya dengan kedua tangan menggenggam ukiran foto itu.


“Lo dipanggil Pak Tirta,”


“Oke, gue ke sana sekarang.” Syefani tergesa-gesa bergegas menuju panggilan Pak Tirta, foto yang ia umpatkan kini diselipkan di saku depannya. Dengan nada yang terengah-engah, gadis itu menuruni anak tangga satu persatu.


“Foto siapa ini? Cantik sekali,” Seseorang mengunjungi rooftop setelah Syefani beranjak pergi dari sana. Ia menemukan ukiran foto polaroid cantik, begitupun objek yang ada di dalamnya. Sangat indah, lebih dari bintang.


..


“Nih, buat lo. Ambil aja,” kata Syefani menyodorkan satu botol air mineral ke cowok yang bergabung lomba FLCO dengannya.


“Ga usah, makasih sebelumnya. Gue bisa beli sendiri, lagian Mak Tuti belum tutup.” Tangan cowok itu menahan botol air mineral yang disodorkan Syefani.


“Katanya, rezeki ga boleh ditolak, ya? Kantin Mak Tuti emang belum tutup, tapi air mineral di sana tinggal satu terus gue beli. Lo masih niat beli air mineral di sana? Atau—”


“Iya, ya udah sini. Makasih ya, terus lo minum apa?”


“Udah kayak ayah gue aja lo, sok peduli. Gue minum apa aja bukan urusan lo, kan? Udah tinggal minum aja ribet, banyak tanya!”


Cowok itu yang tersimpuh di lantai lapangan, mendongak ke atas dengan tatapan aneh pada raut Syefani. “Cewek sekian cewek,”


Setelah merasa dahaga nya terguyur puas, ia memberanikan diri untuk sekedar berkenalan dengan gadis yang memberinya air mineral.


“Kenalin, nama gue Alju. Gue tau, gue anak baru gabung di FLCO ini. Gue harap lo bisa berteman baik sama gue.” Alju menjulurkan tangan kananya untuk berkenalan.


Syefani membalasa julur tangan cowok itu. “Hai, Alju. Gue Syefani, salam kenal kembali. Selamat bergabung juga,”


“Hai, Syefani. Btw, ini latihannya udah selesai, kan? Gue ada janji sama temen-temen,”


“Udah kok, langsung pulang aja gapapa. Lagi pula, Pak Tirta masih ada urusan di luar.”


Dari kejauhan tampak geng anak laki-laki sedang menunggu Alju untuk bergegas pergi dengan persiapan yang begitu matang.


“Alju, ayo buruan? Kita tunggu di samping gerbang ya.” teriak salah satu teman Alju dari arah parkiran.


“Kayak pernah ketemu,” ucap Syefani dalam batinnya. Ia mengingat pertemuan yang tidak biasa, tapi susah juga untuk diingat tergantung orang yang kita temui.


Syefani memberikan acungan jempol pada Alju yang tengah beranjak menuju motor yang terparkir di sebelah lapangan badminton.


“Lo ngobrol sama siapa sih? Cewek deh kayaknya tadi, apa lo lagi PDKT?” usil Evander.


Alju mengedikkan bahunya malas pada pertanyaan ga guna dari bapak leader itu. “Eh, target kita siapa kemarin? Gue baru ikut nih hari ini,”


“Pengemis jalanan!”


Lima lirikan tajam tertuju pada mata Evander, ia begitu terjengkit ketika teman-temannya memandangi dengan tatapan sinis. “BUKAN PENGEMIS, TAPI PENGAMEN CILIK. KALO GA TAU, GA USAH NGOMONG!”


Lagi-lagi, bapak leader ternistakan akan omongannya yang ceplas-ceplos. Tanpa basa-basi lagi, mereka berenam berangkat menuju target utamanya kemarin yang gagal untuk sekedar berbincang sejenak. Terlihat ramai lalu lintas hari itu, ditambah ada sekerumunan orang berkumpul di pinggir jalan yang membuat jalanan macet.


“Kita parkir kayak biasanya ya, nyebrang jalan kaki aja.” perintah Dhien memberi aba-aba dari atas motor sebelum berbelok ke arah warung penitipan motor.


Setelah memarkirkan motor dengan sempurna, Zero semakin penasaran dengan kejadian di seberang jalan sana. Ada banyak kerumunan warga sekitar, ia pun bersama teman-temannya menyebrangi lalu lintas yang cukup ramai dan menuju kerumunan itu.


“Permisi, ada apa ya?”


“Ada apa, Pak?”


Salah satu warga mengatakan jika barusan saja terdapat kecelakaan antara anak kecil dengan sepeda motor yang mengakibatkan anak kecil terluka parah pada bagian kakinya. Kini, pemilik sepeda motor itu telah ditangani pihak kepolisian sedangkan anak kecil itu masih tergeletak lemah tak berdaya menunggu pihak puskesmas terdekat.


“Itu kan, Azam?” seru Dhien menunjuk ke arah korban anak kecil yang terluka parah dengan dibaluti darah segar mengalir di bagian tumit kakinya.


“Ayo, cepat-cepat bantu dia. Vee, pesan taksi online sekarang!”


Tidak sampai lima menit, taksi itu datang sesuai arah yang dipesan Veehan. Dhien dibantu warga lain membawa Azam ke dalam taksi itu, cowok itu yang akan menemani Azam ke rumah sakit. Sementara, geng Gazero lainnya membonceng anak-anak jalanan itu menyusul Dhien dan Azam.


“Motor lo gimana?”


“Gampang, lo bilang ke ibunya kalo titip motor dulu, nanti gue ambil balik. Nih, kasih uang ke ibunya. Kasihan masa motor gue ga tau diri numpang seenaknya, gue cabut duluan ya.” Taksi itu beranjak pergi dari tempat kejadian.


“Ayo kalian semua ikut kita ya nyusul adik Azam.” ajak Gebra menuntun satu persatu anak-anak itu menyebrang jalan untuk mengambil motor.


..


“Gimana keadaan Azam, kak? Apa dia baik-baik aja?” tanya Raihan dengan raut cemas yang diiringi balutan air mata.


“Azam masih ditangani Dokter, kamu tenang aja ya. Kita doakan semoga Azam cepat sadar dan bisa berkumpul bareng-bareng lagi. Jangan nangis dong, usap ya pelan-pelan.” Alju sedikit membungkukkan badan untuk menyetarakan tingginya dengan Raihan. Ia mengusap pelan air mata yang jatuh dari mata Raihan, lalu memeluknya dengan erat.


“Kita belum kasih tau Twinkle, Raihan. Kalo dia khawatir nungguin kita gimana?” ucap salah satu teman cewek Raihan.


“Twinkle? Siapa itu?” Geng Gazero memang penasaran dengan sosok Twinkle, yang berulang kali disebut anak-anak itu.


“Twinkle itu—”


“Selamat sore, dengan keluarga pasien atas nama Azam?”


Dhien melajukan langkahnya ke arah Dokter dan berkata,


“Hmm, saya bukan keluarganya. Tapi, saya yang akan bertanggung jawab atas Azam.”


“Baiklah. Pasien kondisinya sudah jauh lebih baik, pendarahan sudah berhasil kami tangani. Pasien juga sudah sadar, silakan jika kalian akan menjenguknya. Oh iya satu lagi, jika selama 24 jam pasien tidak merasakan efek berlebihan, maka dia sudah boleh pulang esoknya.”


“Alhamdulillah. Terima kasih, Dokter.”


“Sama-sama, saya permisi.”


Geng Gazero mengajak anak-anak itu untuk masuk ke ruang rawat Azam. Ketika melihat temannya terbaring lemah di atas brankar rumah sakit, seketika mereka memeluk erat Azam dengan kasih sayang yang tidak bisa diungkapkan kata-kata.


“Azam, gimana keadaanmu? Apakah masih sakit?”


“Udah ga sakit kok, bentar lagi sembuh. Makasih ya udah bantuin aku,”


“Kamu harusnya berterima kasih sama kakak-kakak ini, mereka yang udah bantuin kita semua. Kita aja tadi dibonceng ke sini nyusulin kamu.”


Azam mengarahkan pandangannya satu-satu ke arah geng Gazero itu. Wajah yang ia lihat seperti tidak asing baginya. Baru saja ia ingat jika kakak-kakak ini yang kemarin menghampirinya di pinggir jalan, tapi ia justru lari ketakutan bersama teman-teman yang lain.


Anak laki-laki itu mencoba untuk duduk dengan sandaran bantal di belakangnya. Gebra refleks membantu Azam untuk duduk senyaman mungkin. “Hati-hati.”


“Kak, Azam minta maaf ya. Kemarin, aku yang ngajak teman-teman untuk lari dan pergi karena aku mengira kalian akan meminta hasil kerja kami. Justru, kakak-kakak semua yang hari ini menolong aku dan teman-teman. Terima kasih ya, kak.” kata Azam mengecilkan suaranya, ia hanya bisa menundukkan kepala dengan rasa bersalah.


“Halo jagoan, jangan bicara seperti itu ya. Kakak tau kalian takut sama kami, karena sebelumnya kita ga pernah bertemu. Tapi sekarang udah kenal, kan? Jadi, jangan merasa bersalah lagi ya.” Veehan berdiri tepat di brankar Azam, lalu ia memeluk anak itu dengan dekapan hangat.


Dhien dan yang lain memberikan senyuman kebahagiaan untuk Azam. Betapa bangganya mereka kepada anak-anak itu, sangat bertanggung jawab dan tidak lupa attitude yang sopan nan luar biasa.


Sementara Evander, ia hanya bergeming duduk di kursi tunggu yang letaknya berada di luar ruang rawat. Tak mengatakan apapun, ia lebih banyak diam dari pada aksi. Memang tidak ada yang bisa merubah sifat egoisnya itu, apalagi sifat gengsinya yang merajalela tingkat kuadrat.


“Bentar, gue susul si Evander dulu. Heran gue, tuh anak ga ada rasa manusiawi nya sama sekali.” kata Zero yang beranjak ke luar ruang rawat untuk menemui bapak leadernya itu.


“Bilang ke dia, suruh masuk. Kalo ga mau, suruh pulang aja dia.” balas Dhien menohok sekaligus kesal dengan sikap yang ditunjukkan temannya itu pada anak-anak yang tidak bersalah.


“Loh, tuh bocah ke mana? Bukannya tadi nunggu di sini?” Zero menanyakan keberadaan cowok itu pada beberapa orang yang tengah duduk di sekitar tempat di mana Evander menunggu.


Mereka tidak melihat Evander, bahkan arah perginya pun tak tahu. Ia pun bergegas ke arah parkiran, melewati berbagai pasien dan keluarganya berlalu lalang, sampai di parkiran pun motor Evander masih ada.


“Chat ga dibales, ditelepon malah ga aktif. Nih bocah nyusahin mulu kerjaannya, coba gue konfirmasi ke Dhien aja deh.”


“Tolong gue—”


“Pentol Ze... Zero...” Terdengar suara cekatan yang bikin bulu kuduk Zero merinding.


Pandangan matanya naik menatap sebuah papan tulisan terpampang jelas tepat di atas sebuah ruangan. “Ha...”


“Kenapa hatiku cenat-cenut... lariiiiii!”


***