Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 6. Bertemu dengan mereka.


Laras telah selesai mengerjakan tugas kuliahnya. Sebentar lagi ia mengikuti kelas kecantikan.


"Bi saya berangkat ya bi. Tutup semua pintu bi."


"Baik non. Hati-hati di jalan non."


"Bibi juga hati-hati di rumah."


Laras menarik gas motornya. Menghilang dari pandangan Bibi.


Lara tiba di kelas kecantikan. Di sana sudah hadir beberapa temannya, tidak terlalu ramai.


"Baiklah sekarang kita akan belajar bagaimana menggunakan make up untuk tampilan ke pesta."


Mentor mulai menerangkan satu persatu tahapan yang dilakukan untuk menghasilkan make up wajah yang berkesan wah untuk acara pesta.


"Sebagai contohnya saya akan menerapkannya pada wajah. Untuk itu saya meminta Ibu Larasati untuk bersedia saya make over. Ibu dan mba yang lain bisa mengamati ya."


Laras bersedia dan maju ke depan. Duduk menanti mentor nya beraksi. Semua menyaksikan dengan serius.


"Sesungguhnya kecantikan dari dalam diri kita adalah kecantikan yang sesungguhnya. Hati yang baik dipadu dengan kecantikan wajah akan menambah nilai plus pada diri kita. Semoga pelajaran hari ini bermanfaat. Kelas cukup sampai di sini." Mentor berkata di akhir pelajaran.


Laras mengendarai motornya pulang ke rumah. Namun di tengah jalan ia singgah di toko roti ternama di kotanya.


Dia bermaksud mampir membeli sekotak roti yang isinya berlainan rasa.


Sementara itu Vim dan Edo sedang menjalankan rencana bertemu dengan Aurora.


Edo mengambil tempat duduk agak jauh di belakang Vim. Posisinya bisa memantau Vim dan menghadap ke pintu masuk yang terbuka lebar.


"Vim bagaimana kabarmu?"


Vim dan Aurora berjabatan tangan. Aurora masih cantik seperti dulu tapi Vim enggan menatapnya lama.


"Aku baik-baik saja."


"Apa yang membuatmu kembali ke sini? Kehidupan kalian baik-baik saja bukan?"


Pertanyaan Vim yang diterima Aurora sebagai sebuah perhatian. Masih ada rasa ingin tahu Vim. Aurora duduk di hadapan Vim tapi Vim tetap berdiri menghadap ke arah Edo. Itulah Vim.


"Duduklah Vim. Kita bisa bicara dengan tenang."


"Aku tidak punya waktu banyak Aurora. Pekerjaanku menanti."


"Lalu apa maksudmu dengan pertemuan ini."


Tatapan Aurora sarat cinta. Suaranya sangat lembut. Kharisma Vim tidak pernah hilang bagi Aurora.


"Menyelesaikan apa yang terjadi antara kita agar kita tenang menjalani kehidupan masing-masing."


Dia memilih berdiri, batin Edo yang menyaksikan Vim tetap saja berdiri dari tadi.


Edo menyeruput capuccino miliknya.


"Kehidupanmu yang tenang Vim. Kehidupanku sudah hancur."


"Maksudmu?"


"Aku single parent Vim. Suamiku selingkuh dan aku meminta diceraikan olehnya."


"Itu alasanmu kembali ke sini?"


"Ya. Aku mau menjauh darinya. Pedih Vim. Hatiku sakit."


"Itulah yang kurasakan saat kau pergi dengannya."


"Maafkan aku Vim. Aku.."


"Sudahlah. Aku tidak memikirkan itu lagi. Sekarang aku sudah memiliki istri. Di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Semua sudah berakhir. Berakhir sejak waktu itu. Aku senang mengatakan ini padamu. Kita berteman biasa Aurora."


Aurora menunduk.


Vim merasa dadanya plong setelah berbicara seperti itu. Rasa sakitnya selama ini seakan raib begitu saja. Ikhlas lebih melegakan.


Untuk sekian lama Vim baru menyebut nama Aurora lagi hari ini di depan wanita itu. Tidak ada getaran di hati, tidak ada rasa sama sekali. Hambar. Cintanya untuk Aurora terbang terbawa angin sejak Aurora pergi begitu saja.


"Saat itu aku harus membantu papi supaya perusahaan papi tidak benar-benar bangkrut. Aku terpaksa menikahi anak teman papi yang berjanji akan menolong papi. Papi tidak memberiku kesempatan bicara padamu Vim karena khawatir aku akan lari denganmu. Setelah itu aku mengikuti dia ke luar negeri."


Aurora bercerita tanpa menyebut nama suaminya.


"Aku sadar semua menjadi masa lalu. Kututup semua kisah denganmu Aurora. Semoga kau menemukan pendamping yang lebih baik."


Aurora tersenyum pahit. Hatinya kecewa. Sesungguhnya ia masih mengharapkan kembali bersama Vim. Menggapai asa yang pernah mereka rajut bersama.


Ia sempat berbahagia saat Edo memberitahunya bahwa Vim ingin bertemu.


...🍂🍂🍂...


Roti rasa Abon, roti pisang keju, roti coklat kacang kenari dan tiga macam lagi roti pilihan Laras. Membawa roti-roti itu ke kasir dan akan dikemas di sana. Tidak biasanya tempat ini sepi.


Laras terus membawa nampan berisi roti. Melewati beberapa kursi tapi terkejut melihat siapa di depan matanya. Ia tidak melihat mereka dari kejauhan sehingga tetap saja berjalan.


"Laras!" Suara Edo memanggil.


"Laras???!"


Vim menoleh karena memang ia membelakangi Laras.


"Kau di sini?"


"Aku di sini Kak Ed."


Edo menghampiri. Laras sudah ingin menangis mendapati Vim bersama Aurora di depan matanya tapi Laras bertahan tetap berdiri di antara mereka. Ia tidak mau cengeng. Ia tidak mau Edo melihatnya mengeluarkan air mata.


"Kau dari mana Laras?


"Pulang dari kelas kecantikan aku ke sini Kak."


Edo tersenyum dan kagum melihat wajah Laras yang berubah karena di make up total. Cantik habis seperti saat dia bersanding dengan Vim di pesta pernikahan.


"Laras kau dengan siapa?"


"Sendiri mas. Aku membeli ini. Dari sini aku akan pulang. Mas sudah makan di sini?"


"Belum. Makan di rumah saja."


Vim sudah mendekati Laras. Meninggalkan Aurora sendirian.


"Kita pulang bareng ya. Ed sini kunci mobilmu . Kau bawa motor ya."


Vim menumpang mobil Edo tadi.


"Aku bawa motor Laras??"


Dasar Vim seenaknya saja. Edo memberikan kunci mobilnya. Edo yang punya mobil tapi disuruh naik motor. Edo berbicara sebentar dengan Aurora sebelum pergi.


Mobil berjalan perlahan.


"Bagaimana kelasmu tadi?"


"Menyenangkan. Teman baru dan tambahan ilmu. Mas Aurora cantik ya."


"Kau juga cantik. Jangan memikirkan dia lagi oke?"


Walaupun Laras yang meminta Vim bertemu Aurora menuntaskan kisah mereka yang menggantung itu, secuil kekhawatiran hinggap juga dihati Laras. Laras dilanda cemas jika mereka mengulang kisah lama.


"Hai nona manis, kecantikanmu hilang kalau kau cemberut."


"Aku tidak cemberut."


"Wajahmu muram. Katakan apa yang membuatmu sedih hmm."


"Bukan apa-apa. Seandainya ia memintamu untuk kembali..??"


Suara Laras pelan hampir tidak tertangkap pendengaran Vim.


"Tidak mungkin terjadi, aku memutuskan tidak bersamanya lagi, kapan pun." Tegas Vim.


"Semoga.." Laras menghalau pikiran negatif yang mampir di kepalanya.


Nada dering hp berbunyi.


"Tolong angkat dan berikan suara."


"Selamat siang Tuan. Ada berkas memerlukan persetujuan anda segera."


"Baik Joel, aku ke sana."


Vim melajukan mobilnya. Sekretaris Joel menelpon barusan, ada yang penting harus diselesaikan.


"Ke kantor sebentar sayang."


"Hati-hati mas. Jangan terlalu ngebut."


Ciiiiiiiittt.


Mobil berhenti di parkiran bawah tanah. Vim mengajak Laras memasuki lift. Menunggu pintu lift bergera naik membawa mereka ke ruangan teratas.


"Selamat siang Tuan." Sapa Joel begitu Vim dan Laras memasuki ruangan.


"Siang. Joel kenalkan.. ini istriku, Laras."


"Selamat siang Nyonya. Senang bertemu dengan anda."


"Selamat siang Joel. Senang juga bertemu denganmu."


"Berkasnya sudah saya cek Tuan. Di tunggu bagian keuangan."


"Baiklah."


Vim menggenggam jemari Laras. Membawanya masuk ke ruangan.


Sungguh serasi dan mesra kata sekretaris Joel pada diri sendiri.


Di dalam Laras mengamati sekeliling ruangan. Ruangan dengan tampilan maskulin sekali. Di salah satu sudutnya di pajang poto Vim dan Laras dalam ukuran tidak terlalu besar. Laras juga melihat poto dirinya di meja kerja Vim dalam ukuran biasa.


Laras membuka roti yang ia bawa. Perutnya terlanjur terasa lapar jadi ia memilih makan di ruangan Vim saja sembari menunggu Vim.


"Di kulkas tersimpan minuman aneka rasa. Kau bisa meminum


nya."


"Iya mas. Nanti kuambil."


"Joel selalu mengisi itu. Padahal yang kuminum hanya air putih saja. Jika ada tamu Joel akan menghidangkannya di meja."


"Hhmm..jus jambu ini kelihatan menyegarkan. Kau benar tidak ingin mas?" Vim menggeleng.


"Ambillah dan minum."


"Mas aku boleh ke salon dan spa sebentar nggak."


"Pergilah. Aku minta Pak Uun mengantarmu ya."


"Ya. Terima kasih mas."


Karena salon dan spa tidak jauh dari kantor Vim, Vim mengijinkan Laras dari pada Laras jenuh menunggunya.


Berjalan kaki ke sana ditemani oleh Pak Uun sopir mereka, Laras merasa senang. Pak Uun tidak diam saja. Ia bercerita banyak pada Laras tentang perkembangan yang terjadi dalam


keluarganya.


Pak Uun menanti Laras di tempat terpisah dari salon dan spa. Dengan setia menjalankan tugas yang diamanatkan padanya menunggu Laras selesai treatment.


Hp Pak Uun berbunyi.


"Pak saya ditinggal saja. Nanti saya dijemput mas Vim."


"Baiklah non kalau begitu."


Treatment selesai. Sekarang wajah Laras sudah bersih dari sisa make up dan tubuhnya segar serta wangi setelah ratus. Ia akan ke toko sebelah sebelum Vim menjemputnya. Tersedia pakaian untuk orang dewasa di sana. Pakaian dengan kualitas yang sangat bagus.


Laras mengambil dua model pakaian wanita setengah baya dan kemeja lelaki. Cocok untuk dipakai oleh Bibi Am dan Pak Uun. Setelah melakukan pembayaran, Laras berjalan ke luar. Sebaiknya ia menelpon Vim saja agar menjemputnya sekarang.


"Aku tepat di sebelah salon dan spa ya mas."


Vim tidak akan kesusahan mencari salon dan spa yang telah memiliki nama di kawasan bisnis ini.


Dua langkah kaki Laras keluar dari pintu tapi tidak disengaja bahu Laras dan lengan seseorang bertabrakan. Refleks Laras mendongakkan kepala bermaksud meminta maaf. Tadi ia sedang memasukkan hp ke dalam tas nya sembari berjalan sehingga tidak melihat seseorang berjalan dari arah yang berlawanan dengannya.


"Ma_. Maafkan saya."


"Ma'afkan saya juga. Kau Laras!!"


"Iya saya. Ma'afkan saya, saya tadi sedang memasukkan hp ke tas ini jadi tidak melihat anda."


"Tidak ada yang perlu dima'afkan. Aku juga salah tidak melihat jalan karena tadi menekan keyboard hp."


Laras ingat sekarang. Pria ini adalah orang yang pernah ia temui saat membeli minyak motor di warung. Waktu itu ia kehabisan bahan bakar ketika hendak pulang ke rumah dan terpaksa membeli minyak motor secara ketengan. Sekaligus pria ini yang pernah mengirim keluarganya ke rumah Laras dan melamar Laras. Rony. Sekarang Laras berhadap-


hadapan dengan Rony.


Laras tak mampu menatap wajah itu. Wajah penuh pengharapan dan damba pada Laras. Laras merasakan kikuk luar biasa dan berusaha menutupi ketegangannya.


🌷🌷🌷🌷🌷