Dia Adikku Bukan Istriku

Dia Adikku Bukan Istriku
Baiklah. Kita akan menikah


Keanehan yang dibuat Noah beberapa hari ini benar-benar menganggu Zoe. Di kelas-pun ia hanya diam tak aktif seperti biasanya. Teman-teman Zoe juga heran tapi mereka tak bertanya karena tahu Zoe bukan tipe yang mau bercerita soal urusan pribadinya.


Sampai kelas profesor Fheng selesai. Zoe mengemasi buku-bukunya lalu berjalan keluar dari kelas sendirian. Zoe tak punya banyak teman selain Pomey dan Lionger karena hanya dua gadis itulah yang cocok dengannya.


"Apa kau merasa Zoe sedang tak baik-baik saja?" Gumam Lionger menatap ke arah pintu dimana Zoe sudah tak ada.


Pomey si gadis yang suka sekali berhias itu sedang memakai bercermin. Ia tak begitu peka akan perubahan Zoe.


"Bedaknya habis mungkin."


"Idiot!" Maki Lionger pada Pomey yang mengangkat bahu acuh.


Mustahil Zoe kehabisan bedak. Apapun di dunia ini bisa gadis cantik primadona sekolah itu beli karena status keluarganya tak main-main.


Sementara di dekat tangga darurat sana, Zoe tengah duduk melamun sendirian. Masih ada satu mata pelajaran yang harus di selesaikan barulah bisa pulang.


Tapi, pikirannya sudah tak bisa tenang.


"Sebaiknya aku izin," Gumam Zoe punya niat seperti itu untuk pertama kalinya.


Tapi, jika di pikir-pikir lagi apa alasannya untuk izin? Semua orang akan curiga padanya.


"Bagaimana caraku agar bisa cepat keluar dari sini?"


"Bolos yuk?"


"Astaga!" Zoe terperanjat saat tiba-tiba Ziochi muncul di belakangnya.


Ntah dari mana gadis badas ini muncul, Zoe sungguh di buat jantungan.


"Ochi! Jangan mengejutkan kakak. Kau ini benar-benar." Mencubit halus telinga Ziochi yang meringis karenanya.


"Sakit, kak! Lagi pula, kenapa sering sekali ke tempat sepi seperti ini. Mau di perkosa?"


"OCHII!!" Pekik Zoe menampol bibir pink mungil tipis Ziochi yang justru terkikik puas melihat wajah kesal Zoe..


"Bercanda, kak!"


"Jangan bicara melantur. Kau kenapa kesini? Kelasmu ada di bawah-bukan?" Tanya Zoe membiarkan Ziochi duduk di sampingnya.


Lengan seragam Ziochi dilipat ke atas hingga separuh lengan di dekat bahunya terlihat jelas. Putih, mulus dan sangat badas.


"Bosan kak! Kumis piranha itu tak berhenti mengoceh. Telingaku sakit."


"Jadi kamu bolos kelas?" Syok Zoe dan Ziochi mengangguk tanpa dosa.


"Selagi kumis piranha yang mengajar, aku tak mau masuk kelas."


"Kenapa?" Tanya Zoe dengan alis mengkerut.


Ziochi menghela nafas. Ia memeluk lengan Zoe menyandarkan kepalanya ke bahu sang kakak.


"Dia yang memberiku surat peringatan itu. Mommy jadi marah-kan?!" Dengusnya kesal.


Bibir mungil berisi Zoe terangkat tipis. Kedua pipinya naik hingga membuat dirinya terlihat sangat cantik dan menggemaskan.


"Siapa suruh Ochi berkelahi, hm?" Mengusap kepala adik nakalnya itu.


"Dia yang mulai duluan kak."


"Memangnya dia melakukan apa?" Tanya Zoe mengusap lembut kepala Ziochi bak seorang ibu. Itu karenanya Ziochi sangat manja pada Zoe yang memang begitu lembut dan perhatian.


"Dia mengambil permen karet yang di belikan calon suamiku. Ck, ingin sekali ku robek mulutnya itu."


"Dasar anak nakalnya daddy. Pergi sana, masuk kelas!"


"No! Kumis piranha belum keluar. Malas masuk kelas jadinya," Tolak Ziochi tapi Zoe tak semudah itu menurut.


"Ochi! Jangan sampai mommy memarahi mu lagi karena bolos terus. Kasian daddy jadi kena imbasnya."


Bukannya iba Ziochi justru tertawa geli membayangkan bagaimana malangnya sang daddy yang selalu kena sembur setiap ia membuat masalah.


"Kenapa tertawa?"


"Daddy itu lucu. Padahal badannya lebih besar dan kuat dari mommy. Bisa-bisanya dia seperti anak ayam di depan mommy, kak!" Menertawakan daddy bucinnya itu.


"Ochi! Jika kau sudah mencintai seseorang pasti, seberapa kuat dan besarnya kekuasaanmu, kau tak akan mampu berkutik."


"Seperti kak Noah dan kak Zoe!"


Degg..


Ucapan Ziochi tanpa sadar membuat jantung Zoe berdegup kencang.


"Kak Noah tak pernah menolak permintaan kakak. Bisa di bilang kak Noah akan sangat marah saat aku mengajak bolos kakak seperti tadi. Bayangkan saja wajah tampan kak Noah merah padam kala tahu aku membawa kakak ke club."


Zoe tersenyum kecil. Saat itu Ziochi bolos dan memaksa Zoe untuk ikut ke club menerobos masuk padahal Ziochi masih di bawah umur. Saat itulah Noah benar-benar marah hingga tak mengajak bicara Ziochi sampai satu minggu kedepan.


Tapi, bukan Ziochi mananya jika menurut dan patuh. Bisa dikatakan ia adalah wujud setan yang nyata menghasut Zoe untuk bolos sekolah.


Ziochi berani karena daddy Zhen adalah bekingan terkuatnya. Jika mommy Moa mengamuk, ia akan bersembunyi di pelukan daddynya.


"Bolos sesekali tak akan membuat kita mati, kakak! Ayo-ku ajak ke club!"


"Pergi ke kelasmu, SEKARANG!" Tekan Zoe tak terpengaruh bujuk rayu Ziochi yang mencebikan bibirnya kesal.


"Ok ok! Cerewet!"


"Kakak laporkan pada mommy!"


"Fineee!!! Okk, aku pergi!" Pekik Ziochi dengan malas beranjak dan melangkah gontai menuju lift.


Zoe hanya mengulum senyum bangkit dari duduknya lalu berjalan pergi ke kelas.


Pelajaran berlangsung seperti biasanya. Tapi, kali ini Zoe berusaha fokus pada kelas Fisika yang menguras otak.


Karena Zoe memang cerdas, jadilah ia tak ada kendala apapun dalam mengerjakan soal.


Setelah dua jam pelajaran kelas-pun selesai. Zoe berkemas dan melihat lembar soal Fisika yang tadi belum sempat ia kerjaan seluruhnya.


"Apa aku minta bantuan kakak saja?!" Batin Zoe tersenyum licik.


Ia pura-pura saja tak mengerti seperti biasanya karena ingin Noah mengajarinya secara langsung.


Zoe senyam-senyum tak jelas membayangkan rencananya itu. Tanpa Zoe sadari, para laki-laki di kelasnya itu sedang mencuri-curi pandang padanya.


"Zoe!" Panggil Lionger mendekati Zoe.


"Yah? Kalian langsung pulang-kan?" Tanya Zoe menyandang tasnya. Ada dua buku tebal di tangan Zoe yang sempat ditatap aneh oleh sosok laki-laki yang duduk paling sudut.


"Kau pulang dengan Ximen?" Tanya Lionger dengan nada penuh arti.


Yah, Zoe tahu Lionger memang memendam rasa pada Ximen tapi kulkas seratus pintu itu sangat membuat orang takut mendekat.


"Tidak. Hari ini aku di jemput kakakku."


"Kalau begitu. Bagaimana kalau aku dengan Ximen? Soalnya m..mobilku rusak," Gagap Lionger mengusap tengkuknya canggung.


"Boleh. Nanti-ku katakan padanya!"


"Makasiih, cintaa!!" Pekiknya memeluk Zoe penuh semangat.


Zoe hanya tersenyum ikut keluar bersama Lionger. Sedangkan Pomey jangan di tanya. Ia sudah lebih dulu memburu ketua kelas di kelas sebelah.


Mereka turun ke lantai bawah dimana kelas 10 juga sudah keluar. Zoe melirik Lionger yang memeggangi jantungnya gugup bertemu Ximen.


"Jangan berlebihan."


"Zoe! Bisa-bisa aku mati berdiri, sumpah!" Lebay Lionger membuat Zoe tersenyum kecut.


Matanya menangkap sosok remaja tampan mendominasi yang bersinar diantara banyak orang yang ada di lantai bawah.


"Itu dia!"


"Astaga!" Lionger berbalik merapikan penampilannya.


Zoe menggeleng halus karena Ximen sudah mendekat ke arahnya.


"Ayo pulang!"


"Kakak di jemput kak Noah!"


"Hm. Aku duluan," Santai Ximen tak peduli akan keberadaan Lionger yang masih menyiapkan mental.


"Ximen! Bisa antar pulang Lionger? Mobilnya rusak."


"A..iy...iya, rusak!" Lionger berbalik menatap Ximen yang justru menyorot dingin padanya.


"Dia tak tahu pulang dengan siapa."


"Ku pesankan taksi," Singkat Ximen mengeluarkan ponselnya memesan angkutan.


Lionger lesu. Zoe hanya bisa menghela nafas karena Ximen memang tak bisa di bujuk.


"10 menit. Kau bisa menunggu!"


"B..bisa."


Ximen beralih pada Zoe yang mengangguk tahu Ximen meminta izin. Remaja berjuta pesona itu berjalan pergi tanpa menoleh. Lionger mengigit tali tasnya kecewa.


"Haiss.. Kenapa dia sangat dingin?! Apa kekuranganku?"


"Banyak," Sambar Zoe lalu berlari keluar pintu sekolah saat Lionger mengejarnya karena kesal.


"Zooee!! Awas kau yaa!!"


Zoe hanya acuh tetap berlari menuju area gerbang sedangkan Lionger sudah ngos-ngosan berhenti sejenak lalu kembali mengejar Zoe.


Tapi, langkah Zoe terhenti saat mobil yang familiar di benaknya itu sudah terparkir di dalam gerbang dengan dua penjaga yang tampak segan pada sosok di dalamnya.


Senyum Zoe mengembang kala melihat siapa yang keluar dari dalam benda mahal itu.


"Kakak!!" Pekiknya langsung berhambur ke dalam pelukan kekar Noah yang melepas kacamatanya membalas pelukan Zoe sang adik kesayangan.


"Kenapa berlarian, hm?" Memasukan kacamatanya ke dalam mobil.


"Tidak ada. Kakak sudah lama disini?" Tanya Zoe tapi kedua tangannya masih membelit pinggang tegap Noah yang di baluti kemeja dan jas.


"Baru saja."


"Ayo pulang!"


"Zoee!!" Lionger baru sampai dan sontak ingin memukul bahu Zoe tapi tangannya langsung di cengkal tangan besar milik Noah yang seketika menajamkan matanya.


"Z...Zoe!" Lionger jantungan sekaligus salah tingkah melihat sosok bule tampan berambut coklat dengan rahang tegas tanpa jambang itu.


"Kak! Dia temanku!"


"Jangan asal memukul adikku!" Tegur Noah melepaskan cengkalannya.


Lionger tak bisa berkedip menatap wajah tampan Noah. Dagu agak terbelah dengan alis tebal tapi rapi dan mata coklat yang dihiasi bulu mata lentik yang khas.


Pipi Lionger bersemu memang tak tahan dengan pesona pria tampan.


"Zoe! Dia kakakmu?" Berbisik di telinga Zoe karena baru kali ini ia bertemu Noah karena biasanya Noah menjemput Zoe tapi tak pernah turun dari mobil.


"Iya. Kak Noah!"


"Bibit-bibit keluarga Ming memang luar biasa. Tak bisa dengan Ximen yang ia juga boleh."


Zoe langsung menampol mulut Lionger yang langsung mengerucutkan bibirnya.


"Zoe! Kau kebiasaan main tampol sembarangan."


"Mulutmu itu minta di jahit!" Ketus Zoe memeluk posesif Noah membuat Lionger berdecih.


"Dasar pelit!"


"Masa bodoh," Acuh Zoe membiarkan Lionger pergi ke gerbang karena taksinya sudah datang.


Tapi, ia curi-curi pandang dengan Noah yang terlihat sangat berkharisma dan tampan dengan jas dan dasi di leher kokohnya.


"Kakak!"


"Hm?" Jawab Noah masih nyaman berpelukan di luar sini.


Tak peduli dengan banyak orang yang memandangi mereka karena Zoe memang tipe yang acuh dan punya dunianya sendiri.


"Kakak nanti pulang jam berapa?" Tanya Zoe menumpu dagu di dada bidang Noah menikmati aroma parfum cool pria ini.


"Larut. Ada banyak pekerjaan di kantor. Kenapa?"


"Zoe ada tugas Fisika. Zoe belum paham cara mengerjakannya." Mengerucutkan bibir manyun.


Noah tersenyum tipis mengacak puncak kepala Zoe. Ia mengeratkan pelukannya ke pinggang Zoe karena Noah peka ada yang sedang menatap mereka dengan niat buruk dari arah parkiran sekolah.


"Nanti kakak usahakan pulang cepat!"


"Benar, ya?"


"Apapun untuk adikku!"


Cup..


Zoe mengecup pinggir bibir Noah yang tersenyum kecil. Ia sudah biasa dengan sikap manja Zoe yang ia anggap biasa dan lumrah.


Puas berpelukan di luar, Noah membukakan pintu mobil untuk Zoe lalu ia juga segera duduk di kursi kemudi.


"Kak! Baterai ponsel Zoe habis. Pinjam ponsel kakak!"


Noah memberikannya tanpa ragu. Zoe tersenyum bahagia membuka ponsel Noah yang mengemudi stabil keluar area sekolah.


"Aku yakin. Wanita itu yang menggoda kakak duluan," Batin Zoe pura-pura main game padahal ia mencari nomor yang kemaren menghubungi Noah.


Bei La. Benak Zoe masih ingat dengan nama wanita terkutuk itu. Zoe mengingat-ingat nomornya lalu membuka menu pesan.


"Mau makan apa? Baby!"


"A..makan seafood!" Jawab Zoe asal sesekali menatap Noah yang fokus berkendara.


Mata Zoe kembali melihat layar ponsel ini. Tapi, belum sempat ia menggulir ke atas tiba-tiba ponsel Noah berdering. Buru-buru Zoe mengeluarkannya dari menu pesan itu.


"Siapa baby?"


"Bei La!" Pancing Zoe karena memang nama Bei La yang tertulis di sana.


"Matikan saja!"


"Kenapa? Siapa tahu ini ada yang penting?"


"Matikan. Tidak ada yang penting selain membawamu makan," Ucap Noah tapi ada penekanan di setiap kata MATIKAN.


Zoe menurut mematikan sambungan itu. Ia kembali membuka game kelinci dan singa yang memang telah ia mainkan sejak kecil di ponsel Noah dan ponselnya.


"Kak!" Panggil Zoe tapi mata dan jarinya tak beralih dari layar ponsel.


"Hm?"


"Apa kakak mau menikah denganku?"


Ciiittt..


Noah langsung menginjak rem dan kepala Zoe nyaris membentur kaca depan jika tangan Noah tak sigap menahan kening Zoe yang syok memucat.


Ponsel Noah masih di tangan Zoe tapi segera jatuh karena jantung Zoe nyaris copot.


Melihat wajah syok Zoe, Noah seketika gelisah dan cemas.


"Maafkan kakak. Kau baik-baik saja-kan?" Menangkup pipi Zoe yang terasa dingin.


"Zoe! Tolong jawab!" Terlampau cemas.


Zoe mengangguk kecil mengambil ponsel Noah yang jatuh ke bawah kursi mobil lalu meletakkannya ke tempat pengisian daya di depan kemudi.


"Zoe! Jawab kakak dulu!"


"Iya."


Noah lega segera menarik Zoe ke pelukannya. Ia tadi terkejut mendengar pertanyaan Zoe yang mendadak seperti itu.


"Maaf ya. Kakak hampir saja melukaimu."


"Tidak apa. Zoe yang salah," Jawab Zoe mengerti.


"Zoe! Soal pernikahan itu kakak juga bingung. Melawan mommy tidak mungkin."


"Kalau begitu kita menikah saja!" Sambar Zoe menatap wajah tampan Noah yang terlihat berat.


Tapi, hati Zoe sudah tak bisa dikatakan baik. Ia egois, ya. Zoe akui dia egois dan tak peduli apapun yang terjadi kedepannya, ia akan tetap menikah dengan kakaknya Noah seorang.


Membayangkan jika Noah di miliki oleh orang lain sudah membuat Zoe terasa sangat sakit. Pikirannya kacau dan niat-niat jahat itu memenuhi kepalanya.


"Zoe setuju menikah dengan kakak."


"Kau masih kecil. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa di permainkan," Ucap Noah menepuk kepala Zoe yang menggeleng.


"Kak! Zoe tak mau melihat mommy berdebat terus dengan kakak. Coba saja menikah."


"Zoe! Kakak.."


"Zoe mohon! Kita menikah saja supaya mommy senang. Zoe mau mommy bahagia."


Noah terdiam. Jujur ia tak pernah ada niatan menikahi Zoe karema baginya, Zoe sudah seperti adik kandung. Sudah gila ia menikahi adiknya sendiri.


"Kak!"


Noah mengambil nafas dalam. Mengingat bagaimana perjuangan mommynya selama ini, Noah jadi merasa kecil dan tak berharga.


"Baiklah. Kita akan menikah."


Demi apa sekarang Zoe sangat-sangat senang. Impian terbesarnya akan terwujud. Ia akan menikah dengan pria yang sangat ia cintai.


....


Vote and like sayang