Jodohku Adik Sahabatku

Jodohku Adik Sahabatku
Masa Depan Darren


***


"Polisi sudah datang menjemput, tuan Darren.." ujar salah seorang staff villa, di belakangnya sudah ada tiga orang polisi. Semua keluarga Jakob, juga Tante Hilda dan Om Wisnu juga menyaksikan penjemputan Darren oleh polisi. Raut wajah keluarga Jakob terlihat sedih. Harusnya keberadaan mereka di sana diisi oleh hari-hari yang berbahagia karena salah satu anggota keluarga mereka akan melepas masa lajang, tetapi sialnya malah ada insiden ini.


"Tidak! Jangan bawa adikku!" cegat Devina. Ia memeluk erat sang adik.


"Tolong jangan bawa Darren, ini salah saya. Dia hanya menolong saya pak.. Kasihan dia sebentar lagi akan lulus kuliah," Freya memohon.


"Benar-benar ya Darren! Mbak mu mau nikah malah bikin masalah, terus gimana skripsi kamu hah? Mau di DO kamu? Sejak kapan kamu jadi preman pasar begini? Cuma gara-gara ngebelain teman Devina!" Tante Hilda menunjuk Freya.


"Kenapa cuma?! Tidak cuma-cuma kok. Bagaimana kalau tidak ada aku, bisa jadi dia sudah diperk*sa atau dib*nuh oleh predator seks itu!" bantah Darren menatap sinis Tante Hilda.


"Tapi kenapa harus sampai seperti itu Darren? kamu bisa menolongnya dengan cara baik-baik." tambah Om Wisnu.


"Apa? Baik-baik bagaimana? Dia saja tidak baik-baik!"


"Kan bisa panggil security yang mengurusnya, atau bawa staff lain untuk mengamankan pria itu." debat Om Wisnu.


"Mana keburu om! Lagipula aku ingin menghajarnya dengan tanganku sendiri, dan juga aku tidak ingin dia hanya diamankan saja! Aku ingin,-"


"Sebentar.. Se..ben.tar.." potong Tante Hilda. Matanya bergantian melirik Darren dan Freya.


"Saya curiga nih, kenapa Darren sewot banget sama orang itu.. Kalian berdua.. pacaran ya?" tebaknya. Darren seketika terdiam.


"Tante! Tidak semua orang harus melibatkan rasa suka dalam hal kemanusiaan. Dia menolong saya sudah tentu karena saya sudah seperti kakaknya sendiri, hal yang sama akan terjadi jika ini kejadian sama Devina!" cecar Freya yang kesal dia terus menekan Darren.


"Hah, sudahlah pak, bawa saja saya." tutur Darren pasrah seraya mengulurkan tangan minta di borgol. Mimik wajahnya tampak kecewa mendengar perkataan Freya barusan. Entah apa yang diharapkan Darren dari Freya padahal jelas Freya menganggapnya adik sendiri.


"Tidak perlu, sdr. Darren. Anda hanya akan diperiksa sebagai saksi." ujar salah seorang polisi.


"Maksudnya??" tanya Devina sumringah.


"Kami sudah melihat cctv, bahwa benar ada percobaan pelecehan oleh Bapak Diko. Namun bukan kan berarti sdr. Darren bebas dari pasal, dia bersalah. Hanya saja istri Bapak Diko tidak ingin melaporkan sdr. Darren. Dia sudah menunggu di kantor polisi. Ayo, kita lanjutkan di sana." ujar seorang polisi yang di tengah.


"Ayo." dua polisi sampingnya membawa mengambil Darren dari pelukan Devina.


***


Sore menjelang Maghrib semua keluarga berkumpul di ruang keluarga Villa itu. Tampak Devina yang mondar-mandir sambil menggigit jari, Jakob terus mengikutinya. Sementara Freya duduk di sofa, tampak tenang, meski sebenarnya hati dan pikirannya bergejolak.


"Darren.. Kamu kenapa sih sampai begini? Masa depanmu masih panjang, kamu bilang ingin meneruskan usaha orang tuamu lalu menikah dan mempunyai anak. Kamu punya motivasi hidup, kenapa jadi pasrah begitu saat dijemput polisi.." ucap Freya memandang kosong ke arah dinding di sana.


"Andainya kamu tahu Freya, jika kamulah motivasi hidupnya itu.. Jadi wajar saja jika dia sampai begitu.. " batin Devina.


"Hah? Meneruskan usaha? Dia saja berpotensi jadi calon napi!" ceplos Tante Hilda.


"Mah!" tegur Om Wisnu.


"Lagian mana mungkin dia menikah, sepertinya anak itu tidak normal, pacaran saja tidak pernah!" tambah Tante Hilda.


"Loh..Loh.. Kok ngamuk.. Ya kan Tante bilang apa adanya bahwa dia tidak pernah pacaran. Dimas loh yang bilang di kampus dia tidak pernah menanggapi cewek-cewek yang suka sama dia! Semua dia anggap teman! Apa itu normal?! Apalagi katanya banyak yang cantik-cantik suka sama dia, kok ya tidak mau? Carinya yang ganteng apa?" keukeuh Tante Hilda tidak mau mengalah.


(Dimas adalah anak Tante Hilda yang seangkatan dan satu kampus dengan Darren)


"Itu karena... Pokoknya Tante lihat saja! Nanti dia tidak akan pacaran tapi langsung menikah! Dan juga dia akan punya anak yang banyak, pewaris Daddy's Diner, jadi Tante tidak punya hak sedikitpun untuk menjual restoran Papaku!" cecar Devina melampiaskan emosinya yang terpendam pada Tante Hilda.


"Berani kamu ya!,-"


Tante Hilda mencoba menampar Devina namun tangannya dengan cepat di tahan Jakob. Semua keluarga Jakob kebingungan dengan apa yang terjadi karena mereka tidak mengerti mereka bicara apa.


"Tante, Tante yang keterlaluan mengatai Darren keponakan Tante sendiri gay. Hanya karena dia tidak pernah berpacaran, toh kewajiban dia sebagai mahasiswa itu menuntut ilmu, bukan pacaran!" imbuh Freya kesal. Tante Hilda mendengus.


Krekk


Pintu terbuka dan ternyata Darren yang berdiri di ambang pintu. Semua mata tertuju padanya.


"Aku dibebaskan. Istri b*jingan itu senang suaminya babak belur karena dia sakit hati sudah berkali-kali diselingkuhi dengan wanita muda sampai dia tertular HIV. Dendamnya terbalaskan olehku." jelas Darren tanpa ditanya.


GREPP


Sebelum Devina sempat memeluk Darren, ternyata terlebih dulu Freya yang memeluknya.


"Syukurlah! Syukurlah Darren! Mbak tidak bisa membayangkan jika kamu ditahan gara-gara mbak! Mbak akan merasa bersalah seumur hidup! Jangan berbuat sembarangan lagi demi orang lain Darren, kamu sendiri punya masa depan.." ucap Freya saat memeluk Darren walau tingginya hanya se-dada Darren.


Semburat merah muncul di pipi Darren, dengan ragu-ragu dia mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Freya.


GREP


Darren mendekap Freya untuk beberapa saat lalu melepasnya, karena takut detak jantungnya yang kencang akan terdengar oleh Freya.


"Seandainya kamu tahu jika kamulah masa depanku.. untuk apa aku hidup bebas jika calon istri dan ibu dari anak-anakku dinodai dan disakiti oleh br*ngsek itu. Aku tidak pernah menyesal bahkan jika aku harus dipenjara seumur hidup untuk melindungimu. Freya.. Kali ini aku tidak akan mundur.." Darren hanya berani bertutur dalam hati sambil menatap dalam manik Freya yang berkaca-kaca dihadapannya.


"Darren!" Devina menerobos Freya dan memeluk adiknya.


"Mbak Dev, maaf membuat ulah di dekat acara pernikahanmu.." ucap Darren.


"Good Job! Lanjutkan!" bisik Devina yang membuat Darren mengernyitkan dahi, tidak tahu maksud mbaknya itu apa.


"Ok honey, since our trip was cancelled today, what if we talk about where would we go tomorrow, and everyone should be in, everybody's well right?"


(Ok sayang, karena hari ini perjalanan kita dibatalkan, bagaimana jika kita membicarakan kemana kita akan pergi besok, dan semuanya harus ikut, semuanya baik-baik sehat kan?)


tanya Devina dan memandangi semua wajah orang yang ada di sana satu persatu.


"Ok honey of course," jawab Jakob tersenyum lebar.