Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Siapkan stamina


Setelah mengantar Zac dan Zoey ke sekolah, Zayn langsung ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk istrinya.


“Tuan, sini Bibi bantu.” Si Bibi menawarkan diri untuk membantu majikannya yang sibuk sendiri.


“Ngga usah, Bi. Rara suka Sandwich buatanku,” jawab Zayn yang sedang meracik roti itu lengkap dengan telur dan beberapa jenis lalapan sayuran.


Si Bibi tersenyum. “Ah, si Tuan mah bucin banget sama Mommy. Ish gemes.” Ingin rasanya Si Bibi mencubit pinggang Zayn atau memukul gelas dada Zayn.


Zayn hanya tertawa dan menggelengkan kepala saat melihat ekspresi si Bibi.


“Wait, Bi,” teriak Zayn membuat si Bibi kembali menoleh.


“Iya, Tuan. Akhirnya Tuan butuh saya juga. Soalnya sejak ada Mommy, Tuan ngga pernah minta bantuan saya lagi.”


Zayn kembali tertawa. “Baiklah, sekarang saya minta bantuanmu, Bi. Tolong buatkan coklat hangat campur susu putih sedikit ya!”


“Siap, Tuan.” Si Bibi mengangguk dan langsung melaksanakan perintah Zayn.


“Mommy belum bangun ya, Tuan?” tanya si Bibi di sela aktivitas mereka di dapur.


“Hmm ...” jawab Zayn yang masih fokus membuat dua Sandwich.


“Kecapean ya, Tuan?” tanya si Bibi lagi.


“Mana coklatnya? Sudah jadi belum?” tanya Zayn.


“Ini, Tuan.” Si Bibi menyerahkan gelas hangat yang berisi coklat susu itu ke tangan Zayn.


“Kamu keypoh banget Bi,” ucap Zayn saat menerima gelas itu.


“Pasti hot banget ya Tuan, secara saya aja lihat Mommy sama Daddy ciumannya hot banget,” ujar si Bibi membuat dahi Zayn berkerut.


“Ups, Maaf keceplosan.” Si Bibi menepuk bibirnya sendiri.


“Makanya cepet nikah, supaya bisa rasain sendiri,” kata Zayn sambil menaruh piring dan gelas itu ke nampan yang disiapkan Bibi.


“Udah pernah rasain kok, Tuan. Cuma sekarang lagi off aja,” sahut si Bibi yang memang sudah menjanda selama dua tahun.


“Ya udah terima itu lamarannya si Asep satpam kompleks,” ledek Zayn.


“Ih, kok Tuan tahu sih?” tanya si Bibi kaget.


“Apa sih yang saya ngga tahu. Kemarin malam kamu ciuman sama Asep aja, saya tahu.”


“Ih, Tuaan ...” panggil si Bibi malu.


Zayn tertawa dan berlalu menuju tangga. Namun sebelum itu ia berkata lagi pada si Bibi. “Jangan kelamaan pacarannya! Nanti kebablasan. Repot.”


“Ish, ngga lah, Tuan. Saya bisa jaga diri.” Bibi mencibir Zayn yang sudah berlalu jauh. “Ish, kok Tuan Zayn tahu sih,” gumamnya.


Sesampainya di kamar, Zayn meletakkan nampan itu di meja kecil yang berada persis di samping tempat tidur. Lalu, zayn duduk di tepi tempat tidur itu. ia memperhatikan wajah cantik Rara yang masih terlelap.


Zayn mengambil ponselnya di saku dan memoto sang istri. Terlihat Rara yang masih terpejam dengan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga leher. Di balik selimut tebal itu, Rara sudah mengenakan dres satin tipis dan pendek dengan satu tali di bagian bahu kanan dan kiri.


Zayn mengedit sedikit bagian tubuh Rara yang terbuka dan menutupinya. Lalu, ia mengunggah foto itu di sosial media dan men-tag nama Rara dengan caption “tidur aja cantik.”


Kemudian, zayn berjalan mengambil remot untuk menonto televisi sambil dudu kembali di atas ranjang bersama Rara yang masih berbaring di sampingnya.


Sesekali, Rara menggeliat mendengar bising dari suara televisi yang Zayn nyalakan. “Eum ...” Rara membuka matanya sedikit dan Zayn langsung menoleh ke arah sang istri.


“Hai, sudah bangun?” tanya Zayn sambil mengusap kepala Rara.


Rara membuka matanya sempurna dan langsung terbangun saat melihat jendela yang sudah terang dengan sinar matahari yang terpancar sempurna.


“Hah, Dad. Jam berapa sekarang?” tanya Rara terkejut dan melihat ke arah jam dinding.


“Jam delapan lewat lima belas menit.”


“Apa? Zac dan Zoey?”


“Tenang, Sayang. mereka sudah aku antar ke sekolah satu jam yang lalu,” jawab Zayn santai.


“Kamu kok ngga bangunin aku.”


“Ngga apa-apa, kamu istirahat aja. Siapkan stamina untuk melayaniku lagi.”


“Daddy ...” rengek Rara lemas, membuat Zayn tertawa keras.


Zayn lucu melihat ekspresi Rara. “Oh, iya. Aku sudah siapkan sarapn untukmu.”


Zayn menaruh nampan itu tepat di depan Rara.


“”Untuk menambah stamina?” tanya Rara dengan tatapan tajam.


Sontak, Zayn tertawa lagi. “Bisa dibilang begitu.”


“Zayn, kamu mesum banget. Sumpah. Nyebelin.” Rara cemberut.


“Hei, lagian siapa suruh nakal banget. Bikin orang nagih tau.” Zayn mencolek ujung hidung Rara. “Udah ayo makan! tapi sebelumnya minum ini dulu.”


Mata Rara langsung berbinar ketika melihat segelas coklat hangat. “Pakai susu putih kan?” tanyanya.


“Sesuai kesukaan tuan putri. Coklat dua sendok ditambah susu krimer tanpa gula,” jawab Zayn.


“Ah, terima kasih. Daddy.” Rara menerima gelas itu dari tangan Zayn. “Eum, masih hangat.”


“Ya, tadi aku minta Bibi membuatkannya panas, jadi sekarang masih hangat.”


Rara mengangguk.


“Makan juga Sandwich nya,” kata Zayn lagi dengan mengambil satu Sandwich untuk dirinya sendiri.


“Buatan kamu kan?” tanya Rara.


Zayn mengangguk. “Iya, pasti kamu kangen dengan sandwich buatanku.”


“Ah, pantas. Zoey meminta dibuatkan dua saat sekolah.”


Ketika itu, Rara dan Zayn belum menikah. Rara nyengir, membuat Zayn tertawa.


Keduanya memakan makanan itu bersama sambil menonton televisi.


“Yang makannya lama kena hukuman,” kata Zayn melirik ke arah Rara yang makan dengan lambat karena sembari menonton televisi yang menyuguhkan tayangan Infotainment.


Rara menoleh ke makanan Zayn yang hanya sisa sedikit sedangkan dirinya masih cukup banyak. “Ish, modus.”


Rara mendorong bahu suaminya. Zayn tertawa.


“Makanya makan. kebiasaan kalau makan sambil nonton pasti jadinya lama.”


“Hmm .. ya.” Rara memakan cepat hingga mayonaise yang berada di dalam roti itu berantakan ke bibirnya.


Zayn melihat itu dan menggelengkan kepalanya. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Rara dan memakan mayonaise yang menempel di sudut kiri bibir Rara.


“Mmmpphh ....” lenguh Rara karena Zayn bukan hanya memakan mayonaise itu tapi ******* habis bibirnya.


“Eum ... Daddy nakal.” Rara memukul pelan bahu Zayn yang menyerang bibirnya tiba-tiba.


“Aku sudah bilang, Jangan ada makanan yang tersisa di bibirmu, karena pasti aku makan.”


Rara mencibir dan memonyongkan bibirnya, meledek Zayn yang suka beralasan, padahal modus.


Rara melihat Zayn yang sudah menghabiskan makanan itu. Ia pun melihat sudut bibir Zayn yang meninggalkan jejak mayonaise.


Rara memajukan wajahnya ke wajah Zayn dan memakan mayonaise yang berada di sudut kanan bibir Zayn.


Zayn tersenyum dan langsung menerima bibir Rara sambil memeluk tubuh itu, membuat makanan yang penuh di mulut Rara tadi menjadi berkurang.


Dengan gerakan cepat Zayn memindahkan nampan itu ke meja kecil dan menindih tubuh Rara. “Nakal banget sih kamu sekarang. Hmm ...” Zayn menggelitiki pinggang Rara.


Rara tertawa. “Abis kamu nyebelin.”


Zayn tertawa. “Aku makan kamu lagi nih.” Zayn mencoba menggigit leher Rara. Namun, wanita itu menghindar sambil tertawa.


“Jangan, Dad! Aku belum selesai makan.”


Zayn tertawa dan melepaskan tubuh itu dari kungkungannya tadi. Rara pun masih tertawa, lalu kembali bangkit dan memakan makanannya kembali.


Rara dan Zayn masih duduk di atas tempat tidur dengan mengarah pada televisi yang menempel di dinding kamar itu.


Zayn duduk dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding tempat tidur, sementara Rara duduk bersila dengan bantal di pahanya dan sedikit Sandwich yang tersisa di tangan kanannya.


“Sayang, makannya lama banget sih.” Zayn merajuk sambil jemarinya mengelus punggung belakang Rara yang halus.


Kemudian, Zayn memajukan tubuhnya. Bibirnya mulai menelusuri bagian belakang tubuh Rara.


“Daddy, sabar dong. Belum selesai makannya.”


“Kelamaan.” Bibir Zayn terus menelusuri leher dan punggung belakang Rara, hingga ia membuka resleting gaun malam itu.


“Daddy,” rengek Rara karena gaunnya sudah melorot dan hampir saja menampilkan dua gundukan sintal itu. Untung saja ia langsung menahan gaun itu agar tidak melorot sempurna.


Zayn tertawa. “Lagian lama.”


Rara sudah menghabiskan Sandwich itu dan bangkit untuk mengambil coklat hangat tadi. Zayn semakin gemas dengan tampilan Rara yang berantakan saat ini. Rara mengapit gaun yang hampir terjatuh itu agar tetap menutupi dadanya. Begitu pun dengan rambut yang berantakan karena ia baru saja bangun tidur.


Zayn kembali mendekati istrinya dengan memasang wajah mesum. “Ayo, Sayang!” Zayn kembali menggerayangi tubuh Rara yang sedang asyik minum.


“Daddy, ya ampun.” Rara tertawa melihat suaminya yang benar-benar mesum.


Lalu, Rara meletakkan kembali gelas itu. “Oke, Daddy. Kamu mau apa?”


“Memakanmu tentu saja. Sudah kuat kan?”


Rara tertawa. “Yang semalam belum puas?”


Zayn menggeleng. “Ngga pernah puas sama tubuh kamu, Sayang. Candu tau ngga.”


Zayn kembali menubruk Rara. Namun sebelum itu Rara melihat dirinya di balik cermin. Cermin yang melapisi pintu lemari besar yang berada di samping ranjang king size itu.


“Daddy, ini tanda apa?” tanya Rara yang melihat banyak warna keunguan di tubuhnya. “Hah?” Rara menatap Zayn.


Zayn tersenyum. “Tanda kepemilikan, Sayang.”


Pasalnya, Rara pun tak pernah mendapatkan tanda ini dari suaminya yang dulu, membuat ia heran dengan warna-warna yang sekarang ada di tubuhnya.


“Eum .... bisa hilang tidak?” tanya Rara merengek.


Zayn kembali tertawa. Ia baru tahu bahwa banyak yang tidak Rara dapatkan dari Reza. Sungguh, Reza benar-benar bodoh, menyia-nyiakan istri secantik Rara. Kalau Zayn, tidak akan.


“Kamu kan pakai hijab. Jadi tidak akan dilihat orang lain,” sahut Zayn santai.


“Ish, itu sih mau kamu.” Rara memukul lagi bahu suaminya. “Sebel ... Sebel ... Sebel ...”


Rara memukul bahu Zayn bertubi-tubi hingga pemiliknya pun tertawa dan tidak mencoba menghindari pukulan ringan itu.


Zayn malah mengunci kedua tangan Rara dan mengungkungnya. “Aku sudah tidak tahan, Beib. Kamu terlalu menggoda.” Zayn tersenyum menyeringai.


“Oke, satu ronde.” Rara menampilkan jari telunjuknya di depan wajah Zayn.


“No, lima.” Zayn menunjukkan kelima jarinya di depan Rara.


“What? Nanti keburu Zac dan Zoey pulang.” Rara kembali merengek.


Zayn lagi-lagi tertawa. “Bibi akan membawa mereka dulu ke supermarket.”


“Daddy ....” teriak Rara yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan suaminya yang menggilai tubuhnya itu.


Zayn kembali menyeringai dan dengan cepat menanggalkan pakaiannya. Ia kembali bermain dengan tubuh yang sedari tadi menggodanya itu.