Freya : The Emperor'S Daughter

Freya : The Emperor'S Daughter
Ch. 12 : Kehampaan


Memang benar aku telah menjadi penguasa sekarang. Tapi, ini aneh.... seharusnya aku senang karena kerja kerasku akhirnya terbayarkan... tapi kenapa? Kenapa jauh di dalam hatiku, aku masih merasakan kekosongan yang begitu menakutkan?


"Freya!!! Aku membawa beberapa kandidat untuk menjadi menteri di negara kita!", saat aku tengah sibuk memikirkan kekosongan dalam hatiku, tiba-tiba saja Myline datang ke ruangan yang kugunakan untuk bekerja.


Ia datang dengan 6 orang. Masing-masing dari ras yang berbeda, dark elves, high-elves, ras beast, succubus, vampir, dan manusia yang tersesat.


"Semuanya wanita?"


"Apa kau tidak suka?"


"....."


Dari yang kulihat, sepertinya High-elves memiliki kepintaran yang dapat aku gunakan, aku akan memberinya jabatan sebagai menteri kesejahteraan dan keuangan.


"High-elves, siapa namamu?"


Gadis berambut putih dengan mata hijau muda yang cukup bersinar, berkacamata, rambut yang pendek, dia membawa tongkat sihir yang menjadi ciri khasnya.


Gadis itu terdiam takut ketika aku menatap tajam ke arahnya. Aku tak akan mengubah cara pandang ku karena jika aku melakukan nya, seketika akan ada yang meremehkan ku.


"Fillfya...."


"Kenapa tidak kau sebutkan nama keluargamu?"


".... Saya tidak punya hak... selain itu, berdirinya saya disini, adalah sebuah kehormatan bagi saya. Saya di sini hanya mewakili ras saya..."


"Apa yang kau bisa?"


"Emm, saya suka membaca, jadi saya dapat belajar sesuatu dengan mudah..."


"Apa kau serius?"


"Ah...."


"Tenang saja, aku tak marah... Dark elves, siapa namamu?"


"Tryna. Saya akan sangat senang jika Anda memberikan saya wewenang untuk memerintah dan melatih prajurit!", dia sangat antusias sekali.... rambut pirang, mata kuning yang indah... dari struktur tubuhnya, aku rasa dia seorang wanita yang cukup kuat. Hanya saja, dia agak kurus.


"Jika kau mengacau, akan ada hukuman bagimu. Apa kau bersedia?"


"Tolong percaya pada diri saya!"


Bagus, sekarang.... Wanita dewasa dengan telinga kucing, struktur tubuhnya yang kekar, dan dada yang besar.........


Ini jadi agak menjengkelkan... Berbeda dengan dark elves yang punya ukuran standar, ras beast ini seperti berniat menghinaku!


"Siapa namamu?"


"Unnie...nya~"


Pake ngeong segala..... rasanya agak aneh...


"Apa yang bisa kau lakukan?"


"Mari kita lihat...nya~. Sejujurnya sih aku lebih cocok disebut sebagai tipe bertarung...nya~. Tapi karena posisi yang pas untukku diambil oleh dark elves ini, mau bagaimana lagi...nya~."


"Kalian berdua boleh bekerja sama," aku tak bisa menaruh kucing besar ini ke sesuatu yang tidak bisa ia lakukan. Jika tetap ku letakkan di sana, maka dia hanya akan mengacau.


"Tapi, Unnie, pekerjaanmu sebenarnya adalah memimpin ras orc untuk melakukan pembangunan. Apa kau mengerti?"


"Aku tidak tahu apa yang kau maksud...nya~. Tapi, aku pernah membantu warga desa membuat rumah. Tak perlu khawatir, ajari saja aku agar tidak mengecewakan dirimu!"


"Bagus."


Baiklah.... succubus cocoknya ditaruh dimana ya?


"Succubus?"


"Iya, Ratuku?", wah... iblis penggoda memang selalu begini ya? Nafsu besarnya dapat kulihat dari ekspresi nya sekarang ini...


"Siapa namamu dan apa yang bisa kau lakukan?"


"Ryuushi. Saya ahli dalam membuat berbagai ramuan..."


"Bagus, kau mendapatkannya! Kau akan menjadi pemasok obat-obatan herbal. Tapi, kamu harus selalu melapor padaku tentang temuan yang kau temukan!"


"Baik!"


Lalu, vampir... Myline sih tak masalah terkena sinar matahari. Secara, dia adalah iblis dari segala iblis. Namun.... vampir normal seperti dia, apa dia tahan terhadap sinar matahari juga?


"Apa kau alergi terhadap sinar matahari?", aku memastikan agar tidak memberi pekerjaan berat untuknya.


"Tidak terlalu. Hanya saja, aku akan cepat merasa lelah jika berada di bawah sinar matahari."


"Kalau begitu, perkenalkan dirimu serta sebutkan bakatmu!"


"Kyu. Aku pikir aku akan menjadi asisten Ryuushi saja. Setelah kupikirkan lagi, aku tak punya bakat selain menjadi penyerang dan membuat pasukan vampir."


"Maaf Freya.... sepertinya aku....", Myline berniat menyeret Kyu pulang.... sabar, Myline, apa kamu tidak melihat potensinya?


"Aku mengandalkan kekuatan mu untuk memperbanyak kekuatan undead kita!"


"Eh...?", desah Myline yang terkejut mendengar ucapanku.


"Asal kau tahu saja vampir biasa akan langsung hangus saat tersengat sinar matahari! Berbeda dengan Undead. Memang benar vampir dapat dilatih. Tak seperti Undead yang hanya dapat dikendalikan, vampir punya kesadaran sendiri. Tetapi, apa kamu tidak takut jika suatu saat, pasukan vampirku memberontak tanpa sepengetahuan ku?"


"Aku akan membunuh mereka dengan tanganku sendiri."


"Rasanya sakit... kau tahu? Setiap vampir menganggap bawahan yang mereka ubah menjadi vampir itu, sebagai anak mereka sendiri. Jadi aku mengharap belas kasihan darimu, Ratuku!"


"Akan kuberi kematian yang tak begitu menyiksa mereka."


"Aku memegang ucapanmu!"


Nih vampir banyak mintanya.... yasudah, aku rasa ini setimpal dengan apa yang akan aku dapatkan. Sekarang tinggal gadis suram berkaca mata di sana....


"Ada alasan apa manusia mau menginjakkan kaki di dalam kastil iblis ini?"


".... Nama saya, Rui, saya mewakili manusia-manusia yang saya bawa, mereka merupakan manusia yang tak punya tempat tinggal. Saat mendengar kastil iblis bersedia menampung berbagai ras, aku langsung meminta izin kepada paduka Ratu iblis agar diperbolehkan tinggal di sini, dan manusia yang kubawa mendapatkan kesejahteraan..."


"Aku minta 20 wanita dari manusia yang kau bawa! Kau tahu? Ini demi pasukan..."


"Pasukan iblis memang menguntungkan tetapi, Ratuku, sebelumnya aku telah berdiskusi dengan seluruh manusia yang saya bawa. Dan hanya 5 wanita yang setuju. Saya tak ingin mereka yang tidak ingin harus dipaksa. Jadi kumohon, saya memohon kebaikan Anda dengan sangat!", dia bersujud di depanku.... rasanya aku familiar dengan apa yang terjadi kali ini. Semoga kalian tidak mengecewakanku!


Aku membantunya bangun lalu berkata...


"Bercanda, stok manusia kami di dunia bawah masih banyak. Myline mengabadikan mereka agar mereka tak pernah berkurang...."


"Jadi...."


"Kau pikir vampir sepertinya mau menghisap darah monster?"


"Anda sedang menghinaku?? Tapi memang benar! Darah monster sangat tidak enak! Sampai kapanpun aku tak akan menghisap darah monster, meskipun aku sangat terdesak!"


"Semakin banyak manusia, semakin banyak pasukan vampir yang kita punya. Tak hanya pasukan vampir, pasukan biasa juga diperlukan. Jadi kalau bisa, tolong kosongkan suatu wilayah dan suruh mereka tinggal di sini."


".... Baik! Akan saya lakukan tugas saya! Selain itu, kami harus tinggal dimana? Bukankah hanya terdapat kastil ini saja di tengah bukit terjal sekitaran sini?"


Pertanyaan bagus.... sialan, aku terlalu gegabah. Benar, mau ku taruh dimana para rakyat baruku? Ahhh, kenapa baru kepikiran sih? Selain itu, kenapa juga Myline tidak membuka lahan?!


"Mau pindah?", tanyaku dengan senyum yang menertawakan diriku sendiri.


"Hahahaha, setelah Ratu iblis brengsek itu berkata ada seorang yang mengalahkannya, aku pikir orang itu sangat mengerikan..."


"Apa maksudmu?!", menyadari aku telah membuat diriku dipandang sebelah mata oleh si vampir, sontak saja aku menatap tajam ke arahnya.


"Santai, bung... aku lebih suka kamu yang santai. Kenapa tidak segera kau menunjukkan wajah aslimu saja, Ratuku?"


"Lalu, setelah aku menunjukkan nya, kalian akan menganggap ku remeh, aku benar bukan?"


"Tidak tidak.." pembohong, kau berbohong, vampir!


"Lagipula, mana mungkin ada seorang yang menganggap remeh dirimu? Jika benar ada orang semacam itu, aku yakin mereka tak merasakan aura mencekam yang selalu kami rasakan sejak kami memasuki ruangan ini."


"Kau membicarakan Myline?"


"Tidak, aku bicara tentang dirimu, Wahai Ratuku. Akan saya carikan tempat yang pas untuk membangun sebuah negara baru. Tentunya, saya meminjam gadis high-elves cantik ini..."


Aku? Apa aura memang bisa dirasakan? Tapi kenapa ayah ibuku tidak...? Ini membuatku sedikit merasa kesal.


Yah, sudahlah... Vampir akan pergi mencari lahan baru? Aku tak mempermasalahkan nya, terlebih lagi, dia bersama dengan Fillfya.


Aku yakin mereka dapat dengan mudah menjadi rekan satu tim yang baik. Meskipun, terlihat sifat mereka sangat berbanding terbalik.


Vampir punya sifat tomboy yang blak-blakan, kurang lebih sama seperti diriku. Sebaliknya, Fillfya, dia memiliki sifat yang begitu pendiam, sering berfikir sebelum bertindak. Berbeda dengan Vampir yang selalu nyerocos dalam segala kondisi.


"Segera aku akan kembali! Sebelum tengah hari, aku akan kembali!"


"Kau tak perlu terburu-buru seperti itu...."


"Tenang saja, aku punya beberapa tempat bagus yang sering aku kunjungi. Dengan membawa Fillfya bersamaku, aku yakin Fillfya akan menilai apakah tempat tersebut cocok atau tidak!"


".... Pergilah!", tak ada salahnya juga, aku merasa tak enak jika terlalu lama menelantarkan penduduk baruku.


"Terimakasih!"


Akhirnya mereka pergi juga, aku harap itu sesuatu yang sesuai dengan ekspektasi ku. Yah, lupakan, lebih baik aku tidak perlu berharap apapun.


Aku sudah lelah dengan semua kekecewaan yang aku terima. Aku akan berhenti berharap banyak terhadap sesuatu.


"Kalian bisa langsung mempersiapkan diri, aku punya sedikit urusan, aku yakin kalian harus mengabari penduduk yang kalian bawa. Sampai aku menyuruh kalian datang lagi, kalian bebas melakukan apapun."


"Baik!"


Kemudian, mereka berempat pun pergi menggunakan portal teleportasi yang Myline bukakan untuk masing-masing dari mereka. Setelahnya, aku mengerjakan tugas penting ku...


Yaitu, pergi mengunjungi negara pertama yang menjalin hubungan kerja sama denganku!


Aku harap aku dapat menemukan arsitek yang tepat untuk membangun negeriku dari awal di sana.


"Yuna...."


"Ada apa, Ratuku...?"


"Kau jangan memulainya lagi!" lagi-lagi Yuna mengejekku?


"Maafkan aku, tapi, kau tak lagi menjadi Tuan putri. Sekarang kamu adalah ratu di negara yang kamu dirikan sendiri."


"Kau benar, maaf, aku masih belum terbiasa dengan dirimu yang memanggil ku dengan sebutan Ratu."


"Kalau begitu, mari dibiasakan, Ratuku."


"Suka-suka mu."


Maka dari itulah.....


"Jadi pengen punya anak...."


"Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu? Selain itu, aku perempuan, Freya."


"Aku tahu itu.... aku ingin merasakan sesuatu yang kalian alami selama merawat diriku... aku selalu berfikir, pelayan itu sangat hebat. Mereka paham apa yang majikan mereka rasakan... bagaikan seorang ibu bukan?"


"Apa hubungannya seorang ibu dengan pelayan?"


"Kau tahu? Ibuku 'kan tidak pernah menyayangiku sejak kecil. Aku selalu dirawat oleh pelayan.... jadi aku menganggap, pelayan sama seperti ibuku sendiri."


"Aku benar-benar tidak memahami ucapanmu. Tapi yang jelas, Freya. Mengasuh anak itu sangat merepotkan."


"Kau serius?", apanya yang merepotkan? Bukankah anak-anak itu lucu?


"Membersihkan kotorannya, menyusuinya, melahirkan dia... bukankah itu merepotkan?"


"Ayolah Yuna, kalau hanya sebatas itu saja, bukanlah semua itu sudah menjadi tanggung jawab besar seorang perempuan?"


"Kau mungkin benar tetapi.... ah, kita sudah sampai, Ratuku."


Sedari tadi kami berbicara sembari berjalan menyusuri lorong. Dibantu oleh penjaga istana, kami diarahkan ke ruangan dimana raja berada.


"Halo, Paman! Kita bertemu lagi!"


"Hahahaha... aku sudah menduganya, apa yang kau perlukan?", langsung ke inti?


Yah tak masalah bagiku sih, aku kemudian duduk di depannya lalu mengutarakan keinginanku kepada dirinya.


"Arsitek."


"Hmm, baiklah, akan aku pilihkan arsitek serta pekerja terbaik..."


"Ah, tidak perlu sampai memberiku pekerja juga."


"Maksudmu?"


"Kami punya tenaga kerja yang cukup besar. Namun kemampuan kami untuk membangun rumah ataupun sesuatu bangunan masih sangatlah minim. Oleh karena itulah, aku memerlukan arsitek."


"Begitu ya? Segera...."


"Kalau bisa aku ingin langsung membawanya."


"?!", dia sontak saja terkejut..... benar ya..? Normalnya tidak akan ada orang yang terlalu blak-blakan seperti ini. Selain itu, aku masih belum memberinya keuntungan dari kerja sama yang kami jalin.


Tak lama kemudian, dia membunyikan lonceng yang bersuara nyaring tersebut, lalu seketika, seorang pelayan masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Kenapa kau memanggilku, Pak tua?"


Seorang laki-laki, usianya sepertinya dua tahun lebih tua dariku.... apa dia merupakan anak dari Paman Raja ini? Kau tahu? Mana mungkin ada orang selain keluarga kerajaan yang berani bersenda gurau dengan Raja.


"Duduklah!"


".... Apa lagi-lagi kau berniat menjodohkan diriku?", ah, lucunya... dia berfikir jika aku akan menjadi jodohnya?


"Freya Von Cellescia..."


"Ah, aku sudah bukan dari keluarga Cellescia lagi, aku sudah melepas jabatanku..."


"....", beliau tampak terkejut dengan apa yang aku katakan. Yah, aku paham dengan ekspresi nya. Secara, beliau tidak kuberitahu tentang diriku yang gagal menjadi kaisar berikutnya.


"Jadi kau berniat membuat negaramu sendiri?"


"Loh, bukankah sedari tadi aku membahas negaraku sendiri?"


Apa mungkin, Paman ini mengira jika aku membutuhkan arsitek untuk kekaisaran? Maafkan aku... apa dia akan berubah pikiran setelah tahu jika arsiteknya untuk negara baruku?


Apa aku datang tanpa membawa hasil hari ini?!


"Verendrica. Aku sarankan nama tersebut untuk Negara baru mu. Semoga kau berhasil mendirikan sebuah negara dengan kerja kerasmu sendiri, Freya Von Verendrica."


"Aku terima saran darimu, selain itu, siapa lelaki ini?"


"Putraku satu-satunya. Aku akan meminjamkan dia ke kamu. Tapi, jangan lupa dikembalikan!"


"Aku mengerti, toh aku juga tidak gampang tertarik dengan laki-laki..."


"Bagus..."


"Jadi, apa yang harus aku lakukan?"


"Raja memanggil kamu kemari karena aku butuh arsitek.... apakah kamu dapat menjadi arsitek ku untuk beberapa tahun kedepan?"


"Arsitek.... aku tak keberatan tetapi.... apa yang aku dapatkan? Meskipun aku benci dijodohkan, aku suka bermain wanita!"


"Aku menyerahkan Yuna selama kontrak kita berjalan!"


"Ratu!!"


"Aku bercanda, Yuna. Kau ingin wanita sebagai hadiah 'kan?"


"Sepertinya dirimu juga tidak masalah."


"... sebaiknya jangan, akan ada seorang yang membunuhmu jika kau menargetkan diriku...."


"Eh~... aku tertarik padamu!" Dia membelai pipiku dan berniat menciumku? Hah, apa dia serius?


Seketika, Raja menarik kerah lelaki yang hampir menciumku tadi hingga ia terjatuh ke belakang.


"Jangan bermain-main dengan bahaya!"


"Kenapa?!"


"Maafkan putraku ya, Freya? Dia memang agak aneh."


"Tidak perlu dipikirkan, selain itu, aku tidak keberatan jika harus mengandung satu dua anak darinya. Jika memang itu yang dia mau, akan aku lakukan."


"Ratu!!?"


"Tenanglah, Yuna. Kau ingat ucapanku bukan?"


"Aku mengerti keinginan mu memiliki seorang anak tetapi, tidak perlu sampai...."


"Aku tidak peduli dia siapa, lagipula, aku hanya menginginkan anak. Setelah aku mendapatkan nya, aku tak peduli jika dirimu akan terbunuh oleh Myline, Pangeran."


"Myline?"


"Seseorang yang akan membunuhmu jika kamu benar-benar serius menghamili ku," dengan senyum, aku memperkenalkan Myline kepada sang pangeran agar dia mengurungkan niat untuk mempermainkan ku.


"Kalau tidak ketahuan tak apa bukan?"


"Kau tahu? Sejujurnya aku tidak masalah mau anak dari siapapun itu, aku dapat mengasuhnya dengan tanganku sendiri bersama orang-orang dekatku. Tetapi, masalahnya di sini, si Myline ini adalah Ratu iblis."


"Ratu Iblis?!"


"Benar, Myline ratu iblis, aku takut, kehamilanku membuat Myline harus berhenti menyedot darahku hingga aku melahirkan anak yang aku kandung. Selama mengandung, Myline tidak bisa menyedot darahku. Otomatis, dia akan sangat marah dan mencari tahu siapa yang menghamili diriku. Nah, pada saat itulah, nyawamu dalam bahaya."


"....."


"Tapi, secara pribadi, aku tidak mempermasalahkan nya... aku ingin sekali memiliki seorang anak.. jika kau masih berniat ingin melakukan nya denganku maka, aku tidak mempermasalahkan nya, asalkan kamu harus mahir bersembunyi dari kejaran Ratu iblis."


"....."


"Hanya itu saja, oh ya, izinkan aku memperkenalkan diriku dengan baik, namaku, Freya Von Verendrica, Ratu negara Verendrica yang masih dalam tahap pembangunan. Aku harap kita dapat bekerja sama dengan baik. Dan gadis berambut pirang di sampingku ini adalah pelayan pribadiku, Yuna namanya."


"Charless... Charless Von Rezeria."


"Charless, mari kita pergi?", aku mengulurkan tanganku kepada diri Charless...


"Sekarang?"


"Aku membutuhkan dirimu secepatnya, seorang pemimpin tidak boleh menelantarkan penduduk nya dalam waktu yang lama!"


"...."


Kemudian, aku membuka portal teleportasi menuju ke kastil iblis yang menjadi tempat tinggal sementara ku.


"Apa itu?", Charless bertanya dengan perasaan takut dan juga takjub atas apa yang telah ia saksikan.


"Portal teleportasi. Menghubungkan dua titik secara langsung. Portal ini akan membawa kita menuju ke tempat tinggal ku."


"....."


"Ayolah, jangan malu-malu, segera kau akan bekerja keras memikirkan desain bangunan yang harus kau buat! Kita perlu sekitar 500 bangunan! Kau harus segera memikirkannya!"


"500?!", dia sangat terkejut.... kami bertiga telah sampai di kastil iblis Myline. Aku kembali duduk di kursi kerjaku, Yuna membuatkan air, dan satu lagi, Myline yang bermalas-malasan di sofa.


"Myline, bolehkah aku memiliki anak?"


"Memangnya aku ibumu?", Myline duduk kemudian menceramahiku...


"Kau berniat melakukan nya dengan lelaki ini?"


"Yups, boleh 'kan?"


"Kubilang, memangnya aku ibumu? Lagipula, jika itu keinginan mu, kenapa tidak?"


"Soalnya.... aku takut kau akan marah... kau tahu? Kau tak akan bisa menghisap darahku jika aku sedang mengandung. Benar 'kan?"


"....", Myline menyadari sesuatu...


"Jangan bilang kau...."


"Aku bawahanmu sekarang, bawahan harus mematuhi atasan. Lakukan sesukamu saja!"


"Yeay! Charless, aku ingin anak perempuan! Tapi, anak laki-laki rasanya juga tidak buruk... atau mungkin, anak kembar? Aaahhh, aku tak sabar menunggu anakku terlahir!"


"Freya, sadarlah! Kenapa kau sangat ingin memiliki anak?"


"Iseng saja."


"Iseng?!"


"Enggak... rasanya, kehidupan ku hampa... jadi, aku perlu penyemangat hidup. Saat aku memikirkannya, terlintas dalam benakku, aku menginginkan seorang anak!"


".... Hampa?"


"Kekosongan dalam hatiku tak kunjung hilang... aku perlu mengalihkan fokusku agar aku dapat melupakan kekosongan di dalam hatiku ini. Aku takut, aku takut kekosongan ini membunuh mentalku. Jadi... begitulah singkatnya, intinya aku ingin anak!"


"......", Myline berekspresi seperti seorang yang sedang menatap hina sebuah bangkai.