Dear Khadijah

Dear Khadijah
51


...51....


“Acha....”


Biru meyakini, suara lengkingan dari dalam rumah jelas suara adik perempuannya. Ia berlari menghampiri arah sumber suara.


Ceklek cekle.


Pintu tertutup, Gorden jendela pun sama rapatnya.


Door door door.


“Mama! Cha!” teriak Biru Sabari menggedor pintu.


Brrakk!!


Tidak ada sahutan. Namun Biru mendengar suatu benda tumpul terjatuh.


“Mama!! Acha, buka pintunya!” Biru berteriak kembali memanggil-manggil Senja dan Barsha, namun tetap tidak ada sahutan.


Ia mengelilingi sudut halaman rumah, mencari celah untuk masuk atau setidaknya melihat keadaan di dalam rumah.


Nihil. Ia sudah mengitari rumah namun hasilnya tetap tidak menemukan celah untuk masuk.


“Arrgghh!!”


Biru geram. Sempat putus asa. Ia berpikir akan mendobrak pintu utama meski ia tahu pintu utama sangat kokoh dan sulit untuk di dobrak apalagi dengan tangan kosong.


Di tengah keputusasaan, Biru mendongak, sorot cahaya dari kamar Barid seolah memberi signal untuk dirinya. Ia menoleh kesana-kemari, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membantu naik ke atas kamar Barid.


Sekian detik Biru tetap menemukan apapun. Akhirnya ia melepas jaket, menaiki pilar berbekal tangan kosong. Sekuat tenaga ia merangkang keatas, sesekali ia mengusap telapak tangan pada jaket untuk mengurangi licin akibat keringat.


Perlahan namun pasti. Ia melangkah di atas genteng, merangkak melewati genteng yang basah. Biru sangat berhati-hati supaya tidak menimbulkan suara. Kemudian langkahnya terhenti begitu matanya menangkap sebuah mobil Jeep keluaran lama berhenti tepat didepan gerbang rumahnya.


“Jecin?” gumamnya melihat bayangan seorang gadis turun dari mobil. Matanya memicing demi memperjelas penglihatannya. “Shit!!” ia mengumpat melihat sosok lain bayangan di dalam mobil.


Biru melanjutkan langkahnya. Meninggalkan pandangan yang membuat darah di kepalanya mendidih bukan main. Ia merutuki diri sendiri yang menganggap enteng dua wanita sialan itu.


Tiba didepan jendela kamar Barid, Biru lekas membuka, untung saja jendela itu tak terkunci, sempat kesusahan awalnya, tapi berhasil ia buka dengan sedikit paksa. Ia segera masuk rumah memlalui jendela kamar Barid.


Satu hal yang ia banggakan dari dirinya. Bahwa dalam berpikir, otak kanannya lebih dominan. Sebab itu, ia lebih mengandalkan intuisi dan memahami situasi keseluruhan dengan lebih cepat. Ia membuka pintu kamar sembari mengangkat sedikit gagang pintu agar tidak menimbulkan suara. Setelah pintu terbuka, ia mengendap, melihat situasi rumah dari lantai atas.


Seketika hatinya tercabik, teriris perih melihat pandangan yang tersaji. Ia melihat dengan kedua matanya, Senja, Acha, dan satpamnya terikat satu sama lain dengan mulut tertutup kain.


Ia masih memantau sekeliling. Mencari keberadaan orang-orang didalam rumahnya. Tidak ada Awan karena setahunya, Awan sedang berada di luar negeri, dan pak Lukman yang telah ia kirim ke kampung pagi tadi.


Selain itu, total ada 2 pria bertubuh kekar di dalam rumahnya, serta beberapa orang diluar rumah, terdengar dari suaranya samarnya. Biru tak ingin gegabah dalam mengambil tindakan. Ia sadar lawannya tak sepadan, tak ingin usaha menolong keluarganya malah berujung hal yang tidak diinginkan, ia menyusun strategi.


Mula-mula Biru mengambil ponsel. Diam-diam merekam situasi yang terjadi dirumah. Setidaknya ia harus meminta bantuan pada orang lain. Setelah itu, ia mengirimkan video pada salah satu kontak di ponselnya.


Pranggg!!!!


Tidak sengaja ia menyenggol nakas saat ingin menyimpan ponsel ke saku. Nakas sedikit goyang lalu vas bunga pun terjatuh.


“Siapa itu?!!”


Bug..Bug..Bug..


“Aaahh, Bos!!” panggil pria plontos bertubuh kekar itu pada kawannya, “Target utama kita datang tak di jemput,” ujar pria tersebut.


Biru take steps. Melirik sekeliling mencari benda yang bisa ia jadikan tameng.


Pria didepannya memandang remeh Biru, “Turunlah. Kau kesini cari Ibumu, bukan?” tantangnya.


Biru mengambil langkah panjang. Melewati pria itu tanpa rasa takut sedikitpun. Namun ditengah tangga ia terjatuh karena didorong dengan kaki pria dibelakangnya.


Lalu suara tawa meledak oleh dua pria yang Biru pikir sebelumnya dua pria kembar, sebab ia tak menemukan perbedaan diantara mereka. Sama-sama bertubuh kekar dan kepala pelontos.


“Sayang Bos besar baru pergi. Harusnya dia lihat siapa yang datang,” ujar pria lainnya.


“Ab-bangg, mm-mmhh.”


Biru berlari memeluk Barsha yang kedua tangannya terikat kebelakang. Senja dan satpamnya pun sama.


“Kamu nggak papa, Cha,” sungguh pemandangan yang sangat miris. Ia sendiri tidak pernah membayangkan akan mengalami hal ini dari sekian kesempurnaan hidupnya sejauh ini.


“Ma...,” Biru memeluk Senja, mencium keningnya. “Maafin Biru nggak jagain Mama,” Senja hanya menganggung perlahan dalam tangisan pilunya.


Biru tak sebodoh itu. Saat memeluk Acha dan Senja, dengan tangan cepatnya ia melepas simpul tali satpamnya meski sedikit kesulitan. Ia memberikan kediapan mata pada Pak Agus, berharap satpamnya mengerti arti dari kedipan matanya.


“Apa mau kalian? Suruhan siapa kalian?!”


“Woaahh. Macan kandangnya keluar, Bos!!”


Pria lainya tersenyum menyeringai. “Tidak perlu kau tahu suruhan siapa kami. Cukup kau duduk bersama Ibu tiri dan Adik tirimu. Selesai tugasku,” jawabnya tanpa menoleh pada Biru.


“Ciih!” decih Biru. “Jecin? Suruhan Jecin atau Jihan.”


Dua pria itu bersitatap lalu menoleh kearah Biru bersamaan.


“Benar dugaanku! Fucking jerk!!”


“Lepasin mereka. Tadi kamu bilang aku target utama bukan?! Lepasin mereka. Cukup berurusan denganku.”


“Target utama?” ujar pria yang dipanggil Bos dengan sudut bibir terangkat, membuat Biru muak bukan main, “Siapa target utama? setahuku kalian semua yang berada didekat wanita itu adalah target utama bos besar,” pria itu menunjuk kearah Senja.


Biru tak menghiraukan kedua pria tersebut. Ia berjongkok didepan Senja. Melepas ikatan Senja juga Barsha.


“Siapa yang suruh lepas ikatan mereka?!!” bentak pria satunya. Biru tak memperdulikan ucapannya. Ia tetap melepaskan ikatan ditangan dan mulut. Lalu membawa Senja juga Barsha duduk di sofa.


Bug!!


Biru tersungkur. Ia ditendang dari belakang.


“Yaaaakkk.” Bug Bug Bug.


Pak Agus yang ikatan tangannya sudah terlepas sejak tadi, tak kuasa melihat anak majikannya di tendang hingga tersungkur. Ia pun berdiri, emosi hingga membabi buta memukul pria itu. Biru ikut mengambil ancang-ancang melihat pria satunya bergerak. Baku hantam tak pun terelakkan. Mereka saling menendang, memukul, mendorong hingga menghancurkan barang-barang disekitar.


Melihat Pak Agus terkukung dibawah pria lainnya. Ia melepaskan lawannya dan membantu Pak Agus dengan menendang punggung pria itu hingga terjatuh. Ternyata langkahnya salah. Saat tengah menolong Pak Agus, lawan kelahinya justru mengambil kesempatan mendekati Senja dan menjadikan Mamanya sebagai sandera dengan menempelkan pisau lipat tepat di leher Senja.


“Lepaskan kawanku atau kubunuh Ibumu.”