
"Tuan!"sebut Kenan.
Malvin yang baru saja keluar dari ruang rapat itu menoleh saat Kennan memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Mlavin melanjutkan langkahnya.
"Saya membawa beberapa berkas yang harus anda tanda tangani segera.
"Baiklah."
"Dan siang ini ada meting dengan klien digedung xx."
"Lanjutkan."
"kita sudah menemukan dimana ayah Nona Embun."
Malvin berhenti tiba-tiba. Dia lalu menoleh kearah Kenan.
"Benarkah?" tanyanya antusias."Dimana?"
Kenan mengulas senyum."Anda akan terkejut."
Malvin menatap Kenan penuh tanya.
"Kita lanjutkan diruangannku." titahnya.
.
Diruangan Malvin.
Kenan menyerahkan beberapa lembar berkas pada Malvin yang duduk di meja kerjanya.
Malvin mengambilnya dan membolak-balikkannya. Wajahnya tercengang.
"Ini...." ucap Malvin tercengang.
"Benar tuan."tegas Ken mantap.
Malvin tersenyum geli.
"Ternyata kita sedekat ini tapi tidak tau."ucap Malvin.
"Benar tuan."
"Kau luar biasa ken."puji Malvin pada sekertarisnya itu.
"terima kasih."
"Baiklah, malam ini kita kesana."ujar Malvin meletakkan berkas yang dibawanya, dan berganti dengan berkas yang lain.
"Ayo kite selesaikan kerjaan hari ini."ucap Malvin lagi. "Agar bisa segera bertemu dengan ayah mertua."
_____
Di lokasi Lain.
Danu duduk disamping Yura, menyuapinya dengan telaten. Danu menatap yura sayu. Dia sangat bersedih. kenapa ini terjadi. Danu terus meruntuki dirinya sendiri. ini salahnya. dialah penyebab semua ini. Kehilangan anak dan Yura menjadi depresi. Tanpa terasa air mata Danu menetes. Danu menyekanya dengan punggung tangan.
"Yura, cepatlah sembuh. Aku tak ingin membawamu kerumah sakit jiwa. Aku ingin merawatmu. tapi aku takut, jika terus begini dan kamu malah semakin parah. Aku harus bagaimana Yura?" isak Danu menundukkan kepala di pangkuan Yura.
Hari semakin larut, Danu membantu Yura duduk di meja malam itu. Lalu dia sendiri duduk disampingnya.
"Kamu makan aja dulu Nu, biar ibu yang suapin Yura."ucap ibu Damar.
"Nggak usah Bu, biar Aku aja."tolak Danu. "Yura istriku. aku ingin dia juga merasakan kasih sayang suaminya, aku yakin walau dia masih belum sepenuhnya sadar dia pasti merasakannya."
bapak merungkai senyum. "biarkan saja bu."
"Nu, tadi ibu bertemu dengam beberapa ibu-ibuk komplek, mereka menanyai keadaan Yura."ibu bercerita.
"Nggak apa-apa bu, itu artinya mereka perhatian."
"Yah, salah satu dari mereka menyarankan agar membawa Yura ke dokter."
"Kita sudah melakukannya bu." jawab Danu dia mulai tak nyaman.
Ibu menghela nafas panjangnya.
"yura masih belum ada perkembangan. mereka menyarankan untuk membawa yura terapi ke rumah sakit kusus kejiwaan."Kata ibu. Danu masih melanjutkan menyuapi Yura.
"Ibu pikir mungkin ada benarnya juga, jika kita membawanya ke rumah sakit khusus kejiwaan itu."sambung ibu, Danu meletakkan piring dan sendok.
"Ibu, haruskan ibu mengatakannya? Yura tidak sesakit itu sampai harus dibawa ke RSJ bu."tegas Danu menatap ibu mertuanya itu.
"Ibu juga harus menjaga perasaan yura."lanjut Danu dengan mata sayu dan kesal.
"Danu! sadarlah! Yura bahkan sudah tak memiliki perasaan sekarng! Dia butuh diterapi."
"Benar Danu. Ini semua demi kebaikan Yura, dia harus diterapi oleh yang ahli."bapak yang sedari tadi diam ikut menimpali.
"Tapi Yura...." Danu menatap sayu Yura yang bahkan tidak memberi reaksi apapun.
Danu menitikkan air matanya, melihat yura yang seperti ini. Sesal saja yang tertinggal dihati Danu.
______
Sementara itu di Restoran Sebening Embun.
Embun merasa tidak enak badan. Tubuhnya terasa berat dan kepalanya pusing. Embun mencoba berjalan, dia terhuyun
"Sepertinya aku harus beristirahat dulu diruanganku." gumamnya, "akan ku minta seseorang untuk membawakanku obat."
Embun berjalan terhuyun direstorannya itu. Dia hendak menuju ruangannya, namun ia kehilangan keseimbangannya. Embun hampir ambruk. Sepasang tangan menangkapnya sebelum jatuh.
"Nggak apa mbak?" tanya suara yang cukup familiar baginya, Embun yang sedikit lemah itu menoleh padanya.
"Ooohh,, pak Danang?"sebut Embun setengah sadar.
"Embun?"
suara yang Embun dengar sebelum ia bener-bener kehilangan kesadarannya.
dimana aku? pikirnya.
Embun bangun terduduk. dia hanya sendiri disana. Matanya menyapu ruangan dengan dua brankar kosong di sisi kirinya. Tak ada siapapun disana.
Embun melihat cairan infus yang menggantung di sisi kiri.
Apa aku dirumah sakit? pikirnya lagi. Kepalaku masih sedikit pusing.
pintu ruangan itu dibuka. Embun menunggu siapa sosok yang akan muncul.
"Udah Bangun?"
"Pak Danang?" Embun tertegun. " kenapa bapak disini? Apa bapak yang membawaku kemari?"
"iya. tadi kamu pingsan di restoran." jelas Pak Danang mengikis jarak hingga berdiri di dekat brangkar.
Pria berusia skitar 50 tahunan itu, adalah bos Embun waktu dia bekerja di resto.
"Terima kasih pak."
"Lama nggak ketemu, kamu udah jadi cantik sekarang, nggak dekil lagi. hahaha" goda pak Danang.
"hahaha.. iya pak."
"bagaimana kabar Kayla?"
"Dia baik-baik saja. masih sekolah juga."
"Kamu udah nggak tinggal dipanti ya?" tanya pak Danang. Embun mengangguk."Pantas, tadi aku menelpon orang panti katanya kamu udah lama nggak tinggal disana."
"iya pak. hanya sesekali aja main kesana."
"kamu nggak bawa apapun jadi aku nggak bisa hubungi keluargamu."
"Iya, memang semua saya tinggal di resto SE pak."
"Oohh, kamu kerja disana sekarang?"tanya pak Danang,"Tunggu jangan bilang itu reatoran kamu..."
"Hehe. iya pak. suami saya yang membukakan satu restoran untuk saya."
"Waahh... beruntungnya kamu, untung aja kamu cerai dari danu.. hahaha."
Embun tersenyum saja mendengar candaan mantan bosnya itu.
"Ya sudah. Aku pamit dulu. Oiya kamu mau hubungi siapa nih buat jemput kamu?"pak Danang menyerahkan ponselnya.
"Kalau hapal nomornya telp pake ini aja."
"Makasih pak Danang, dari dulu anda baik sekali." ucap Embun lalu mengetik nomor extension restorannya." pak, ini rumah sakit mana ya?"
"klinik X"
"Halo, Ana! Ini aku Embun."
("Nona Embun. Ada apa? tadi saya dengar ada yang membawa anda keluar dari restoran.")
"iya. aku diklinik x sekarang. bisa jemput aku?"
("tentu.")
"ok. terima kasih."
Embun mengakhiri panggilannya. lalu menyodorkan kembali ponsel milik pak Dananng.
"terima kasih pak."
"Sama-sama."ucap pak Danang menyimpan lg hpnya."kalau gitu, aku pamit dulu ya."
"Iya. terima kasih pak."
###
Setelah Ana menjemputnya Embun beristirahat diruangannya.
"sepertinya, aku memanggil orang rumah untuk menjemputku." lirihnya.
Embun mengambil hpnya hendak mencari nomor Jo. namun hpnya bergetar lebih dulu. panggilan vidio dari Malvin.
"Hayy Honey! Hari ini aku ada kejutan untukmu, malam ini kita ke..."wajah Malvin berubah melihat Embun yang lemas," Kenapa wajahmu pucat begitu? Kamu sakit?"
"Begitulah"
"aaah, ya sudah. aku akan menjemputmu sekarang." kata Malvin dibalik sepiker.
"Tadi kita mau kemana?"
"Nggak usah lain waktu aja."
"aku tutup ya, tunggu istirahat disana."
"Baik. aku tunggu."
Sambungan telp terputus.
Embun meletakkan hpnya, dia lalu kembali tidur.
Dia mau membawaku kemana sih? Bersemangat sekali, tapi malah tiba-tiba batal, gara-gara liat wajah pucat ini.. Dasar Malvin. pikir Embun mengulas senyum.
_____€€€_____
Readers, mohon dukungannya ya,biar othor semangat up terus.
Like dan komen.
Terima kasih
Salam____
😊,