Hujan Teluh

Hujan Teluh
Malaikat Kesemutan


Malaikat kesemutan


Jendral memandang ke arah mata Melin dengan lebih tegas. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Melin untuknya.


Tetapi dia harus menjawab pertanyaan Melin, agar adiknya mau terbunuh sekali lagi. Agar dia bisa selalu bersama Melin untuk mengemban tugas, sebagai Malaikat Penjaga Dunia.


"Kau tidak akan pernah menjadi Malaikat lagi!


"Jiwa Sucimu akan dicabut dan kau akan menjadi manusia biasa selama-lamanya," kata Jendral dengan sedikit ragu. "Tetapi jika kau mengambil keputusan itu...


"Maka aku juga akan menanggung akibatnya, aku akan hidup menjadi manusia sepertimu dan kita berdua tidak bisa naik ke surga!".


Kini Melin yang diam, dia melepas pelukannya dari Jendral. Ia membalas tatapan tajam kakaknya.


"Bagaimana kalau kita menjadi manusia saja?" tanya Melin.


"Dunia akan mengalami kehancuran dan kekuatan yang kita miliki pasti akan berangsur-angsur melemah!


Seiring berjalannya dengan waktu," jelas Jendral.


"Apa kita harus menanggung semua ini???


"Sampai kapan kita bisa bertahan hidup dengan perasaan yang menyakitkan seperti ini?


"Meskipun kita memiliki kehidupan yang sangat panjang nantinya! Aku yakin kehidupan panjang kita, tidak akan membuat kita bahagia!" ujar Melin.


Setelah mengingat semua kematian yang dialami, hari-harinya yang yang amat singkat di kehidupan lampaunya. Melin sadar dia hanya mempunyai kebahagiaan, saat dia bersama Adrian.


Meski di ujung hidupnya dia harus dibunuh oleh orang yang paling dia cintai, tetapi masih bisa mengingat bahwa dia selalu mati ditangan Adrian dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


Dia mengingat semua kenangan-kenangan indah yang dia ciptakan di kehidupan lampunya bersama Adrian. Hal itu membuat Melin sadar bahwa sesuatu yang berat dan tinggi, tidak selalu membuat seseorang berada dalam kehidupan yang nyaman.


Dia jatuh cinta pada Adrian berkali-kali dalam hidupnya, karena lelaki itu mempunyai cita-cita yang sederhana setiap kali bertemu dengan Melin.


Dan Melin sama sekali tidak merasa, menyesal karena telah jatuh cinta kepada Adrian berkali-kali. Meskipun dia harus mati di tangan lelaki itu berkali-kali juga.


Jendral tertunduk, dia tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Melin saudara kembarnya. Mungkin karena dirinya adalah Malaikat Merah yang hanya bisa merasakan kemarahan dan tidak bisa merasakan kasih sayang orang lain.


Jadi Jendral tidak begitu tahu, tentang perasaan yang tengah dirasakan oleh Melin saat ini.


Meskipun begitu Jendral sedikit mengerti, karena dia telah hidup menjadi manusia selama 18 tahun. Dia mengerti bagaimana rasanya kesepian sendirian dan tidak bahagia. Dia pernah merasakan bagaimana terombang-ambing, karena tidak ada kasih sayang yang menyentuh dirinya.


"Apa kau benar-benar ingin menjadi manusia seutuhnya?" tanya Jendral kepada Melin yang beranjak meninggalkannya.


Melin sama sekali tidak berbalik ke arah Jendral. Dia hanya diam sejenak, lalu melanjutkan langkahnya untuk menghampiri lokasi Adrian berada.


"Kalau kau benar-benar ingin menjadi manusia seutuhnya, kita harus menyelesaikan ini sebelum kekuatan yang kita miliki menghilang!" kata Jendral.


Melin yang mendengar solusi dari Jendral, langsung berbalik ke arah kakaknya yang masih berdiri di atas tubuh buaya besar yang telah mati itu.


"Kita tutup semua portal yang menghubungkan Dunia Siluman, Alam Buana dan juga Alam Manusia!


"Agar tidak ada lagi kekacauan yang terjadi, setelah kita benar-benar menjadi manusia biasa!" kata Jendral.


Akhirnya Melin bisa tersenyum lagi ke arah kakak kembarnya dan Jendral juga bisa tersenyum kembali ke arah adik kembarnya. Setelah 1000 tahun berpisah, akhirnya mereka kembali bersama. Tetap sebagai saudara kembar, yang saling melindungi satu sama lain.


Melin yang sudah mendapatkan ijin dari kakak kembarnya, segera berlari ke arah Adrian untuk menyembuhkan pria yang dia cintai itu.


Adrian masih tertidur di atas tanah, namun luka yang yang ada di punggung dan juga lengan kanannya berangsur-angsur pulih meskipun tidak terlalu cepat.


Melin mendekati Adrian yang masih pingsan, ia bersimpuh di belakang kepala lelaki gagah perkasa itu. Ia mengangkat kepala Adrian lalu memangku tubuh lelaki itu di pahanya.


"Bangunlah!" kata Melin.


Jendral yang sedang berdiri di tempat yang cukup tinggi merasakan sesuatu yang aneh, beberapa Siluman ternyata sudah keluar dari Alam Buana menuju Alam Manusia.


"Mel! Aku harus ke Alam Manusia dulu, kau jaga dia baik-baik!" ujar Jendral.


Setelah Jenderal pergi dari sana Melin menyalurkan chakra yang dia punya kepada Adrian. Chakra yang dimiliki oleh Melin adalah chakra Surgawi yang bisa menyembuhkan segala jenis makhluk hidup di bumi.


Melin menyalurkan tenaga dalam yang ia punya, melalui genggaman tangannya di salah satu tangan Adrian.


Perlahan-lahan luka yang diderita oleh Adrian pulih, dan sel-sel yang telah rusak di tubuh Adrian juga berangsur-angsur membaik. Akhirnya lelaki itu sadar dari pingsannya, tatapan sayu--nya mengarah ke wajah Melin.


"Maafkan, aku!" kata Adrian.


"Memang apa salah Om? Om nggak salah apa-apa kok, kenapa minta maaf?" ujar Melin.


Melin tidak ingin memperpanjang masa lalu yang telah dilewati. Dia hanya ingin fokus ke masa depan yang akan dia jalani.


~◇~◇~◇~◇~


Kita tidak akan pernah tahu bagaimana cara alami mempertemukan kami, berkali-kali dan mengalami hal yang sama.


Setiap kali aku melihatnya, setiap kali aku bertemu dengannya dan setiap kali pula aku jatuh cinta kepadanya.


Namun entah kenapa aku tidak bisa menyesal. Meskipun kali ini, dia akan menghianatiku kembali aku tidak akan pernah menyesalinya.


Tapi aku berharap di kehidupanku ke-tujuh ini, aku bisa hidup bahagia dengannya, seperti pasangan manusia pada umumnya.


Karena bagaimanapun dia juga telah berkorban banyak untukku.


Aku tahu membunuhku, bukanlah sebuah tindakan yang dia ciptakan dalam pikirannya sendiri.


Aku merasa dia juga telah lelah, menghadapi semua takdir ini.


Dari pandangan matanya, aku yakin setelah Membunuhku, hidup laki-laki ini juga tidak baik-baik saja.


Melinda


~◇~◇~◇~◇~◇~


Adrian yang merasa dirinya sudah baik-baik saja, melepaskan genggaman tangan Melin. Karena lelaki itu tidak ingin menghabiskan chakra yang berada di tubuh Melin.


Melin tersenyum manis kearah Adrian, dia bahagia ternyata lelaki itu bisa sembuh. Adrian tidak membalas senyuman dari Melin, dia merasa benar-benar sangat bersalah. Sebab penjelasan Jendral tentang kehidupan masa lalunya, masih terngiang-ngiang di kepalanya.


"Sebaiknya kau menjauhiku!" kata Adrian.


Melin tahu Adrian masih memikirkan tentang, masa lalu mereka dimana Adrian yang membunuh dirinya berkali-kali.


"Memangnya Om berani membunuhku? Jika Om mau membunuhku, aku pasti akan menghajar Om duluan!" kata Melin. "Aku sekarang lebih kuat daripada Om!!! Ingat itu!" kelakar Melin.


Gadis belia yang masih menggunakan kostum putri kerajaan itu berdiri dari bersimpuhnya.


"Akkkkkkkk!" teriak Melin.


Tubuhnya oleng dan langsung di sangga oleh Adrian.


"Apa kau terluka? Di mana yang sakit?" tanya Adrian dengan nada yang sangat khawatir.


Merlin menjawabnya dengan senyuman mengejek ke arah Adrian. Tadi Omnya menyuruhnya untuk menjauh darinya, tetapi saat dia berteriak sekali saja, Omnya itu sudah sangat khawatir sekali.


"Aku hanya kesemutan!" kata Melin. "Ternyata Malaikat bisa kesemutan juga ya?!" Melin terkekeh.


Melin tertawa bukan karena lelucon yang baru saja dia kelakarkan, tapi karena melihat ekspresi wajah Adrian yang yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya terhadap Melin.


"Itu artinya, kau belum sepenuhnya berubah menjadi Malaikat!" kata Adrian sambil tersenyum lega, karena ternyata Melin tidak mengalami luka apa pun.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤