IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Bukan Miliku Lagi


Kedua sahabatku masih menatap iba padaku mereka berusaha keras menguatkan hatiku.


"Ka, minggu ini aku nikah kamu dateng ya siapa tau nanti dapet jodoh." ucap Wawan.


"Insya Allah aku dateng Wan," jawab ku.


"Belum balik ke Jakarta kan?" tanya Wawan.


"Belum Wan, tiga bulan kedepan aku off mau ngurus yang ada dikampung dulu." jawab ku.


"Wiissss kawan kita tajir sekarang lAn, tambak ada sapi banyak rumah tiga hahaha." goda Wawan.


"Pacar ilang tapi." jawabku spontan.


"Udah lah Ka, jangan diingat lagi iklaskan semuanya ya biar mudah nanti kedepan nya." ucap Anton masih setia memberi dukungan padaku.


"Iya aku akan coba An, doain ya." balas Deka.


"Pasti Ka, kami semua selalu ada untukmu percayalah lukamu akan segera sembuh asal kamu iklas." ucap Anton lagi, Aku pun tersenyum kecut, perih hatiku tak bisa ku ungkapkan dengan kata kata, aku menghela nafas dalam dalam mencoba melepas beban yang ada dihatiku, aku berusaha berdamai dengan takdirku seperti nasehat kedua sahabatku.


Hancur iya..


Kecewa apa lagi..


Sakit sudah pasti..


Pokoknya semua sudah ambyar tak berbentuk, takdir yang aku impikan berkata lain, wanita ku lebih memilih yang lain itu artinya ketukan palu telah berkata bahwa dia bukan miliku lagi, mau ga mau aku harus memaksa hatiku untuk iklas, untuk melepas harapan yang tak mungkin menjadi nyata.


Berat memang..


Remuk redam rasanya..


Hatiku teremas..


Jiwaku merana..


Lalu aku harus bagaimana semua sudah terjadi, aku harus tetap berdiri tegak, melangkah menyongsong masa depanku yang masih panjang, dengan sisa nafas yang ada aku pun mulai bisa berfikir jernih dan membenarkan nasehat nasehat kedua sahabatku, untuk melupakan wanita yang menghianati janjinya, Untung Tuhan menunjukan nya sekarang bahwa dia (wanita penghianat itu) tak pantas mendapat cintaku, pengorbananku, perjuangan ku bahkan jiwa ragaku sekalipun.


.......


Seperti biasa Deka selalu bangun terlambat menurut Mbah Uti, Deka memang sengaja berbuat seperti itu agar Utinya mengomel, dia sangat rindu dengan omelan merdu itu.


"Le bangun sholat subuh dulu." ucap Uti sambil menggoyang goyang kan tubuh Deka, Deka menyembunyikan mukanya dibantal seperti biasa, pastinya dengan senyuman nakalnya.


"Heemmm." jawabnya pura pura tidur.


"Bangun ayo Subuh dulu." ucap Uti.


"Iki wis siang le ayo ojo ditunda tunda." ucap nya lagi sambil melangkah meninggalkan ku Uti ku tak segalak dulu rupanya mungkin kah karena fisiknya yang sudah renta ataukah dia juga memikirkan perasaan ku juga seperti kedua sahabatku, aku tak paham, Aku pun memilih bangun dan membersihkan diriku, seperti biasa aku mencium wanita renta itu dan mengagetkan nya seperti biasa tapi kini dia juga tak marah, biasanya akan berteriak dan mengacungkan centong nasinya sambil mengomel makanya aku merasa aneh kenapa dia juga hanya tersenyum.


"Ah Uti ga asik, mana power Uti yang galak itu." gerutuku.


"Uti sudah tua le masak suruh marah terus." jawab nya sambil mengelus pipi ku.


"Siapa bilang Uti pacarku tua, Uti masih cantik gini." pujiku sambil bergelut manja ditubuhnya yang gemuk ini.


"Kamu jadi kan beli tanah Mbah Kung mu (adek angkat Uti yang ada diluar pulau)?" tanya Uti.


"Jadi Ti sudah diurus semua sama Pak Lek." jawab ku sambil melepas pelukan Utiku.


"Makasih ya." jawab nya.


"Makasih buat apa Ti?" tanya ku.


"Dia sekarang sakit parah le dan Uti baru tau kemarin, anak laki lakinya dateng kesini ternyata dia cari Uti dan mau bawa Uti kesana jenguk bapak nya katanya beliau rindu sama Uti, cuma Uti belum bisa ikut karena Uti nunggu kamu, kan kamu kan tiga hari lagi dateng sekalian Uti mau bawa kamu kesana dia mau lihat kamu juga katanya." ucap Uti bercerita banyak tentang saudara angkatnya.


"Emang Mbah kung itu siapa nya kita Ti?" tanya ku masih penasaran dengan hubungan kami.


"Dia itu sebenernya anak saudara jauh dari Uti, terus waktu dia umur tiga tahunan ibu bapaknya pergi keluar negri le dan menitipkan mbah kungmu sama uyutmu (ibu dari mbah Uti), dan jadilah dia adek angkat Uti karena orang tuanya ga kembali sampai sekarang, dua puluh tahun lalu dia merantau keluar pulau bersama anak istrinya, kenapa dia tak memberi kabar dan pulang ke jawa ternyata lima tahun lalu dia divonis sakit yang tak ada obat nya le." jawab Uti kembali menceritakan masa lalunya.


"Ooo, pantesan Dewa ga tau ya Ti, orang ga pernah ketemu." ucap ku.


"Itu rumahnya yang disebelah yang dikontrak sama orang." ucapnya lagi.


"Ooo, itu bekas rumah tinggal Mbah Kung." jawab ku.


"Iya, disamping Uti mau kasih uang penjualan tanahnya Uti juga mau kasih uang kontrakan rumahnya yang Uti pegang," ucap nya.


"Kenapa ga di tranfer aja Ti uang nya?" tanya ku.


"Uti mana ngerti begituan, oia le Uti mau cerita sesuatu tapi kamu jangan sedih ya sudah saat nya kamu tau." ucap Utiku dengan mata berkaca kaca.


"Tau apa Ti?" tanyaku.


"Tentang orang tua kamu." jawab Utiku, aku sama sekali tak menyangka jika Uti ku akan mengatakan ini, jujur saja aku sangat menunggu ini tapi aku takut bertanya, aku takut membuat Utiku sedih.


Doaku terkabulkan sebentar lagi aku akan tau siapa orang tuaku, bagaimana mereka dan dimana sekarang, karena setahuku mereka sudah meninggal, tapi jika mereka sudah meninggal kenapa Uti tak pernah mengajak ku ke pusaranya.


IMPIAN DEKA


Bersambung...