Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 57. Amplop misterius.


Hari ini Vim menghadiri makan siang bersama mitra bisnis. Tak ketinggalan Aurora berada bersama mereka. Setelah selesai Vim masih menemani sang mitra bisnis. Menanti sampai ia pamit pulang. Sedangkan Aurora permisi pulang terlebih dahulu mengingat anaknya sedang sakit.


Namun Aurora harus menunggu taksi langganan yang biasa mengantarkannya. Sesuatu yang bodoh pikirnya. Mobilnya ia tinggalkan di kantor karena ia bersama pak Arison tadi sebelum datang ke situ dan pak Arison mengantarnya ke tempat pertemuan makan siang itu.


Senyuman mengembang tatkala mobil Vim berhenti tepat di depannya. Seraut wajah tampan muncul dari balik kaca mobil yang diturunkan. Vim belum pernah tahu jika Aurora pernah datang ke toko Laras dan bersikap seenaknya pada Laras. Apabila tahu dipastikan bersikap masa bodoh pada Aurora.


"Kau menunggu siapa?" Tanya Vim.


"Taksi. Mengapa kau bertanya? Mau mengantarku?"


"Boleh. Masuk." Vim menjawab datar.


Aurora mengayunkan langkah menuju pintu mobil bagian depan.


Mereka tidak menyadari jepretan kamera jarak jauh berhasil mengabadikan kebersamaan mereka dalam pekerjaan beberapa hari ini. Dengan sudut pengambilan gambar yang tepat menghasilkan foto-foto yang-sebenarnya-tidak seperti yang diungkapkan oleh poto itu sendiri. Sebuah trik yang mampu membuat orang yang melihat poto itu beranggapan benar adanya.


"Harusnya aku membawa Rafli berobat tadi pagi tapi pak Arison minta ditemani saat meeting."


Aurora bercerita tanpa Vim tanya.


"Kenapa Rafli?"


"Satu hari kemarin demam dan hari ini aku ingin membawanya berobat."


"Bagaimana papanya?"


"Aku tidak perduli papanya."


"Maksudku kau tidak memberitahu?"


"Sudah. Dia mau datang tapi nggak muncul sama sekali." Aurora membuang nafasnya. Kilatan wajah Rony di pelupuk mata menghadirkan rasa kesal.


"Bukankah Rony orang yang bertanggungjawab?"


"Sebagai papa iya tapi sebagai suami.. brengsek."


"Bagaimanapun kalian pernah bersama." Vim tersenyum mengejek.


"Itu sebuah kesalahan Vim dan ia mengulangi kesalahan bermain dengan perempuan lain."


"Nafkah Rafli?"


"Untuk Rafli selalu lancar karena itu aku bilang sebagai papa ia memang orang yang bertanggung jawab."


Vim manggut-manggut.


"Karena Rafli satu-satunya keturunan yang baru Rony miliki. Sangat berharga baginya."


"Bisa jadi. Sudah sampai." Aurora melepaskan seat belt.


"Ya."


"Kau tidak masuk dulu?" Ajak Aurora.


"Tidak. Akan menjadi fitnah nantinya."


"Terimakasih ya Vim atas bantuanmu."


"Oke. Aku lanjut jalan."


"Oke. Bye." Aurora melambaikan tangan. Vim tidak pernah bersikap hangat lagi padanya. Sikapnya dingin dan tidak tertarik sama sekali dengan Aurora. Aurora berjalan lesu menaiki tangga bagian depan rumah.


Vim memarkirkan mobil di halaman parkir depan toko Laras. Mampir melihat keadaan Laras.


Mendengar dan melihat canda tawa dua wanita muda itu membuatnya lega. Laras baik-baik saja. Mereka berdua terlalu asyik hingga tak menyadari kehadiran Vim.


"Apa yang kalian obrolkan?" Vim menyela obrolan Laras dan Ririn.


"Eeeh mas Vim. Kok nggak ngabari mau ke sini."


"Kejutan." Ucap Vim.


"Siang kak. Silahkan duduk."


Ririn berdiri dan memberikan tempat duduk pada Vim. Ia cukup tahu diri untuk tidak masuk dalam obrolan seterusnya antara suami istri itu. Ririn pindah ke meja kasir.


"Mas sudah makan belum?" Tanya Laras.


"Sudah bareng mitra."Jawab Vim santai. Ketenangan terpancar di wajahnya yang bersih.


"Ada Aurora doong?"


"Benar. Kenapa?"


"Nggak apa-apa."


"Curiga nih?" Vim selalu menggunakan lirikannya.


"Nggak kok. Mas cendol di depan situ enak loh. Aku belikan ya." Laras menunjuk penjual cendol di depan toko.


"Boleh sekalian saja kentang goreng dua porsi."


"Dua porsi?? Berarti mas masih lapar dong. Kalau begitu ayam penyet aja deh."


"Jangan Ras terlalu kenyang kalau nasi. Sesuai permintaan ku ya."


Vim meyakinkan Laras bahwa ia hanya mau camilan saja bukan porsi makanan utama.


"Baik tuan besar." Vim terkekeh menanggapi Laras. Laras pun menghubungi penjual yang ia maksud.


"Mas reuni akbar nanti kau pasti hadir ya?"


"Tentu aku panita angkatan."


Pesanan cendol dan kentang goreng datang. Siap untuk dilahap.


"Kau tahu darimana ada reuni?"


"Dari grup. Aku punya grup juga mas."


"Ah iya. Kau berminat?"


"Tentu saja." Jawab Laras.


"Tapi kalian kan baru lulusan kemarin. Kenapa juga harus bertemu?"


"Iiiiih mas ini..memangnya kenapa. Aku ingin tahu gimana suasananya."


"Ramai seperti pesta. Aku rasa kau tidak akan nyaman berada di keramaian seperti itu."


"Waaahh pasti seru..kakak-kakak semua angkatan berkumpul. Aku boleh datang ya mas." Pinta Laras.


Belum-belum sudah merasa senang padahal tidak begitu dengan Vim.


"Boleh. Acara pagi saja."


"Cuma pagi saja?"


"Hhmmm."


"Yaaah. Aku kan bisa ikut mas Vim acara malamnya."


"Kita lihat nanti ya sayang. Masih jauh acaranya dua bulan lagi."


"Mas mau kemana?" Tanya Laras kemudian melihat Vim berdiri dari duduknya.


"Ke kantor lagi. Jaga diri ya." Vim mengusap lembut pipi Laras.


"Hati-hati mas."


Pergantian waktu selalu berputar tepat sesuai keinginan sang Pencipta. Siang berlalu digantikan oleh sore dan malam akan menjelang setelahnya.


Laras mulai menyadari ia tidak mendapat tamu bulanan sejak dua bulan terakhir. Ia belum berani menanyakan ke dokter dan juga belum cerita pada Vim. Lalu ia berinisiatif membeli tes kehamilan seperti yang diiklankan sebuah stasiun televisi. Jantungnya berdegup di kamar mandi toko. Ia memang melakukan tes di situ sebelum pulang ke rumah dan hasilnya membuat mata Laras berbinar indah. Dua garis merah menandakan ia positif hamil. Sebuah kado di hari ulang tahun pernikahan mereka satu Minggu lagi dan Laras akan memberikan kejutan buat Vim.


Namun amplop yang baru diterima Laras merusak kebahagian yang baru saja ia genggam.


Laras menelungkupkan wajah di atas bantal. Sesenggukan tanpa ada yang tahu sekalipun itu bibi. Sejak sore Laras belum keluar dari kamar. Bibi Am tidak memanggilnya karena sudah sangat hafal Laras tidak akan mau makan malam sebelum Vim pulang.


Entah siapa yang tega mengirimkan gambar-gambar itu pada Laras. Foto-foto yang mengguncang hati Laras malam ini. Foto-foto yang membuat air mata Laras mengalir tak berhenti dari tadi. Walaupun berhenti air mata akan berjatuhan lagi bila mengingat gambar-gambar yang dilihatnya. Semua foto masih di atas ranjang di ujung kaki Laras. Foto yang telah membuat hatinya terluka. Seperti itukah kerjasama yang mereka lakukan, Laras bertanya pada diri sendiri.


Laras merintih sendiri. Perasaan rindu kepada ayah dan ibu juga Vano menjadikan air mata semakin deras mengalir. Ia melupakan kebiasaannya menyambut Vim pulang dari kerja.


Emosi lebih menguasai seluruh pikirannya. Dia tidak bisa berpikiran jernih. Terus saja menangis menuruti kata hatinya.


"Laras!" Vim memutar handle pintu. Tidak bisa dibuka.


"Terkunci bi."


"Iya den. Aneh nggak biasanya non mengunci pintu."


"Laras aku pulang. Laras!!"


Vim mulai khawatir apa yang terjadi pada Laras di dalam. Di kantor tadi perasaannya sudah tidak tenang. Inilah jawabannya.


"Tadi sore non menerima amplop den. Orang yang antar." Lapor bibi. Bibi selalu bisa diandalkan di mata Vim. Sedikit hal di luar kebiasaan di rumah itu bibi akan cerita.


"Siapa bi yang antar. Laras buka pintunya!" Vim mulai kehilangan kesabaran. Ia mengetuk pintu sangat keras.


"Nggak kenal den."


"Laras jika kau tidak buka, aku buka paksa! Laras!!"


Kata-kata bibi semakin membuat rasa ingin tahu Vim semakin besar.


Braaaakk.


Pintu berhasil dibuka paksa. Vim tak memperdulikan bahunya yang sakit. Lebih sakit bila diacuhkan oleh Laras.


"Laras kau keras kepala."


huuhuu..huuhuu..


Terdengar Laras sesegukan dengan posisi yang sama. Tengkurap.


"Laras..Kau kenapa?" Vim mendekati Laras. Menyentuh punggungnya. Bingung dengan keadaan Laras.


"Ras..hei katakan ada apa. Laras."


Dengan susah payah Laras bangun. Dengan kekuatan hati yang masih ada ia duduk menjauhi Vim. Hati Vim terluka. Matanya menahan air mata melihat keadaan Laras. Belum pernah Laras sedih seperti saat ini.


"Katakan apa yang terjadi. Siapa yang menyakitimu Laras?"


Laras bukannya mendekati Vim melainkan beringsut dari duduknya dan menjauhi Vim.


Vim mengikuti pergerakan Laras. Hendak berdiri namun tangan kanannya menyentuh sebuah benda. Ia menoleh. Melihat berapa lembar foto berserakan di situ. Mengambil satu foto. Matanya terbelalak tidak percaya. Ia mengumpulkan semua foto.


Foto-foto cuma ada ia dan Aurora di situ. Tetapi di lokasi proyek mereka. Mengapa mereka berdua bisa terlihat intim di foto tersebut.


"Ini dapat dari mana?" Vim mengumpat dalam hati. Siapa yang telah membuat permainan ini batinnya.


"Jangan bilang aku selingkuh kalau kau yang melakukan." Kata-kata tak diinginkan itu akhirnya keluar dari mulut Laras.


"Aku tidak selingkuh Laras."


"Foto itu buktinya..hiiiks..hiiiks."


"Tidak seperti ini. Ini semua tipuan. Dengarkan aku. Percaya padaku." Vim mencoba meyakinkan Laras. Ia gusar melihat mata Laras sarat luka.


"Aku memang bodoh mas tapi jangan dibodoh-bodohi."


"Aku tidak pernah menganggapmu bodoh atau apapun Laras. Kau lebih berharga dari apapun. Tolong percaya aku." Vim mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Aku tidak secantik dia, tidak setinggi dia, tidak sehebat dia."


"Tapi kau permata berharga bagiku." Vim mulai mendekap Laras. Menenangkan Laras dalam rengkuhan.


"Jangan percaya begitu saja informasi yang kau terima. Kita tidak tahu tujuan mereka pada kita. Sangat pandai orang yang membidikkan kamera sehingga aku dan Aurora terlihat intim seperti itu."


Masih ada sisa isakan Laras. Ia belum sepenuhnya tenang. Laras menarik dirinya dari pelukan Vim.


"Aku mau ke rumah ibu." Laras mencari tas tentengnya.


"Apa?! Mau ngapain malam begini ke sana. Tidak Laras." Vim meraih kunci motor dan mobil dengan cepat. Ia tak ingin orang tua tahu mengenai keadaan mereka saat ini.


"Aku kangen mereka." Alasan Laras.


"Bukan malam ini!" Tegas Vim.


"Aku lelah."


"Oke tapi aku yang antar ke sana besok bukan malam ini."


"Aku bisa pergi sendiri."


"Laras aku bilang tidak ya tidak. Jika kau keluar dari kamar ini, aku bersikap lebih keras."


Laras menghentikan langkahnya. Vim selalu membuat Laras kalah.


"Terima kasih Laras. Kita tidur di kamar bawah malam ini."


Vim menggandeng Laras menuruni anak tangga. Baginya Laras tetap gadis kecil yang pernah ia lindungi dan akan selalu ia lindungi sampai kapanpun.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Mohon dukungan like, komentar, hadiah dan vote dari readers..


Trims ๐Ÿงก๐Ÿ’š๐Ÿ’•