Ingin Menjadi Top Ranker

Ingin Menjadi Top Ranker
Chapter 61 Kejutan dari Seorang Schwarz


Sebuah tulang belulang yang membentuk suatu Rangka bermunculan..


   "Hanya Skeleton? Yah.. inimah gak makan waktu lama," ungkap Rayosz.


   Kerumunan Skeleton itu pun memegang sebuah Pedang di tangan mereka. Ada juga, salah satu skeleton yang berbeda dari yang lain. Dia menggunakan sebuah Jubah hitam dan memegang sebuah Tongkat layaknya penyihir.


   Rayosz langsung mengangkat Pedangnya itu dan melayangkan ke arah Skeleton yang mendekat ke arahnya dengan kedua tangan.


   "HAHAHA! Hanya segini saja?" 


   Tulang belulang yang berserakan itu mulai berterbangan. Membentuk suatu Rangka kembali seperti yang tadi. Sepertinya Skeleton-skeleton itu mempunyai Regenerasi yang cukup tinggi berkat Skeleton yang berjubah itu.


   "Tch! Tidak ada habisnya makhluk lemah ini." 


   Rayosz terus melayangkan pedang-pedangnya untuk menghancurkan skeleton - skeleton itu. Tapi, hal itu nampaknya sia-sia. Mereka terus menerus membentuk kembali rangka walau sudah dihancurkan. Terlihat juga, Skeleton berjubah itu memegang tongkatnya sambil mengucapkan sebuah mantra.


   Permata hijau di tongkatnya terlihat menyala terus menerus tanpa henti ketika dia merapalkan mantranya.


   "Kalau saja dia pintar, maka hal yang harus dilakukannya saat ini adalah membunuh Skeleton berjubah itu," gumam Raphael.


   Percuma saja dia melayangkan pedang besarnya itu kepada Skeleton yang biasa. Tak kan ada habisnya. Orang seperti dia lebih mengandalkan ototnya ketimbang otaknya.


   Abeld yang sedang duduk di lantai itu mulai memberitahu hal penting kepada Rayosz.


   "Rayosz, percuma saja menyerang skeleton itu." 


   Rayosz pun menoleh sembari menyerang. "Apa!" Sambil terlihat kesulitan menahan beberapa skeleton yang melayangkan pedang ke arahnya.


   "Lebih baik kau menyerang ke Arah Skeleton berjubah itu. Dia merapalkan sebuah Mantra regenerasi kepada Skeleton-skeleton biasa ini." Sambil menunjuk ke Arah Skeleton berjubah.


   Rayosz pun mendorong paksa skeleton-skeleton yang berada di depannya menggunakan pedang besarnya.


   Dia mulai maju mengarah ke Skeleton berjubah itu sambil melayangkan pedangnya ke depan. Terlihat, Skeleton berjubah itu menyadari bahwa Rayosz sedang menuju ke arahnya.


   Dia pun merapalkan sebuah Mantra kembali. 


   "Aku akan menebasmu!" Kekesalan tersirat dari Wajah Rayosz sambil menyerang skeleton yang menghalaunya.


   Sebuah bola api keluar dari Tongkat Skeleton berjubah itu.


   Rayosz yang melihat Bola api mengarah ke arahnya, langsung menghalau menggunakan bilah pedangnya. 


   "Sihir yang lemah."


   Rayosz pun melanjutkan kembali bergerak ke arah Skeleton berjubah.


   Skeleton berjubah itu mulai mengangkat Tongkat dengan Permata yang berubah menjadi Warna biru. Sepertinya dia berusaha untuk merapalkan mantra sihir kembali. Permata biru di tengah tongkatnya itu langsung berputar di atas Skeleton berjubahnya.


   "Apa yang ingin dia Lakukan?" ungkap Raphael bertanya pada diri sendiri.


   Dari atas, terlihat sebuah Hujan api mulai berjatuhan. Untungnya kursi penonton dilindungi oleh sebuah Dinding tenaga yang transparan sehingga Hujan api itu tidak mengenai para penonton.


   Rayosz terlihat menutupi tubuhnya dari Hujan api itu menggunakan pedang besarnya. Sedangkan Abeld, dia mengeluarkan sebuah bola yang terbuat dari Baja menutupi dirinya. Rayosz terlihat kesulitan menahan Hujan apinya.


   "Hanya seekor Lich saja menyusahkan ku sampai sejauh ini. Berani juga!" 


   Rayosz menancapkan pedang besarnya ke bawah dan menghiraukan Hujan apinya itu mengenai Armor besi yang dia pakai.


   "EARTHQUAKE!!" 


   Sebuah guncangan terjadi. Skeleton berjubah, Lich dan yang berada di dalam Ruangannya merasakan Guncangan itu. Keseimbangan Lich serta Skeleton berjubah itu goyah. Mereka berdua jatuh akibat Guncangannya.


   Rayosz dengan cepat berlari ke arah Skeleton Berjubahnya. Tongkat Skeleton berjubah itu juga jatuh ke tanah. Dengan cepat, Rayosz memotong tongkatnya menggunakan pedangnya. 


   "Heh! Hanya dengan skill ku saja langsung goyah." 


   Rayosz pun menebas Tengkorak Skeleton berjubah itu. Skeleton berjubah itu pun mati diikuti dengan skeleton-skeleton kecil yang ikut hancur.


   Lich itu terlihat ketakutan setelah Pasukannya dikalahkan oleh Rayosz. Dia terlihat beringsut ke belakang.


   Rayosz melirik dengan tajam ke arah Lichnya. "Sekarang tinggal kau yang tersisa." 


   Rayosz langsung melemparkan Senjatanya ke Arah Lich itu dari jarak yang lumayan jauh. Dia melemparkan dengan sekuat tenaganya sampai-sampai gelombang kejut mengikuti.


   Pedang besar itu pun tepat mengenai kepala sang Lich dan mendorongnya sampai ke dinding. Lich itu terjepit di antara dinding dan juga Pedang Rayosz. Pedang itu menancap tepat di kepalanya.


   Licht itu pun menghilang setelahnya.


   "LUAR BIASA!! Skill yang Hebat!" Teriak Ryne.


   Semua tepuk tangan mengarah kepada Rayosz yang dengan kerennya mengalahkan Licht itu. 


  "Heh! Teruslah bertepuk tangan untukku. Aku memang pantas mendapatkannya." Sambil menggerakkan Tangan untuk bertepuk tangan kepadanya.


   "Ya.. kukira kamu bakal kalah ketika dihujani Api seperti tadi," ucap Abeld.


   "Kata kalah tidak ada dalam Filosofi kehidupan ku." 


   Omongannya sebanding dengan seberapa besar kekuatannya. Walaupun sikapnya seperti itu, kekuatan yang dia punya cukup besar. 


   Mereka berdua pun meninggalkan Arena pertarungannya dan menuju ke sebuah Lorong. Rayosz tak sekalipun menerima luka yang berarti di tubuhnya. 


    "Sikap percaya dirinya terlalu tinggi. Tapi itu sebanding dengan apa yang dia punya," Gumam Raphael.


   Raphael hanya duduk mengamati berbagai macam Tipe bertarung mereka semua. Dia berharap akan mendapatkan sesuatu yang berharga yang bisa dia pelajari.


   "Baiklah! Silahkan untuk peserta selanjutnya." 


   ****************


   Beberapa Jam berjalan…


   Banyak sekali kelompok maupun Individualis yang mencoba untuk melakukan Ujiannya. Banyak dari mereka yang Gagal lolos. Banyak sekali orang-orang dengan kekuatan menarik yang berada di sini.


  Sehingga tak banyak jenis dari skill mereka yang dapat dikeluarkan. Mungkin hanya 1 ataupun dua macam gerakan ataupun kekuatan yang dapat mereka keluarkan. Terlihat monoton dan dengan mudah dicari kelemahannya dalam 3-5 gerakan.


  ******************


    Beberapa Jam berjalan kembali….


   "Banyak sekali Peserta yang gagal dalam ujian Kali ini! Dan tinggal tersisa sedikit dari semua peserta yang belum melakukan Ujiannya!" Teriak Ryne.


   Raphael melihat ke sekitarnya. Sudah tak banyak lagi orang yang berada di bangku penonton. Dan juga, perempuan yang dia temui tadi masih duduk di bangku pojok sambil mengamati pertarungan.


   Saat ini, satu kelompok sedang bertarung dengan kerumunan Orcs. Yah.. mereka terlihat kesulitan dan sepertinya sebentar lagi sudah menemui Akhirnya. 


   "Aa!!" Salah seorang dari mereka terkena serangan Orcs.


   Ryne langsung mematikan Replika Monsternya karena sudah ada dari mereka yang terluka parah. 


   "Kelompok yang satu ini Juga gagal melewati Ujiannya." 


   Kelompok mereka pun bergerak menuju arah Lorong keluar.


   "Selanjutnya!" 


  Terlihat, Perempuan itu pun langsung maju ke dalam Area Pertarungannya. Dengan memegang sepasang Dagger berwarna hitam dan ujung yang tajam di kedua tangannya. Dia melompat dari Bangku penonton.


   Memegang Dagger di tangan kanannya dengan Ujungnya berada di bawah, sedangkan dh tangan kirinya sebaliknya. Dia terlihat bersiap sekali dengan ekspresi fokus dan serius itu.


   "WOW! Tak disangka, peserta kali ini sedikit berbeda. Leona Schwarz!! Anggota dari Keluarga Top 2 di Negeri Ini. Keluarga Schwarz!" teriak Ryne dengan semangat.


   Seisi Ruangan seketika terkejut mendengarnya. Tak terkecuali Raphael yang ikut terkejut saat Mendengar nama itu Dikumandangkan.


   "Pantas saja aku merasa bahwa dia Kuat. Ternyata Anggota Keluarga Schwarz. Kalau begitu ga heran kalau dia kuat begitu," cetus Raphael.


   Raphael langsung memasang tatapan fokusnya dalam mengamati Pertarungan Leona itu. Dalam pikirannya, mungkin akan ada sesuatu yang bisa dia dapatkan dari pertarungannya.


   "Baiklah! Karena Leona sepertinya sudah siap, maka kita akan Mengeluarkan Replika Monster King Goblin dan King Orcs yang masing-masing berjumlah 5!"


   5 King Goblin dan juga 5 King Orcs langsung muncul di hadapan Leona. 


   "Yang benar saja, 1 King Goblin saja sudah kesusahan, apalagi ditambah 4 King Goblin dan juga 5 King Orcs. Tingkat kesulitannya terlihat sangat jauh dibandingkan yang lain," ucap salah seorang di bangku penonton.


   "Hahaha! Maaf-maaf. Sebetulnya ini permintaannya sebelum Ujian ini dimulai. Dia meminta Menaikkan tingkat kesulitannya," balas Ryne.


   "Diluar dugaan, apa dia seorang Monster.." 


   Leona memasang sebuah Kuda-kuda bertarung dengan tangan kirinya dimajukan dan tangan kanannya ke belakang. Dengan siku yang menekuk ke depan sedikit disusul dengan pandangannya yang terlihat serius.


   "Mari kita Mulai saja Pertarungan!" 


   Ke 10 Monster itu pun langsung hidup dan bergerak secara bersamaan menuju Arah Leona berdiri.


   "Hufftt!!" Leona menghembus nafas melalui mulutnya.


   Dari belakang tubuhnya, terlihat sebuah aliran listrik yang merambat. Sepertinya Leona memiliki sebuah Skill yang berhubungan dengan Listrik.


   Leona langsung berlari dengan cepatnya sampai - sampai sebuah Bayangan Petir keluar mengikuti arah larinya. Dia terlihat cepat bagaikan Sebuah Petir yang menyambar.


   Dengan ke 10 Monster itu yang berbadan besar serta Memegang sebuah Tongkat di tangannya, mereka melayangkan tongkat mereka semua secara bersamaan ke hadapan Leona.


   Tongkat itu pun memukul bagian Lantai arena Pertarungan. Membuat sebuah Asap yang menutupi Arena seketika.


   Para penonton tidak bisa melihat dengan jelas karena tertutupi oleh Asap yang menghalangi itu.


   "Kuharap Anak dari Keluarga Schwarz itu selamat dari serangan mereka." ucap Jimmy sambil melihat ke Arena pertarungannya.


   "Kalau memang dia benar-benar dari Keluarga Schwarz yang terkenal akan Skill mereka yang termasuk Tipe Petir, mungkin dia akan selamat," Balas Zircon.


   "Mungkin saja, dilihat dari Seorang Giovanni yang memiliki kecepatan dan juga Serangan yang mematikan, mungkin mudah baginya melewati Ujian ini hanya dengan hitungan detik saja," balas Jimmy.


   Asapnya pun mulai memudar secara perlahan. Semua orang bisa melihat salah satu King Goblin tergeletak di Tanah dengan kepala yang terpenggal itu. 


   Dan juga, kini Leona terlihat sedang berada di atas kepala Salah satu King Orcs. Dia dengan cepat menusuk bagian Otak King Orcs itu. Sekarang, 1 King Goblin dan 1 King Orcs sudah tewas dengan hanya beberapa detik saja.


   "Pertarungan yang terlihat berat sebelah. Mungkin dia bisa menang dengan mudah melawan mereka semua. Tak ada gunanya aku belajar darinya, yang bahkan aku saja tidak memiliki kecepatan serta kelincahan seperti itu," cetus Raphael sambil menadahkan tangannya di pipi.


   Dia bergerak dengan cepat ke kanan dan ke Kiri layaknya sebuah Petir. 1,2,3 menit beberapa Monster itu sudah terbaring di tanah dengan keadaan mengenaskan.


   Dia menebas mereka semua hanya mengandalkan sepasang Dagger di tangannya. Tak manusiawi dan juga tidak normal untuk seorang Perempuan.


   Mungkin, Dia adalah salah seorang yang terkuat dari orang-orang yang pernah ditemui Raphael. Raphael mulai meragukan kata-katanya yang tadi diucapkan padanya. Kalau dia kuat seperti itu, mungkin Raphael juga tak mungkin bisa menandinginya untuk saat ini.


   Sebuah ucapan yang sangat fatal dan terlihat memalukan kalau saja dia mengetahui kebenaran kalau Raphael hanya berpura-pura sok kuat saja.


  Sebuah Petir muncul dari Atas Salah satu King Goblin yang berdiri tegak dengan Tongkatnya itu. Petir itu mengarah kepadanya. 


   BZZZTT….


   King Goblin itu tersetrum berkat Petirnya. Kini dia lumpuh dan tak dapat bergerak karena efek Setrum Nya. Dengan segera, Leona langsung menyerang dengan memutarkan tubuhnya dan langsung menebas bagian leher King Goblin itu.


   Kepalanya itu terpisah dengan badannya dan menggelinding di Tanah. Semua orang yang melihatnya terlihat ketakutan karena kesadisan Leona yang tak ada ampunnya memenggal leher monster-monster itu dengan mudah.


   Kini, tersisa 1 King Goblin dan 2 King Orcs yang masih kokoh berdiri. Hanya dalam beberapa menit saja, dia bisa mengalahkan ke 7 Monster itu. Tak salah memang seorang Anggota Keluarga Schwarz.


   Leona mulai membalikkan arah Kedua daggernya ke atas. Kedua Dagger itu terlihat dialiri sebuah Aliran listrik di masing-masing bilahnya. Dengan menggenggam erat daggernya, seperti tak ada Efek listrik itu terhadap dirinya.


   Leona memasang kembali kuda-kuda dengan tangan kanan mengepal menggenggam Dagger ke depan sejajar dengan dada serta siku tangannya ditekuk sedikit. Serta tangan kirinya menekuk sama seperti tangan kanan, bedanya tangannya berada di samping sejajar dengan bagian perutnya.


   Kaki kanan menekuk ke depan dan Kaki kiri ke belakang. Terlihat dia bersiap-siap untuk bergerak dengan kecepatan penuhnya ke arah 3 Monster yang tersisa, dengan pandangan


 tajam.


   Dari matanya, terlihat sebuah Petir yang merembet ke luar berwarna merah kehitaman. Tak tahu Skill apa yang akan digunakan, tapi yang pasti, pertarungannya akan selesai saat dia bergerak….