KAU DI HATI KU

KAU DI HATI KU
BAB 36 MENGISI TOKO


Batang Dewi mulai memperhatikan toko yang baru dibangun oleh Magani Ogya khusus untuknya.


Rencana Batang Dewi hendak mengisi toko dengan perabotan serba minimalis namun tetap berkesan modern.


Terlihat Batang Dewi berjalan menuju pantry, tempat memasak.


Tap... Tap... Tap...


Langkah kaki Batang Dewi menggema di sepanjang area ruangan yang masih kosong tanpa ada perabotan apapun.


Masih tahap finishing hingga keadaan toko masihlah belum lengkap sepenuhnya.


"Bagaimana menurutmu ? Kau suka ?", tanya Magani Ogya yang berjalan mengikutinya dari arah belakang.


"Em... !?", gumam Batang Dewi sambil menoleh ke arah CEO muda itu.


"Kenapa ?", ucap Magani Ogya. "Ada yang kurang, menurutmu ?", sambungnya.


"Aku suka sekali bangunan ini, terutama ruangan memasak ini, hanya saja aku ingin toko ini dibuat mirip dengan bangunan jaman kuno", kata Batang Dewi.


"Jaman kuno !?", sahut Magani Ogya.


"Eh !? Maksudku agak ada sentuhan tradisionalnya, mungkin, biar aku merasa seperti berada di tengah-tengah jaman kerajaan", ucap Batang Dewi.


"Kerajaan !?", kata CEO muda itu.


"Yah, begitulah, mungkin !?", sahut Batang Dewi.


"Ehm ! Apa kau tidak sedang bermimpi berada di masa lampau ? Terkadang pikiranmu benar-benar sangat aneh, Batang Dewi", ucap Magani Ogya.


"Yah, seperti itu kira-kira...", jawab Batang Dewi.


"Tapi toko ini sudah dibangun dengan model seperti ini jika merombaknya total akan butuh waktu lama lagi dan toko tidak dapat segera beroperasi dengan cepat", sahut Magani Ogya.


''Tidak usah dirombak bangunan tokonya tetapi isi tokonya saja, bagaimana ?", kata Batang Dewi.


"Kalau toko diisi dengan interior kuno layaknya kerajaan jaman dulu, boleh-boleh saja tapi aku tidak tahu secara pastinya model yang kamu inginkan", sahut Magani Ogya.


"Biar aku cari dulu di internet lalu aku akan tunjukkan padamu modelnya, bagaimana kamu setuju ?", ucap Batang Dewi.


"Baiklah...", sahut Magani Ogya.


Batang Dewi tersenyum senang sambil berdiri menatap ke arah Magani Ogya.


Baru kali ini CEO tampan itu mau berdiskusi dengannya secara baik-baik, biasanya dia akan langsung mengambil keputusan sepihak dan memaksakan kehendaknya.


"Baik, sekarang kita cari modelnya bersama-sama, kita bisa langsung mendiskusikannya", ucap Batang Dewi.


Batang Dewi melangkahkan kakinya ke arah Magani Ogya kemudian dia mengeluarkan laptop sistem yang pernah diberikan oleh rajawali padanya.


Laptop mulai beroperasi kemudian layar monitor menyala terang, Batang Dewi memulai pencarian gambar-gambar interior untuk mengisi toko.


Dia mulai membuka gambar berdesain tema kerajaan yang berasal dari era jayanya di masa lalu sewaktu Batang Dewi masih menjadi seorang Ratu.


SEARCHING...


Muncul gambar-gambar interior bersuasana istana yang sarat kemeriahan serta keanggunan di masa lalu.


"Kalau model yang ini, bagaimana menurutmu ?", tanya Batang Dewi.


Batang Dewi menunjuk ke arah layar laptop yang berisi gambar-gambar ruangan model jaman dulu.


Magani Ogya agak mendekatkan dirinya ke arah layar laptop seraya mengamatinya dengan seksama.


"Lihatlah gambar ini ! Aku sangat suka dengan interiornya", ucap Batang Dewi.


"Hmm, bagus, tapi apa tidak terlalu berkesan kuno, cari saja model yang lain", kata Magani Ogya.


"Tapi aku suka gambar yang ini", sahut Batang Dewi.


"Rupanya kau suka dengan hal yang berbau jaman dulu, kalau untuk toko sangat berlebihan, modelnya cenderung ke era kerajaan masa lalu", ucap Magani Ogya.


"Yah, memang tapi aku lebih suka suasana yang seperti ini seperti jaman kerajaan", kata Batang Dewi.


Magani Ogya tertegun memandangi gambar bermodel istana di masa lalu yang ada di layar laptop milik Batang Dewi.


CEO muda itu lalu meraih laptop di tangan Batang Dewi dan memperhatikannya dengan serius.


"Hmm...", Magani Ogya bergumam pelan seperti sedang berpikir.


Memutar gambar-gambar yang ada di layar laptop seraya memilah gambar yang ditunjukkan oleh Batang Dewi kepadanya.


"Tuhan..., baiklah, jika kamu inginnya seperti itu, aku akan memberitahukan kepada pekerja disini untuk segera memesannya", ucap Magani Ogya.


"Kau setuju ?", kata Batang Dewi.


"Yah, jika kamu mau toko di buat seperti gambar itu, boleh", sahut Magani Ogya.


Magani Ogya masih memperhatikan layar laptop di hadapannya.


"Bagaimana dia bisa memiliki selera seaneh ini !?", pikir Magani Ogya.


"Tapi aku ingin model ruangan toko minimalis tapi modern", ucap Batang Dewi.


"Minimalis tapi modern ???", kata Magani Ogya.


Magani Ogya semakin bertambah kebingungan dengan ucapan Batang Dewi yang berubah-ubah.


"Jika kamu menginginkan model toko minimalis tapi modern lalu kenapa kamu meminta model seperti kerajaan ?", tanya Magani Ogya.


Magani Ogya menolehkan kepalanya ke arah Batang Dewi yang sedang melihat-lihat gambar di layar laptop.


"Apa kau mudah berganti pikiran ?", tanya Magani Ogya.


"Em, iya !?", gumam Batang Dewi acuh.


"Baru semenit ingin gambar model kerajaan sekarang berubah lagi, aku tidak mengerti bagaimana isi didalam kepalamu sebenarnya bekerja", ucap Magani Ogya.


"Yah !?", kata Batang Dewi.


"Apa !?", ucap Magani Ogya.


"Ya, apa ? Maksudmu apa ? Aku tidak mengerti !?", sambung Batang Dewi.


"Tegaslah ! Mana model yang kamu inginkan untuk mengisi toko lalu pertimbangkan dengan matang kemudian baru kamu putuskan yang sesuai keinginanmu", sahut Magani Ogya.


"Tegas..., itu baru tegas !", sahut Magani Ogya.


"Terus menurut pendapatmu ?", tanya Batang Dewi. "Kau setuju tidak jika nuansa toko dibuat seperti itu !?"


"Aku setuju saja apapun yang kamu inginkan, asal kamu senang dan betah di toko karena toko ini memang aku bangun khusus untukmu", sahut Magani Ogya.


"Benarkah !? Kau setuju idea ku ?", kata Batang Dewi.


"Tentu saja, aku setuju", ucap CEO itu.


"Urusan toko sudah selesai, sekarang kita pesan makanan, bagaimana ?", sahut Batang Dewi.


"Em..., menurutku saran yang bagus, kita pesan sekarang karena toko belum jadi dapurnya sebaiknya kita pesan makanan luar saja", timpal Magani Ogya.


"Setuju !", sahut Batang Dewi sambil mengulurkan tangannya ke arah Magani ogya.


"Setuju...", ucap CEO tampan itu lalu membalas uluran tangan Batang Dewi.


Mereka saling berjabat tangan erat sembari tersenyum.


"Biar aku saja yang pesan makanan, kamu mau pesan makanan apa ?", kata Magani Ogya.


"Terserah padamu saja, aku akan menerimanya", sahut Batang Dewi.


"Kita pesan menu makanan steak saja, ya", ucap Magani Ogya.


"Steak ? Sarapan ?", sahut Batang Dewi.


"Yah, steak... Kenapa ?", tanya Magani Ogya.


"Yah, menu steak, kau suka atau tidak", sahut Batang Dewi.


"Suka, karena itu aku pesan menu steak", ucap Magani Ogya.


"Setuju...", sahut Batang Dewi.


Magani Ogya lalu menelpon untuk memesan menu makanan steak hari ini.


Keduanya kembali memperhatikan layar laptop sembari terus memutar gambar-gambar pada layar.


Memilih warna interior ruangan yang akan mereka pakai untuk toko roti.


"Kalau warna merah, apa kau suka ?", tanya Batang Dewi.


"Sebaiknya pilih warna emas saja karena mengandung hoki, kita pakai warna emas sebab lebih cerah dan riang", sahut Magani Ogya.


"Hmm..., ternyata kau suka warna emas", ucap Batang Dewi.


"Apa kau tidak suka ?", tanya CEO muda itu.


"Suka tapi terlalu mewah untuk ukuran toko sebaiknya warna biru muda saja lebih dingin kelihatannya", sahut Batang Dewi.


"Boleh, aku pikir juga sama dengan pendapatmu, warna biru muda lebih terkesan menenangkan", ucap Magani Ogya.


"Em, ya, kita sepakat warna biru muda saja, kita pakai untuk warna toko roti ini", jawab Batang Dewi.


"Yah, baiklah !", ucap Magani Ogya.


Magani Ogya mengangkat kedua alisnya ke atas tanda setuju dengan ucapan Batang Dewi.


Masuk seorang pria berbadan gempal ke dalam ruangan tempat mereka berdua berdiskusi mengenai rencana mereka untuk mengisi toko roti baru.


Pria itu berjalan ke arah Magani Ogya yang duduk di lantai bersama Batang Dewi seraya memperhatikan layar laptop di depan mereka.


"Bos, ini ada bungkusan makanan dari restoran", ucap pria itu seraya menyerahkan bungkusan makanan kepada Magani Ogya.


"Terimakasih...", sahut Magani Ogya.


"Siap, bos", jawab pria gempal itu.


"Tunggu ! Tolong, pesan interior seperti gambar ini tapi buatlah minimalis dan modern toko roti ini, kamu paham", ucap Magani Ogya.


"Baik, bos ! Saya akan laporkan pada pimpinan proyek toko ini dan akan saya buatkan rekapannya", sahut pria gempal itu.


"Langsung dikerjakan saja, tidak usah menunggu rekapannya dibuat, aku ingin toko selesai secepatnya", kata Magani Ogya.


"Siap, bos", jawab pria gempal itu.


"Yah, pergilah !", ucap CEO muda itu.


Pria berbadan gempal lalu pergi keluar dari ruangan setelah menyerahkan bungkusan makanan pada Magani Ogya.


Kembali Magani Ogya berdua-duaan bersama Batang Dewi di ruangan toko yang diperuntukkan khusus untuk pantry serta tempat memasak.


"Kita makan sekarang karena aku sudah lapar sejak tadi", kata Magani Ogya.


"Ya, baiklah..., kita makan sekarang...", sahut Batang Dewi.


Magani Ogya memberikan sekotak makanan kepada Batang Dewi yang berisi menu steak dari salah satu restoran terkenal.


"Steak ini sangat terkenal kelezatannya sebab itu aku memesannya khusus untuk kita, anggap saja untuk menyambut dibangunnya toko baru ini", kata Magani Ogya sembari melahap steak miliknya dari kotak makanan ditangannya.


"Steak ini sangat lezat, rasanya lembut sekali di lidah..., dan aku sangat suka aromanya", harum...", ucap Batang Dewi.


"Daging steaknya khusus didatangkan dari luar negeri jadi rasa steaknya otentik sekali karena dibuat secara khusus", kata Magani Ogya.


"Kau sangat suka dengan steak", ucap Batang Dewi.


"Suka tapi tidak terlalu menggemarinya", sahut CEO muda itu.


"Kenapa tidak membangun restoran saja tapi kamu justru membangun toko roti untukku ?", tanya Batang Dewi.


"Karena aku memang ingin membuatkan toko roti agar kamu punya kesibukan daripada kamu harus menungguku selesai kerja di rumah dan bertengkar dengan bibi", jawab Magani Ogya.


"Aku rasa bukan alasan yang tepat dan aku pikir juga bukan itu alasannya", kata Batang Dewi.


"Lantas kau ingin aku beralasan apa ?", ucap Magani Ogya.


"Tidak ada...", jawab Batang Dewi.


"Hmm...", gumam Magani Ogya.


Magani Ogya tersenyum tipis mendengar ucapan Batang Dewi sembari menghabiskan menu steak miliknya dengan lahapnya sedangkan Batang Dewi tampak menikmati makanannya dan sesekali memperhatikan laptop sistem miliknya yang ada disampingnya.