Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 21


"Bentar Mbok panggilkan Nyonya sama Den Restu dulu," ucap wanita tua itu seraya berjalan ke ruangan lain.


Laila masih mengamati foto keluarga yang terpajang di salah satu tembok di rumah itu. Wanita yang berada dalam foto tersebut kemungkinan adalah ibu tirinya, selain dari foto itu juga terdapat foto pernikahan antara Ayah dan ibu tirinya itu. Jika di lihat dari wajah Syarif yang masih muda, Laila yakin jika foto itu di ambil sejak lama. Artinya pernikahan antara Syarif dengan wanita itu sudah berlangsung lama, dan mungkin sebelum terjadi pernikahan antara ayah dan ibunya Marni.


Dari situ Laila mengambil kesimpulan jika wanita itu adalah istri pertama ayahnya sedang Marni ibunya adalah istri kedua. Maka pantas jika Syarif tak pernah kembali lagi ke kampung, beliau pasti lebih memilih istri pertamanya. Selain karena wanita itu lebih dulu memiliki Syarif, keadaan ekonomi pun sangat jauh berbeda jika di bandingkan dengan keadaannya di kampung yang hidup pas-pasan bersama Marni.


Tak berselang lama muncul dua orang dari dalam ruangan lain. Yang satu adalah Restu dan satu lagi adalah wanita cantik yang ada dalam foto keluarga tadi. Wanita itu masih terlihat cantik dan awet muda, jika di lihat dari foto dan aslinya sangat tak jauh berbeda. Pantas saja Syarif ayahnya lebih memilih beliau karena penampilannya saja sungguh jauh jika di bandingkan dengan Marni.


Marni pun cantik hanya saja dia tak sempat merawat diri, kesehariannya di habiskan untuk mencari nafkah untuk menghidupi kedua anaknya. Hingga tubuhnya kurus kering dan wajah pun cepat terlihat tua. Jangankan untuk bersolek membeli skin care dan perawatan lain, untuk makan saja ia harus kerja banting tulang sendirian. Di tambah penyakit yang di deritanya membuat Marni makin kelihatan jauh lebih tua dari usianya.


Dita yang berdiri di samping Laila tampak senyum sumringah saat melihat kedua orang itu muncul. Dita memasang wajah lugu dan sopan di hadapan Ambar juga Restu.


"Nah ini dia yang namanya Laila!" Restu memperkenalkan Laila pada Ambar.


Seketika wajah Dita cemberut karena merasa tak di anggap oleh Restu. Kenapa harus Laila yang lebih dulu di perkenalkan oleh Restu pada ibunya, kenapa bukan dirinya? Dita menggerutu dalam hati.


"Oh ini yang waktu itu di kasih buku pelajaran sama kamu?" tanya Ambar sambil melempar senyum pada Laila, dan gadis itupun membalasnya meski sedikit terpaksa.


Laila harus tersenyum di saat hatinya kacau. Tentu bukan hal yang mudah, apalagi yang ia hadapi saat ini adalah ibu tirinya. Mereka bahkan saling berjabat tangan, meski hanya sekilas karena Ambar tak mau berlama-lama bersentuhan dengan gadis yang terlihat kotor di matanya itu.


"Lalu yang ini?" Pandangan Ambar kini beralih pada Dita.


"Saya Dita Tante." Gadis itu menjulurkan tangan menyalami calon mertua yang ia impikan.


"Tante Ambar," ucap wanita cantik bergincu merah menyala itu.


"Oh ya ini pesanannya Tante." Dita menyambar keranjang yang berada di depan Laila yang memang sedari tadi Laila yang membawa keranjang itu.


Namun karena ingin cari muka, Dita pun berpura-pura menjadi anak yang rajin dan baik di hadapan Ambar.


"Mbok tolong bawa ini ke belakang!" titah Ambar pada pembantunya yang juga berada di belakangnya.


"Baik Nyonya." Wanita tua itu mengambil keranjang berisi takjil dan di bawanya ke dalam menuju dapur.


"Silahkan duduk dulu sambil nunggu keranjangnya!" Restu mempersilahkan mereka duduk.


Ambar tersenyum miris saat melihat kedua gadis berpakaian kumal harus duduk di sofa mahal miliknya. Padahal sofa itu ia sediakan untuk tamu istimewa dari kalangan pejabat dan orang yang selevel dengannya.


Anak-anak remaja itu hanya akan mengotori sofanya saja, pikir Ambar. Terutama yang namanya Laila, dari cara berpakaian saja terlihat udik. Menurutnya Dita masih mending jika di bandingkan dengan yang namanya Laila.


Dita terlihat lebih kekinian ya walaupun sama-sama berpakaian murah dan kumal di mata Ambar.


Sementara Restu malah asyik mengajak Laila ngobrol dan mengacuhkan Dita yang ada di samping Laila. Ada saja topik pembicaraan Restu untuk mengajak Laila ngobrol, entah itu masalah pelajaran atau bahkan ngomongin Qadar. Laila yang di ajak bicara tak begitu menanggapi, ia hanya menjawab seperlunya saja.


"Assalamualaikum." seketika terdengar suara seseorang mengucapkan salam dari ambang pintu luar.


Sontak semua orang yang berada di sana menoleh ke arah pintu tersebut seraya menjawab seruan salam. Tak disangka ternyata yang datang adalah Syarif Ayah Laila. Awalnya Syarif tak sadar akan keberadaan Laila di sana, namun setelah ia melihat satu persatu orang yang berada di ruangan itu barulah Syarif sadar jika salah satu diantara mereka adalah Laila putrinya yang berasal dari kampung, lebih tepatnya adalah anak Marni istri keduanya.


Tatapan Syarif dengan Laila pun bertemu dan saling terkunci. Betapa terkejutnya Syarif melihat keberadaan gadis itu. tatapan mata Laila seakan menuntutnya dan mengintimidasi. Ada rasa ketakutan yang Syarif rasakan, ia takut Laila mengatakan semuanya pada Ambar jika sebenarnya Laila adalah putrinya.


Dilihat dari gesture tubuh Syarif, Laila bisa menangkap jika ayahnya itu enggan mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya. Bahkan raut wajah ketakutan sang Ayah sangat terlihat jelas sekali.


Rasanya saat itu juga Laila ingin mengungkapkan apa yang ada dalam isi hatinya, bertanya kepada ayahnya, kenapa dia meninggalkan keluarganya selama bertahun-tahun lamanya.


Tatapan Laila seakan menuntut penjelasan dari ayahnya Syarif. Setelah sekian lama ia, adik, dan ibunya ditelantarkan dan tidak diberi nafkah sedikitpun.


Bertahun-tahun lamanya tak bertemu dengan sosok Ayah. Laila pikir saat diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan beliau, Laila akan menemukan sosok yang lebih baik lagi dalam diri ayahnya namun ternyata mereka dipertemukan dalam keadaan seperti ini. Di mana Laila sepertinya harus berhenti berharap untuk meminta ayahnya kembali berkumpul dengan dirinya dan Qadar.


"Kebetulan Ayah datang. Kenalin mereka teman Restu yang jualan takjil itu, Yah!" ucap Restu seraya bangkit dan menarik lengan Ayahnya agar segera masuk ke dalam ruangan dan bergabung bersama mereka di sofa ruang tamu.


"Yang ini namanya Laila, dia kakaknya Qadar yang kemarin aku kenalkan sama Ayah di sekolah. Apa Ayah ingat?" Kata Restu dengan antusias.


'Jadi dia adalah Qadar anakku?' batin Syarif.


"Yang ini namanya Dita dia sepupu Laila. Kebetulan Laila juga Qadar tinggal di rumah Paman dan Bibinya karena ibu mereka meninggal dunia, sedangkan ayah mereka katanya pergi dan belum ada kejelasan kemana perginya beliau. Tapi aku sama Laila sedang berusaha mencarinya," jelas Restu panjang lebar.


'Apa? Marni meninggal dunia? Jadi mereka sekarang tinggal bersama Handoko? Pantas saja waktu itu Handoko sempat mengejar saat melihatku. Rupanya karena kedua anakku di titipkan padanya.' Hati Syarif makin kalut dan gelisah.


Dita lebih dulu menyalami Syarif, sayangnya Dita tak mengenali sosok Syarif yang sebenarnya adalah Pakde nya. Karena sejak dulu Dita jarang mau di ajak pulang kampung oleh Handoko saat liburan sekolah atau ketika lebaran. Hanya Handoko yang sering mudik sendiri untuk bersilaturahmi dengan Marni dan anak-anak kakaknya itu. Sedangkan Mira dan kedua anaknya Dita dan Aldo jarang di ajak olehnya. Kalaupun pernah bertemu mungkin saat Dita masih kecil tentu dia tak akan mengingat wajah Syarif.


Saat Laila menjulurkan tangan untuk menjabat tangan sang Ayah seketika ada perasaan yang berkecamuk dalam dadanya. Apakah dia harus bahagia karena bertemu dengan ayahnya lagi, bahkan kini ayahnya pun melihat dirinya yang sudah tumbuh besar ini. Ataukah Laila harus sedih karena pertemuan mereka saat ini bukanlah pertemuan antara anak dan ayah seperti yang seharusnya.


Allah memang telah mendengar doa-doa Laila dan Qadar selama ini agar mereka bisa menemukan ayah. Tapi selain dari itu, Allah juga membuka kebenaran yang terjadi menguak tabir yang bertahun-tahun tak pernah Laila ketahui tentang ayahnya.


Laila rasa Allah cukup adil mempertemukan dirinya dengan cara seperti sekarang ini. Hingga dia yang harus mengalah di sini agar tak ada yang terluka selain dirinya.


Laila mencoba untuk tak menjatuhkan air mata sedikitpun saat ia mencium punggung tangan ayahnya. Laila ingin menunjukan pada Syarif jika Laila adalah anak yang kuat meski harus hidup tanpa dirinya.


bersambung,