Hasrat Tuan Impoten

Hasrat Tuan Impoten
HTI | Bab 81


Sheren jadi uring-uringan sejak ditinggal Nathan ke luar negeri. Berkali-kali Mama Lita melihat menantunya itu melamun sambil memandangi ponselnya.


“Sheren, kamu kenapa?” tanya Mama Lita sambil menghampiri sang menantu yang tengah dilanda legalauan.


Sheren menoleh pada sang mertua yang kini duduk di sebelahnya. Mama Lita sudah seperti ibu kandung bagi Sheren, oleh karenanya dia sama sekali tidak canggung untuk bermanja di pelukan mertuanya itu.


“Mas Nathan nggak pulang-pulang, Ma. Lama banget ya,” keluh Sheren dengan wajah ditekuk.


Mama Lita mengerti apa yang dirasakan oleh menantunya itu. “Kamu lagi kangen Nathan ya? Kata Papa kan lusa juga udah pulang si Nathan.”


Mama Lita masih berusaha membuat menantunya tenang. Dengan kelembutan dan kasih sayangnya, wanita itu mengusap punggung Sheren sambil mengucapkan kata-kata manis supaya menantunya itu sedikit terhibur.


“Kita jalan-jalan aja yuk, gimana? Mau nggak?” ajak Mama Lita.


Tuan Winata yang sudah sembuh dari penyakit dadakannya, kini ikut menghampiri istri dan¹ menantunya yang cantik.


“Ikut dong, papa juga bosen nih di rumah!”


Mama Lita dan Sheren saling pandang lalu dengan kompak mengangguk, mentetujui usulan Papa Winata.


Ketiga orang itu pun pergi bersama dengan sopir keluarga. Saat masih dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan yang dituju, tiba-tiba saja Sheren melihat pedagang cendol yang tengah mendorong gerobaknya.


“Pak, Pak, tolong berhenti sebentar!” seru Sheren sambil mengetuk kaca mobil, mirip orang yang akan turun dari angkot.


“Ada apa, Sayang?” tanya Mama Lita jadi khawatir.


“Aku mau es cendol itu, Ma.” Sheren menunjuk penjual es cendol yang ada di seberang jalan. Berlawanan arah dengan posisi mobil mereka saat ini.


“Biar saya belikan, Nona Sheren!” sahut sang sopir.


Papa Winata langsung mencegah sang sopir yang berinisiatif untuk membelikan es cendol. “Biar saya aja yang belikan. Nanti anaknya Nathan kira kakeknya kamu!” sahut calon kakek itu sembari membuka pintu mobil.


Mama Lita dan Sheren saling berpandangan dan akhirnya sama-sama memperhatikan Tuan Winata yang sedang menyebrang jalan untuk membeli es cendol.


Mama Lita tertawa karena pemikiran Sheren itu. “Direktur juga manusia, Sheren. Nanti kalau Nathan udah jadi direktur, semoga tetap rendah hati seperti papanya.”


Sheren mengangguk lalu kembali melihat mertuanya yang sepertinya masih berbincang dengan pedagang cendol itu. Setelahnya, Papa Winata kembali tanpa membawa apa pun, membuat wajah Sheren berubah sedih seketika.


“Habis cendolnya,” kata Tuan Winata dengan raut wajah menyesal yang terlihat jelas.


Sheren menghela napas. Tidak mungkin jika dia merengek pada mertuanya itu. Jika saja Nathan ada di sisinya, pasti suaminya itu akan menuruti semua keinginannya.


“Tapi, papa udah tau cendol yang lain. Mau beli sekarang, apa ke Mal dulu?” tanya Papa Winata sambil menoleh ke belakang memperhatikan sang menantu yang masih cemberut.


Senyum indah seketika tersungging di bibir Sheren. Entah kenapa keinginan untuk merasakan es cendol yang segar itu rasanya harus segera diwujdukan. Wanita itu sudah tidak sabar ingin merasakan manis dan segarnya cendol yang akan membasahi tenggorokannya. Ya, namanya saja wanita hamil, wajar jika hal itu terjadi.


“Beli es dulu deh, Pa. Tapi, beneran es cendol yang gerobak gitu, 'kan?” tanya Sheren.


“Menantu Papa lagi hamil loh, kalau nggak diturutin nanti ileran. Mau?” goda Mama Lita sembari mengedipkan sebelah matanya pada Papa Winata.


“Iya iya, kita cari dulu es cendolnya!”


Akhirnya rombongan keluarga itu pun mencari penjual es cendol berbekal alamat yang sudah dikantongi Papa Winata. Mereka pun sampai di tempat penjual es yang kebetulan sedang mangkal.


Papa Winata kembali turun untuk membeli es cendol itu, lalu dengan cepat kembali dan menyerahkan satu gelas es pada menantunya.


Namun, saat menerima es pemberian mertuanya, Sheren tiba-tiba menangis, membuat Mama Lita kebingungan.


“Kenapa, Sayang? Nggak enak ya?”


Sheren menggeleng kuat lalu berusaha menghapus air matanya. “Aku kangen Mas Nathan, Ma.”


**


Kembang kopinya jangan lupa💋💋 Ada yg kangen gak nih kemarin gak update 😂😂