Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)

Demon King'S Daughter(TAHAP REVISI)
Bab 47-Bertemu kakek?


"anda mencium putri Kasumi?"


Yohan tersentak sambil menatap Yula yang mengatakan itu secara blak-blakan, dia langsung menggelengkan kepalanya menyangkal apa yang di katakan Yula.


"T..tidak, tentu saja saya tak melakukan itu!"


Yula menatap Yohan dengan tatapan tak percaya, kemudian ia menunjukkan ke arah telinganya yang tertutup rambut.


"Anda lupa jika saya naga? Lagipula ruangan itu tak memiliki sihir suara sehingga saya bisa mendengar semua yang anda bicarakan tadi."


Yohan langsung menjadi kikuk, wajahnya memerah, ia merasa malu karena menyangkal apa yang memang ia lakukan. Kemudian ia pun menganggukkan kepalanya.


"Apa anda mendengar semuanya?"


Yula memalingkan wajahnya, memandangi Miya yang masih berpelukan dengan Kasumi, posisi mereka agak jauh dari Yula dan Yohan.


Sir Arfen dan Sir Gerry membantu menaikan barang-barang ke dalam kereta, itu adalah Hadian dari Miya untuk Kasumi. Meski Kasumi sudah menolaknya tapi Miya tetap saja ingin memberikan itu padanya.


"Tidak semuanya, saya hanya mendengar saat anda menyatakan perasaan pada putri Kasumi setelah anda menciumnya"


Yohan menarik nafas lega, ternyata Yula tak mendengar saat ia membahas Kahill dan Daisy.


"Kenapa?"


"Tidak! Tidak apa-apa"


Yula tertawa pelan saat melihat ekspresi Yohan yang kikuk, menurutnya Yohan itu aneh. Dia tak mirip seorang pangeran di suatu negeri, saat Kasumi mengatakan jika Yohan adalah pangeran padanya ia tak mempercayai itu namun penampilan Yohan sudah menegaskan identitas yang di milikinya jadi meski sifat Yohan itu kikuk dan kadang ceroboh tapi dia tetap saja seorang pangeran.


"Saya harap sistem di kerajaan anda tak memandang sebuah pernikahan sebagai hubungan politik, karena jika seperti itu kedua pihak hanya akan memikirkan untung dan rugi saja dan tidak mempedulikan tentang perasaan."


Mata Yohan terbelalak kaget, wajahnya pun menjadi semakin merah.


"Pernikahan!?"


Yula mengangguk sambil menatap Yohan, dia tak mengerti kenapa reaksinya terhadap kata pernikahan sangat berlebihan begitu. Bukannya jika kita mencintai seseorang maka keinginan untuk menikah dengannya juga muncul?


"Benar, anda ingin menikah dengan putri Kasumi nanti bukan?"


Yohan langsung mengangguk meski dengan wajah yang terlihat malu.


"Tentu saja, itu jika putri Kasumi juga mau."


Yula tertawa lagi saat mendengar jawaban dari Yohan, ia merasa terhibur dengan wajah orang yang sedang kasmaran di depannya ini. Padahal wajah Yohan terlihat seperti orang yang selalu berurusan dengan wanita, namun ternyata dia lebih pengecut dari kelihatannya.


"Hahaha, anda sangat mencintai putri ya. Semuanya terlihat jelas di mata anda,"


Yula menjeda ucapannya sejenak, matanya yang abu-abu menatap ke arah Miya dengan fokus, tanpa sadar pupil matanya pun membesar saat ia menatap Miya di sana.


"Saat kita menatap orang yang kita suka, secara tidak langsung pupil mata kita akan membesar, jantung kita juga berdegup kencang. Itu karena rasa ingin memiliki dan melindungi seseorang yang kita cintai sangat besar, leluhur saya bilang jika cinta itu rumit namun juga sederhana,"


Kata-kata Yula terdengar sangat puitis di telinga Yohan, dia tak menyangka jika Yula pun bisa mengatakan itu dengan wajahnya yang serius. Yohan memperhatikan Yula sejenak lalu membuka mulutnya.


"Apa anda menyukai nona Miya?"


Yula menatap Yohan dengan tatapan tak percaya, alisnya mengernyitkan seolah kesal dengan ucapan Yohan tadi.


"Hah? Tentu saja tidak, rasa suka naga pelindung dengan anak yang di pilihnya hanyalah sebatas kakak dengan adik."


Yula menahan ucapannya sejenak, kemudian memalingkan wajahnya dari Yohan.


"Meski dulu aku pernah memiliki rasa yang melebihi itu sih,"


Ia mengatakan itu dengan sangat pelan, hampir tak terdengar oleh Yohan sekalipun.


"Maaf?"


"Tidak apa-apa, saya hanya bergumam saja tadi"


"tapi anda harus menunggu kan? bagaimana pun umur putri Kasumi masih anak-anak, saya tahu selera orang itu beda-beda namun tak saya sangka jika selera anda adalah wanita yang lebih muda bahkan sangat muda"


Yula menatap Yohan dengan tatapan horor, dia terlihat sangat menyeramkan saat mengatakan itu. Dia lupa jika Yula tak tahu tentang jiwa Kasumi yang sudah dewasa tak seperti tubuhnya.


"hahaha, tentu saja saya akan menunggu, meski tahun depan saya masuk usia dewasa tapi saya akan selalu menunggu putri Kasumi'


wajah Yula kembali seperti biasa, melihat perubahan ekspresi itu membuat Yohan yakin jika jawaban yang dia katakan tadi membuatnya puas. Jika tidak, mungkin saya Yula akan tetap menatap Yohan dengan tatapan horor seperti tadi.


"Lindungi orang yang anda cintai, anda tak tahu kan kapan dia akan meninggalkan anda? Selama dia masih ada hargailah itu"


Setelah mengatakan nya dengan ekspresi datar, Yula pun berjalan menghampiri Miya karena dia di panggil olehnya. Yohan masih diam di sana, dia melihat ke arah Kasumi yang sudah selesai berpelukan dengan Miya.


Mata mereka saling bertemu, namun Kasumi memalingkan wajahnya sehingga ia tak bertatapan dengan Yohan kemudian berjalan cepat dan masuk ke dalam kereta.


Wajah Yohan pun menjadi merah, dia berjongkok di sana sambil menutup wajahnya dengan tangan. Sir Gerry yang melihat majikannya itu merasa aneh, namun ia tak bertanya apapun padanya dan hanya memperhatikan saja.


'aku akan melindungi Kasumi di kehidupan sekarang, pasti!'


Di balik wajahnya yang merah seperti tomat matang, Yohan sudah membulatkan tekadnya untuk melindungi orang yang dia cintai, sama seperti apa yang di katakan Yula tadi.


******


Kasumi sudah masuk ke dalam kereta kuda, di dalamnya hanya ada Cendric yang sedang menunggu Kasumi.


"Kamu sudah mengucapkan selamat tinggal pada teman mu?"


Kasumi mengangguk singkat saat Cendric bertanya padanya.


"Iya ayah,"


Setelah itu mereka pun mulai pergi, Kasumi sedikit melambai keluar. Miya, Yula dan yang lainnya ada di sana melihat kepergian mereka.


Rion menaiki kereta kuda yang sama dengan Black dan Arfen, sedangkan Elios sudah pulang duluan sejak kemarin karena dia harus membereskan urusan di kerajaan Cyrent.


Di perjalanan, Kasumi hanya diam sambil melihat pemandangan di luar. Namun berbeda dengan tubuhnya yang diam, pikiran Kasumi sekarang sedang sangat kacau karena memikirkan kejadian beberapa menit yang lalu.


'gila! Sejak kapan dia menyukai ku!? Aku bahkan tak ingat pada pelayan yang bernama Daisy, ini pertama kalinya ada yang bilang suka padaku. Aku tak tahu harus melakukan apa'


Kasumi masih saja memikirkan tentang kejadian beberapa waktu yang lalu, tentang Yohan yang mengatakan jika dia menyukainya dan ciuman pertamanya yang di ambil oleh Yohan. Itu semua masih terlihat jelas di ingatan Kasumi, wajahnya pun masih merah sekarang.


Entah ia merasa malu atau mungkin senang, namun yang pasti Kasumi sekarang bingung harus melakukan apa saat ia bertemu dengan Yohan lagi nanti.


'yah toh aku tak akan bertemu dengannya lagi,'


Matanya kembali menatap ke luar, pemandangan di setiap jalan terlihat agak berbeda itu seperti bukan jalan untuk menuju gate.


"Ayah, apa kita akan mampir di suatu tempat dulu?"


Cendric menoleh ke arah Kasumi kemudian ia mengangguk singkat.


"Benar, ayah akan memperkenalkan kamu pada seseorang."


Kasumi memiringkan kepalanya, ia penasaran dengan sosok orang itu.


"Siapa?"


"Kakek mu"


"Kakek? Ayahnya ayah?"


"Tidak, dia ayah ibumu"


Terimakasih sudah baca, like dan komen>//<