
Embun berjalan mengendap ke dapur. Disana ada seorang koki dan dua orang asisten koki. Mereka terlihat berbincang. Embun berdehem. Mereka terlihat kaget akan kedatangan Embun.
"Boleh saya pinjam dapurnya? Saya ingin membuat sesuatu."ucap Embun meminta ijin.
"Anda ingin apa Nyonya?"
"Saya hanya ingin membuat masakan."
"Kami bisa membuatnya untuk anda. Anda ingin makanan apa?"tanya koki.
"Saya ingin membuatnya sendiri. Bolehkah saya pinjam dapurnya?"
Koki dan asisten koki saling berpandangan.
"Tentu saja."
Embun tersenyum ramah. "Dimana tempat penyimpanan bahannya?"
"Apa yang ingin anda buat Nyonya?"
Embun tersenyum lagi.
Didapur, Embun terlihat sedang mengupas beberapa kentang dan lobak oren, sedikit daging cincang, memotong bawang bombay dan menyiapkan bumbu.
Yaahh, Embun memang sedang menyiapkan bahan Kare. Kay dan Catty melongok dapur.
"Ibu bikin apa?"
Embun tersenyum.
"Coba Kay lihat. Dari bahanya apa menurutmu?"
Kay dan Cat melihat-lihat.
"Sup ya Aunty?" Catty mencoba menerka.
"Nonono." Embun tersenyum sembari menggeleng."Coba lagi."
"Kare ya?"
"TETOT! benar!"Embun menyentil hidung Kay.
"Ayo bantu Aunty." Embun menggeser tubuh Catty agar mendekat.
"Kamu potong kentang dan Kay potong lobak oren."
Kedua gadis muda itu terlihat antusias memotong kentang dan wortel. Jika Kay memang suka memasak seperti ibunya,maka Cat hanya ikut-ikutan saja. Dia memang tak pernah berada didapur rumahnya. semua sudah disiapkan koki. mau apa tinggal perintah saja.
Kare siap dimasak. berikutnya mereka membuat kroket dan pastel. Kedua gadiis itu sangat senang mereka bercanda sambil memasak. sesekali mereka mencomot kroket dan pastel yang sudah matang. Tanpa mereka sadari sepasang mata biru menatap sedari tadi merungkai senyum diwajahnya.
"Sepertinya aku melewatkan sesuatu? Disini ramai sekali." ucapnya bersandar menyamping pada pembatas ruang.
Kay, Catty dan Embun menoleh.
"Daddy!" Catty berlari memeluk daddy nya. Lagi -lagi itu membuat Kay sedikit cemburu. Dia tak memiliki ayah sehangat Daddy Mal.
"Kay?"
"Hheeemmm?" Kay menoleh,pipinya sudah terpencet Jari Embun yang memang sengaja dipasang disana.
"Kamu menghancurkan Pastelnya."
"Aaaa.. maaf ibu."
Embun tersenyum. Dia tau Kay merasa iri, ayahnya tak pernah memeluk hangat dirinya.
"Uncle punya oleh-oleh untukmu." Malvin memdekatkan tubuhnya pada Kay.
"Benarkah?" mata Kay berbinar.
"Hmmm.. Tapi Kay harus memeluk Uncle dulu." Malvin merentangkan tangannya.
Dengan senyum lebar Kay memeluk Malvin yang berbalik memeluknya.
"Coba Uncle lihat, kamu seberat apa?" Malvin mengangkat tubuh Kay membuat gadis kecil itu tertawa kegirangan."Ternyata kamu lebih ringan dari catty yang gendut."
"Daddy!" Catty tak terima dikatai gendut. Dia sudah mengerucutkan mulutnya.
Dengan girang Kay dan Catty berlari kecil ke ruang utama. Kini hanya tinggal Mavin dan Embun didapur. Wanita itu kembali menggoreng Pastel.
Malvin mendekat dan mematikan kompor. Embun berbalik dengan malas.
"Mal?"
"Kamu nggak merindukanku?"
"Apa yang kamu harapkan dariku?"
"Cintamu."
Embun tertawa lucu.
"Sudahlah Mal."berbalik menghidupkan kompor lagi. Malvin kembali mematikan kompor membuat Embun kembali berbalik hendak protes.
"Aku serius." Malvin menatap dalam-dalam dan mencium bibir Embun, wanita itu membalasnya.
"Daddy!"
"Ibu.."
Ciuman mereka terhenti oleh suara pekikan Kay dan Catty. Wajah Embun sudah memerah. Dia salah tingkah sudah tertangkap basah oleh anak-anak. Sementara Malvin justru terlihat santai. Tak menunjukkan ekpresi apapun. Itu membuat Embun canggung. Tangannya bahkan masih melingkar di pinggang Embun.
"Daddy! Daddy menyuruh Cat dan Kay ke ruang utama agar bisa mencium aunty Embun kan?"
Mata Embun membola mendengar pertanyaan gadis kecil berambut pirang itu.
"Waahh, hebat sekali. Bagaimana kamu bisa tau?" balas Malvin santai.
"Daddy licik!"
Pria itu malah justru memeluk Embun dari belakang membuat Embun tersentak kaget.
"Kau keberatan?" memicingkan matanya dengam senyum tipisnya.
Embun merasa canggung mencoba melepaskan diri.
"Lepaskan aku Mal."bisik nya pelan penuh penekanan.
"Diamlah. Kamu nggak lihat anak itu memusuhiku sekarang."balas Malvin berbisik. menggerakkan kepalanya menunjuk Catty yang terlihat mensedakepkan tangannya dan cemberut.
"Karena itu lepaskan aku."bisik Embun kesal."Kau juga mau dia memusuhiku?"
"Tentu saja. itu artinya kita dikubu yang sama."
"haaaahh...." Embun menyentak nafas kesalnya. Menatap Malvin tak percaya.
"Daddy! Kau membuat Mommy Kay tak nyaman. Lepaskan Dad!" Catty berlari mendekat.
Mencoba melepaskan tangan Daddynya yang melingkar diperut Embun.
"Daddy lepaskan!" Catty memukul-mukul tangan Malvin.
"Coba saja." Malvin semakin mengeratkan pelukannya, dia menggoyangkan tubuh Embun dan tubuhnya sendiri kekanan dan kekiri. Menghindari tangan Catty yang berusaha melepaskan tangan Daddynya.
"Lepaskan Dad!" Catty semakin kesal, "Kay! bantu aku!"
Kay mematung. Entah mengapa dia tak suka melihat pemandangan itu.
"Kay!" seru Catty menoleh.
"Kay...." suara Catty melemah melihat Kay yang justru menangis.
Melihat Kay yang menangis Embun terdiam dan tersayat hatinya. Kay berlari menjauh dari dapur.
"Kayla!"lirihnya mencoba melepaskan tangan Malvin. Pria itu langsung melepaskan pelukannya. Embun berlari menyusul Kayla.
Catty melihat sengit pada Daddynya.
"ini semua salah Daddy membuat Kay menangis." ketus Catty memukul Daddynya. "Catty benci Daddy!"
Gadis itu ikut berlari meninggalkan Malvin.
Shiitt! Aku tak memperhitungkan perasaan Kay. Bagaimana aku bisa terlewat. Batin Malvin penuh sesal mengusap kasar wajahnya.