
Rosa dari tadi asik menggerutu dan mengumpat tidak jelas di dalam hati saat mengemudikan mobilnya menuju bandara. Bagaimana tidak? dari tadi dia selalu diarahkan untuk mengulangi, sesi pemotretan.Sang photografer selalu mengatakan kalau gaya yang dia tujukkan itu sangat monoton dan membosankan. Belum lagi, sosok wanita yang selalu ada di belakangnya, yang tidak lain adalah Dina, sibuk menelepon dan mengirim pesan berulangkali, minta dijemput di bandara.
"SEKALI LAGI LOE GAK ANGKAT TELEPON DARI GUE, MOBIL YANG GUE KASIH KE LOE, AKAN GUE TARIK!!!" isi pesan Dina, yang diketik dengan huruf kapital, lengkap dengan 3 tanda seru di akhirnya, sebagai tanda kalau amarahnya sudah ada di tingkat paling tinggi.
Rosa buru-buru langsung melakukan panggilan, dan masih bunyi pertama, sudah terdengar teriakan Dina dari ujung sana, yang membuat Rosa harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Iya,Din! ini gue udah di jalan dan sebentar lagi nyampe di sana." ucap Rosa, menerangkan.
"Ya udah,gue tunggu loe." Dina,langsung memutuskan panggilan secara sepihak tanpa menunggu Dina menyahuti ucapannya.
"Sial! dasar nenek lampir loe!" umpat Dina,sambil melepaskan headset dari telinganya, lalu melesatkan mobilnya dengan menambah kecepatan laju mobilnya.
15 menit kemudian Rosa sudah tiba di bandara dan langsung berjalan dengan setengan berlari begitu dia keluar dari dalam mobilnya. Pandangannya mengedar mencari keberadaan Dina, dan dia langsung menghampiri Dina,begitu netranya menangkap dimana keberadaan gadis, yang sedang duduk dengan kaki yang menyilang, sambil memainkan ponselnya.
"Din, maaf gue telat! tadi__"
"Lama banget sih loe! loe tau gak,gue udah hampir jamuran nungguin loe di sini! gak ada gunanya juga gue beliin loe mobil mahal, kalau loe mengemudi kaya siput." Dina mengomel tanpa rem. Dia tidak memberikan kesempatan buat Rosa untuk membela diri.
"Kenapa loe gak jamuran aja sekalian. Kalau boleh membusuk, biar gue puas." umpat Rosa,yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.
"Ngapain loe diam aja di situ? bawa koper gue!" Dina melenggang santai, membiarkan Rosa menarik kopernya yang lumayan berat. Rosa, merutuki, mengumpat habis-habisan Dina di dalam hatinya. Segala nama jenis binatang yang ada di kebun binatang pun dia sebutkan dan menyamakannya dengan Dina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Lea dari tadi lebih banyak diam karena kepikiran mengenai cerita yang dilontarkan oleh Gendis saat makan siang tadi. Ekor matanya, berkali-kali melirik ke arah Galang,yang sedang fokus menyetir mengantarkannya pulang.
"Ehem ... ehem, kenapa sayang? dari tadi sepertinya kamu diam saja. Apa ada masalah?" Galang memecah keheningan yang sempat tercipta diantara mereka berdua.
"Emmm, Ka Galang, boleh gak aku menanyakan sesuatu?" tanya Lea.
Galang menoleh sekilas ke arah Lea dengan menerbitkan senyuman manis di bibirnya.
"Tentu boleh dong, Yang!" ujar Galang.
Lea, diam sejenak seperti tengah berpikir, bingung antara mau lanjut bertanya atau tidak.Dia merasa khawatir,kalau Galang akan merasa tidak dipercayai olehnya, jika dia melontarkan, hal yang ada benar-benar sudah mengganggu pikirannya dari tadi.
"Lho, kok diam sayang?" Galang kembali menoleh dengan alis yang terangkat ke atas.
"Emm, kakak janji dulu,kalau kakak gak bakal marah, dengan pertanyaanku nanti."
"Mau nanya apa sih?"
"Janji dulu!" Lea mengacungkan jari kelingikingnya ke arah Galang.
"Iya deh aku janji." Galang menautkan kelingkingnya ke kelingking Lea.
Kedua alis Galang bertaut tajam.Dia menghentikan mobilnya,karena kebetulan memang sedang lampu merah.Dia menatap ke arah Lea dengan tatapan yang penuh tanya.
"Darimana kamu tahu masalah Dina? apa Gendis yang ngomong sama kamu?" bukannya menjawab apa yang ditanyakan Lea, Galang malah balik bertanya.
"Iya Ka! kenapa? apa Kakak keberatan aku tahu tentang Dina?" ekor mata Lea, tertarik ke atas, menatap curiga Galang.
"Bukan keberatan sayang!aku cuma mengganggap hal itu sangat tidak penting untuk dibicarakan,karena Dina sama sekali tidak penting bagiku." Galang berhenti sejenak, menarik nafas dan menghembuskannya kembali. "Dan masalah, aku pernah tidak punya hati pada Dina, jawabannya 'sama sekali tidak pernah'! justru aku takut sama tingkah dia,yang persis seperti seorang psikopat." sambung Galang lagi, sambil melajukan kembali mobilnya karena lampu lalu lintas sudah kembali ke hijau.
"Hmmm, Ka Dina kan cantik,kenapa Kakak tidak suka sama Ka Dina?" tanya Lea kembali.
"Hmm, gimana ya? bagi orang dia memang cantik,tapi bagiku kamu tetap yang lebih cantik." Galang mulai melancarkan gombalannya, yang membuat semburat merah langsung muncul di pipi Lea.
"Gombal!" Lea memajukan bibirnya sembari memukul lengan Galang,yang lagi terkekeh melihat ekspresi Lea.
"Bukan gombal,itu memang nyata adanya. Secara kasat mata Dina memang cantik, tapi ada aura yang tidak bisa aku jelaskan, yang membuat aku tidak tertarik sama sekali, dan bukan hanya aku, Dion, Rendi dan Dewa juga tidak pernah tertarik dengannya,walaupun sering bersama." papar Galang, menoleh sebentar dengan seulas senyuman di bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara makan malam kali ini di rumah Kevin, kembali seperti semula, sepi. Tidak ada lagi keceriaan yang terlihat seperti kemarin-kemarin, karena tidak adanya Gendis diantara mereka.
"Mah, aku sepertinya udah kenyang! nanti kalau udah selesai makan, panggil Key aja ya Mah,buat cuci piringnya." ucap Keysa sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Aku juga Mah! aku mau langsung masuk kamar dulu ya!" Kevin beranjak berdiri dan nyaris melangkah meninggalkan meja makan. Akan tetapi, dia menyurutkan langkahnya, ketika mendengar celetukan adiknya Keysa.
"Kakak, juga merasa kehilangan Ka Gendis kan? Kakak gak usah munafik lagi!" sindir Keysa, sambil mengangkat piring kotor dan membawanya ke wastafel untuk dicuci.
"Kamu jangan sok tahu,Key! aku justru tidak pernah memikirkan perempuan berisik itu sama sekali." ucap Kevin yang sangat bertolak belakang dengan kata hatinya dan dia benar-benar membenci kata hatinya itu. Dia merasa,kalau dia tidak pernah menyukai Gendis. Dia hanya merasa bersalah karena ucapannya yang memang terlalu eksplisit, memperlihatkan rasa tidak sukanya pada gadis itu, sehingga menimbulkan rasa sedih di wajah Gendis, dan entah kenapa dia merasa benci mengingat kalau hatinya merasa tidak terima,bila mengingat air muka Gendis yang sedih.
"Kenapa Kakak tidak menyukai Ka Gendis? apa kakak belum bisa move on dari Shakila? Kakak sendiri yang bilang, kalau Shakila tidak pernah menaruh hati pada kakak sama sekali. Jadi kenapa kakak tidak mencoba membuka hati pada gadis lain, seperti Ka Gendis misalnya? Kalau Kakak bilang,Ka Gendis berisik, bukannya Shakila juga berisik? Ka Gendis juga orangnya selalu ceria seperti Shakila. Aku melihat kalau Kakak sangat cocok dengan Ka Gendis." tutur Keysa dengan tangan yang tak berhenti menggosok piring dan membasuhnya kembali dengan air yang mengalir dari kran wastafel.
"Kamu tidak berhak,mengurus urusan hatiku Keysa! kalau aku bilang tidak suka, ya tidak suka!" Kevin melangkah meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
"Terserah,Kakak mau ngomong apa. Yang penting jangan menyesal kalau ada laki-laki lain yang menyukai Ka Gendis." teriak Keysa, merasa jengkel dengan sikap apatis Kevin.
"Keysa, udah! jangan paksa Kakakmu lagi!" lerai ibu Mutia.
Tbc
Udah hari Senin aja, kalau berkenan Vote rekomendasinya di kasih ke karya ku ini dong, untuk membantu, agar novel ini direkomendasiin oleh sistem 😁.
Jangan lupa buat like, rate dan komen juga ya gais.Thank you