
Pagi ini mereka berangkat menuju apartemen. Barang-barang yang mereka bawa juga tidaklah banyak hanya pakaian masing-masing saja. Untuk peralatan dapur dan sebagainya, apartemen itu sudah sangat lengkap di siapkan oleh Noah jauh-jauh hari.
Setibanya di sana Noah membantu menatap pakaian mereka di lemari begitu juga Zoe. Bisa saja Noah meminta pelayan tapi Zoe tak mau karena ia bisa mengatur segalanya.
"Zoe mau pisah kamar?" Tawar Noah seketika menghentikan tangan Zoe yang sedang menata pakaian di lemari besar walk in closet.
"Memangnya kenapa kak?" Tanya Zoe bernada rendah.
Noah yang berdiri di belakang Zoe segera melanjutkan pekerjaan Zoe yang tadi tertunda karena ucapannya.
"Kakak tak memaksa Zoe untuk satu kamar. Disini ada dua kamar yang kosong. Jika Zoe mau, bisa pindah!"
"Kakak tak mau satu kamar dengan Zoe?" Tanya Zoe dengan suara kecewa dan tatapannya juga sendu.
Noah menoleh. Ia meletakan satu piyama tidur Zoe di lemari tepat di samping pakaiannya lalu menghela nafas.
Bukan tanpa alasan Noah mengatakan itu. Ia ingat saat malam pernikahannya kemaren mata Noah tak sengaja melihat tubuh Zoe. Sejak itulah Noah berjaga-jaga.
"Zoe sudah besar. Pasti butuh privasi."
"Tidak. Zoe takut jika tidur sendirian di kamar asing. Zoe tak biasa, kak!" Kilah Zoe memanfaatkan sikap penakutnya.
"Kenapa takut? Disini hanya ada kita berdua dan satu pelayan."
"Zoe tak biasa. Akhir-akhir ini Zoe sering mimpi buruk," Gumam Zoe menunduk meremas jemarinya.
Mendengar itu Noah akhirnya tak lagi bicara membujuk atau meminta Zoe pindah kamar. Ia juga tak tega membuat Zoe ketakutan.
"Ya sudah. Tidur di sini saja."
"Kakak juga disini-kan?" Tanya Zoe dengan tatapan berbinar penuh harap bak anak kucing.
Siapa yang akan menolak jika sudah di tatap menggemaskan oleh netra emas gadis ini?!
"Baiklah. Kakak disini."
"Yeeyy!!!"
Cup..
Zoe kembali mencuri kecupan di sudut bibir Noah yang hanya menggeleng dengan senyum tipis.
"Ayo makan. Zoe pasti lelah-kan?"
"Iya, kakak! Bibi sudah masak-kan?"
"Sudah."
Zoe menggandeng lengan Noah keluar kamar menuju ruang makan. Bibi Anmo sudah menyiapkan makanan di meja makan dan itu semua makanan kesukaan Zoe.
"Seafood? Kakak yang minta?" Menatap Noah dengan binar bahagia.
"Tentu."
"Kakak yang terbaik," Sorak Zoe duduk di kursinya sedangkan Noah duduk di samping Zoe yang sudah ngiler melihat banyak kerang, udang dan kepiting yang di masak dengan menu berbeda.
"30 menit lagi kakak akan ke perusahaan. Boleh?"
"Bukankah kakak cuti?" Tanya Zoe menautkan alisnya.
"Yah. Tapi, Vivian tadi menelepon jika ada sedikit masalah yang harus kakak tangani. Tak apa-kan jika Zoe di apartemen dulu? Jika mau keluar Zoe bisa gunakan mobil kakak di bawah."
Zoe mangut-mangut mengerti. Noah mengisi piring Zoe dengan makanan seakan gadis itu tak boleh lelah sama sekali.
Zoe hanya diam menyukai sikap manis kakaknya yang selalu membuat hatinya meleleh.
"Kakak! Zoe sangat mencintaimu. Zoe akan berjuang mendapatkan cinta kakak," Batin Zoe menatap lembut wajah tampan Noah yang terlihat telaten menata isi piringnya.
"Makanlah. Melamun tak akan membuatmu kenyang."
"Aak!" Zoe membuka mulutnya minta di suapi.
Tanpa menolak sedikit-pun Noah menyuapi Zoe dengan telaten. Bibi Anmo yang melihat dari arah dapur hanya tersenyum karena bibi Anmo juga berasal dari kediaman Ming. Jadi, ia sudah hafal dengan sikap manja Zoe pada Noah kakaknya.
"Kakak juga makan!"
Alhasil mereka makan sepiring berdua. Sudut bibir Zoe terangkat puas karena rencananya berhasil. Perlahan-lahan tapi pasti akan ia ambil hati kakaknya.
Selang 20 menit berlalu mereka selesai makan. Noah pergi ke kamar untuk bersiap ke perusahaan sementara Zoe membantu bibi Anmo membersihkan piring-piring makan mereka.
"Tidak usah, nona! Biar bibi saja."
"No! Bibi kerjakan saja yang lain. Biarkan ini aku yang cuci," Pinta Zoe tersenyum seraya melapisi tangannya dengan sapu tangan khusus mencuci piring lalu mulai bekerja dengan telaten.
Bibi Anmo tersenyum melihat wajah bahagia Zoe yang bersenandung kecil mencuci piringnya dengan bersih.
Ini impian Zoe. Hidup berdua dengan kakaknya dan ia bekerja seperti ibu rumah tangga mengurus pria itu.
"Aku sudah gila," Gumam Zoe tersenyum geli membayangkan jika kelak hubungannya dan Noah naik satu tingkat lebih serius.
Aarggg..Zoe tak pernah bisa membayangkan sebahagia apa ia saat itu.
"Zoe! Kakak pergi!" Suara Noah turun ke dapur dengan dahi mengkerut melihat gadis itu mencuci piring.
"Kenapa bekerja? Biarkan bibi Anmo yang mencuci piring," Tanya Noah dengan intonasi sedikit tak suka.
"Lain kali jangan begini. Kakak tak ingin Zoe lelah. Paham?" Tegas Noah mengecup pelipis Zoe yang tersenyum senang.
"Kakak sudah siap?" Tanya Zoe menatap penampilan sempurna Noah yang sudah rapi dengan jas dan kemejanya.
"Hm. Kakak pergi. Jangan sampai kelelahan!"
"Iya, kak! Lagi pula hanya cuci piring tak akan membuat tangan Zoe patah."
Noah hanya mengangguk lalu pergi. Di sela langkahnya keluar pintu apartemen, Noah mendapat panggilan dari Vivian yang pasti sudah menunggu di depan.
Kepergian Noah membuat apartemen ini jadi sepi. Zoe tak lagi bertingkah dan terlihat lebih serius.
"Bibi! Aku ingin bicara denganmu!"
Bibi Anmo yang tadi ada di luar area dapur segera mendekati Zoe yang mengelap tangannya dengan tisu.
"Ada apa? Nona!"
"Aku mau mengantarkan makan siang untuk kakakku dan aku juga mau memasak setiap hari untuknya. Jika kakak tahu dia tak akan suka jadi, aku mau bibi berbohong sedikit."
Bibi Anmo terkejut. Wajahnya terlihat pucat karena ia tahu Noah tak pernah suka jika Zoe menginjak dapur dari dulu.
"Nona! Sebaiknya jangan. Lebih baik bibi yang masak."
"Bi! Aku ingin mengurus kebutuhan suamiku sendiri. Bisa, ya?" Pinta Zoe sedikit memohon.
Bibi Anmo akhirnya setuju walau ada rasa was-was jika sampai tuannya tahu.
"Bibi jangan khawatir. Kakak tak akan marah."
"Tapi, nona janji jangan sampai terluka."
Zoe mengangguk dan mulai semangat memasak. Ia selama ini hanya terlihat begitu manja tapi percayalah, Zoe bisa melakukan apapun bahkan melebihi ekspektasi kakaknya.
.......
Sementara di perusahaan, Noah terlihat sangat sibuk. Satu hari tak masuk kerja membuatnya kewalahan menangani beberapa masalah yang tiba-tiba saja muncul padahal kemaren Noah sudah pastikan semuanya aman.
"Kenapa bisa tuan Li Han memutuskan kerja sama kontrak kita?" Tanya Noah serius pada Vivian yang berdiri di meja kerjanya.
"Dia mengatakan jika tuan tidak profesional. Proyek yang di bangun bahkan belum selesai tapi tuan sudah tak mau menghadiri meeting dengannya kemaren."
"Kekanak-kanakan," Desis Noah melempar dokumen itu ke lantai.
"Tuan! Tak hanya tuan Li Han tapi Mr Robert dan Nicholas juga mulai ragu akan kerja sama kita."
Noah menghela nafas. Pasti sudah ada campur tangan seseorang yang telah membuat citra perusahaan sedikit tercoreng sampai para investor mulai ragu untuk tetap bekerjasama.
"Jika seperti ini terus, nama perusahaan pasti akan tercoreng. Walau kerugiannya tak akan membuat perusahaan bangkrut tapi, masalah sekecil ini harus tetap di tangani agar tak membuat ancaman besar nantinya, tuan!"
"Bukankah saat pernikahanku kau yang menghadiri meeting?" Tanya Noah pada Vivian yang mengangguk.
"Benar, tuan! Tapi, mereka tak setuju jika kedatangan tuan di wakilkan. Mereka menganggap tuan tak serius dengan proyek itu."
Noah diam. Tak biasanya para investor berani bicara seperti ini. Biasanya mereka tak akan mempermasalahkan apapun yang Noah lakukan karena selama ini Noah memang sangat profesional dan cerdas.
"Ada yang sudah melindungi mereka," Gumam Noah menganalisis semua ini.
"Maksud, tuan?"
"Tuan Li Han awalnya membuat keributan dengan menyebarkan rimor kalau aku meremehkan para investor di perusahaan ini. Jadi, yang lain mulai tak nyaman dan ikut memberontak. Pergerakan mereka pasti sudah didalangi oleh seseorang," Gumam Noah dengan dugaan selalu teliti.
"Tuan benar. Jika tidak ada tameng, mereka tak akan berani bermain-main."
Noah meremas pulpen di mejanya. Sejak daddy Zhen menyerahkan perusahaan penuh kepadanya para cacing yang dulu bersembunyi mulai menggeliat tak nyaman.
"Kirim bawahan untuk memantau nyonya Xizie dan suaminya. Hanya dua manusia ini yang selalu membuat ulah di manapun!"
"Baik, tuan!" Jawab Vivian segera menghubungi bawahan mereka.
Noah bersandar di kursi kerjanya. Sejak ia menduduki kursi presdir di perusahaan, banyak yang tak setuju bahkan terang-terangan menolak.
Tapi, karena Noah sudah membuktikan kinerjanya selama 2 tahun setelahnya perusahaan menjadi sangat jaya bahkan bisa melampaui kinerja beberapa presdir di masa lalu.
Daddy Zhen juga mengakui hal itu. Noah bekerja keras membawa perusahaan sampai mekar dimanapun penjuru dunia.
Tapi, keluarga Ming sempat menentang karena perusahaan ini hak Ximen yang merupakan putra kandung daddy Zhen. Tapi, karena Ximen tak ada ketertarikan dengan dunia bisnis, jadilah Noah maju walau terpaksa.
Drett..
Satu pesan masuk ke ponsel Noah yang membuat perhatian pria tampan itu tersita. Tatapan dingin Noah menyorot layar ponselnya yang mendapat pesan dari seseorang di luar sana.
KAK! BEI LA MENELEPHON-KU. DIA MENGANCAM JIKA SAMPAI AKU TAK MENIKAHINYA, MAKA DIA AKAN BERTEMU KEDUA ORANG TUAKU. TOLONG TANGANI DIA DULU SAMPAI AKU LULUS SEKOLAH, KAK.
Noah menghela nafas. Kenakalan remaja memang membuatnya pusing apalagi, permintaan lelaki ini memberatkan hidupnya.
"Jika sampai ibumu tahu, kau akan habis olehnya," Gumam Noah mau tak mau harus mengurus ini lebih dulu.
...
Vote and like sayang