
Setelah tiga hari berlalu, Amara kembali ke Kota Lamongan sendirian dengan membawa mobil merah kesayangannya, yang dibeli dengan menggunakan uang tabungannya. Mungkin itulah yang membuat Amara bangga dengan mobil itu.
Tak lupa banyak oleh-oleh juga memenuhi mobilnya. Sengaja dia membeli banyak karena tahu di sana bukan hanya ada Aisha, Fatimah dan Umi Rahma, tetapi banyak penghuni lain yang sebagian mungkin tidak dikenalnya.
Amara memarkirkan mobilnya di sebelah mobil pribadi milik Ustadz Yusuf. Dia meminta beberapa santriwati yang kebetulan lewat untuk membantunya membawa kardus ke rumah.
“Terima kasih sudah bantu, ya,” kata Amara dengan senyum menawan.
“Sama-sama, Mbak Mara. Kami pamit dulu, ya. Assalamu’alaikum.”
Setelah Amara menjawab salam, tiga santriwati itu pergi. Amara mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah. Umi Rahma datang dari lantai dua dan menyambut kedatangannya, mereka berpelukan sejenak.
“Umi pikir Mara gak kembali ke sini,” kata Umi Rahma dengan nada bercanda.
“Mana mungkin aku pergi tanpa pamit, Umi. Bagiku di sini sudah seperti rumah kedua, aku masih betah tinggal di sini. Umi gak keberatan, kan?”
Wanita paruh baya itu menggeleng pelan. “Umi justru sangat senang. Mara boleh tinggal di sini kapan pun kamu mau.”
Amara menunjuk ke arah lima kardus besar yang dibawa. Dia mengatakan untuk membaginya, oleh-oleh yang jauh di bawa dari Surabaya.
Umi Rahma tampak sungkan, tetapi Amara meyakinkan bahwa itu hanya sedikit yang bisa dibawa. Mungkin lain kali dia akan membawa yang lebih banyak lagi.
Wanita paruh baya itu tampak menatapnya intens hingga Amara menjadi salah tingkah. Seburuk apa pun dirinya di masa lalu, Amara memang sosok yang royal, pada saudara atau temannya.
“Kebetulan aku mau tanya sesuatu dengan umi. Ini menyangkut masalah pribadi sih.” Amara tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih. “Saat aku pulang kemarin, aku bertemu dengan temanku. Dia izin ingin melamar pada orang tuaku, tapi aku sudah katakan yang sejujurnya bahwa aku sedang gak ingin menjalin hubungan apa pun atau memikirkan tentang pernikahan. Apa aku menyakitinya, Umi?”
“Mungkin dia akan sedikit kecewa dengan jawabanmu. Tapi kamu sudah benar dengan mengatakan kejujuran meskipun sedikit menyesakkan dada. Sebab dalam pernikahan bukan hanya butuh cinta dan kasih, tapi juga butuh sebuah komitmen untuk menghadapi mahligai pernikahan yang tak selamanya akan baik-baik saja.”
Amara mengangguk. “Tapi aku sedikit tersentuh sikapnya yang tenang dan gentle dengan ingin memintaku langsung pada orang tuaku.”
“Islam gak pernah mengajarkan tentang pacaran. Karena dalam kenyataannya dua insan yang berlainan jenis gak bisa terhindar dari berdua-duaan. Lalu akan terjadi pandang memandang dan sentuh menyentuh. Perbuatan ini sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari’at. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah An-Nur ayat 31 yang artinya : Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara ***********.”
“Bukankah ta’aruf itu pacaran versi islam, Umi?”
“Intinya kan sama saja, Umi. Sebuah proses untuk saling mengenal satu sama lain. Apa bedanya dengan pacaran?” Amara masih tidak paham.
“Dalam proses ta’aruf, ada batasan dan etika seperti dilarang memandang atau menyentuh, dilarang berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Hal tersebut dilarang karena dapat menimbulkan hal-hal yang haram menurut agama Islam. Jadi jika pria dan wanita bertemu harus ada pihak ketiga yang menemani. Itu pun bahasan mereka bukan merajuk pada kata rayuan, melainkan perkenalan untuk membahas tujuan menikah dan menentukan masa depan seperti apa setelah menikah.”
Amara menyimak serius penjelasan panjang lebar yang diberikan Umi Rahma. Dia memang miskin ilmu, tetapi ilmu bisa dipelajari jika ada niat dan keinginan.
“Dalam sebuah hadits Rasulullah mengingatkan : Jangan sampai kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya), karena setan adalah orang ketiganya.”
Amara menganggukkan kepala. Sudah sering dia mendengar candaan orang-orang di sekitarnya untuk tidak berduaan dengan lawan jenis, karena yang ketiga bisa jadi setan.
Islam tidak pernah mengingkari adanya cinta. Karena dalam Islam cinta merupakan fitrah dan murni pemberian dari Tuhan yang ada dalam diri manusia. Namun, bukan berarti cinta bisa menghalalkan segala hal tanpa adanya ikatan pernikahan.
“Itulah sebabnya pria dan wanita diperintahkan menundukkan pandangan dari lawan jenis, dimaksud untuk menjaga pandangan agar tidak diarahkan begitu saja tanpa kendali dengan syahwat, sehingga dapat memicu pelakunya, laki-laki atau perempuan untuk berpikiran dan bertindak asusila.”
“Sebentar, Umi.” Amara seperti memiliki sebuah pertanyaan yang mengganjal di pikirannya. “Maksud umi menundukkan pandangan hanya untuk menghindari syahwat, kan? Gak mungkin semua orang akan bergairah saat menatap lawan jenisnya,” kata Amara sedikit frontal.
Umi Rahma terkekeh pelan. Baginya pertanyaan Amara sama sekali tidak salah, hanya saja mungkin harus lebih diperhalus lagi. “Pandangan yang terjaga adalah apabila memandang pada lawan jenis, gak mengamati secara intens keelokannya dan gak lama menoleh kepadanya, serta gak memusatkan pandangan pada sesuatu yang dilihatnya itu.”
Amara diam, mencerna kata Umi Rahma dengan hati-hati agar tak sampai salah tafsir.
“Paham gak? Kalau gak paham, tanyakan saja. Umi akan jawab.”
Amara menggeleng pelan. Otaknya masih belum sinkron dengan logika dan kenyataan yang sering dilihatnya.
Menurutnya perintah menjaga pandangan itu hampir mustahil dilakukan. Sebab, banyak orang lebih tertarik dengan tampilan fisik dibandingkan isi hati atau pikiran.
“Aku masih gak paham, Umi. Banyak hal yang akan kutanyakan nanti, ini pembahasan yang menarik. Tapi aku izin ke kamar dulu, mau mandi dan salat.”
Setelah mendapat izin, Amara segera naik ke kamarnya.
To Be Continue ....