
“Ah.” Rara terpekik saat benda itu menerobos bagian sensitifnya.
“Masih sakit?” tanya Zayn lembut.
Wajah Zayn dan Rara sejajar tanpa jarak berbaring di atas ranjang kamar itu. Zayn mengelus lembut wajah Rara yang cantik dan semakin cantik di bawah kungkungannya. Apalagi tadi saat Zayn memainkan milik Rara, wanita itu berteriak merdu ketika pelepasan datang diringi wajah yang begitu sexy.
Rara menggeleng dan tersenyum. “Tidak sesakit sebelumnya.”
Zayn pun tersenyum.
Walau ini bukan kali pertama Rara melakukan hubungan suami istri. Walau ini juga bukan pertama kali untuk Rara menerima milik Zayn, tapi ia sudah cukup lama tidak melakukan itu. Di tambah ukuran milik Zayn yang lebih besar dari milik suaminya dulu, membuat Rara harus kembali beradaptasi dengan benda itu.
Zayn mengecup bibir Rara sekilas. “Sempit, Sayang. Aku suka.”
Tepat dini hari, mereka kembali bergumul setelah lima belas menit bercumbu dan memberi r*ngs*ng*n pada Rara hingga wanita itu mendapatkan pelepasannya terlebih dahulu.
“Eum ... Aku juga suka, Dad.” lirih Rara. Ia bisa merasakan gerakan tubuh Zayn di bawah sana.
Gila, ini sungguh gila. Mata Rara sayu, ia seperti terbang di langit ke tujuh. Sensasi yang ia rasakan luar biasa nikmatnya. Zayn begitu pintar memberi Rara nikmat yang tiada tara. Zayn terus menggerakkan tubuhnya, memacu dengan cukup keras dan brutal hingga Rara tak berdaya.
Zayn pun menambah sensasi lain ketika gerakan yang brutal diiringi mulutnya yang menghisap kuat dada kenyal Rara bergantian.
“Dad, Oh. Jangan berhenti!” racau Rara membuat Zayn tersenyum lebar.
“Aku juga tidak bisa berhenti, Sayang. kamu sungguh nikmat,” balas Zayn.
“Ah, Dad. Terus. Aku suka.”
Zayn menambah ritme gerakannya. “Seperti ini.” Ia semakin menghentakkan gerakan itu membuat Rara melenguh karena gerakan itu mengenai bagian paling terdalam.
“Dad, Oh. Aku ingin ....”
Zayn kembali tersenyum dan menghentikan gerakannya, membari jeda pada Rara untuk menikmati sensasi ledakan itu. Zayn terus menatap wajah cantik yang sexy karena sedang dalam pelepasan.
“Ah .... Daaad.” Rara melolong panjang diringi dengan tubuhnya yang menggeliat.
Zayn langsung ******* bibir ranum Rara. “Kamu sexy sekali, Sayang.”
Mata Rara yang sayu berkedip pelan. Ia tersenyum pada Zayn. “Kamu masih ingin?”
Zayn mengangguk. ‘Tentu saja.”
Lalu, Rara merubah posisi. Ia meminta Zayn untuk berada di bawahnya.
“Sekarang aku yang akan memuaskanmu,” ucap Rara genit dengan senyum yang menggida dan suara sensual.
Rara sangat menikmati setiap percintaan bersama Zayn, karena Pria itu benar-benar bisa membuat sisi liarnya bangkit.
Rara mengambil alih kendali. Kini, ia yang aktif bergerak naik turun hingga Zayn dibuat tak kuasa menahan nikmat itu. Gerakan Rara membuat kedua gunung kembar itu terpantul dan bergerak. Tangan Zayn gemas untuk segera meremas bagian itu dan kembali menghisap dua bagian itu bergantian.
“Oh, Sayang. Kamu nakal. Ah. Rara ...” racau Zayn.
Kedua tangan Zayn beralih dengan mencengkram kedua bongakahan b*k*ng Rara yang padat. Tidak ada satu pun tubuh Rara yang terlewatkan dari sentuhannya. Zayn benar-benar menggunakan tubuh itu hingga tak ada yang tersisa.
“Ah, Rara. Kamu sungguh nikmat.” Zayn kembali mercau dan Rara hanya tersenyum melihat suaminya yang merasa puas dengan pelayanan yang ia berikan.
“Ra, aku ngga kuat. Ah. Kamu benar-benar nakal.” Zayn kembali meracau.
Rara bergerak lebih brutal. Ia terus meliuk-liukkan tubuhnya dengan gerakan cepat. Sesekali ia pun menunduk untuk mencium bibir suaminya.
“Oh, Ra.” Zayn terus memanggil nama wanita pujaannya itu. “Aku sampai, Ra.”
“Iya, Daddy.”
“Rara ...” panggil Zayn saat pelepasan itu terjadi. Ia pun memeluk tubuh erat tubuh Rara dan Rara memeluk kepala suaminya.
Sungguh, ini adalah kenikmatan hakiki dari sesuatu yang ditawarkan dalam sebuah pernikahan. Tidak merasa khawatir ketika melakukannya. Tidak merasa takut dan bersalah usai terjadi. Justru yang ada kebahagiaan itu semakin berlipat ganda. Penyatuan fisik yang membuat jiwa seakan lebih menyatu terhadap orang yang dicinta.
Zayn merebahkan tubuh Rara yang sudah bekerja keras malam ini. Ia masih memeluk tubuh itu.
Rara benar-benar liar. Zayn pun tercengang mengetahui sisi lain dari seorang Rara yang terkenal pendiam dan lembut. Zayn semakin mengagumi istrinya. Rara benar-benar wanita yang berbeda. Dia istimewa. Pantas saja hatinya tidak bisa memilih wanita lain selain dia.
“Terima kasih, Sayang.” Zayn mengecup kening Rara.
Rara tersenyum. “Kamu puas?”
“Sangat.”
Zayn pun ikut tersenyum. Ia menghapus peluh di kening itu seraya menyingkirkan rambut halus yang menutupi wajah Rara.
“Dad, kamu belum melepasnya,” ucap Rara lirih ketika merasakan milik Zayn masih menyatu dengannya.
“Dia sudah nyaman di sana.”
Zayn tertawa. “Bercinta denganmu selalu saja kurang, Sayang.”
“Daddy ...” panggil Rara merengek.
Zayn tertawa. “Mendengarmu memanggilku Daddy seperti Zoey.”
Rara kembali tertawa.
Lalu, Zayn melepaskan penyatuan itu perlahan.
“Ah.” Keduanya melenguh dan mengambil posisi untuk melanjutkan tidur.
Rara menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya yang polos. Ia memiringkan tubuhnya dan memblakangi Zayn. “Aku tidur, Dad.”
Zayn mendekati Rara dan meemluk tubuhnya dari belakang hingga wajahnya menyentuh leher belakang Rara. “Tidur yang nyenyak, Sayang. karena besok aku pasti akan meminta lagi.”
“Daddy ...” rengek Rara sambil menggerakkan sikunya untuk memukul perut Zayn.
Zayn tertawa. “Abis kamu liar banget.”
“Dad.” Rara kesal dan menoleh sedikit ke belakang.
“Maaf.” Zayn masih tertawa. “Baiklah. Ayo tidur!”
Rara tersenyum dan mulai meemjamkan matanya. Begitu pun dengan Zayn. Ia ikut memejamkan mata sambil memeluk tubuh Rara erat. Kini, Zayn tidak lagi tidur dengan memeluk foto-foto Rara.
****
Tok ... Tok ... Tok ...
“Daddy ....”
“Daddy ...”
Seru Zac dan Zoey memanggil ayahnya. Pagi ini Matahari semakin bersinar, tetapi kaamr Zayn dan Rara masih tampak gelap.
“Mommy ...”
“Daddy ...”
Zac dan Zoey kembali mengetuk pintu dan memanggil kedua roang tuanya.
Zayn tersentak mendengar gedoran pintu itu, tapi sepertinya Rara masih sangat lelah karea ia sama sekali tidak bergerak dan terjaga oleh suara bising kedua anaknya itu.
Zayn melihat jam dinding. “Oh, ****.”
Mereka kesiangan. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Zayn dan Rara terbangun dan membersihkan diri saat alarm berbunyi pukul lima. Mereka pun melaksanakan sholat subuh bersama dan setelah itu mereka kembali tidur.
Zayn langsung bangun dan beranjak dari tempat tidur. ia pun segera membuka pintu.
“Daddy ...” seru Zoey.
“Daddy ... kami kesiangan. Ayo berangkat!” kata Zac.
Zac dan Zoey sudah lengkap memakai seragam dan tasnya. Mereka sudah tampak rapih.
“Mommy mana? Mommy tidak mengantar kami?” tanya Zoey yang langsung memasuki kamar itu.
“Ssstt ...” Zayn menutup bibirnya dan mencegah Zoey untuk masuk. “Mommy masih tidur. Biar Daddy yang antar kalian.”
Untungnya Rara masih mendapat cuti dua hari lagi.
“Tapi kami ingin di antar Mommy,” ucap Zac.
“Mommy sedang istirahat, Sayang. semalam Mommy tidak bisa tidur.” Zayn keluar dari kamar dan menutup pintu itu kembali.
“Memang apa yang dilakukan Daddy pada Mommy?” tanya Zac yang langsung bertolak pinggang.
Zoey pun melakukan hal yang sama. “Iya, sampai Mommy tidak bisa tidur?”
Zayn nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Hmm ... semalam Mommy dan Daddy ngobrol panjang kali lebar dan tidak terasa hari semakin malam. Jadi ... Eum.”
Zayn menatap ke arah Zac dan Zoey bergantian karena kedua anak itu hendak menatap tajam ke arahnya sambil bertolak pinggang.
“Jadi, kami tidur sangat larut semalam,” sambung Zayn.
Ketiganya terdiam. Zac dan Zoey saling melirik dan kembali menatap tajam ke arah sang ayah.
“Sudahlah. Ayo kita berangkat. Nanti kalian semakin kesiangan.”
Zayn menarik kedua anaknya untuk segera turun dan berangkat, karena lima belas menit lagi bel sekolah Zac dan Zoey akan berbunyi.