
“Jangan diamkan aku kayak gini, Mara!” ujar Akram menahan tangan sang istri.
“Apa sih, Mas?!” balas Amara melepas tangan suaminya pelan.
Keduanya memilih diam ketika langkah kaki sudah mengayun menuju meja makan. Tak ingin pertengkaran itu didengar oleh kedua orang tuanya. Ya ... sejak dua hari yang lalu Amara masih enggan kembali ke rumah suaminya.
“Ayah ke mana, Bu?” tanya Amara ketika melihat kursi sang ayah tampak kosong.
“Ayah harus ke Semarang. Ada urusan mendadak. Tadi habis subuh berangkat,” jelas Raisa.
“Urusan pekerjaan?”
“Mungkin. Ibu gak sempat tanya karena ayahmu tampak buru-buru.”
Amara mengangguk paham. Dia melayani suaminya seperti tak pernah terjadi apa pun di antara mereka.
“Kalian menginap lagi?” tanya Raisa menatap anak dan menantunya.
“Enggak, Bu. Nanti sore aku jemput Mara sekalian pulang kantor,” sahut Akram, sebelum Amara menjawab.
“Ibu nanti ada acara sama teman-teman. Pulangnya agak malam. Kalau mau jemput Mara gak usah nunggu ibu pulang ... biar gak kemalaman.”
“Iya, Bu,” sahut Akram dengan senyum menawan seperti biasa.
Saat Raisa tak memperhatikan. Diam-diam Amara mendelik tajam ke arah Akram.
“Kamu sudah janji sama mama cuma dua hari,” bisik Akram lembut.
Setelah sarapan, Raisa pamit pergi. Dia ada janji bersama dengan orang yang akan menjadikan restoran miliknya sebagai langganan catering harian, untuk salah satu perusahan yang baru-baru ini tengah naik daun.
“Aku masih mau di sini. Kalau kamu mau pulang duluan saja, aku bisa balik sendiri nanti, Mas,” kata Amara yang masih bersikap dingin.
“Mara ... tolong hentikan kemarahanmu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik dengan kepala dingin.”
“Kamu gak bisa menjelaskan apa pun, Mas. Ceritamu gak bisa membuktikan apa-apa. Seharusnya kamu cari tahu. Jika perlu kamu lakukan test DNA!”
“Aku sudah melakukannya bertahun yang lalu.”
“Lalu ... hasilnya?” tanya Amara dengan tatapan menyelidik.
Selalu saja.
Saat Akram tak bisa menjelaskan apa pun, dia selalu memilih bungkam.
“Mas!”
♡
♡
♡
Akram menjambak rambutnya frustrasi. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk meyakinkan Amara.
Sejujurnya Akram yakin, jika tak terjadi apa pun di masa lalu bersama dengan Zivanna. Namun, keyakinan tanpa bukti itu adalah hal yang sia-sia. Bahkan test yang dilakukan menunjukan kecocokan DNA mereka.
“Ada apa, Pak?”
Akram terkejut bukan main saat mendengar suara lain di dalam ruangan kerjanya. Dia menoleh dan mendapati sang asisten duduk di sofa dengan santai.
“Sejak kapan kamu di sana? Kenapa gak ketuk pintu dulu sebelum masuk!” omelnya kesal.
“Saya sudah ketuk pintu beberapa kali tapi bapak malah melamun. Sebentar lagi akan ada rapat dengan Pak Gunawan, saya perlu menyiapkan berkas-berkasnya oleh karena itu saya terpaksa masuk. Maaf atas kelancangan saya, Pak.” Pria dengan kacamata yang membingkai wajah itu tampak menyesal.
Akram menghela napas panjang dan memijat pelipisnya pelan. Sejak hubungannya dengan Amara memburuk, semua fokusnya terpecah.
“Ya sudah. Tidak apa-apa. Bisa kamu gantikan menemui Pak Gunawan sendirian? Kepalaku sedikit pusing.”
“Tapi Pak—”
“Baik, Pak.”
Sebagai bawahan, mau tak mau Hakim hanya bisa pasrah dengan keputusan sang bos. Setelah membereskan berkas yang diperlukan Hakim segera pergi.
Ruangan kembali hening setelah pintu ruangan tertutup rapat. Akram menyandarkan tubuhnya lagi dengan mata terpejam dan ingatan yang terlempar jauh pada kejadian di masa lalu.
♡
♡
♡
Kemarahan dan sikap dingin Amara benar-benar bertahan lama. Meskipun di depan orang sikap keduanya biasa saja, hanya agar tak mengundang berbagai tanya, juga tak ingin mengumbar masalah yang tengah dihadapi.
Mobil melaju membela jalanan sore yang selalu ramai oleh para pengguna jalan. Akram yang ada di balik kemudi sesekali menoleh ke arah Amara yang diam saja dengan melempar pandangan keluar.
“Mau makan di luar gak?” tanya Akram mencairkan keheningan yang menyiksa.
“Enggak, Mas,” jawab Amara tanpa menoleh.
“Mau mampir beli sesuatu? Susu hamil masih ada? Atau kamu gak pengen apa gitu biar suamimu sedikit berguna,” ujar Akram masih mencoba membujuk.
“Enggak, Mas. Stok susu dan vitamin masih ada,” jawab Amara menolak.
Pegangan pada kemudi semakin mengerat. Akram tak tahu lagi harus membujuk Amara dengan cara apa.
Jalanan di depan tampak padat, bahkan mobil yang dikendarai Akram hanya merayap. Tidak ada lagi obrolan setelah Amara selalu menolak apa pun yang ditawarkan.
Sekitar satu jam perjalanan, mereka telah sampai. Amara segera turun dan masuk ke dalam rumah yang tampak sepi. Tak mau ambil pusing kakinya mengayun menuju kamar dan memilih membaringkan tubuhnya.
Saat pintu kamar terbuka Amara langsung memejamkan mata.
Meskipun sadar Amara hanya pura-pura. Akram memilih tak menegur dan segera membersihkan diri.
♡
♡
♡
Suara azan berkumandang membuat Akram membangunkan Amara yang pada akhirnya jatuh terlelap.
Akram meminta Amara untuk membersihkan diri dan salat berjemaah.
“Ya Allah ... Engkau adalah dzat yang maha mengetahui apa pun yang telah terjadi. Tolong berikan petunjuk untuk masalah yang tengah kuhadapi. Jika pun itu sebuah kebenaran, tolong luaskan hatiku untuk menerima apa pun garis takdir yang Engkau berikan. Jika semua yang terjadi memang tidak benar, tolong berikan petunjuk terbaikmu.”
“Aamiin.”
Di belakang tubuh Akram, Amara menitikkan air mata dan segera mengusapnya pelan. Tak ingin suaminya melihat jika dirinya lemah.
“Mara,” ujar Akram membalikkan tubuhnya dan menatap Amara lembut. Saat kedua mata mereka bertemu ada sebuah perasaan hangat yang menyerbu dada. Perlahan tangan Akram terangkat dan mengusap pipi istrinya. Masih tampak terlihat jejak air mata yang membasahi bulu mata lentik wanita itu. “Jangan menangis.”
“Enggak.” Amara menunduk menyembunyikan wajahnya.
“Untuk apa pun yang terjadi. Kumohon tetaplah percaya padaku, seperti ucapanmu. Bahwa dalam pernikahan dibutuhkan kepercayaan satu sama lain.”
“Aku—”
“Jika ada masalah, mari kita selesaikan dengan kepala dingin. Masalah itu dihadapi, bukan dihindari.”
“Aku gak sanggup, Mas. Andai kenyataan gak sesuai dengan keinginanku.” Amara menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Menikah itu bukan hanya tentang kebahagiaan saja, Mara. Ada pula masalah yang mengiringi di dalamnya. Mungkin ini adalah ujian kita ... semoga kita bisa melewatinya.” Akram menarik Amara ke dalam pelukan. Membenamkan kecupan di puncak kepala istrinya berulang kali.
“Aku akan membuktikan bahwa Ibra bukan anakku dan gak ada yang pernah terjadi di antara aku dan Ziva.”
To Be Continue ....