
Menyambut tahun pelajaran baru, SMA Laskar Titanium baru saja selesai melaksanakan MOS (Masa Orientasi Siswa) untuk murid-murid baru kelas 10 dalam rangka pengenalan lingkungan sekolah sekaligus beradaptasi dengan suasana yang sebelumnya belum mereka rasakan.
Hari pertama masuk sekolah tepat di bulan Juli 2021, tidak ada satupun murid yang terlambat. Pukul 06.55 WIB, seluruh murid-murid SMA Laskar Titanium sudah berada di kelas masing-masing. Disiplin menjadi modal utama dalam penerapan karakter di SMA yang dijuluki sebagai sekolah paling ketat dan nuansa akan jebolan atlet-atlet handal dalam bidang olahraga.
“Syef, lo duduk sendirian? Mau gue temenin nggak?” tanya Salma, teman kelas Syefani yang terkenal sok cantik.
Syefani menggelengkan kepala, bola matanya tertuju pada Salma yang sedang asik ngobrol dengan gengnya.
Suara bising di dalam kelas tiba-tiba terdiam seketika melihat seorang ibu guru cantik tapi berwajah cuek. Ya, itu adalah Ibu Berlina, guru mata pelajaran Ekonomi sekaligus akan menjadi wali kelas 10 IPS 1.
“Pagi semua.. Perkenalkan nama saya, Berlina Swastika. Saya mengajar Ekonomi sekaligus akan menjadi wali kelas kalian. Bagaimana? Apa ada yang ingin ditanyakan sebelum saya lanjutkan ke materi hari ini?” tanya Bu Berlina seraya merotasikan bola mata ke seluruh ruangan dengan menatap wajah murid-muridnya.
“Loh, kamu jadi pindah, Nak?” tanya tiba-tiba Bu Berlina pada salah satu murid yang ternyata itu Syefani.
Mata Syefani tertuju pada pertanyaan ibu guru itu.
“Iya, Bu. Sudah selesai kok pengurusannya.” Jawab santai gadis itu, kemudian kembali merebahkan kepalanya di atas meja.
“Kamu sakit? Pergi ke UKS kalo sakit,” pinta Bu Berlina seraya memandangi Syefani dari meja guru.
Syefani yang mendengar tawaran wali kelasnya itu, ia langsung menegakkan kepala dan badan untuk bersandar di kursi. “Saya baik-baik aja kok, bu.”
“Ya sudah. Sekarang masuk materi ya. Hari ini pembahasan materi masalah pokok ekonomi. Kalian pastinya tidak asing dengan kata ekonomi, bukan? Ekonomi menjadi kebutuhan yang tidak ada habisnya bagi manusia. Kebutuhan sendiri merupakan keinginan manusia atas barang dan jasa yang beraneka ragam untuk dipenuhi.”
“Kalian buka halaman selanjutnya, itu ada penjelasan definisi ekonomi menurut para tokoh dan jenis-jenis kebutuhan manusia apa saja. Dibaca dulu, setelah itu bisa kalian tanyakan mana yang kurang paham.” Perintah Bu Berlina kepada anak didiknya.
Kring... Kring... Kring...
Alarm bel istirahat berbunyi. Sorakan para siswa di seluruh penjuru kelas terdengar begitu riuh dan saling berhamburan menuju kesenangan masing-masing. Ada yang mengarah ke perpustakaan, ada yang bermain basket, dan sebagian merehatkan pikiran di kantin.
“Syefani, ke kantin yuk! Masa lo mau diem aja di kelas, kita happy di kantin aja ya. Kita kan bisa lebih dekat satu sama lain, untung-untung sih kalo lo mau gabung masuk geng kita. Iya nggak?” ajak Salma yang merupakan ketua geng cewek yang selalu tebar pesona.
“Iya nih, ayolah ikutan. Ya udah deh, kita ga bakalan maksa lo buat gabung ke geng kita.” balas Chesa yang berusaha membuat hati Syefani luluh.
Syefani berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah kantin tanpa berkata apa-apa. Salma Cs berpandangan satu sama lain melihat tingkah aneh Syefani itu.
“Kenapa kalian saling berpandangan gitu? Katanya mau ke kantin, ngapain berhenti?” tanya Syefani yang berbalik arah menarik tangan Salma.
Chesa tertegun kencang ketika melihat ketua gengnya ditarik paksa oleh Syefani. Sebelumnya tidak ada yang berani bersikap kasar pada Salma, tapi Syefani memiliki mental dan keberanian yang kuat.
Syefani memang terkenal pendiam dan irit sekali untuk berbicara, sekali bicara sangat singkat dan itu pun dengan kata-kata yang savage sekali.
“Okay, kalian mau pesan apa? Gue yang traktir hari ini, terserah deh mau pesan apa aja. Beruntung kan kalian punya ketua geng kayak gue, circle kita tuh ga main-main ya.” ucap dengan lantangnya Salma seraya melipat kedua tangannya.
“Oh so sweet banget deh, thanks ya.” celetuk Naya, yang merupakan anggota geng Salma.
“Wih ditraktir lagi nih?” tanya Chesa berbahagia.
“Lo dikasih bulanan berapa sih sama nyokap bokap lo?” tanya Liora yang begitu penasaran seraya menatap menu makanan yang akan dipesannya.
“Kasih tau ga ya? Udah deh kalian tinggal pesan aja repot, tanya-tanya privasi gue lagi. Udah buruan pesan yang banyak, bilang noh sama Mak Tuti.” cicit Salma yang kesal dengan serbuan pertanyaan nggak jelas.
“Lo mau pesan a..,” sorot matanya tertuju pada langkah Syefani, “pa?”
Syefani beranjak dari tempat duduknya, ia mengambil satu botol air mineral kemudian pergi ke arah Mak Tuti. “Mak Tuti, ini berapa?” tanya Syefani seraya menunjukkan air mineral yang dipegangnya.
“Itu harganya delapan ribu rupiah aja, Neng.” jawab Mak Tuti dengan segala keramahannya.
Syefani memberikan uang lembaran sepuluh ribu. Niat hati ingin memberikan kembalian, ternyata Syefani sudah beranjak pergi dari kantin.
“Syef, mau ke mana lo? Ga jadi makan?” tanya Chesa yang melihat Syefani seperti terburu-buru.
“Gue ada urusan bentar, dipanggil Pak Tirta.” teriak Syefani dari kejauhan, batang hidungnya kini tak tampak lagi dari dekat.
Bruk!
Seketika penghuni kantin terjengkit karena gebrakan keras dari tangan cowok super gengsi. Siapa lagi kalo bukan, Evander dan gengnya yang bernama Gazero boys yang terdiri dari Algebra, Gradhien, Aljazair, Zero, dan Veehan.
Salma Cs mulai menampakkan leluhurnya yaitu tebar pesona, tiada hari tanpa tebar pesona di depan cowok-cowok ganteng seperti Evander dan Gazero Cs.
“Evander, lo mau makan apa? Kita makan bareng yuk! Sekalian sama temen-temen lo ini,” ajak Salma dengan melirik Evander malu-malu.
“Gue ga mood makan! Gue udah kenyang disuapin mamah,” celetuk mulut Evander tanpa sadar.
Gebra memukul bahu Evander dengan hantaman yang keras. “Kalo ngomong disaring dulu, bego!” Gebra melototkan matanya ke arah Evander yang tidak peka dengan kode yang diberikannya.
“Apaan sih?” jawab lirih Evander dengan menatap sinis Gebra.
Zero memonyongkan bibirnya ke arah Evander. Ketika sadar, cowok itu langsung membungkam mulutnya sendiri.
“Oh gitu, ya udah duduk bareng kita aja. Sambil happy ya, kan?” sahut Salma mengajak Evander dan teman-temannya untuk duduk bersama.
Salma mau aja dikibulin sama cowok nggak jelas kayak mereka. Hahaha.
“Sumpah, gue malu sendiri punya ketua kayak dia. Bisa-bisanya jujur di depan banyak orang lagi, untung mereka percaya, coba kalo nggak? Ancur deh reputasi Evander jadi cowok famous,” bisik Gebra pada Zero yang sama-sama malu sendiri.
“Gatau, gue pura-pura ga kenal aja deh.” sahut Dhien terkekeh pelan.
“Lo pada ngomongin gue? Sini depan gue kalo berani, banyak bacot lo semua!” murka Evander menatap tajam Gebra dan Zero.
Cowok itu beranjak dari kantin dan menuju koperasi siswa. Alju dan teman-temannya hanya bisa menepuk jidat karena ulah random Evander. Baru kali ini, Evander memasuki koperasi siswa tanpa canggung.
“Lo ngapain ke sini? Kesambet king kobra ya, lo?” ejek Veehan.
Evander tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya. Ia fokus mencari sesuatu di etalase milik kopsis.
“Bu, sampul buku di mana ya? Kalo ada yang warna coklat polos deh,” tanya Evander seraya membungkukkan badannya yang sedang mencari sampul buku.
Bu Nila, penjaga kopsis memberikan satu gulung sampul buku coklat. “Berapa harganya, Bu?”
“Lima ribu,”
Setelah membayar, Evander mengajak teman-temannya ke kamar mandi. Mereka tidak tau maksud dan tujuan cowok itu ke kamar mandi. Hayolo.
Evander membuka tas kecil miliknya yang berisi buku tulis kesehariannya selama di sekolah. Ketika mengeluarkan buku tulisnya, seketika Gebra dan temannya yang lain tertawa terbahak-bahak melihat sampul buku tulis milik Evander. Teddy bear!.
“Woi, ini sampul anak TK ngapain di sini, anjir!”
“Ngakak banget gue, random sekali bapak leader.”
Mereka menertawakan sampul buku tulis Evander karena terdapat gambar Teddy Bear yang bercorak warna-warni. Niat Evander membeli sampul coklat polos ternyata untuk mengganti sampul buku tulis yang sudah disiapkan mamahnya.
“Gila, parah nyokap lo! Tapi gue ngakak abis,” Zero masih dengan tawanya yang tiada henti-hentinya. Ia anggota yang paling bahagia ketika anggota lain terkena musibah. Haha, bercanda kok.
“BACOT SEMUA! BANTUIN KEK, MALAH DIKETAWAIN LAGI. SICK!”
Satu persatu mereka membantu Evander untuk mengganti sampul bukunya sebelum pelajaran selanjutnya dimulai. Mereka kompak sekali, seperti anak kecil yang sedang berebut mainan baru. Tak jarang ada orang yang melihat aksi mencurigakan mereka di dekat kamar mandi, tapi inilah trik konyol seorang Evander.
***
“Kamu Syefani itu ya?” tanya Pak Tirta yang sedang mendata nama-nama muridnya.
“Iya, Pak. Ada apa ya?”
Pak Tirta menyuruh semua murid yang merasa terpanggil di gedung olahraga untuk baris secara teratur. Beliau mulai menjelaskan maksud dan tujuan mengumpulkan anak didiknya.
“Baik semuanya, bapak akan menjelaskan mengapa kalian terpanggil di ruang ini. Sebentar lagi, akan diadakan FLCO yaitu Festival Lomba Cabang Olahraga. Biasanya ini akhir November kita udah berangkat, nah maka dari itu kalian semua terpilih untuk mengikuti FLCO tahun ini dengan bakat masing-masing. Apa ada yang ditanyakan?”
Pak Tirta memberikan kesempatan murid-muridnya untuk menyuarakan pendapat mereka mengenai FLCO yang sebelumnya masih asing terdengar di telinga mereka.
“Pak, mulai kapan kita latihannya? Apakah kita mengambil jam pelajaran untuk pelatihan FLCO ini?” tanya Lion, salah satu atlet badminton putra.
“Kalo soal itu nanti bapak umumkan selanjutnya. Kemungkinan kita akan lebih banyak mengambil pelatihan setelah pulang sekolah saja agar tidak mengganggu konsentrasi belajar kalian.”
“Kalo tidak ada pertanyaan lagi, kalian bisa lihat di papan pengumuman ujung sana untuk melihat kalian masuk kategori cabang olahraga apa dan siapa partner kalian masing-masing. Setelah ini, kalian boleh bubar dan saya sampaikan terima kasih. Selamat pagi!”
“Pagi.. Pagi.. Pagi.. terima kasih, Pak.” jawab serentak murid-murid itu dengan nada tegas yang menjiwai dari anak didik seorang Pak Tirta.
Pak Tirta mulai meninggalkan gedung olahraga, sementara murid lainnya berdesakan untuk melihat papa pengumuman yang tertera di ujung pintu utama gedung itu.
Tidak dengan Syefani, ia begitu santai duduk di lantai gedung olahraga sembari memandangi teman-teman seangkatannya berdesakan seperti itu. Lion menghampirinya dan memposisikan duduk di samping Syefani.
“Syef, kenapa ga ikut nimbrung di sana? Kan lo belum lihat nama dan cabang olahraga lo sendiri,” tanya Lion yang sama-sama ikut memandangi keramaian itu.
“Nanti aja kalo udah bubar semua. Lagian, itu papan ga bakal terbang juga, kan? Dia akan tetap di posisinya, jadi gue santai aja sih.”
Lion sampai menggelengkan kepala berkali-kali dengan senyum yang super candu. Begitupun Syefani yang ikut tertawa sedikit dengan tingkah Lion, sahabat semasa SMP-nya.
“Btw, lo jadi pindah ke kelas 10 IPS 1? Kenapa? Apa ada yang buat canggung di kelas awal lo itu?”
“Ga ada sih, itu kemauan gue sendiri sekaligus permintaan ayah. So, happy aja.”
Lion benar-benar tertekan jika berbicara berdua dengan Syefani. Mereka saling kenal ketika sudah SMA, sebelumnya masa SMP mereka tidak mengenal satu sama lain hanya sebatas tau saja.
“Benar ya kata orang, ngomong berdua sama dia harus kasih pertanyaan dan jawaban yang spesifik. Siap-siap mental juga kalo dia udah ngomong, bakalan kena kalimat savage-nya.” Batin Lion dengan ukiran senyuman seraya menggelengkan kepalanya.
***