
"Kenapa tidak diangkat, Kak?" tanya Senja dengan kening berkerut.
"Itu telepon tidak penting. Ayo pesan saja!" ucap Arkan, sembari tersenyum.
Senja kemudian berdiri dari tempat duduknya, membuat Arkan mengerenyitkan keningnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Arkan sembari menahan tangan Senja.
"Kenapa harus ke sana? Apa bukan pelayannya yang datang ke sini?" Raut wajah Arkan benar-benar kebingungan.
Senja berdecak dan tertawa ringan.
"Kak, jangan malu-maluin, napa? Warung sepert...