
Mirna saat ini berada di dalam kelas seorang diri. Karena semua teman-temannya, tengah pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka. Karena memang, hari mulai siang. Tentu saja semua orang mulai kelaparan. Dan memutuskan untuk segera menuju ke kantin.
"Kok kamu nggak ke kantin?"tiba-tiba saja seseorang bertanya kepada Mirna. Hingga membuat gadis itu, seketika terlonjak kaget.
"Kak Ridho?"kini giliran wajah Mirna yang tampak terkejut. Karena gadis itu, melihat wajah teman laki-lakinya itu tampak penuh dengan luka lebam.
"Ini kenapa?"tanya Mirna Seraya menyentuh daerah yang terluka itu.
"Hanya luka kecil saja, kamu tidak perlu khawatir seperti itu."ucap Ridho Seraya tersenyum tipis.
Membuat Mirna, seketika menjauh dari laki-laki itu Soraya menundukkan kepalanya karena merasa malu dengan apa yang ia perbuat itu.
Sementara Ridho yang melihat itu, semakin merasa aneh dan semakin yakin jika gadis yang ada di hadapannya ini memiliki sebuah masalah yang cukup rumit.
"Aku tidak akan menyuruhmu untuk berbicara jujur. Tapi, satu hal yang harus kamu ingat, aku akan selalu ada disampingmu apapun yang terjadi."ujar laki-laki itu Seraya mengusap kepala Mirna dengan penuh kasih sayang.
Membuat Gadis itu pun, seketika menatap ke arah Ridho dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Terima kasih Kak,"ujar gadis cantik itu Seraya mengulas senyum tipis. Namun, senyuman itu segera pudar saat mengingat sesuatu yang telah dikatakan oleh laki-laki tua itu.
"Maaf Kak, aku harus pergi!"ujar Mirna Seraya beranjak dari tempat duduk melangkahkan kakinya untuk menuju ke perpustakaan.
Karena memang gadis cantik itu dari awal sudah mengincar tempat yang sepi untuk menenangkan pikirannya. Akibat dari semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini.
"Sebenarnya, aku ini kenapa sih?"tanya Mirna pada dirinya sendiri. Karena memang gadis itu merasa sangat bingung dengan kondisi tubuhnya akhir-akhir ini.
Di mana saat dirinya didekati oleh suami tua bangkanya itu, rasa mual seketika langsung melonjak-lonjak ingin segera dikeluarkan. Ditambah lagi, dengan nafsu makan yang akhir-akhir ini sering meledak-ledak.
Bahkan, Mirna selalu minta dibawakan oleh Mbok Min makanan sisa atau hanya sekedar susu. Karena Marcella dan juga Nadira, tidak memperbolehkan Mirna untuk mengkonsumsi makanan di luar dari jatah.
Alhasil, Gadis itu sering sembunyi-sembunyi membawa roti ataupun buah ke dalam kamar untuk selanjutnya dimakan saat semua orang telah tertidur lelap.
"Untung aku punya ini!"senyuman Mirna seketika mengembang saat mengeluarkan beberapa kue kacang almond dari dalam saku seragamnya.
"Astaga ini enak sekali,"Gadis itu berkata dengan riang. Seraya sekali, matanya menatap ke sekeliling. Takut jika kepergok oleh orang lain. Karena memang, perpustakaan itu tidak boleh digunakan untuk menikmati suatu makanan.
Setelah selesai ngemil, Mirna segera mengambil Aqua gelas yang berukuran kecil dari dalam sakunya. Untuk selanjutnya meminumnya hingga tandas.
"Akhirnya aku sudah kenyang,"ucap Gadis itu Seraya mengusap perutnya dengan gerakan lembut. Seperti seseorang yang tengah mengusap kandungannya.
"Eh kenapa aku ini? Kenapa aku jadi usap-usap perut seperti ini?"tanya Mirna pada dirinya sendiri. Karena Gadis itu merasa sangat kebingungan dengan apa yang ia perbuat.
Tiba-tiba saja, pendengarannya seperti menangkap sesuatu. Suara yang sangat familiar di dalam indra pendengarannya itu. Dan dengan segera, Gadis itu mulai mencari dan meneliti dari mana asal suara itu.
Perlahan-lahan Mirna, melangkahkan kakinya untuk mendekati ke sumber suara itu. Namun, gadis itu tampak belum menemukan sesuatu yang mencurigakan.
"Mungkin cuma perasaanku saja,"gumam Gadis itu Seraya melangkahkan kakinya untuk kembali ke dalam perpustakaan.
Suara seseorang itu kembali terdengar di telinga Mirna. Suara itu Kini lebih jelas hingga membuat Mirna seketika terdiam. Dan dengan perlahan, gadis cantik itu membalikkan tubuh untuk melihat siapa orang yang telah memanggilnya itu.
Degh
Seketika, jantung Gadis itu seperti ingin lompat dari tempatnya saat melihat sosok yang ada di hadapannya itu. Sosok yang selama ini ia rindukan kehadirannya. Bahkan, Mirna sampai menepuk pipinyabeberapa kali. Untuk memastikan apakah semua ini benar ataukah hanya halusinasi semata.
"I....Ibu, " ucap gadis itu dengan tubuh bergetar hebat. Karena Mirna merasa tidak percaya bertemu dengan wanita itu di depan matanya.
"Sayang, Ibu rindu!"ucap Wati Seraya melangkahkan kakinya untuk mendekati gadis itu. Dan tiba-tiba saja...
Brugh
Dengan sekuat tenaga, Mirna menubrukkan tubuhnya kepada wanita paruh baya itu. Dan dengan segera, menangis tersedu-sedu seperti seorang anak kecil yang baru saja disakiti oleh temannya.
"Anak Ibu kenapa nangis? Bahagia berada berada di sana?"tanya Wati mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri dengan bertanya seolah-olah anaknya tengah mendapatkan kebahagiaan.
"Bu,"Mirna berkata dengan air mata berlinang. Tentu saja hal itu membuat pertahanan sang ibu, seketika luruh. Karena di dunia ini, tidak ada seorang wanita atau seorang ibu yang rela melihat darah dagingnya menderita.
"Jangan nangis sayang, Ibu janji akan menjagamu!"ucap Wati yang ikut melelehkan air mata.
"Aku takut Bu, aku sudah merasa tidak kuat!"ucap Gadis itu Seraya menatap mata ibunya yang selalu tampak menenangkan itu.
Wati yang mendengar itu sebenarnya hatinya merasa sangat hancur. Namun demikian, wanita paruh baya itu tidak bisa berbuat apa-apa. Karena memang, saat ini Mirna telah menjadi istri orang lain. Walaupun itu secara paksa, tapi itu adalah hal yang halal dan sakral.
Wati tidak bisa memisahkan atau membawa lari putrinya begitu saja. Karena pastinya, wanita paruh baya itu akan mendapatkan konsekuensi yang sangat berat. Atau bahkan kehilangan nyawa. Wanita paruh baya itu tidak takut jika akan kehilangan nyawa. Namun, dirinya hanya takut bahwa tidak akan ada yang melindungi Putri semata wayangnya itu.
"Maafkan Ibu sayang, tapi Ibu tidak bisa membantumu untuk keluar dari tempat itu. Karena kamu adalah istri dari laki-laki kejam itu."ucap Wati yang ikut membelai rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Tapi Ibu janji, akan membantumu saat kau sudah melahirkan nanti."ucap Wati secara tiba-tiba.
Tentu saja ucapan dari sang Ibu itu, membuat Mirna membulatkan kedua matanya. "Ha.....hamil? Ibu pasti bercanda!"ucap Gadis itu Seraya tertawa sumbang.
"Ibu tidak bercanda sayang, ibu dapat melihat aura kamu itu sangatlah berbeda dari gadis seusiamu. Dan Insting seorang ibu, tidak akan pernah salah."ucap wanita paruh baya itu Seraya mengusap perut Mirna yang masih terbilang rata itu.
"Tidak mungkin, pasti ibu berbohong kan,"ucap Mirna Seraya menggelengkan kepalanya.
Wati yang mendengar itu, kembali menitikan air mata karena merasa kasihan dengan nasib yang dialami oleh Putri semata wayangnya itu.
"Tidak sayang, Ibu tidak akan pernah bercanda dalam hal seperti ini,"
"Tapi bagaimana jika..."ucapan Mirna terhenti saat menatap wajah ibunya yang menampilkan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
Sungguh Mirna tidak akan pernah menyangka jika di dalam rahimnya telah tumbuh sesosok makhluk kecil yang akan sangat membutuhkannya.
"Kamu tenang aja, ibu akan bantu mengurus selama kamu hamil dan juga nanti akan ikut mengurus bayimu saat dia lahir. Karena perkembanganpun juga, ini adalah anak kamu darah daging kamu,"ucapnya Seraya menyentuh dan mengusap perut itu secara perlahan.