
Setelah memastikan keluar dari ruang tamu, Zimah menghela nafas nya, berjalan perlahan di samping Salsa yang ikut menyamai langkah kakak ipar nya.
"Mbak gak apa-apa?" Salsa melihat kakak ipar nya yang tampak melamun dan tidak menyadari jika mereka sudah berada di depan pintu kamar Salsa.
Zimah menggeleng. "Kita mau ngapain?" Zimah melihat Salsa sebentar dan melihat pintu di depan nya yang ada tulisan ucapan salam dan tulisan-tulisan lain nya, mengguna kan tulisan arab.
Salsa membuka pintu kamar nya. "Assalamu'alaikum" ucap nya walaupun tidak ada yang menjawab,
Zimah juga mengucap kan Salam seperti Salsa sebelum masuk.
"Aku tuh mau minta tolong mbak" Salsa melihat Zimah yang duduk di sofa dalam kamar nya.
"Minta tolong apa?"
"Aku tuh ada tugas di suruh hafalin hadits, jadi aku minta sima'in mbak, kira-kira aku udah hafal apa belum."
Zimah mengangguk melihat adik ipar nya yang duduk di tepi kasir.
Entah kenapa Zimah merasa kalau adik ipar nya ini hanya alasan, agar mereka bisa keluar dari ruang tamu yang membahas hal yang memang Zimah hindari. Tapi Zimah bersyukur dengan kepekaan adik ipar nya terhadap diri nya.
Zimah tersenyum. "Mana kitab nya.?" pinta Zimah
"Bentar ya mbak."
Zimah melihat Salsa menuju lemari yang banyak kitab-kitab dan buku-buku.
"Ini mbak"
Zimah menerima kitab dari Salsa yang sudah di buka. Dan langsung melihat hadits yang di tunjuk adik ipar nya.
Zimah takjub mendengar Salsa membaca hadits dengan lancar.
"Enak banget denger kamu baca hadits." kagum Zimah melihat Salsa yang duduk di samping nya.
"Alhamdulillah, jazakillah mbak" Zimah tersenyum mendengar ucapan terimakasih dari Salsa
"Itu semua kitab-kitab kamu?" tunjuk Zimah di lemari yang tadi di lihat nya
Salsa mengangguk sambil tersenyum. "Iya mbak"
Zimah mengangguk dengan senyuman
Mereka mulai bercerita-cerita. Tidak tau apa yang mereka berdua cerita kan sehingga menampil kan berbagai ekspresi. Serius, tegang, terkejut, bahkan tertawa, seakan kejadian di ruang tamu tadi tidak pernah Zimah dengar.
"Mbak tau gak?, aku dari dulu pengen banget punya kakak, bisa jalan-jalan bareng, bisa curhat, cerita bareng, ketawa bareng, kayak aku sama mbak." adu nya manja
"Tapi kalau aku punya saudara cewek, aku gak bisa jadi adek, tapi jadi kakak" Salsa menghela nafas kasar
Zimah terkekeh melihat raut Salsa yang cemberut.
"Emang mau punya saudara cewek?" Salsa menggeleng kuat
"Ya, jangan lah mbak, umi sudah tua."
Zimah tersenyum
"Kan bisa ajak mas Aqlan dan mas Alif." kata Zimah mengusul kan dengan yang Salsa bilang tadi.
Salsa langsung mendengus
"Gak bisa di ajak kek begituan, mereka tuh gak seru mbak."
Zimah terkekeh lagi mendengar cerita Salsa.
"Maka nya aku beruntung punya kakak ipar kayak mbak Zimah." ucap Salsa dengan binar bahagia.
"Mbk bukan dari keluarga kiyai" Zimah tiba-tiba insecure mengingat perempuan muda yang mau di jodoh kan dengan suami nya. Gadis yang tampak sholehah.
Salsa menggeleng lalu tersenyum.
"Kata umi kita gak boleh lihat orang dari status nya, selagi mereka beriman pada Allah. Maka kita harus bersyukur memiliki nya."
"Umi juga bilang, kita gak boleh melihat hina orang yang jauh dari tuhan nya, karna Allah lebih dekat pada pendosa daripada orang-orang yang sombong."
Salsa mengakhiri dengan senyuman tulus.
Zimah terharu "Umi adalah ibu yang hebat, yang sholeha. Mbak kagum sama umi." ucap Zimah tulus dengan senyuman.
Zimah berjalan menuju kamar nya dan Aqlan yang tidak jauh dari kamar Salsa.
Membuka perlahan pintu kamar nya yang terlihat sepi, ternyata Aqlan tidak ada.
Zimah bergegas mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi untuk membersih kan diri.
...----------------------------------------...
Aqlan perlahan membuka pintu dan melihat istri nya seperti sehabis sholat dan duduk sambil mengaji, saking khusyu' nya, ia tidak menyadari suami nya yang sedari tadi memperhatikan nya.
"Shodaqollahul 'dzim."
Zimah mencium qur'an nya lama dengan khidmat seperti tidak ingin di lepas kan.
"Hazimah"
Zimah segera menurun kan Al-qur'an dari wajah nya ketika mendengar suara lembut suami nya.
"Mas? sejak kapan masuk?" melihat pintu lau menatap suami nya
"Dari kamu masih baca Al-qur'an"
Aqlan duduk bersila di samping istri nya
"Kamu khusyu' banget ngaji nya, sampai gak nyadarin mas masuk kamar."
"Maaf mas" ucap Zimah tak enak
Aqlan tersenyum
"Mas, apa boleh Zimah pulang ke kalimantan.?"
Wajah Aqlan langsung berubah terkejut, fikiran nya berkecamuk, mendengar permintaan istri nya.
"Pulang?"
Zimah mengangguk
"Ke kalimantan?"
Zimah mengangguk lagi menatap Aqlan heran
"Sendiri?"
Zimah diam
"Mas gak mau ikut?" tanya Zimah
"Mau" angguk nya cepat
"Terus?"
Aqlan cengok, lalu cepat-cepat mengubah ekspresi nya tersenyum.
"Mau pulang nya sama mas?"
Zimah menganguk.
Aqlan menghela nafas nya lega.
"Kirain mas, kamu marah sama mas, soal di ruang tamu tadi."
Zimah diam, lalu dia memandang Alan dengan senyuman.
"Aku mau pulang ke kampung karna mau mengabari bibi agar datang ke acara walimahan kita. Sebenar nya mau ngabarin lewat telpon, tapi di fikir-fikir lagi, aku mau kekampung halaman sama suami aku" ujar Zimah tersenyum manis.
Senyuman Zimah menular pada Aqlan yang memandang istri nya kagum, karna masih bisa tersenyum walau hati nya tidak baik-baik saja.
"Mas bakalan ikut kamu, mas gak mau biarin kamu pulang sendirian." kata Aqlan posesif.
Zimah terkekeh
...-----------------------------------------...
"Salam kenal ya mbak, aku Aisyah, panggil aja Ais"
Zimah menerima uluran tangan dari gadis di samping sebagai perkenalan mereka.
"Panggil Zimah aja ning, seperti nya umuran kita sepantaran."
Ning Ais tersenyum lembut.
"Maafin perkataan orang tua ku yang tadi ya, tidak seharus nya abi berkata seperti itu di depan kamu yang notabe nya istri gus Aqlan." ucap ning Ais
Zimah menatap dalam mata Ais, tidak ada kebohangan di dalam nya.
"Gak apa-apa, sudah berlalu"
Zimah tersenyum memandang Ais yang tampak anggun dan sholehah, pantasan saja mbah menjodoh kan suami nya dengan gadis di samping nya ini.
Zimah menghela nafas pelan memandang santri-santri yang berlalu lalang, di depan nya, dan sesekali mereka mencuri pandang pada ia juga Aisyah.
"Pantasan gus Aqlan milih kamu untuk jadi istri nya, kamu wanita sholehah." puji ning Ais melihat kearah Zimah dengan senyuman
"Aamiin. aku masih dalam tahap belajar untuk menjadi wanita sholehah." ucap Zimah merendah
"Aku tau kamu seorang pembisnis karna aku salah satu pengagum kamu"
Zimah tentu terkejut
"Aku kagum karna kamu tetap menjaga marwah mu sebagai seorang wanita muslimah di tengah kesuksesan mu. Dimana diluaran sana banyak perempuan-perempuan yang ingin mempercantik diri agar di lihat untuk di sanjung"
Zimah diam menatap Ais yang terus mengagumi nya.