
"tolongin gue, rel!" Rasel mengulurkan tangannya pada Varel.
"Bangun sendirilah, manja!" Varel malah berjalan mendekati sang istri yang masih mematung di depan pintu.
"Sayang, kesini kok nggak bilang-bilang?" Varel menuntun tangan Adel masuk ke dalam.
"Kalau bilang, aku nggak akan lihat pemandangan barusan, abang," sahut Adel.
"Jangan percaya dengan apa yang kamu lihat, apalagi ucapan manusia satu ini!" Varel memiringkan ekor matanya pada Rasel yang masih enggan berdiri.
"karena kamu sudah membuktikan sendiri kelelakian suamimu ini, sayang," bisik Varel pada telinga Adel. Wanita itu langsung mencubit pinggang suaminya.
Rasel menatap Shahila yang masih mematung di tempatnya, "sha, tolongin aa' Rasel, donk!" rengeknya pada wanita itu.
Bukannya nolongin, Shahila malah bergidik ngeri mengingat apa yang baru saja ia lihat.
"Del, gue balik aja deh, ya! jagain tuh suami lo dari..." Shahila kembali melirik Rasel, ia tak melanjutkan ucapannya dan langsung memutar badan lalu pergi.
Rasel langsung berdiri, "Lo nggak bilang sih kalau Sahila bakal ke sini!" ucapnya.
Varel masa bodoh dengan ucapan Rasel," daripada lo ngomel, memding lo kejar tuh! Kayakny ada yang harus lo jelasin ke dia!" ucapnya kemudian.
Rasel mendengus lalu segera keluar untuk menyusul Shahila. Varel tergelak melihat sahabatnya kesal. Salah sendiri, jahil pikirnya.
"Abang..." panggilan Adel mampu membuat gelak tawa Varel menghilang.
"Ya, sayang?"
"kita baru aja menikah, tapi abang..."
"Sssst..." Varel menempelkan jari telunjuknya pada bibir Adelia. Yang mana membuat wanita itu langsung mengatupkan bibirnya manja.
Varel mencubit pipi Adel gemas,"Sini!" Ia menarik sang istri ke pangkuannya. Melingkarkan tangannya di perut sang istri lalu menjatuhkan dagunya pada bahu wanitanya tersebut.
"Kau tahu kan kalau mulut si Slamet itu kadang suka loss kontrol? apa perlu aku buktikan lagi kalau aku ini...."
"Tidak perlu, abang. Aku percaya," potong Adel cepat. Ia mengusap wajah suaminya dengan lembut.
"O ya, tumben ke sini? kangen ya?" tanya Varel.
"Emang nggak boleh ya, kalau aku ke sini?" Adel justru balik bertanya. Pasalnya ia baru pertama kali ke kantor suaminya tersebut.
"Ya, tentu saja boleh dong. Masa nggak boleh. Senang malah. Kalau bisa, mah tiap hari kerja di tungguin gini biar semangat," timpal Varel.
Adel tersenyum. Ia sedikit menmyerong tubuhnya supaya bisa menatap lekat wajah sang suami, "aku bawa makan siang, kita makan bareng ya?" ucapnya.
Varel mengangguk. Aku ada kerjaan yang belum beres sebentar. Lima menit, oke?"
Adel mengangguk. Ia hendak berdiri. Namun Varel mencegahnya,"mau kemana, sih?"
"Abang kan mau kerja, aku duduk di situ saja," ucapnya menunjuk kursi di depan meja Varel.
"Udah sini aja!" cegah Varel.
"Nanti ganggu abang,"
"Enggak, bentar ya?" Varel mulai bekerja dengan satu tangannya, sementara tangan yang lainnya tetap melingkar di perut sang istri.
Mengamati meja kerja suaminya, ada sebuah photo yang menarik perhatian Adel. Ya, itu adalah photonya saat masih sekolah SMA dulu.
Adel mengambil photo tersebut, "Abang," panggilannya.
Varel yang sedang fokus pada layar di depannya pun hanya menjawab singkat, "Hem?" jawabnya.
"Ini..."
Kali ini Varel menghentikan aktivitasnya. Ia melihat photo yang di pegang Adelia. Ia menatap wajah cantik sang istri yang meminta penjelasan soal photo tersebut.
Varel mengangguk sembari tersenyum, "kenalin, ini cewek yang sudah mencuri hati abang sejak pertama kali abang melihatnya. Bahkan waktu itu dia tertidur, dalam keadaan nggak sadar, koma. Nggak ngapa-ngapain aja udah mampu buat abang jatuh cinta, bayangin! keren kan dia?" ucapnya dengan bangga.
"Abang..."
Adel tak tahu harus bicara apa. Matanya sudah berkaca-kaca. Sebegitu besarnya rasa cinta yang suaminya itu miliki untuknya. Namun, justru dia pernah egois, hanya memikirkan egonya sendiri. Ia juga pernah meragukan perasaan pria tersebut saat status pria itu menjadi tunangan wanita lain. Adel merasa sangat beruntung, karena takdirnya tetap bersama Varel.
"Maaf, aku egois. Terima kasih karena abang selalu menjaga hati abang untukku. Aku terharu. Aku cinta abang, sangat!"
Varel tersenyum lalu mengangguk,"Abang tahu. Dan kamu tahu sebesar apa abang cinta sama kamu. Jangan pernah ragu lagi, ya?"
Adel mengangguk. Ia menyentuh tangan Varel yang membelai pipinya.
Varel mengusap lembut pipi Adel yang mulai basah dengan lembut, "Sekalipun abang pernah menjadi calon suami bahkan suami Andini, posisi kamu tidak pernah terganti sama sekali. Kamu tahu, photo ini adalah photo tercantik Yang pernah aku miliki,"
Adel mencebik, tak setuju jika photo itu di bilang cantik. Pasalnya itu photo ketika dia pulang sekolah dalam keadaan rambut yang sudah berantakan. Bahkan ekspresinya yang cemberut gara-gara di paksa photo, itu sangat jelek menurutnya," Jelek begitu, abang. Emang nggak punya yang lebih bagus?"
"Banyak!" sahut Varel," tapi, ini yang paling aku suka. Natural, apa adanya. Menunjukkan Adeliaku yang bar-bar," imbuhnmya.
"Yaudah nanti di ganti sama photo pernikahan kita aja, ya?" ucap Adel.
"Yang ini nggak boleh di ganti. Karena gadis SMA ini yang buat abang benar-benar merasakan jatuh cinta. Dia juga yang selalu menemani abang kalau lagi kerja,"
"Tapi, kan jelek, abang, kalau ada yang lihat aku kan malu," Adel cemberut. Yang mana itu justru membuat Varel semakin gemas.
"Cantik, sayang. Nggak ada yang akan lihat, cukup abang aja," ucap Varel.
Adel semakin manyun di buatnya, "Abang curang, ya? Punya photoku banyak, aku nggak punya. Kesiksa banget pas kangen tahu!"
Varel lagi-lagi tersenyum, "Makanya, jangan sok nggak butuh, padahal nyatanya..."
"Butuh banget!" Adel meneruskan kalimat yang akan suaminya katakan.
"Ya ampun, kalau kayak gini aku jadi...."
"Jadi apa, abang?"
Varel meminta Adel berdiri, ia pun berdiri lalu menarik tangan sang istri, "Ikut, yuk!" ucapnya.
"Mau kemana sih? Kan belum makan siang, itu aku udah bawain, loh," ujar Adel.
"Abang mau makan jamu dulu sebelum makan siang," ucap Varel mengerling. Yang mana membuat Adel terlihat bingung tak paham akan ucapan suaminya.
"Kita mau kemana? Nanti aku telat ke Butiknya, Shahila nanti nyariin,"
"Nggak bakal nyariin, Slamet pasti lagi mepetin teman kamu itu sekarang. Bentar aja, kok,"
Adel pasrah. Ia mengikuti langkah kaki suaminya. Sebagai pemilik hotel, pria itu tentu memiliki kamar khusus yang bisa ia gunakan kapanpun.
"Abang ngantuk? Kok ke sini?" pertanyaa pols sang istri membuat Varel semakin gemas di buatnya saat mereka masuk ke dalam kamar hotel.
Varel menuntun Adel supaya duduk di tepi ranjang. Ia lalu berjongkok di depan sang istri, menggenggam erat tangan wanita tersebut," Abang butuh penyegaran, boleh?" tanyanya.
"Boleh, mau minum apa? Aku ambilkan sebentar," sahut Adel. Ia mencoba melepas genggaman tabgn Varel untuk berdiri, tapi Pria itu langsung menahannya, "Katanya butuh yang segar, kalau nggak boleh pergi, gimana mau ambilin, abang," tanya Adel.
Varel tersenyum, senang sekali rasanya mendapati istrinya yang sepolos itu karena dia yang sedang belajar untuk tidak polos-polos amat setelah mengalami yang namanya malam pertama menjadi tak terlihat terlalu memalukan karena kurangnya pengalaman diusianya yang sudah matang tersebut.
"Bukan minum itu yang abang mau,"
"Terus apa?"
"Maunya langsung dari sumbernya," sahut Varel tersenyum. Namun, Adel tak juga paham.
"Sayang..." panggil Varel.
"Ya, abang?" pandangan Adel bertemu dengan pandangan sang suami. Pria itu mendongak, menatap sang istri penuh cinta. Tangan Varel perlahan menyentuh di antara paha Adel dari luar.
"Masih sakit?" tanya Varel lembut.
Adel kini tahu maksud prianya tersebut, dengan malu-malu ia menggelengkan kepalanya. Meski sebenarnya memang masih terasa sakit, tapi Adel tak ingin mengecewakan sang suami.
Varel tersenyum, matanya langsung di kuasai kabut gairah, "Boleh?" ia meminta ijin untuk melakukan sesuatu kepada sang istri. Adel tersenyum lalu mengangguk.
...****************...