Kehormatan Yang Ternoda

Kehormatan Yang Ternoda
Bab.40


🌸🌸🌸


~Happy Reading~


*


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua orang yang ada di sana secara bersamaan dengan begitu serempaknya.


"Maryam? Masya Allah Nak, kamu sudah kembali?" Seru Ummi Alifa saat melihat seorang gadis berhijab pasmina yang senada dengan baju yang dia kenakan saat ini


"Iya Ummi, ini Iam. Iam sudah pulang," jawab gadis yang bernama Maryam itu, menyambut pelukan dari sang ibu.


"Masya Allah Nak, Ummi rindu,"


"Iya Ummi, Iam juga kangen Ummi,"


Ibu dan anak itu pun saling berpelukan melepas rindu di bawah tatapan orang orang yang ada di sana. Tidak terkecuali Fatih, kulkas 7 pintu yang saat ini tengah cosplay menjadi manusia yang tampan nan rupawan itu tampak menundukkan kepalanya dan fokus pada gadget yang ada di tangan nya.


Entah apa yang dilakukan manusia kulkas itu pada benda pipihnya itu. Yang pasti, sejak kedatangan Maryam, Fatih sama sekali tidak mengangkat wajah nya.


"Sudah Ummi, malu di lihat banyak orang." Lanjut Maryam saat menyadari jika di sana mereka tidak hanya berdua.


"Astaghfirullah, iya maaf. Ummi lupa, oh iya mohon perkenalkan ini Maryam Nur Aisyah. Putri saya yang merantau ke kota sebelah untuk menyelesaikan kuliahnya. Dan Maryam, perkenalkan ini keluarga Brahmaseto. Yang kebetulan tengah mengadakan syukuran di sini bersama anak anak asuh Ummi," ucap Ummi Alifa memperkenalkan Maryam pada tamunya.


Semua tampak menyambut hangat, namun tidak dengan Fatih. Pria itu bahkan seperti tidak mendengarkan jika Ummi Alifa tengah memperkenalkan anak gadis nya.


Dan tentu saja hal itu menarik perhatian Maryam, akan hadirnya sosok pria bertubuh kekar yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya.


Obrolan pun berlanjut hingga beberapa saat, sampai 30 menit kemudian semua para tamu pun ijin pamit untuk pulang karena hari sudah menjelang sore.


Bahkan sampai kepulangan mereka, Fatih tak sedikit pun menatap atau sekedar melirik ke arah Maryam hingga membuat gadis itu sedikit tertarik pada pria yang begitu menjaga pandangan nya itu.


"Orang orang tadi siapa Ummi?" Tanya Maryam setelah rombongan keluarga Brahmaseto pergi meninggalkan tempat itu.


"Beliau beliau itu orang orang baik yang sering berbagi rezeki dengan anak anak di sini. Rencana nya mulai bulan depan juga Rumah Baca ini akan direnovasi biar lebih kokoh dan lebih diperluas lagi. Memang nya kenapa?" Tanya Ummi balik.


"Nggak, hanya tanya saja. Terus pria yang pake kemeja navy tadi siapanya mereka?"


"Oh itu Pak Fatih, anaknya Pak Dimas. Ayah nya Aliya, dan Aliya adalah anak yang memperkenalkan Ayah nya pada Ummi. Dan kami pun menjadi saling kenal lewat Aliya. Dan Ayahnya Aliya itu orang yang sering memberikan bantuan pada Rumah Baca ini," jelas Ummi Alifa yang membuat gadis itu sedikit kecewa.


Ternyata pria yang menarik perhatian nya sudah menjadi seorang ayah yang artinya, pria itu sudah menikah.(pikirnya)


"Kenapa memangnya? Kok kamu tanya tanya?"


"Nggak Ummi, aku hanya penasaran saja. Soalnya sejak aku datang, dia nunduk terus padahal kalau dilihat lihat orang nya ganteng banget."


"Kamu ini, seharusnya kamu senang karena dia menjaga pandangan nya. Selain Karena dia menjaga kehormatanmu sebagai seorang wanita, dia juga tahu kalau memandang yang bukan mahram itu adalah dosa."


"Iya Iam paham Ummi, hanya saja. Jarang jarang loh pria jaman sekarang yang menerapkan itu,"


"Sudah, kenapa jadi bahas Pak Fatih sih? Ayo, lebih baik bantu Ummi beres beres." Ajak Ummi Alifa pada putrinya itu.


*


*


"Boleh," jawab Aulia yang selalu saja singkat sesingkat singkatnya jika berbicara dengan Fatih.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Aulia, Fatih pun segera membelokan mobilnya memasuki kawasan sebuah masjid yang mereka lewati saat dalam perjalanan pulang.


Fatih, Aulia dan Aliya pun turun secara bersamaan dari dalam mobil setelah Fatih berhasil memarkir mobilnya di tempat yang sudah disediakan.


Ketiganya berpisah di depan masjid untuk menuju ke bagian masing masing. Aulia yang membawa Aliya kebagian perempuan, sementara Fatih ke bagian laki laki.


Ketiganya melakukan sholat berjamaah bersama warga sekitar yang melakukan sholat di masjid itu.


Usai melaksanakan ibadah empat rakaatnya, ketiganya pun kembali ke dalam.mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju pulang ke rumah.


Namun saat mobil baru melaju, Aliya mengajak kedua orang tuanya untuk mengunjungi sebuah taman yang sore itu tampak ramai di kunjungi oleh pada keluarga yang sedang bersantai di sore hari.


"Ayah kita berhenti di taman itu dulu yuk, Aliya mau main di sana sebentar sebelum pulang," ajak Aliya pada Ayah nya yang tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Tanya Bunda dulu, boleh apa nggak," jawab Fatih meminta persetujuan dari Aulia Yang sejak tadi hanya diam saja.


"Boleh ya Bun, sebentar kok. Sampai magrib saja, sudah itu kita pulang," rengek Aliya pada Bundanya.


"Boleh, tapi jangan lama ya,"


"Siap Bun, ayo Ayah kita kesana dulu,"


"Siap tuan putri,"


Fatih pun kembali membelokan mobilnya ke arah taman yang memang tengah ramai dikunjungi oleh para anak anak dan orang tua mereka yang tampaknya tengah menikmati suasana sore hari bersama dengan keluarga mereka masing masing.


Fatih, Aulia dan Aliya berjalan berdampingan dengan posisi Aliya berada di tengah tengah keduanya. Saat berjalan menuju ke area taman, Aliya mengulurkan tangan nya untuk menggandeng tangan kedua orang tuanya.


Tangan kiri menggenggam tangan Fatih dan tangan Kanan memegang tangan Aulia. Dan hal itu sedikit menjadi pusat perhatian pengunjung taman yang lain.


Tidak sedikit orang yang memuji kebersamaan mereka. Selain tampak harmonis, tampilan Fatih dan Aulia yang good looking juga menjadi sorotan para emak emak berdaster yang kebetulan juga ada disana tengah menemani anak anak nya. Bermain.


"Alhamdulillah, akhirnya tercapai juga," celetuk Aliya yang membuat kedua orang tuanya menoleh ke arahnya.


"Tercapai apa sayang? Kok sampai berucap syukur?" Tanya Fatih yang lebih dulu buka suara.


"Aliya sangat bersyukur Ayah. Karena Aliya masih diberi kesempatan sama Allah untuk merasakan berkumpul dan pergi bersama kedua orang tua kandung Aliya ke taman seperti saat ini. Sungguh, Aliya sangat bahagia sekali Ayah dan Aliya juga sangat bersyukur atas rahmat yang diberikan oleh Allah pada Aliya," jawab Aliya dengan mata yang berkaca kaca.


Deg


Ungkapan hati si kecil Aliya tidak hanya menusuk di hati Fatih, yang sekian tahun tidak membersamai tumbuh kembang putrinya itu.


Namun juga Aulia, yang entah mengapa dadanya merasa begitu sesak saat mendengar curahan hati si kecil Aliya.