
"Biar saya saja yang membunuh iblis betina itu."
Semua orang terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Brandon. Pasalnya, pria itu harusnya mendekam di dalam jeruji besi dan masa penahanannya pun sangat lama. Dia adalah ayah biologis dari anak yang dikandung oleh Ziva. Namun, Aksalah yang disuruh bertanggung jawab.
"Kenapa kamu bisa bebas?" Aksa terheran-heran, begitu juga dengan Gio yang sudah mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Tidak perlu hubungi polisi ataupun suruhan Anda, Tuan." Brandon berbicara sangat sopan serta menatap hangat Giondra. "Saya berpihak kepada Anda dan putra Anda sekarang ini."
Namun, Gio tidak percaya begitu saja. Dia tetap menyuruh pengawalnya berjaga-jaga dengan kode khusus yang dia punya. Tidak akan dengan mudah seorang musuh berbelok arah.
"Tuan Aksa, letakkan pistol Anda. Jangan mengotori tangan Anda karena ada istri dan anak Anda yang pastinya akan sedih jika mengetahui Anda adalah seorang pembunuh."
Aksa terdiam sejenak, apa yang dikatakan oleh Brandon benar adanya. Refleks dia pun menurunkan pistolnya. Dia tidak mau membuat jejak jahat yang akan diingat oleh istri dan anaknya seumur hidup mereka.
Wanita yang sudah terikat itu malah tersenyum, dia sangat yakin bahwa Brandon akan membantunya dan akan menjadikan Aksa sebagai korbannya. Namun, semua itu salah. Brandon mendekat ke arahnya dan menatap nyalang ke arah Ziva.
"Kenapa kau tidak melakukannya?" geram Ziva.
"Melakukan apa?" tanya Brandon dengan seringainya.
"Bunuh dia!" seru Ziva dengan telunjuk yang sudah mengarah kepada Aksa.
Semua rumah suruhan Gio pun segera melindungi Aksa dan Brandon pun tertawa sangat keras. "Kamu pikir aku akan membantumu?" Brandon sudah menatap Ziva dengan sangat tajam.
"Sudah tentu," jawabnya dengan penuh percaya diri. "Kamu juga memiliki dendam terhadap mereka 'kan."
Lagi-lagi Brandon tertawa. Tangannya malah mencengkeram dagu Ziva dengan sangat kuat hingga Ziva menjerit kesakitan.
"Cukup sekali aku bodoh, Ziva!" seru Brandon dengan penuh kemarahan. "Kali ini aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri," lanjutbnya lagi dengan nada penuh ancaman.
"Brandon," panggil Gio,
Mantan anak buah Genta Wiguna itu pun menoleh. Dia melihat Gio mendekat tanpa merasa takut sedikit pun.
"Boleh saya tahu kenapa kamu-"
"Dia yang sudah membunuh adik saya, Tuan. Bukan ayah Anda," jelasnya.
Gio terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Brandon. Sama halnya dengan Aksa yang tidak menyangka itu terjadi.
"Ayahnya sudah menodai adik saya dan setelah itu dia memaksa adik saya meminum racun," paparnya.
Mata Gio melebar mendengar penuturan dari Brandon. Dia tidak menyangka bahwa Mahendra akan sekejam itu.
"Namun, pihak Ziva mengatakan bahwa Tuan Genta yang sudah membunuh adik saya dengan memberikannya racun pada minumannya. Pada nyatanya, dia mati dibunuh oleh keluarga perempuan yang tidak waras ini!" Emosi Brandon sudah memuncak, dia segera membuka sebuah botol yang sudah dia bawa. Memaksa Ziva untuk meminum cairan yang sangat menusuk hidung itu.
"Gak mau!"
Brandon terus memaksa hingga dia mencengkeram wajah Ziva dan membuka mulutnya lebar agar cairan itu masuk semua ke dalam tenggorokannya. Akan tetapi, cairan itu tidak Ziva telan hingga Brandon terus memaksanya dan akhirnya cairan itupun tertelan. Semua orang hanya menjadi penonton. Mereka sama sekali tak mencegahnya.
"Itu akan mempercepat berkumpulnya keluarga iblis di neraka sana."
Selang lima menit, wajah Ziva sudah mulai pucat. Tubuhnya sudah mulai ambruk dan tak lama mulutnya mengeluarkan busa. Semua mata orang melebar melihat Ziva yang tengah merasakan sakaratul maut. Kejang-kejang bagai ayam yang baru disembelih.
"To-tolong."
Suaranya sudah sangat dalam. Tak ada seorang pun yang mendekat ke arahnya. Mereka hanya menjadi penonton dari proses kematian seorang Zivanna Meysha Mahendra.
"Abang!"
Seruan dari seseorang terdengar. Aksa segera menoleh dan terlihat istrinya di sana. Mata Riana sudah berkaca-kaca ketika melihat tangan Aksa yang menggenggam pistol.
"A-abang pembunuh," ucapnya dengan sangat lirih.
Aksa sudah menyangka Riana pasti akan berpikir seperti itu. Apalagi dia tengah menggenggam pistol. "Tidak, Sayang," balas Aksa. Tetap saja Riana terus menghindar.
"Innalilahi."
Tubuh Rian bergetar hebat mendengar ucapan dukacita tersebut. Aksa tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk memeluk tubuh istrinya.
"Bukan Abang yang membunuhnya." Riana masih terdiam. Dia melihat jelas Ziva yang sudah tak bernyawa dengan buih yang keluar dari mulutnya.
"Bukan Aksa yang membuatnya seperti itu, tapi selingkuhannya lah yang membunuh wanita iblis itu," papar Gio.
Riana masih tak bereaksi. Dia masih menatap kosong ke arah Ziva yang tergeletak bagai hewan. Seorang pria mendekat ke arah Riana yang tengah dipeluk Aksa.
"Saya yang telah membunuhnya. Saya juga yang akan menyerahkan diri ke kantor polisi tanpa melibatkan siapapun." Wajah pria itu terlihat sangat serius. Ucapannya pun gak main-main. Tak ada kebohongan yang dapat Riana tangkap dari ucapan juga mimik wajahnya.
"Setidaknya saya sudah bisa membalaskan dendam adik saya kepada wanita itu," tunjuknya ke arah Ziva. "Saya tidak masalah dihukum mati ataupun seumur hidup, yang penting hati saya sudah puas dan lega." Betapa besarnya kasih sayang pernah Brandon terhadap adiknya. Hingga dia melakukan ini semua tanpa memperdulikan dirinya sendiri
"Saya akan mendampingi Anda." Christian akan menjadi pelindung bagi Brandon. Dia akan menjadi kuasa hukum Brandon di pengadilan nanti.
Jenazah wanita iblis itu akan dikebumikan di samping makan kedua orang tuanya. Sebelumnya, pihak kepolisian menyerahkan kepada pihak keluarga. Namun, tidak ada satupun pihak keluarga yang mau menerimanya. Alhasil, Giondralah yang bertanggung jawab atas semuanya.
Aksa tidak ikut serta ke pemakaman. Dia membawa Riana ke rumah megah tempat di mana nantinya mereka akan tinggali.
Tangan Aksa sudah menggenggam erat tangan Riana dan menatapnya sangat dalam.
"Percayalah sama Abang, Sayang." Riana memandangi wajah suaminya dengan berkaca-kaca.
"Ta-tapi ... Abang berencana membunuhnya 'kan." Suara Riana terdengar sangat bergetar. "Ri, takut suami Ri jadi seorang pembunuh." Tangis Riana pun pecah. Aksa segera memeluk tubuh istrinya dan ribuan maaf terlontar dari mulutnya.
"Abang hanya ingin mengirim iblis jahat itu ke tempat di mana dia harus berada," terang Aksa ketika istrinya sudah cukup tenang. Riana tak menimpali, dia masih setia mendengarkan.
"Ini bukan kali pertama dia mencelakai keluarga kita." Kepala Aksa pun menggeleng. Riana setuju dengan ucapan Aksa kali ini. Sudah sering Ziva mengganggu rumah tangganya walaupun dia sudah mendekam di penjara.
"Pi-pistol itu-"
"Itu pistol milik Abang, lagi pula itu legal. Selama kuliah di LN, Abang ikut olahraga tembak menembak."
Aksa jelaskan semuanya dengan nada yang sangat lembut hingga pada akhirnya Riana pun dapat mengerti.
"Jangan melakukan hal ini lagi, Ri tidak mau Abang masuk penjara. Ri, tidak mau ditinggalkan oleh Abang.' Tangan Riana sudah melingkar erat di pinggang sang suami.
.
Innalillah wa Inna ilaihi rojiun. Zivanna Mahendra binti Mahendra.
Gio menyentuh nisan yang bertuliskan nama itu. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.
"Kamu anak baik sebenarnya. Hanya saja pengaruh keluarga kamu yang membuat kamu menjadi manusia berhati jahat."
Kini pandangan Gio beralih pada dua nisan di samping makam Ziva. Dia mendekat ke arah dua makam itu. Dia sentuh makan bernamakan Sarah.
"Aku gak nyangka kalau kamu akan menjadi manusia jahat. Padahal, kamu menganggap kamu sebagai sahabat." Gio menjeda ucapannya. "Semoga amal ibadahmu diterima, dan segala dosamu diampuni."
Kalian bertiga sudah berkumpul semua di sini. Semoga tidak ada keluarga iblis lagi yang menjahati keluarga besarku, terutama anak-anakku.
...****************...
Komen dong