
Sheren tidak tahu mengapa, dirinya begitu sensitif terhadap hal-hal yang menyangkut suaminya. Sebagai istri, jiwa ingin membela suami begitu tinggi, apalagi menyangkut hal yang sangat sensitif seperti kelainan Nathan itu.
Istri Nathan itu kini menemui suaminya di kamar tamu. Bertemu dengan banyak saudara membuatnya ingin menyumpal mulut mereka satu per satu. Memang pertanyaan yang keluar dari mulut-mulut enteng itu terdengar biasa saja, tetapi bagi Sheren yang memang belum dipercayai memiliki momongan, omongan mereka itu sangat menyakitinya.
“Kenapa cemberut, Sayang?” tanya Nathan saat melihat istrinya masuk ke kamar dalam keadaan tidak baik.
Sheren mendekati sang suami dan duduk tepat di sebelah Nathan. Dia lalu menyandarkan kepalanya di bahu kokoh itu yang kemudian menyambutnya dengan pelukan mesra.
“Kamu sedih? Apa yang buat kamu sedih, Sheren?” tanya Nathan sembari memeluk dan mengusap lembut rambut sang istri.
“Aku kesel ditanyain soal kamu terus. Capek jelasinnya kalau itu bukan urusan mereka. Lagian ya masa aku harus buka celana kamu di depan mereka terus aku kenalin si Ucup di hadapan semua orang kalau kamu normal-normal aja.”
Bibir Sheren kian mengerucut. Keinginan konyolnya itu tidak akan mungkin bisa terwujud karena itu bukanlah solusi yang terbaik.
“Jadi, kamu kesel karena aku dibilang impoten sama orang-orang. Atau, kamu kesel karena kamu belum hamil jadi kamu nggak bisa buktikan sama mereka kalau aku benar-benar normal?” tanya Nathan yang kini menarik tubuh Sheren dan membawanya ke kasur.
Manik mata keduanya saling beradu menimbulkan debaran keras di dada keduanya. Nathan tahu dari sorot mata Sheren bahwa wanita di hadapannya adalah wanita yang sangat berharga. Dialah yang menjadi obat sekaligus pelengkap. Nathan sadar, Sheren telah masuk ke hatinya dan akan mengunci wanita itu selamanya di sana.
“Aku tidak mengkhawatirkan soal hamil, soal kelainan kamu juga aku sudah merasakannya dan itu tidak benar. Tapi, aku tidak suka mulut-mulut mereka yang rasanya bikin telinga aku panas,” jawab Sheren dengan jujur.
Nathan bergerak mengatur posisi. Si Ucup selalu bereaksi dalam situasi seperti ini, dan momen ini adalah momen yang tepat untuk mereka mencoba usaha lagi mendapatkan keturunan. Dengan sekali gerakan, Nathan sudah berada tepat di atas tubuh Sheren.
“Sudahlah, lupakan saja omongan mereka. Aku akan membuatmu relaks dan melupakan omongan itu!” kata Nathan yang kemudian mencium bibir Sheren dengan lembut.
Sampai akhirnya mereka benar-benar berpacu dalam keringat dan teriakan-teriakan tak terkontrol. Keduanya seolah lupa bahwa mereka ada di tempat tidak biasa. Bukan kamar mereka yang kedap suara yang bisa membuat mereka bebas mengekspresikan segalanya.
Benar saja, suara-suara aneh Sheren dan Nathan terdengar jelas di luar kamar, membuat beberapa orang yang tidak sengaja lewat, akhirnya menguping dan bisa membayangkan pertempuran panas yang mereka lakukan. Mereka berkumpul di depan kamar tamu itu dan mendengarkan dengan telinga mereka sendiri bagaimana Nathan dan Sheren berperang di atas ranjang mereka.
“Mereka lagi membuktikan kalau gosip itu salah atau gimana sih? Atau jangan-jangan mereka nggak sadar kalau suara mereka terdengar dari luar?” celetuk salah seorang wanita yang paling dekat dengan pintu.
Scarlett dan mamanya sampai terheran-heran karena ada banyak orang yang berkumpul di depan pintu itu demi mendengar siaran langsung yang tidak terlihat tapi bisa diimajinasikan itu.
“Aku juga tidak tahu. Tapi, kalau didengar dari suara kecipaknya, mereka memang lagi anu-anu sih. Jadi, gosip itu bohong dong ya,” balas yang lainnya.
Beberapa orang di luar itu meributkan aksi Sheren dan Nathan yang sedang membuat adonan bayi. Sayangnya, kedua insan itu sama sekali tidak menyadari jika di balik pintu ada belasan orang yang sedang menguping.
Hentakan terakhir yang Nathan lakukan seiring dengan banyaknya benih yang dia keluarkan menjadi penutup kegiatan berkeringat mereka. Dengan napas yang masih ngos-ngosan, Nathan mengecup kening istrinya dan mengucapkan terima kasih.
“Kayaknya aku harus make-up ulang,” komentar Sheren sembari mengusap keringatnya dan keringat sang suami yang masih bercucuran.
“Kamu tetap cantik walau tanpa make-up, Sayang,” balas Nathan. “Oh iya, Sayang AC di sini kurang dingin ya. Lagian, kenapa kamar kamu dipakai Scarlett sih?”
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋