Gagal Move On, Dosenku Suamiku

Gagal Move On, Dosenku Suamiku
Benci tapi nikah 2


" Tanggup jawab ? maksudnya gimana kak ? " tanya Danisha panik, ia memeriksa tubuhnya. Ia mencium aroma tidak enak dari bajunya, masih ada sisa muntah yang menempel.


" Uwek.." Danisha kembali mual.


" Tu..kan, Danisha muntah muntah, ini patut di curigai, jangan jangan.." ujar paman Harun sambil memandang orang satu persatu.


Danisha memijit pelipisnya, kepalanya masih terasa pusing.


" Paman Harun, jangan ngadi ngadi, tadi tu saya baru pulang kemping. kebetulan pulangnya bareng kak Reyhan. ditengah jalan saya muntah muntah karena nggak fit trus..kepala saya rasanya berat, nggak tau tiba tiba saya ada di sini " jelas Danisha dengan wajah sebal.


" duduk dulu semuanya, biar saya jelaskan tapi saya mau pakai baju dulu " sela Reyhan yang sebenarnya juga bingung menjelaskan situasi yang dihadapinya bersama Danisha. Reyhan melihat dirinya dalam balutan bathrope. Kondisi ini mungkin menimbulkan spekulasi aneh aneh. Apa lagi mereka pernah kepergok berdua di pinggir hutan oleh paman Harun


Paman Harun memang bertugas sebagai polisi hutan di kawasan hutan lindung itu. Saat itu Danisha yang capek sendiri menjelaskan tuduhan mereka berbuat mesum itu tidak benar. sedang Reyhan hanya angkat bahu yang membuat Danisha meradang.


" Tidak perlu kamu jelaskan apa apa, nenek ke sini sama ayah Denisha memang mau memperjelaskan tentang perjodohan kalian berdua, mungkin lebih baik dipercepat saja " ucap Sarah, nenek Reyhan.


" Tapi nek " sergah Danisha, wajahnya pias ia teringat janjinya pada seseorang. Ia berjanji akan menjauhi Reyhan.


" Kenapa ? bukankah kalian sudah sudah menjalin hubungan, apalagi Kalian satu kampus, bisa jadi apa yang di katakan Harun ada benarnya, kalian harus diikat dalam pernikahan supaya apa yang kalian berdua lakukan sudah halal " ucap Sarah yang membuat tingkat kepanikan Danisha bertambah, mana badannya meriang, pala nyut nyut. Yang terpenting ia hanya ingin jadi orang yang menepati janji.


" Apa nggak nunggu Danisha tamat dulu bu ? " sergah pak Mus.


" aku masih lama tamatnya pak, aku harus ngulang lima mata kuliah lagi " tambah Danisha dengan wajah polosnya, ia tak tau apa kalimat yang ia ucapkan akan membatalkan rencana pernikahan atau malah mendukung neneknya, Reyhan kan dosen bisa bantu Dsnisha belajar.


" Justru karna itu Reyhan harus cepat menikahimu, kalian mau belajar kapanpun nggak masalah " tu kan..malah jadi kalimat pendukung.


Danisha menarik nafas, ia sudah tak bisa menahan kepalanya yang sangat sakit.


" Masalahnya sekarang AKU NGGAK CINTA LAGI SAMA KAK REY ! "


Bruggg !!


Setelah mengucapkan itu Danisha tak sadarkan diri. Ia berasa berada di dalam mimpi. dia bertemu Wanda dan mengatakan ia tak bisa memenuhi keinginan sahabatnya itu ketika Wanda terbaring di rumah sakit.


" Aku nggak bisa lupakan kak Rey, Wanda..maafkan aku, aku terlalu cinta sama dia..."


Seterah itu Danisha melihat Wanda menutup mata.


" Tidak..tidak..jangan JANGAN ! "


" Ca..kamu kenapa ? tenang ada aku di sini " ucap seseorang sambil memeluk tubuh Danisha yang bergetar.


Danisha terjaga dari mimpi buruknya. Ia merasa mengenal suara itu dan aroma tubuh yang sedang memeluknya bukan aroma tubuh ayahnya.


" Kak Rey.." Danisha mendorong tubuh Reyhan yang tak berjarak dari tubuhnya. Reyhan yang tak siap menahan dorongan Danisha jatuh kebawah tempat tidur.


dug !


" Aduuh " jerit Reyhan sambil meraba kepalanya yang terbentur tembok.


" Kak Rey nggak kenapa napa ? " tanya Danisha setelah mendengar suara kejedug yang lumayan keras.


" Apanya yang nggak kenapa napa ? ini sakit tau Ca, pala aku sampai benjol kebentur tembok " keluh Reyhan sambil duduk di samping brangkar.


" Lagian kenapa kak Rey peluk peluk aku, kita dimana sekarang Kak, aku mencium ini aroma aroma rumah sakit "


Klik ! Reyhan menghidupkan lampu dan seketika ruangan yang tadi remang menjadi terang. Danisha bisa menyimpulkan sendiri dimana sekarang ia berada.


" Kita memang di rumah sakit dan ini masih tengah malam "


Reyhan tampak menggaruk tengkuknya. menghela nafas dan terlihat sedang berfikir untuk mengeluarkan kata kata.


" Kita sekarang sudah suami istri " ucap Reyhan dalam satu helaan nafas.


Danisha terdiam, apa yang di sampaikan Reyhan seakan membuat tubuhnya membeku. Ia tak bisa mengangkat bibirnya. Apa yang ia lihat dalam mimpi itu nyata. ia telah berkhianat pada Wanda.


pintu di ketuk dari luar. Reyhan membukakan pintu, dua orang perawat masuk.


" Gimana pak ? istrinya masih gelisah ? " tanya perawat dengan name tag Siska .


" Sudah sadar sus.." jawab Reyhan.


" kita periksa tensinya dulu ya buk..jangan terlalu banyak bergerak karna ibu baru beberapa jam di operasi " ucap suster satu lagi. Danisha menjadi tambah bingung. saat perdebatan dengan nenek Reyhan tiba tiba ia sudah tak ingat apa apa lagi.


" sudah normal pak , silahkan istirahat kembali " ucap suster siska setelah temannya memberi tahukan tekanan darah Danisha.


Tak lama mereka kembali berdua.


" Kamu, jangan pikirkan apapun, saya tahu kamu punya banyak pertanyaan dan itu akan saya jawab satu persatu setelah kamu membaik, sekarang tidurlah "


Reyhan membantu Danisha berbaring. Danisha tak bisa menutup matanya. ia melihat Reyhan tidur di sofa setelah mematikan lampu.


Ruang rawat inap yang ia tempati ini sepertinya adalah ruang VIP. hanya ada dirinya sebagai pasien dengan berbagai fasilitas kelas atas tersedia dalam kamar yang cukup luas itu.


Tidak mungkin bapak akan sanggup membayar rumah sakit dengan fasilitas seperti ini. Biasanya kalau sakit ia akan ditempatkan di bangsal.


Danisha mulai mencerna ucapan Reyhan, perjodohan itu tetap dilanjutkan neneknya dan entah apa alasan mereka menikahkan dirinya dan Reyhan saat ia tak sadarkan diri.


Danisha tertidur kembali dan terbangun saat jam menunjukan pukul 9 pagi.


" Nona...sudah bangun, den Reyhan titip pesan, ia harus ke kampus sampai sore, nanti malam ia akan kembali menjaga nona " ucap seorang wanita paruh baya.


" ibuk siapa ? " tanya Danisha berusaha untuk duduk.


" panggil saja bi Minah nona, saya bekerja dengan keluarga den Reyhan, waktu den Reyhan masih kecil lagi " jawab wanita paruh baya itu sambil membantu Danisha duduk.


Menjelang siang ayah Danisha datang dan menjelaskan kenapa terjadi pernikahan mendadak itu. Perjodohan itu memang telah disepakati ayahnya karna nenek Reyhan pernah berjanji pada mendiang suaminya untuk menikahkan Danisha dengan Reyhan. Melihat kondisi Danisha memang butuh orang yang akan menjaganya maka pernikahan itu di percepat. ayah Danisha harus kembali ke kampung halaman karna ada persoalan keluarga yang harus di selesaikan di sana.


" Kamu baik baik ya sama suami kamu " ucap Pak mus sambil mencium kening Danisha.


" Ya pak "


Danisha menatap punggung ayahnya penuh haru. laki laki ringkih itu setia menjaganya dan memilih menduda selama membesarkan Danisha, jadi ia tak berani membantah semua keputusan ayahnya termasuk soal pernikahannya dengan Reyhan. Ayahnya lah yang menguatkan pernikahan itu terjadi.


Menjelang Magrib Reyhan kembali.


Danisha merasakan tubuhnya bergetar saat tangan Reyhan memeriksa keningnya.


" Kenapa kakak menyetujui permintaan bapak, kan sudah saya bilang SAYA TIDAK CINTA KAKAK LAGI "


Danisha harus mengucapkan kalimat itu lagi, kalimat yang membuat ulu hatinya sakit. Reyhan yang akan membuka kulkas tertegun sejenak. Ia belum membalikkan badan. menahan gemuruh yang begitu kuat di hatinya reaksi dari ucapan Danisha.


Ia menghela nafas dan setelah minum seteguk air mineral, ia berbalik.


" Siapa bilang saya masih cinta kamu, pernikahan ini karna saya juga tak ingin melihat nenek meninggal dengan perasaan kecewa karna tak menjalankan amanat kakek " ucap Reyhan sambil menatap tajam ke arah mata Danisha.


Danisha menelan rasa pahit yang terasa di tenggorokannya.