
"Aku bilang, kamu salah paham!"
Yuna benar-benar menuju ke tempat dimana ibu ku berada, ini gawat! Jika sampai Ibunda mendengar keinginan dari hatiku yang paling dalam ini, pasti beliau akan sangat kecewa dan marah.
"Salah paham?"
"Benar!"
"Eh, aku pikir kamu mau jadi gadis genit terus nempel ke cowok kek parasit."
"Enggak lah!"
"Beneran?"
"Iya deh iya! Anggap saja aku menjalankan taruhanmu!"
"??", Yuna terdiam bingung...
"Yuna, setelah ganti baju, bisa kamu carikan aku seragam perempuan akademi?"
"Boleh tapi, Anda tidak ikut?"
"Ah....", bagaimana bisa aku ikut, pekerjaan ku banyak. Selain itu, aku ragu jika aku dapat keluar dengan cepat setelah meminta izin pada Ayah dan ibuku.
"Aku harap Anda selamat."
"Aku menghargai kata-kata mu tapi, bagaimana bisa kau tahu isi pikiran ku?"
".... Hanya menebaknya saja. Kita sudah kenal cukup lama, Tuan putri. Kalau begitu, saya pamit memanggil penjahit khusus seragam akademi."
"Ya."
Setelah itu, kami berpisah. Yuna kuberi perintah untuk mencarikan aku seragam perempuan sementara aku, aku harus meyakinkan kedua orang tuaku apapun caranya! Aku ingin sekali setidaknya sehari bebas memakai pakaian perempuan!
"Dengan begitulah, Ibunda, saya mohon dengan sangat kebaikan Anda...."
"Tidak!"
Setelah panjang lebar aku menceritakan dengan bahasa formal yang tak aku sukai, hanya satu kata saja yang keluar dari mulut ibundaku tercinta ini, selain itu, kata-katanya begitu menusuk hatiku.
Tidak....
Jika penulis menuliskan dialogku secara lengkap, kau akan tahu! Bayangkan! Aku menjelaskan panjang lebar dengan penuh harapan namun, harapanku seketika pudar setelah Ibunda mengatakan satu kata yang berbunyi, "Tidak."
Ini menyakitkan... aku ingin sekali lari namun kakiku tidak dapat aku gerakan....
"Kamu sudah lelah dengan beban yang kau tanggung, Freya?"
"Apa hubungannya pewarisan takhta dengan jenis kelaminku!"
"Bukankah kamu sendiri yang mengatakannya? Jika kamu bersedia didandani layaknya laki-laki..."
"Tetapi Ibunda!"
"Sekali tidak tetap tidak! Sudah, dari pada merengek tidak jelas, pergi kerjakan tugasmu!"
"... Dimengerti....."
Gagal.....
Ah, kenapa aku mengatakan hal bodoh itu sih? Jadinya 'kan, selamanya aku tidak dapat memakai pakaian perempuan. Memangnya kenapa sih, jika pemimpin kekaisaran itu seorang perempuan? Apa itu akan membuat kekaisaran runtuh atau gimana? Ah sudahlah, aku lelah.
"Lagi-lagi....", ketika aku berjalan menuju ke kamarku, terlihat di sana, setumpuk berkas yang harus aku pelajari hari ini.
Aku lelah.... seriusan, kenapa dulu aku mengatakan hal bodoh itu....
"Yuna....", aku membuka portal teleportasi menuju ke lokasi dimana kira-kira Yuna tengah berada.
"Uwah, kau mengejutkanku!"
"Maaf..."
"Ah, gagal ya?"
"Seperti yang aku harapkan dari pelayanku. Kamu sangat memahami apa yang aku tengah rasakan."
"Memang sulit.... mereka tidak percaya dengan perempuan yang memimpin karena menganggap jika sekutu akan berkhianat karena memandang sebelah mata."
"Yuna~"
"Cup cup.... kau jadi seperti bayi, Freya."
"Berisik! Oh ya, aku berniat pergi ke tempat Myline hari ini."
"Tugasmu?"
"Bodo'amat~"
"Anda akan terkena masalah loh."
"Persetan dengan hal itu."
"Baiklah, apa yang ada ingin bawa?"
"Beberapa pakaian perempuan... kamu yang pilih. Dan juga, aku tetap ingin membuat seragam perempuan jadi, sebelum ke toko baju, mari kita lanjutkan perjalanan kita ke akademi terlebih dahulu?"
"Dimengerti."
Lalu, kami berdua pergi bersama... aku dan Yuna telah berkenalan dari kecil, hingga kini aku masih bertanya-tanya tentang bagaimana cara Yuna bersekutu dengan Myline yang merupakan ratu iblis namun, terserahlah. Yuna dapat kembali dengan selamat. Begitupula dengan aku yang dapat selamat dari ratu iblis yang berniat memperbudak diriku.
"Kupikir kamu melupakanku, Freya!!!", Sesampainya di sana, aku dikejutkan dengan Myline yang melompat dan langsung memelukku.
"Hehe, meskipun aku masih belum lapar tapi..... selamat makan!"
"Oioi, serakah amat."
"Biarin~."
"Myline..."
"Apwa?"
"Izinkan aku tinggal beberapa hari di sini."
".....", dia mencabut gigi taringnya yang menancap di leherku lalu mengambil nafas.
"Aku tidak salah dengar?", wajar dia bertanya-tanya.
"Aku sudah lemas tiga kali karena seluruh darahku kamu hisap. Normalnya jika ada tamu, kamu harus mempersilahkan tamu untuk duduk saat pertama kalinya. Tapi kamu? Tiba-tiba langsung menyedot darahku saja."
Kami pun berganti tempat. Di ruang yang tampak seperti ruang tamu, interior nya serupa dengan istanaku. Yah, ini kastil sih.
"Jadi, kenapa kamu tampak lemas begitu, Freya?", Myline bertanya kepada ku.
"Freya bertengkar dengan orang tuanya," Yuna menjawab demi diriku.
"Aku tidak bertanya pada dirimu!"
"Aku tahu itu. Sebagai pelayan, aku berhak menyampaikan apa yang majikanku ingin aku sampaikan. Selain itu, melihat kondisinya saat ini, aku yakin Freya terlanjur lelah hanya karena mengingat apa yang telah dia alami."
"Boleh tapi, jika sampai kastilku ini digerebek manusia, aku tak akan segan-segan loh."
"Silahkan, kata Freya."
"Yuna, bisa diam sebentar?", Myline menatap diri Yuna dengan tatapan tajam. Hal tersebut membuat Yuna takut hingga menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ayolah, kenapa juru bicaraku kamu suruh diam sih?"
"Eh, jadi?"
"Yah, terserah.... Myline, hanya seminggu saja, izinkan aku tinggal seminggu saja."
"Mau tinggal berapa lama pun boleh kok, toh aku juga terbantu karena pasokan darahku berada di tempat yang sama dengan diriku."
"Terimakasih ~ "
"Ya...."
Begitulah, awal kisah kabur-kaburan ku.... Tentunya seminggu ini aku ingin bersantai, membolos sekolah, tidak mengerjakan tugas dari kedua orang tua, hanya hidup sebagai perempuan, memakai pakaian perempuan, dan sebagainya.
Meskipun aku tahu, orang tuaku tak akan menghentikan pemberian tugas padaku, jadi aku harus siap melihat setumpuk berkas yang harus aku selesaikan ketika aku kembali. Tapi yah.... itu urusan belakangan. Yang terpenting sekarang, aku ingin bersantai.
"Pfft.... gak cocok....", ucap Myline dengan tawa puas melihat wujud Freya saat memakai dress berwarna putih tersebut.
Tak hanya Myline, Yuna juga terlihat menahan tawanya. Benar-benar budak yang berbeda dari kata normal.
"Benar ya... aku memang tidak cocok....?", tampak sedih, Freya menundukkan wajahnya, secara perlahan, matanya mulai berkaca-kaca...
"Wah gawat, dia malah nangis..."
"Maaf, Tuan putri, aku tidak bermaksud....", Yuna tampak sekali merasa bersalah. Padahal dirinya mengetahui jika Freya kabur gara-gara Freya ingin terlihat feminim namun, dirinya malah mencoba untuk mengolok-olok diri Freya.
"Enggak.... Kau sepenuhnya tidak salah.... Memang aku ditakdirkan untuk berpakaian laki-laki ya?", seketika, air mata nya tak lagi terbendung. Freya menangis, dirinya mencoba mengusap air matanya namun, itu terus mengalir dari matanya dan tak kunjung berhenti.
"Tidak... bukan gitu.... Freya, dengerin," Yuna yang merasa bersalah, mencoba menenangkan Freya sembari membantu mengusap air mata Freya.
"Mmnm?", menatap ke atas, Freya bertanya dengan mata merah, serta bekas air mata yang masih membasahi pipinya.
"Aku ingin komen sesuatu, boleh enggak?", Myline mencoba ikut memasuki pembicaraan.
"Tidak, kau diam saja!"
"Eh~ tapi serius, Freya tak cocok memakai dress warna putih...."
"Kubilang!!", Yuna lantas marah karena Myline tetap saja mengatakannya.
"Yuna, berhenti! Apa yang Myline katakan itu benar adanya. Aku memang tidak cocok... aku akan berganti—", belum sempat Freya menyelesaikan kalimatnya, Myline memotong...
"Aku punya banyak sekali dress yang cocok untuk kau pakai, Freya~"
"Huh?", Freya sempat terkejut ketika mendengar hal itu namun, dirinya kemudian tersadar dengan penampilan Myline yang agak erotis. Dan hal itu membuatnya dengan senang hati berganti ke pakaian lamanya.
"Tunggu!!! Kau akan cocok mengenakannya, aku jamin!"
"Baiklah.... kalau kamu memberiku pakaian yang sangat terbuka, aku akan langsung membakarnya!"
"Jahat!!! Yah tapi, hanya model pakaian kelaki-lakian saja yang cocok dengan dirimu."
"Aku tahu itu! Aku mau ganti!"
"Tunggu! Bagaimana jika kamu mencoba perpaduan pakaianku? Kelaminmu sebagai wanita tak akan ditutupi, sebaliknya, kamu akan dikenal sebagai gadis yang tomboy...."
"Ah, seperti di dunia lama ku?"
"Benar, di sini, istilah tomboy juga ada!"
"Benar sih, tapi agak malu untuk memamerkan tubuh ku..."
"Tak apa, tubuh perempuan adalah senjata utama yang berguna memikat hati pria."
".....", Freya tertunduk malu.
"Wah, sepertinya kamu tak hanya sebatas ingin merubah penampilan ya? Apa, haha, bocah puber emang menarik..."
"BERISIK!!"
"Hahaha, marah tuh...?"
Kemudian Myline mengambil semua pakaian yang menurutnya cocok untuk Freya. Baju tanpa lengan, rok cukup pendek, tapi tenang, ada jubah yang menghalangi para laki-laki mengintip isi roknya.
"Aku tak pernah memakai ini selain di kamarku sendirian."
"Bagaimana rasanya mengekspose ketiakmu dan pusarmu?"
"Agak memalukan... aku sangat yakin akan terpaku jika sampai ada laki-laki yang melihatku. Sejujurnya, aku sudah cukup malu karena kalian lihat."
"Masih ada banyak kok, mau coba yang lain?"
"Tentu!"
Dan begitulah, keinginan Freya untuk menjadi lebih feminim namun, tidak diperbolehkan oleh alam. Ia hanya bisa memperlihatkan kecantikannya dengan cara lain.
"Tuan putri, jangan sampai Anda jadi gadis yang buruk. Ratu bisa benar-benar marah sekaligus bersedih atas perubahan sikap Anda!"
"Bawel!"
"....?? Tak biasanya kau membentak diriku? Yah terserah, Freya~ cobalah apa yang aku pilihkan untukmu!"
"Aku tak mau! Kau akan menertawai diriku 'kan nantinya? Lebih baik aku ikut Myline saja!"
"Hmmph....
"Ah, baiklah tidak ada biskuit hari ini!"
"..... Jenis pakaian apa selanjutnya?", Freya langsung datang menghampiri Yuna dengan mata anjing yang jinak.