Love Toxic

Love Toxic
Bab 21 - Make Love


"Mau ngapain sih kita ke kantor mas segala?" Sena terus bertanya karena setelah pulang sekolah Dirga bukannya mengantarnya pulang ia malah membawanya ke kantornya.


Apalagi sekarang dengan tenangnya Dirga menggenggam tangannya tanpa perduli dengan tatapan para karyawan yang melihatnya.


Sena duduk di sofa besar yang berada di ruangan kerja Dirga setelah itu Dirga duduk di kursinya melanjutkan pekerjaannya hal itu berhasil membuat Sena kesal.


"Jadi fungsinya aku disini tuh buat apa sih mas?"


"Nemenin saya kerja, terserah kamu mau ngelakuin apa. Oh iya bentar lagi nanti makan siang kamu datang."


"Aku enggak lapar!"


"Ya udah nanti kalau makanannya udah datang enggak usah di makan," jawabnya santai seraya tersenyum manis.


Sebenarnya apa sih maunya Dirga ini benar-benar membuat Sena harus melewatkan tidur siangnya setelah ini harusnya Sena sudah santai dengan rebahan nya di kasur.


Beberapa menit kemudian makanan yang di pesan Dirga sampai dan benar saja Sena tak menyentuh makanannya sama sekali ia masih duduk santai sambil memainkan ponselnya tidak perduli dengan Burger yang di pesan Dirga untuknya.


"Kamu yakin enggak mau makan?" tanyanya yang sekarang ikut duduk di sofa bahkan ia membuka salah satu burger.


"Ini enak lho dari baunya aja udah harum banget, tuh lihat dagingnya gede banget.. " Dirga melahap burger miliknya, Sena yang melihat ia sampai menelan salivanya.


Sena menyerah perutnya sudah keroncongan, sial Dirga berhasil membuatnya merasa malu. Dan saat ini Sena bisa melihat dengan jelas tawa jenaka Dirga yang melihat dirinya yang akhirnya mau memakan burgernya.


"Gimana enakan?"


"Bisa diem enggak, mas Dirga dari tuh ngomong mulu."


"Iya deh iya,"


Sena jadi merasa sebal sejak kapan seorang Dirga jadi banyak bicara bukannya pria satu ini terlalu irit dalam bicara, Sena lupa sejak Dirga menjadi pacarnya.


***


Di dalam mobil Dirga memaksa Sena untuk berciuman dengannya awalnya Sena menolak tapi mau tidak mau akhirnya ia menerima ciuman dari Dirga.


"Mas mphh.. " Sena mendorongnya menjauh, pria itu benar-benar sudah keterlaluan.


"Bibirmu manis, terimakasih untuk ciumannya."


"Dasar! ini tuh pemaksaan tau," Sena mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.


"Suatu saat nanti kamu pasti terbiasa,"


Terbiasa.. Sena terdiam mendengar kata itu apa setelah ini Dirga akan dengan sepuas hatinya menciumnya. Mengingat adegan-adegannya saja sudah membuat Sena merasa geli.


Sena turun di bersamaan dengan Dirga niatnya Sena langsung memilih masuk lewat pintu belakang tapi Dirga menariknya untuk ikut masuk bersama melewati pintu depan.


"Sena! Kamu pulang sama.. " Sarah di buat heran.


"Dia pulang bareng saya," Dirga langsung menaiki anak tangga tanpa memperdulikan Sarah yang masih terdiam di tempat.


Sarah mencoba membuang pikiran buruknya sebenarnya Sarah sudah mulai sedikit curiga akan gerak-gerik Dirga bagaimana pun juga ia sering mendapatkan informasi dari beberapa temannya yang melihat Dirga bersama Sena saat di cafe ataupun tempat lainnya. Tapi sebisa mungkin Sarah mencoba tidak memperdulikannya.


***


"Ada apa, tumben kesini apa ada yang mau kamu omongin?"


"Mama bilang sama aku kalau kamu ngasih bantuan ke mama buat biaya operasi papa?"


"Iya itu benar, lalu?" katanya seraya duduk santai di kursi kebanggaannya.


"Mas kamu harusnya bicara dulu sama aku?" Sarah kesal dan Dirga tidak suka diatur-atur.


"Sarah harus berapa kali saya bilang sama kamu, apapun yang mau saya lakukan tanpa iya ataupun tidak persetujuan dari kamu itu hak saya jadi terserah saya mau saya bantu siapapun itu."


"Tapi mas.. "


"Mendingan kamu tidur sana ini udah malem, saya enggak mau berdebat sama kamu tentang hal ini."


Sarah menarik nafasnya, "Ok, makasih mas karena kamu udah bantuin keluarga aku, aku permisi." ujarnya yang langsung berbalik arah keluar dari ruangan.


Sarah kesal sejak kapan Dirga jadi ikut campur urusan keluarganya, lagi pula kalaupun ayahnya sekarat dan mati pun itu akan membuat Sarah senang tapi Dirga selalu saja membantu.


***


Sena tertidur pulas sampai-sampai ia tak menyadari kehadiran Dirga yang sudah masuk ke dalam kamarnya. Ya, Dirga mempunyai kunci cadangan kamar Sena.


Pria itu langsung ikut masuk ke dalam selimut tebal ia juga tak lupa memberikan pelukan hangatnya untuk gadisnya.


Dirga yang sudah gila rasanya ia tak ingin jauh-jauh dari Sena, ia selalu ingin dekat dengan gadisnya ya walaupun ia harus memaksa Sena menjadi pacarnya.


"Eugh.. " Sena menggeliat ia terusik dari tidurnya tatkala sebuah tangan melingkar sempurna di perutnya. Hampir saja ia berteriak histeris tapi bibirnya langsung di bungkam oleh bibir Dirga.


Sena sempat meronta tak ingin membuka bibirnya tapi Dirga mengigit bibir bawahnya jadilah lidah mereka saling bertautan sempurna.


Nafas keduanya terengah-engah Sena butuh oksigen lebih bersyukur Dirga masih memberikannya kesempatan untuk menghirup oksigen sebentar sebelum Dirga langsung menyerbu leher jenjangnya.


"Mas jangan.. "


Dirga menghiraukan permintaan Sena bagaimana pun juga ia adalah pria normal yang pasti mana mungkin tahan saat dirinya berada satu ranjang bersama. Tangannya mulai menjelajahi bagian sensitif tubuh Sena.


"Mas.. "


"Sstt.. Jangan berisik sayang nanti mereka pada denger apa yang kita lakuin." ujarnya seraya mencium bibir gadisnya kembali.


Sena berada dibatas kewarasan ia juga sama dia wanita normal ia tak mungkin meminta Dirga berhenti karena sejujurnya ia juga menikmatinya.


"Saya ingin memilikimu," katanya seraya mencium dahi Sena, waras atau tidaknya entah mengapa Sena menganggukkan kepalanya.


Sena mengigit bibirnya menahan sakit karena ini untuk pertama kali baginya, Sebenarnya jika Sena mau berteriak sekeras mungkin pun tidak masalah bagi Dirga ya walaupun tembok rumahnya kedap suara tapi tetap saja pasti tidak kemungkinan akan sedikit terdengar. Sena tak sungkan lagi dalam mencium bahkan sesekali mengigit leher Dirga meninggal kepemilikannya di sana.


TO BE CONTINUED..