Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Poligami


Aqlan mengajak Zimah menghampiri keluarga nya yang sudah menuggu di ruang tamu.


"Maaf kita telat." ucap Aqlan tan enak


Aqlan menyalami kakek, abi, dan umi nya di ikuti Zimah, dan menerima uluran tangan dari lelaki dan gadis remaja untuk di salami, begitu juga dengan Zimah, kecuali pada lelaki remaja.


"Ajak istri mu duduk le." ujar abi Aqlan


"Njih Abi"


"Sini biar Zimah duduk dekat umi sama salsa aja" kata umi langsung mengajak menantu nya duduk di antara ia dan putri nya.


Aqlan menghela nafas menatap umi nya dan langsung duduk di samping adik lelaki nya.


"Ini Khansa salsabila Riddaudin anak gadis umi dan abi satu-satu nya, bungsu, dan itu yang lelaki remaja nama nya Muhammad Alif Akram Riddaudin, anak umi dan abi yang ke dua."


Umi memperkenal kan dengan sangat antusias membuat Zimah bahagia melihat nya.


"Yang itu mbah Aqlan dari abi nya" lanjut umi menunjuk dengan ibu jari nya.


"Nah yang ini abi nya Aqlan." kata umi lagi, menunjuk suami nya.


"Kalau yang itu sudah kenal kan?" canda umi pada Zimah menunjuk Aqlan.


"Iya umi sudah" kata Zimah terkekeh pelan sambil mengangguk.


"Maaf ya mbak, tadi malam salsa gak nyambut kedatangan mbak sama mas Aqlan." kata salsa memandang Zimah di samping nya


"Enggak apa-apa, lagian tadi malam kami sampai nya tengah malam, wajar saja sudah pada tidur" ucapa Zimah tersenyum.


Mereka pun saling bertukar cerita, Zimah bersama umi dan Salsa, sedang Aqlan bersama mbah, abi, dan Alif.


"Mbah harap kalian menetap disini, karna Aqlan harus sudah mulai belajar untuk memimpin pondok kedepan nya." ucapan mbah membuat semua nya diam, termasuk Zimah memikir kan usaha nya di beberapa kota termasuk jakarta.


Aqlan yang tau apa yang di fikir kan istri nya langsung memandang sang kakek.


"Jika menetap Aqlan belum bisa mbah, karna Zimah juga punya tugas di jakarta, In syaa Allah Aqlan dan Zimah akan membagi waktu di sini dan di jakarta."


"Jika seperti itu bagaimana kamu bisa mengganti kan abi mu?" mbah menatap Aqlan


"In syaa Allah Aqlan bisa mbah."


Walaupun tidak sepenuh nya yakin dengan kata-kata nya, tapi Aqlan berusaha meyakin kan kakek nya.


"Ingat persyaratan yang mbah berikan pada mu."


Perkataan mbah, membuat Aqlan terdiam menatap manik mata sang kakek yang penuh keseriusan.


Umi memandang Zimah yang terdiam menatap lantai, umi langsung mengalih kan pandangan pada sang suami yang juga sedang menatap Zimah.


Seakan tau apa yang di fikir kan oleh istri nya, Abi Ahmad langsung mengalih kan pandangan menatap abah yang duduk di depan nya.


"Bah, biar kan Aqlan dan istri nya bicarakan masalah ini dulu berdua." saran Abi Ahmad


Mbah menghela nafas lalu berdiri menatap Aqlan yang duduk.


"Mbah setuju dengan saran Abi mu, bicara kan keputusan kalian kedepan nya."


"Njih mbah"


Mbah melangkah meninggal kan ruang tamu.


"Jangan terlalu di fikir kan omongan mbah ya ndok." kata umi lembut merangkul Zimah yang menunduk.


Zimah mengangkat kepala nya menatap umi sambil tersenyum tipis.


"Abi harap kalian bisa mengambil keputusan yang tepat, ingat, jangan gegabah." Abi menatap Zimah dan Aqlan bergantian "Dan kamu Aqlan, sebagai imam, kamu harus tenang mengambil keputusan, jangan hanya karna persyaratan mbah mu, kamu menyakiti istri mu." nasehat abi di angguki Aqlan mantap.


"Njih Abi."


...---------------------------------------...


Saat ini Aqlan dan Zimah sedang duduk di tepi kasur kedua nya sama-sama diam menatap lantai.


"Persyaratan apa yang di berikan mbah pada mas?" Zimah memulai obrolan memandang Aqlan di samping nya.


Aqlan tidak langsung menjawab, mengubah posisi duduk sedikit miring menghadap sang istri.


Zimah diam.


"Tapi mas ngak mau, karna mas sudah memilih mu, sebelum mas tau klau mas mau di jodoh kan." Aqlan menggenggam kedua tangan Zimah.


"Kalau belum ketemu Zimah apa mas akan menerima perjodohan itu.?" tanya Zimah menatap Aqlan menunggu jawaban.


Aqlan menggeleng.


"Bukan karna bertemu lalu kita berjodoh, tapi karna kita berjodoh maka kita bertemu." kata Aqlan tersenyum


"Dan mas yakin kamu jodoh mas, tulang rusuk mas, seseorang yang selalu mas do'a kan."


Zimah terharu mendengar perkataan suami nya.


"Jika Zimah mempersulit dakwah mas, maka mas akan di nikah kan sama cucu Almarhum sahabat mbah dan Zimah di poligami?, apa itu persyaratan dari mbah.?" tebak Zimah tepat, membuat Aqlan terkejut.


"Dari mana kamu tau?"


"Zimah hanya menebak dari omongan mbah dan cerita mas tadi." kata Zimah berusaha tenang walaupun dia sempat terkejut karna tebakan nya benar.


"Mas gak akan menikah lagi." Aqlan menggenggam kuat tangan Zimah, meyakin kan.


"Mas, Zimah gak membenci poligami, tapi Zimah gak mau dan gak siap di poligami sekarang atau pun nanti." ucap Zimah lembut dengan tatapan sayu.


Aqlan langsung memeluk Zimah dengan mengusap pelan belakang sang istri memberi kan ketenangan.


"Mas gak akan poligami, hanya kamu yang akan menjadi satu-satu nya istri mas, sampai kapan pun, mas janji." kata Aqlan yakin.


Zimah menatap dalam mata Aqlan, tidak ada sedikit pun kebohongan di dalam nya.


"Zimah gak minta janji mas, karna Allah maha membolak balikan hati." kata Zimah balik menggenggam sebelah tangan Aqlan dengan kedua tangan nya.


"Iya sayang"


π˜‰π˜­π˜Άπ˜΄π˜©


Jawaban Aqlan membuat Zimah memaling kan wajah merah nya karna salting.


"Kamu tuh kalau lagi malu cantik nya makin bertamabah." puji Aqlan menarik dagu Zimah agar menatap nya.


"Gombal" cebik Zimah pada Aqlan yang terkekeh


"Itu bukan gombalan, tapi kenyataan."


𝘊𝘢𝘱


Wajah Zimah semakin memerah mendapat ciuman dadakan dari Aqlan.


Aqlan terkekeh pelan menatap Zimah yang kembali memaling kan wajah, sambil mengusap pipi Zimah lembut.


"Kalau mas mau kita menetap disini, Zimah akan ikut." ujar Zimah memandang Aqlan


"Kita akan membagi waktu di sini dan di jakarta"


"Gak akan bisa mas, mas harus banyak mempelajari untuk memimpin pesantren mengganti kan Abi."


"In syaa Allah bisa, mas gak mau tinggal berjauhan dengan kamu, kalau kamu ada urusan di jakarta kita akan kesana bersama-sama, dan kalau mas di sini, kamu juga harus disini, sama mas." ucap Aqlan tegas tidak mau di bantah.


Zimah terkekeh mebuat Aqlan mengernyit heran.


"Zimah gak bilang kita bakalan tinggal berjauhan mas." kata Zimah di sela kekehan nya.


"Terus?"


"Zimah akan menetap di sini bersama mas." ujar Zimah tersenyum menepuk pelan punggung tangan Aqlan.


"Pekerjaan kamu bagaimana?"


"Zimah bisa memantau dari sini."


"Maaf karna menikah dengan saya, kamu jadi terbatas."


Aqlan membelai pipi Zimah yang tersenyum.


"Menikah dengan mas adalah anugrah dari Allah untuk Zimah."