
Pria paruh baya yang baru saja memasuki bandara terus bersungut-sungut. Apalagi dia baru saja mendengar kabar dari besannya yang tak lain adalah mantan istrinya, bahwa Riana sudah masuk ke dalam ruang persalinan. Sungguh sangat cepat dan di luar prediksi.
"Kenapa lu milih penerbangan yang lama begini sih?" Ocehan duda tua terus meluncur bebas membuat Arya ingin sekali memberi obat tidur kepada sahabatnya itu.
"Bisa diam gak sih tuh mulut!" bentaknya. "Lama-lama gua kasih sianida juga nih," omel Arya.
Namun, duda beranak tiga itu tidak menggubris omelan Arya. Malah dia semakin menjadi. "Gua khawatir, Bhas! Khawatir!"
"Gua udah siapin proses persalinan tanpa rasa sakit. Kenapa harus begini?" Arya memang melihat kekhawatiran Rion yang tidak bisa disembunyikan.
"Manusia hanya bisa merencanakan. Tuhanlah yang menentukan." Kalimat bijak yang meluncur dari mulut Arya.
"Gua tahu, tapi gua gak bisa dampingin anak gua di saat dia merasa kesakitan. Gua sedih, Bhas."
Tak kuat mendengar ucapan tiada henti dari sahabatnya yang satu ini, akhirnya Arya memilih untuk mengeluarkan koyo dari sakunya. Dia tempelkan koyo tersebut di mulut Rion hingga mata Rion melebar karena mulutnya terasa panas.
"Be go! Edan! Sin ting!" Rion berteriak bagai orang gila dan mampu membuat Arya terbahak-bahak. Apalagi melihat sahabatnya itu lari tunggang langgang menuju toilet sambil terus mengumpat kesal.
"Loncer sih mulutnya," ejek Arya yang belum berhenti tertawa.
Bukannya dia tega, tapi dia juga tidak ingin Rion terus berada dalam kesedihan seperti ini. Ketika Echa melahirkan, meskipun kedua orang tuanya sudah berpisah, mereka berdua menemani Echa. Berbeda kasus dengan Riana, ibunya sudah tiada. Hanya seorang ayah yang dia punya. Namun, kali ini Rion yang adalah ayahnya tidak bisa menemani putrinya.
Bangor calling ....
"Kenapa?"
"Om sekarang di mana? Echa baru baca pesan Ayah," terang Echa dengan nada yang khawatir.
"Om sama Ayah kamu udah di Bandara, sebentar lagi juga masuk ke pesawat." Terdengar hembusan napas kasar ketika mendengar penuturan sang om.
"Echa ingin ikut ke sana sekarang, tapi Echa gak bisa tinggalin anak-anak. Pasti mereka ingin ikut. Apalagi mereka selalu menanyakan kapan anak Riana lahir," papar Echa dengan nada yang terdengar sedih.
"Jangan dipaksa kalau gak bisa," balas Arya di mode lurus. "Nanti juga Riana akan pulang ke Jakarta kok."
Hembusan napas berat keluar dari mulut Echa untuk kedua kalinya. "Iya," jawabnya. "Echa titip Ayah ya, Om. Uang udah Echa transfer seratus juta ke rekening Ayah takut Ayah butuh sesuatu di sana."
Sambungan telepon itu pun Echa sudahi. Ada rasa bersalah di hatinya karena tidak bisa berangkat bersama ayah juga omnya ke Singapura. Masih ada satu pekerjaan yang harus dia selesaikan juga dia memikirkan ketiga anaknya juga adiknya.
Ketika Echa merenung, pintu ruangannya pun terbuka. Seorang pria yang masih sangat tampan datang dengan sebuket bunga di tangannya. Dia memberikan bunga itu kepada istri tercintanya.
"Kenapa sedih?" tanya Radit setelah mengecup kening sang istri.
Echa tidak menjawab, dia mencium wangi bunga yang masih sangat segar itu. Dia berharap sedikit memberikan ketenangan.
"Riana mau lahiran."
"Kamu mau ke sana?" Radit masih sangat peka terhadap istrinya. Seketika Echa menatap sang suami.
"Kerjaan aku masih banyak. Anak-anak dan Iyan gimana?" Raut sedih Echa terlihat sangat jelas. Radit malah bersimpuh di hadapan sang istri. Menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat.
"Kerjaan kamu bisa kamu selesaikan hari ini 'kan dan anak-anak juga Iyan kita bawa ke sana. Besok, sebelum kita berangkat ke Singapura kita urus ijin sekolah mereka terlebih dahulu," terang Radit. "Gimana?" Kini dia bertanya kepada sang istri.
"Kerjaan kamu gimana? Bukannya lagi banyak banget," balas Echa dengan wajah yang belum berubah.
"Kerjaan aku masih bisa aku tunda dulu. Nanti, aku bilang ke Papih."
Senyum pun mengembang di wajah Echa membuat Radit merasa bahagia. Momen ini akan dia gunakan untuk mengembalikan hati istrinya, walaupun tidak bisa utuh seperti dulu lagi.
.
"Apa jenis kelamin anak kami, Sus?"
Aksa mendadak menjadi manusia yang bodoh. Sudah jelas ada dua buah telur berharga juga moncong tikus kecil di sana. Masih saja bertanya.
"Laki-laki, Tuan."
Mata Aksa berbinar sangat bahagia karena itulah yang Aksa harapkan. Namun, dia segera melihat ke arah sang istri. Dia takut Riana kecewa. Istrinya itu sangat yakin bahwa anak mereka berjenis kelamin perempuan.
Menurut ilmu medis, jika wanita pernah mengalami VTS maka anak yang dilahirkan adalah kembar identik. Anak mereka yang telah gugur berjenis kelamin perempuan, maka Riana yakin jika anak yang masih bertahan di dalam perutnya pun perempuan. Dari mana Riana yakin dengan itu? Ada seorang anak perempuan yang sangat mirip dengannya ketika kecil sering hadir di mimpinya. Anak itu juga memanggil Riana dengan sebutan Mommy. Itulah yang membuat Riana yakin.
"Sayang," panggil ayah baru itu.
Riana tersenyum dengan air mata yang belum bisa berhenti menetes. Tangan Aksa dengan sangat lembut mengusap air mata yang sudah membasahi wajah istrinya.
"Nanti kita coba lagi, ya. Jangan sedih." Ucapan Aksa membuat Riana yang tengah menangis tertawa.
"Apa yang dicoba?" tanya Riana yang sudah berubah ceria.
"Bikin adik lagi untuk Aksa junior." Dokter dan perawat yang tengah membersihkan sisa persalinan pun mengulum senyum mendengar ucapan dari ayah baru tersebut.
"Ya Allah, Bang ... si Dedek aja baru brojol udah ngomongin begituan."
Ingin rasanya Riana memukul suaminya, tetapi dia melihat ada bayinya di sampingnya membuatnya mengurungkan niat.
Perawat mengambil bayi itu untuk dibersihkan juga dipindahkan ke ruang NICU karena harus mendapatkan perawatan yang intensif karena terlahir prematur. Sebelumnya, Aksa disuruh mengumandangkan adzan juga iqomah di telinga sang putra. Dokter pun masih harus melakukan proses penutupan kulit bawah Riana yang terkoyak.
Setelah selesai mengumandangkan adzan dan Iqamah Aksa kembali menghampiri istrinya. Terlihat istrinya meringis kesakitan karena jarum yang keluar-masuk di bagian kulit bawahnya.
Sontak dokter yang menanganinya pun tertawa. Begitu juga dengan perawat yang ada di sana sedangkan Riana sudah menatap suaminya dengan kesal.
"Bercanda, Sayang, biar gak tegang." Kecupan hangat Aksa berikan lagi di kening Riana. Tangannya pun terus menggenggam tangan istrinya tersebut.
"Sakit?" Riana hanya mengangguk. Aksa terus mengajak berbicara istrinya agar mengurangi rasa sakit itu. Dia pun dengan setia menemani istrinya. Tak dia pedulikan rasa lapar. Dia juga tidak memegang ponsel demi kedamaiannya. Sudah pasti dia akan diteror oleh orang-orang terdekatnya.
.
"Astaghfirullah al adzim." Aska terus beristighfar ketika ponsel sang abang yang berada di tangannya terus berdering. Bukan hanya panggilan, ratusan pesan pun masuk ke dalam ponsel tersebut.
Aska tidak berani menjawab panggilan yang masuk tersebut disebabkan datangnya dari mertua sang Abang. Lebih baik Aska menghadapi ibunya yang super duper luar biasa cerewetnya dari pada ayah mertua Aksa.
"Maaf ya, Ayah. Kuping Adek nanti berubah menjadi Bolot kalau jawab panggilan Ayah."
Aska tersentak ketika ponsel miliknya berdering. Dia sampai memegang dadanya karena sedari tadi dia yang tengah asyik memandangi ponsel sang Abang yang berisik.
Kakak cantik calling ....
"Iya, Kak."
"Riana udah lahiran?" Suara Echa terdengar sangat cemas.
"Masih berada di ruang persalinan, Kak. Kita sama-sama doain aja semoga lancar dan selamat semuanya."
"Amin," jawab Echa. "Dek, Ayah dan Om Arya akan terbang ke sana sekarang juga." Echa memberitahukan kepada adiknya karena sedari tadi panggilannya ke nomor Aksa juga Riana tidak ada jawaban.
"Mommy sama Daddy juga otw ke sini, Kak. Ya, tahu sendiri jarak Melbourne-Singapura kudu ditempuh delapan jam-an. Jadi, Adek yang ditugasin di sini dulu," terangnya. "Kakak gak ke sini?" tanya Aska. Sesungguhnya dia juga sangat merindukan kakaknya yang cantik jelita. Bukan hanya kakaknya, tiga keponakannya juga sangat dia rindukan.
"Insha Allah besok Kakak baru terbang ke sana. Mau urus ijin ke sekolah si triplets juga Iyan dulu."
Senyum pun melengkung di wajah Aska. Akhirnya, dia bisa bertemu dengan kakak juga tiga keponakannya.
"Adek tunggu ya, Kak."
"Iya. Kalau nanti Riana udah keluar dari ruang persalinan hubungi Kakak, ya. Kakak khawatir."
"Tentu, Kak."
Keluarga Rion juga Gio adalah cerminan dua keluarga yang sangat solid. Mereka akan selalu ada dalam situasi apapun. Tak pernah perhitungan perihal uang karena mereka memang orang berduit.
Setelah perbincangannya selesai, Aska melanjutkan acara ngemil manjanya. Satu bungkus besar sukro sudah berada di dalam dekapannya sambil memandang ruang persalinan. Anggap saja dia tengah berada di bioskop.
.
Setengah jam berlalu proses penutupan luka robek di bagian bawah Riana sudah selesai. Tak hentinya Aksa mencium kening ataupun pipi Riana membuat para perawat yang masih single mengerang kesal karena iri. Aksa pun dipersilahkan keluar terlebih dahulu karena Riana harus istirahat sejenak dalam pantauan dokter.
Pintu ruang persalinan akhirnya terbuka, Aska tercengang ketika melihat kembarannya itu terlihat sangat bahagia.
"Gua udah jadi Ayah sekarang, Dek. Jadi Ayah," ucapnya dengan sangat bahagia. Dia juga memeluk tubuh adiknya sambil memukul punggung Aska.
"Bisa gak tuh tangan gak pake mukul," sungut Aska. Aksa segera mengurai pelukannya. Aska malah membuka mulutnya yang berisi Sukro yang masih utuh.
"Entar gua keselek, berabe ini," ujarnya lagi.
"Mumpung di rumah sakit, jadi gak masalah," sahut Aksa.
"Bang sat emang, bang sat!"
Aksa hanya tertawa dan meraih minum yang ada di tangan adiknya. Minum yang belum sempat diminum oleh Aska sudah ditengguk habis oleh kembarannya. Si empunya minuman hanya menggelengkan kepalanya.
"Cewek cowok?"
"Jagoan."
Aska tersenyum bahagia mendengarnya. Akhirnya dia memiliki keponakan yang sempurna. Ada tiga perempuan dan satu laki-laki.
"Ganteng gak?" Aska benar-benar penasaran.
Aksa hanya tersenyum, dia menarik tangan adiknya agar mengikutinya. Mereka berdua berhenti di ruangan NICU.
"Tuh lihat!" tunjuk Aksa ke arah bayi yang tengah menguap.
"Ya Allah, keponakan gua ganteng banget."
.
Namun, ada seseorang yang marah ketika mendengar Aksa dan Riana baru saja memiliki seorang putra. Wajahnya sudah merah padam. Tangannya sudah mengepal keras.
"Aku bahagia karena salah satu anakmu sudah mati sama seperti anakku, tapi aku tidak akan membiarkan anakmu yang itu juga hidup. Dia juga harus mati!"
...****************...
Komen atuh ....