
"Aku.. Sudah lebih dari 21 tahun.." bisik Darren pada Freya yang sudah tremor itu. Jantung Freya berderu kencang karena nafas Darren begitu dekat dengannya.
CKLAK
Seseorang membuka pintu kamar itu.
"Kalian.. sedang apa?? Hoam~~" tanya Devina sambil menguap. Tak melewatkan kesempatan, Freya segera berdiri, mendekati Devina dan menggelayuti tangannya.
"Hoh?" Devina menatap Freya dan Darren bergantian karena masih bingung dengan yang sudah terjadi, di tambah posisinya yang mengantuk berat.
"Cih.." Darren menarik selimutnya.
"Devina, kamu tidur di sini saja ya, please???" Freya memohon dengan mata berbinar.
"Aku mau ambil bajuku aja, mau lihatin ke Jakob.. Hihi.." ujar Devina.
"Wait.. Ba..baju apa emangnya Dev?" tanya Freya curiga.
"Ssst.. Baju 'dinas' .. itu paket yang dia kirim dari Jerman waktu kami masih pacaran ..hihi" bisik Devina
"Eng.. Anu .. itu.. Basah Dev.." aku Freya terbata-bata.
"Basah... Haaah??! Kok bisa??" mata Devina yang tadinya menyipit karena mengantuk kini membulat.
"Dia yang pakai itu tadi!" timpal Darren dari balik selimut. Devina tertegun. Matanya membelalak bergantian menatap Darren yang dibalik selimut juga Freya.
"Kalian berdua... Mencurigakan!" Devina berkacak pinggang.
"Eng ..itu.. aku bisa jelaskan! Jangan aneh-aneh deh Dev! Tidak seperti yang ka,-"
"Sepertinya kehadiranku di sini mengganggu.. Daah.. Oh ya, Freya, gaun itu buatmu saja! Huahaha.." Ucap Devina tertawa jahat lalu keluar. Freya mendengus pasrah. Ia melangkah gontai dan berbaring di bed-nya membelakangi Darren. Mereka memunggungi satu sama lain. Hening, hanya ada suara AC dan denting jam. Freya terus mencoba tidur dengan memejamkan paksa matanya.
"Mama.. Papa.. Jangan pergi.. Aku.. sendirian.. Mbak Devina juga akan pergi... Sendirian.. Aku.. tidak mau sendiri.." Darren mengigau dalam tidurnya dan membuat Freya sontak melek.
"Aku.. tidak mau sendiri hidup di dunia ini , Ma! Kenapa kalian semua tinggalkan aku..hiks..hiks.." racau Darren dengan suara lirih, membuat Freya khawatir. Diintipnya Darren di sebelah dan benar saja, Darren sungguh menangis dengan mata yang terpejam.
Melihat itu hati Freya teriris dan tak terasa air matanya juga jatuh, terbayang olehnya peristiwa memilukan 10 tahun lalu, dimana Darren yang masih kelas 6 SD dan Devina yang masih kelas 2 SMA ditinggal pergi oleh kedua orang tua mereka untuk selama-lamanya karena kecelakaan mobil.
"Devina.. kenapa kamu tinggalkan Darren sendirian di sini...hiks.." ucapnya dalam hati sambil terus memperhatikan Darren yang belum berhenti menangis. Tangannya terangkat ke udara ingin meraih tubuh adik sahabatnya itu dan mengusap pundaknya tetapi terhenti ketika menyadari Darren sudah bukan anak kecil lagi.
"Darren.. Kamu hanyalah anak yatim-piatu yang malang.. Harusnya aku tidak berpikir macam-macam tentangmu.. Mbak janji.. Mbak janji akan menjadi Mbak yang baik buatmu, Mbak akan memperlakukanmu dengan baik mulai besok.. Hiks.." batin Freya sambil sesenggukan.
Freya mengangkat kembali kepalanya untuk memeriksa Darren tetapi air mata Darren terus mengalir. Tak tahan, Freya turun dan mendekati Darren, mengusap pelan air mata Darren dengan jemarinya. Barulah setelah Darren berhenti menangis Freya kembali ke tempat tidurnya.
"Manis juga dia kalau lagi sedih hihi.." Batin Freya lalu tidak lama kemudian tertidur.
"Jangan beranjak.. Freya..." batin Darren yang ternyata terjaga saat Freya mengusap air matanya, makanya dia berhenti menangis.
***Keesokan harinya***
Pukul 07:00
Keluarga Jakob sudah pulang, Aunt Mary dan Charlotte sudah masuk ke kamar mereka. Mommy Paula masih duduk di living room dengan wajah yang mengantuk, bersama Daddy Normand yang sudah tertidur di sofa. Devina dan Jakob menemui mereka.
"Sorry for leaving you guys alone last night.. We were so excited .. promise we won't ..hoamm~~"
(Maaf meninggalkan kalian semalam.. Kami sangat bersemangat.. Janji kamu tidak akan.. hoamm~~)
ucap Mommy Paula pada anaknya dan calon menantunya.
"It's ok Mom! We're having a great time last night! Plus this place is f*ckin fancy.. So what makes problem? Isn't it, baby?"
(Tidak apa Ma! Kami menghabiskan waktu dengan baik semalam! Dan juga tempat ini terlalu indah.. Jadi apa yang dikeluhkan? Ya kan, sayang?) Jakob mengedipkan sebelah matanya pada Devina.
"Oh.. Good to hear that.. So what you guys have planned for today?"
(Oh..Senang mendengarnya.. Jadi apa yang kalian rencanakan untuk hari ini?)
tanya Paula.
"We're going to pick up Devina's Aunt and her husband first at the airport.. And then drop them here , after that we went to Nusa Penida beach. Oh.. And Isaak too, he asked to join too, except Darren and Freya. She said they both catch a cold."
(Kami jemput Tantenya Devina dan suaminya dulu di bandara.. Lalu menurunkan mereka di sini, setelah itu kita berangkat ke pantai Nusa Penida .. Oh.. Dan Isaak juga, dia minta ikut juga. Kecuali Freya dan Darren. Freya bilang mereka masuk angin jadi mau istirahat full hari ini) tutur Jakob.
"Oh ...that's cool.. have a nice day my children!! Have them take the medicine yet?? And We'll take a nap this morning.., your dad is a bit drunk anyway.."
(Oh ...itu keren.. semoga harimu menyenangkan anak-anakku!! Mereka sudah minum obat belum? Kami juga akan tidur sebentar pagi ini.., ayahmu agak mabuk lagi pula..) ucap Mama Jakob sambil memapah suaminya yang teler.
"Thank you! How can i help you Mom? Don't worry Mom, they're just exhausted and need some rest."
(Terimakasih! Mau aku bantu Ma? Jangan khawatir Ma, mereka hanya kelelahan dan butuh istirahat.)
Ujar Devina.
( Oh ya..Jangan khawatir sayang, mama sudah terbiasa!) tolak Paula. Jakob terkekeh.
"C'mon babe, let's go!"
(Ayo sayang, kita berangkat ) ajak Jakob. Devina mengangguk bersemangat.
**di kamar Darren dan Freya**
"Selamat pagi Darren!!" sapa Freya ramah. Darren masih mengucek-ngucek matanya.
"Tante Hilda dan Om Wisnu akan ke sini sebentar lagi.. Mereka di sewakan Devina kamar suite di seberang. Sekarang Devina dan Jakob menjemput mereka." Di sebelahnya sudah ada Freya yang telah berpakaian rapih dan duduk di kursi mengupas buah apel dengan sebuah pisau kecil.
"Ngg??" Darren masih belum sepenuhnya sadar.
"Mbak kupasin apel buatmu ya!" Freya tersenyum lebar.
"Suapin." tutur Darren singkat, padat, dan jelas.
"Anak ini.. memang dikasi hati mintanya jantung ya!" celoteh Freya dalam hati.
"Oke!" jawab Freya tanpa ragu.
"Lagipula aku sudah berjanji semalam akan menggantikan posisi Devina.. Yah setidaknya setelah dia menemukan istri yang baik untuknya.." batin Freya seraya menatap nanar Darren.
Setelah beberapa potong apel masuk ke mulutnya, Darren memulai pembicaraan.
"Tante Hilda.. Akan menjual restoran orang tua kami.. Jika nanti saat aku lulus kuliah performaku buruk menjadi manajer di sana. Dia hanya memberiku waktu 3 bulan.. Alasannya karena dia dan Om Wisnu sudah
capek ngurusin resto itu selama ini.. Tetapi kan mereka juga menikmati labanya, dia mengambil keuntungan 50% ..." cerita Darren pada Freya, yang bahkan sahabatnya sendiri belum menceritakan itu.
"Dan juga kau tahu.. Jika resto itu dijual dia akan mengambil uangnya 70% dengan dalih sudah menyekolahkan kami blablabla... Aku sih tidak memperdulikan uangnya, tetapi aku tidak suka dia menyalahi wasiat orangtuaku.." tambahnya. Freya diam terus mendengarkan.
"Kau mau tahu apa wasiatnya?"
"Ng? Ya?"
"Jika aku menikah dan istriku melahirkan anak laki-laki, maka hak atas restoran itu jatuh sepenuhnya ketanganku dan cucu laki-laki orangtuaku, tidak bisa diganggu gugat oleh mereka, dan Mbak Devina, karena akan ikut suaminya maka dia akan mendapat hak atas rumah saja.."
"Cucu? Hahahaha.." Freya tergelak. Darren mengangkat alisnya.
"Kamu saja belum lulus kuliah! Mana mungkin menikah apalagi punya anak.. Kerja saja belum ! Hahah.." Ledek Freya
"Ngapain aku kerja? Aku kan punya bisnis keluarga.. Makanya aku ambil jurusan bisnis manajemen.. Kau meragukanku, Mbak?"
"Ah iya juga ya.. Percaya kok percaya..hihi"
"Tante Hilda.. terlalu takut aku menikah dan mempunyai seorang putra, karena dia tidak akan dapat uang sepeserpun lagi.. makanya dia buru-buru ingin menjualnya.." imbuh Darren lagi. Freya sejenak tertegun, mendengar konflik keluarga sahabatnya yang cukup pelik.
Orang tua Darren memilki bisnis kuliner makanan western (diner). Restoran dengan nama Daddy's Diner itu berdiri sejak kedua orangtuanya menikah. Ayah mereka adalah Chef profesional lulusan sekolah tata boga taraf internasional, sedangkan Ibu mereka adalah accounting handal hingga bisnis mereka berkembang pesat dan hampir membuka cabang di luar daerah, namun sayang takdir berkata lain z mereka telah terlebih dahulu 'dipanggil' Yang Maha Kuasa.
Sejak orang tua mereka meninggal bisnis itu diolah oleh Tante Hilda dan Om Wisnu dengan cukup baik, meski jauh tertinggal dibanding saat diolah Ayah Ibu Darren karena omsetnya tidak seperti dulu, tetapi setidaknya resto itu tetap bertahan hingga sekarang. Toh, Om Wisnu dan Tante Hilda hanya meneruskan ilmunya saja. Setelah lulus kuliah Devina hanya memegang posisi supervisor dan manager-nya tetap Om Wisnu.
"Bagaimana menurutmu, kalau aku menikah saja Mbak? Yah.. Biar ada yang urus aku di sini dan juga biar Tante Hilda itu diam..."
"Hah?" Freya terperangah, kata-kata Darren membuyarkan lamunannya.
"Me.. menikah?" tanya Freya ragu dengan yang ia dengar barusan.
"Ya!" jawab Darren tegas.
"Menikah itu.. Tidak semudah yang kamu pikirkan loh, Darren.."
"Mudah jika bersama orang yang tepat." keukeuh Darren.
"Memangnya.. Kamu sudah punya calonnya??" ledek Freya.
"Sudah.. Tetapi aku belum percaya diri sekarang.. Tapi.. Aku akan membuktikan padanya nanti.. lihat saja!" aku Darren seraya melompat turun dari bed dan mengambil handuk bersemangat.
"Mbak Freya, terimakasih ya.." ucapnya sebelum masuk kamar mandi.
BRAKK
Darren menutup pintu kamar mandi dengan keras karena terlalu bersemangat. Entah kenapa ada rasa sedih di hati Freya mendengar Darren membahas pernikahan, padahal dia baru saja berjanji akan menjadi kakak perempuan yang menjaganya. Freya menarik nafas panjang.
***dalam taxi Devina dan Jakob***
"Honey.. Why are you so suspicious, since we're on plane and .. yesterday.. Seems like you are intentionally make Darren and Freya stay together.."
(Sayang.. Kenapa kamu mencurigakan sekali, sejak kita di pesawat dan.. kemarin.. Sepertinya kamu sengaja membuat Darren dan Freya tetap bersama.) tanya Jakob
Devina hanya tersenyum simpul. Seolah menyimpan sesuatu. Misterius.