Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 51


Langkah Restu sampai di depan pintu ruang kerja Julian. Seorang wanita berpakaian seksi menghampirinya, wanita itu adalah sekertaris Julian.


"Maaf, apa anda ini Bapak Restu?" tanya sekertaris itu beranjak dari kursi kerjanya.


"Betul. Saya mau bertemu dengan Pak Julian."


"Sebentar saya beritahu beliau jika Bapak sudah datang," ucap Sekertaris itu lantas memencet tombol di telepon.


"Ya, ada apa?" suara Julian di sebrang telepon.


"Bapak Restu sudah ada di depan ruangan anda, Pak Julian. Saya persilahkan masuk atau... "


"Ya suruh dia masuk!"


"Baik."


Kemudian sekertaris itu mempersilahkan Restu masuk ke dalam ruangan Julian.


"Permisi, Pak!" Sekertaris tadi membungkuk setengah badan.


"Hmm... " Julian menggerakkan kursi tempatnya duduk saat ini. Dia tampak nyaman berada di singgasananya itu.


"Assalamualaikum." Julian masuk setelah sekertaris tadi masuk terlebih dulu.


"Wa'alaikumsalam."


"Kamu bisa kembali ke tempat kerjamu!" titah Julian pada sekertarisnya.


Wanita itupun segera meninggalkan mereka berdua di ruangan tersebut.


Julian dan Restu berjabat tangan.


"Silahkan duduk, Pak Restu." Julian menjulurkan tangan ke arah kursi mempersilahkan tamunya untuk duduk di seberangnya.


"Terima kasih."


Mereka berdua pun membahas tentang kerja sama yang akan di lakukan antara perusahaan Julian dengan perusahaan Restu.


Tak perlu waktu lama mereka berdua langsung akrab karena mungkin usia keduanya sebaya. Hingga mereka pun sepakat memanggil nama masing-masing tanpa ada embel-embel 'Bapak' agar lebih akrab dan obrolan mereka lebih santai.


"Saya akan panggil orang kepercayaan saya untuk melancarkan kerja sama kita ini," kata Julian.


"Silahkan. Pasti orang kepercayaan anda itu orang yang cerdas dan berwawasan luas di bidang ini. Saya yakin anda tak akan salah memilih orang kepercayaan di perusahaan sebesar ini," puji Restu yang memandang sisi perfeksionis Julian.


"Tentu saja. Dia orang yang cerdas, jujur, sholehah, dan yang lebih penting cantik sih!" Julian membayangkan wajah Laila.


"Oh rupanya perempuan? Saya pikir laki-laki," kata Restu sambil melempar senyum.


"Perempuan, tapi ingat jangan sampai kepincut karena sebentar lagi dia akan aku lamar." Julian membanggakan diri meski semua itu belum jelas, semua masih abu-abu apalagi sampai detik ini status Julian dan Laila tak lebih dari seorang atasan dan karyawan.


"Tentu saja, Julian."


Mereka tertawa bersama.


"Ya sudah aku panggilkan dia dulu." Julian memijit tombol telepon yang berada di meja kerjanya.


"Laila, segera ke ruanganku!"


Deg!


Mendengar nama itu seketika degup jantung Restu seakan berhenti. Laila? Apakah itu dia?


'Ah, tidak mungkin. Nama Laila 'kan banyak di dunia ini. Bisa saja bukan dia,' batin Restu meski entah kenapa nalurinya berkata jika itu adalah Lailatul Jannah, gadis yang sangat ia rindukan.


"I-iya." Restu mengerjapkan mata hingga buyar lamunannya.


"Apa anda sakit?"


"Tidak, aku baik-baik saja."


"Syukurlah. Tunggu sebentar lagi dia datang kesini."


Restu mengangguk sambil melempar senyum. Rasa penasaran seketika membuatnya ingin bertanya pada Julian, siapa sebenarnya orang yang Julian panggil barusan. Apakah Laila yang ia kenal atau bukan.


Rasa penasaran tak bisa ia bendung, rasanya tak tenang jika ia tak menyampaikan pertanyaan yang ada dalam benaknya saat ini. Meski sebenarnya sebentar lagi dia akan melihat siapa sosok Laila yang di sebut-sebut Julian tadi. Namun seakan ia tak sabar dan ingin bertanya langsung sebelum perempuan itu datang.


"Kalau boleh tau siapa namanya?" akhirnya Restu pun melontarkan pertanyaan.


"Maksudmu perempuan yang akan datang kesini?"


"Iya, dia." Restu seakan tak sabar, hingga ia siap-siap menajamkan pendengarannya.


"Lailatul Jannah." Julian menyebutkan nama itu dengan senyum merekah, sudah tentu benaknya membayangkan wajah Laila.


Sontak wajah Restu kembali bengong. Nama yang sama dan ciri-ciri yang di sebutkan Julian tadi pun sangat sama persis dengan Laila yang ia kenal. Cerdas, sholeha, dan jujur. Lantas apa benar Julian akan melamarnya? Restu hanya berharap agar Laila yang satu ini bukanlah Laila yang ia kenal.


Di koridor Laila berjalan tergesa-gesa setelah di panggil oleh Julian dan di perintahkan menuju ruangan bosnya itu.


Saat langkahnya sampai di depan ruangan, Laila bertanya terlebih dahulu pada sekertaris Julian. Ada siapa di ruangan bosnya.


"Barusan aku di panggil sama Pak Julian, apa ada tamu di dalam?" tanya Laila.


"Iya Bu, memang ada tamu namanya Pak Restu."


"Apa? Siapa?"


"Pak Restu Airlangga dari Ambar Group."


Sontak Laila membulatkan mata tak percaya. Ia tau betul nama orang itu dan nama perusahaannya. Apakah Restu sudah kembali ke Indonesia? Artinya Syarif ayahnya juga sudah kembali.


Julian memang sempat bicara kalau ia akan bekerja sama dengan beberapa perusahaan, tapi Laila baru dengar jika salah satunya adalah Ambar Group.


"Bu! Bu Laila!"


"Eh i-iya. Kamu punya masker?" tanya Laila.


"Ada Bu, sebentar!"


Sekertaris itu membuka laci mengeluarkan masker berwarna putih dari dalam sana, lalu memberikannya pada Laila.


"Ini Bu," kata sekertaris itu seraya menyodorkan masker.


"Makasih." Laila menyambar masker dari tangan sekertaris lantas memakainya, untungnya ia mengenakan pashmina yang agak longgar sehingga ia tak kesulitan mengenakan masker tersebut.


Sekertaris itu hanya bengong melihat kelakuan Laila yang sedikit aneh. Kenapa tiba-tiba saja Laila harus menggunakan masker?


Setelah di rasa rapi, Laila pun mengetuk pintu.


"Masuk!" suara Julian terdengar memberinya izin untuk masuk.


Tak sabar Restu pun menoleh ke belakang ke arah akses keluar masuk ruangan itu. Ia sampai memperhatikan gagang pintu yang mulai bergerak tanda jika seseorang bernama Laila mulai membukanya.


bersambung,