
"Memang kenapa?" Jendral segera menyahut pertanyaan Melin.
"Gue pernah bermimpi tentang gubuk reot di tengah kebun kelapa sawit!" ujar Melin.
Jendral terdiam dalam langkah santainya, dadanya terasa sesak. Kenapa dia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk pada Melin. Gadis yang berjalan santai di sampingnya itu, apa benar di tubuh Melin bersemayam jiwa Yosi yang harus ditumbalkan.
Jendral ingin mengatakan sesuatu yang bisa menghibur hatinya sendiri, tapi dia tak bisa mengatakan apa pun pada Melin.
Setelah berjalan lebih dari 15 menit, mereka sampai di rumah Arinda. Hari masih gelap, bersemburat sinar lampu dan mega keemasan di ufuk timur.
"Apa wanita itu nggak ada dirumah?" tanya Melin pada Jendral.
Karena rumah yang berada di depan mereka, sama sekali tak punya tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Harusnya di jam ini, masih ada satu atau dua lampu yang dibiarkan bersinar. Karena mentari belum sepenuhnya berkuasa di tahtanya, maka netra manusia masih butuh bantuan cahaya lampu untuk melihat.
Kemungkinan besar, Arinda tak ada di rumah sejak siang. Karena Jendral dan Melin menemukan nasi kering di tampah, benda itu tergeletak di dipan depan rumah. Sedikit berantakan, mungkin kelakuan cakar-cakar ayam-ayam peliharaan Arinda.
"Kamu mau kemana?" tanya Jendral pada Melin.
Gadis manis itu malah melangkahkan kaki jenjangnya ke arah pintu rumah Arinda.
"Mungkin dia di dalam!" kata Melin.
Saat gadis itu mencari gagang pintu, dia malah menemukan gembok yang masih terikat erat di bagian pintu itu.
"Kayaknya Bulek Arinda nggak di rumah!" ujar Jendral.
Bruuuuummmmmmmmm
Suara deru mobil mengagetkan mereka berdua, hingga keduanya bersembunyi di sebelah almari lusuh di dekat dinding.
Tanpa sengaja tubuh Jendral ditarik oleh tangan Melin. Tak ada jarak di antara mereka lagi kini, Melin takut mobil itu milik Adrian.
Kedua tangan Jendral menahan di dinding, tubuhnya pasti berat. Cowok SMA itu tak mau gadis dihadapannya yang meringkuk ketakutan di dadanya itu. Merasa berat saat tubuhnya yang ditarik Melin menimpa gadis itu.
Mobil itu berhenti di halaman Arinda.
Jedarrrrrrrrr
Pintu mobil itu terdengar di banting dengan kasar oleh pemiliknya.
"Apa itu omku?" tanya Melin, gadis itu masih meringkuk ketakutan di dada Jendral.
Jangan ditanya, jantung Jendral sedang lompat tali di dalam sana. Degupannya setara dengan orang yang habis lari cepat mengitari lapangan sepak bola.
Meski kondisinya sedang hampir terkena serangan jantung, tapi Jendral masih sempat menoleh ke arah mobil itu. Dengan sisa kecerdasan dan kewarasan Jendral, cowok SMU itu mengenali mobil hitam itu.
"Itu Pak Kades!" ujar Jendral.
Sekonyong-konyong, hentakan yang cukup keras menghantam dada Jendral. Tangan yang dikira penuh dengan kelembutan itu, tampaknya bisa mebuat dada cowok di depannya terhentak dan meninggalkan rasa kelu.
Melin menyingkirkan tubuh Jendral tanpa tau trimakasih, dia pandang pria yang baru saja datang.
'Jadi ini pria ketiga itu?!' ujar Melin di dalam hatinya.
"Jendral, kenapa kau disini?" tanya Jacson.
"Kami mencari Bulek Arinda!" kata Melin tegas.
Pria nomor satu di Desa Air Keruh itu, mengerutkan keningnya. Dia mencoba mengenali wajah Melin di kegelapan pagi itu.
"Kamu siapa?" tanya Jacson.
"Saya Melin, keponakan Om Adrian. Bocah yang kemarin dilukai wanita gila pemilik rumah ini!" Melin masih mengunakan nada tegas.
Ibunya adalah Dosen Hukum yang selalu bicara penuh kepercayaan diri dan ketegasan. Kebiasan itu tentu saja ditiru oleh Melin putrinya.
"Arinda dibawa Ommu, munkin dia sudah membunuhnya!" ujar Jacson dengan nada marah.
"Apa buktinya?" tanya Melin.
Semua perkataan harus ada buktinya di mata Hukum. Tapi Melin tak menyadari jika dia berada di tempat terpencil dengan sinyal 3G yang lemah. Siapa yang peduli dengan hukum di tempat ini.
"Apa Ommu ada di rumah?" tanya Jacson pada Melin.
"Ada, dia pulang saat Magrib!" ujar Melin.
"Katakan pada Adrian, jika dia tak membawa Arinda padaku. Aku akan menghabisi anak ini!" kata Jacson pada Jendral.
Cowok SMU itu nggak mau diam saja.
"Apa salah Melin, itu urusan kalian berdua?!" tanya Jendral dengan lantangnya.
Sengaja, Jendral berteriak agar ada warga yang keluar dari dalam rumah mereka. Pasti ada yang mau menolong Melin dari cengkeraman Pak Kades.
Usaha Jendral sia-sia saja, memang ada beberapa warga yang keluar dari rumah mereka. Tapi mereka tak menghentikan aksi keji Kades itu.
Selain Jacson adalah petinggi di Desa itu, lelaki itu juga terkenal baik dan suka meolong warga. Maka warga sekitar tak bisa langsung menuduh Jacson melakukan kejahatan. Bahkan ketika pria itu menyeret gadis belia untuk masuk ke dalam mobilnya.
Jacson tampak tak peduli dengan pandangan warga sekitar, serta teriakan Melin yang meminta dilepaskab.
"Apa kau ingin bertemu dengan Arinda? Jika iya berkerjasamalah denganku!" ujar Jacson.
Melin seketika terdiam, dia tak lagi berontak. Gadis itu masuk dengan senang hati kedalam mobil Kades Desa Air Keruh itu.
Melin hanya merasa yakin, tak mungkin pria ini orang jahat. Dia Kades Desa ini, rakyat Desa ini tak akan memilih orang jahat untuk memimpin Desa mereka--kan.
"Apa hubungan bapak dengan Bulek Arinda?" tanya Melin.
Lelaki itu sudah masuk dan duduk di kursi kemudinya, segera dia menyalakan mesin mobil itu. Empat roda bundar itu segera melaju meninggalkan semua wajah tercengang. Wajah-wajah warga Desa yang menyaksikan kekasaran Kades mereka.
"Dia warga Desaku yang dibawa kabur oleh ommu!" ujar Pak Kades itu.
"Kenapa Om gue, ngebawa kabur wanita gila?" Melin tampak mencibir.
Omnya itu emang kaku, tapi cukup tampan dan berkharisma. Pasti banyak cewek yang mau dengannya, kenapa harus membawa kabur wanita tua yang sudah gila.
Melin menaikkan lengan hodienya dan tampaklah tanda lahir di pergelangan dalam lengannya. Hal itu tak luput dari penglihatan Jacson.
"Apa kau anak Yanuar Sadewo?" tanya Jacson.
"Ibu gue sih bilang, begitu!" kata Melin.
"Kau dan ibumu datang untuk liburan?" tanya Pak Kades itu.
"Kayaknya itu bukan urusan bapak!" ujar Melin.
"Sifatmu mirip sekali dengan ayahmu!" ujar Jacson.
"Aku berteman dengan ayahmu, tapi tidak dengan Adrian!" lelaki paruh baya itu menjelaskan hal itu karena Melin memasang wajah curiga.
"Kenapa dengan Om gue?" tanya Melin.
"Dia pemuja Nyai Blorong!" ujar Jacson.
"Pak, tau nggak ini tahun berapa?
"Apa anda masih percaya dengan hal mistis konyol seperti itu?" tanya Melin dengan nada meremehkan.
"Apa kau tau, jika kau akan ditumbalkan keluargamu?" tanya Jacson.
"Omong kosong macam apa ini,
"Yang benar saja?!" Melin kembali berbicara dengan nada terlalu santai.
Padahal lelaki yang tengah fokus mengemudi di sampingnya itu, adalah pria yang selalu dihormati semua orang. Tapi di depan Melin, Jacson seperti tak punya harga diri sama sekali. Namun tampaknya Kades Desa Air Keruh itu tak keberatan di anggap begitu oleh putri sahabat masa mudanya itu.
"Dulu waktu masih muda, Arinda punya tanda lahir mirip sekali dengan punyamu itu!" kata Jacson.
"Wanita tua gila itu?!" Melin akhirnya mau membicarakan topik aneh itu.
"Tapi tanda lahir itu hilang setelah dia menjalani ritual yang dibuat oleh eyang buyutmu!" jelas Jacson.
Melin memandang ke arah Jacson, gadis itu ingin melihat bagaimana ekspresi Kades itu. Apa dia sedang mengarang cerita bebas, apa memang benar itu sebuah kenyataan.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤