
Bukan Jihan
Kondisi jalan yang lengang membuat Biru leluasa menginjak pedal gas pada kecepatan tinggi. Ia tak peduli lagi dengan yang namanya keselamatan, ia hanya memikirkan agar cepat sampai ditempat tujuan.
Dadanya sungguh sesak membayangkan jika apa yang ia duga adalah sebuah kebenaran. Bagaimana mungkin seorang Ibu dengan tega melakukan hal keji hanya karena persoalan jabatan semata. Segila itukah Jihan dengan harta? padahal selama ini Jihan selalu menolak hasil kerja Biru dengan alasan masih memiliki penghasilan sendiri.
Setibanya di basement apartemen, Biru meloncat turun bahkan nyaris membanting pintu mobil. Langkanya tegas menapaki lorong mengarah ke lift. Astaga... Biru hampir memukul pintu lift yang tak kunjung turun. Sekarang ini menunggu 2 menit serasa menunggu seharian penuh.
Tanpa ragu, Biru menekan kombinasi angka pintu kamar apartemen Jihan. And double shot! Biru menarik satu sudut bibirnya. Menyeringai benci melihat Jihan tengah duduk bersama Jecin, menikmati wine di masing-masing tangan mereka. Apa mereka sedang merayakan setelah berhasil mencelakai Senja? Benar-benar duo wanita menjijikan, tapi baguslah, pekerjaannya menjadi mudah karena tak harus mencari mereka secara terpisah.
“Oh hai, Sayang... tumben kamu datang? bawa angin segar apa ini?” Jihan menyapa Biru tanpa beban, seolah ia didatangi anaknya tanpa tujuan khusus seperti biasanya.
Angin segar? Damn! Apakah kabar tidak bahagia darinya merupakan angin segar untuk Jihan? Astaga... ingin sekali Biru mengehempas perempuan-perempuan didepannya dengan sekali kibasan tangan.
“Kamu sendiri? Dimana istrimu yang hanya kelihatan matanya itu?”
Biru bungkam. Tak ada satupun dari pertanyaan Jihan yang ingin ia jawab. Ia berpikir sejenak, bagaimana mengatasi dua perempuan yang tidak tahu malu ini. Perempuan yang masih bisa duduk tenang setelah hampir melenyapkan nyawa seseorang.
Ekor matanya mengikuti Jihan yang beranjak dari tempatnya, mengambil gelas dan jus kemasan dari lemari pendingin kemudian dituangkan untuk dirinya.
“Kenapa diam saja? Ayo sini duduk, Mama mau dengar apa yang mau kamu sampaikan. Tidak mungkin kamu datang dengan mata berapi tanpa alasan,” ujar Jihan tenang, sedikitpun tidak merasa bersalah.
“Je rasa Tante butuh waktu berdua,” ucap Jecin setelah menatap Biru yang tak kunjung duduk. “Kalau gitu, Je pamit dulu, Tan.”
Biru menghadang langkah Jecin dengan kaki jenjangnya. Ia memberi tatapan tajam pada perempuan licik didepannya.
“Duduk!” ucap Biru pada Jecin.
Jecin terlihat kebingungan begitu Biru duduk dan mempersilahkan Jecin duduk dengan sorot mata mengintimidasi.
“Kamu kenapa sih, Bi?” Biru mengabaikan pertanyaan Jihan dan tetap menatap tajam Jecin sampai perempuan itu kembali duduk dikursinya.
Ia mengangkat gelas juice pemberian Jihan, menggoyang-goyangkan isi tanpa meminum, lalu meletakkan kasar gelas sampai menciptakan bunyi denting akibat gesekan kaca.
“Begini cara kalian merayakan keberhasilan?”
Biru melirik Jihan dan Jecin bergantian. Yang ia lihat, Jihan mengeryitkan kening sedangkan Jecin nampak terkejut. Raut wajahnya berubah pucat seketika, duduknya juga menjadi sedikit gelisah.
“Maksud kamu keberhasilan apa? Mama nggak ngerti.”
Tawa Biru meledak. Dalam keadaan seperti ini, Jihan masih bisa berkelit. “Serius Mama nggak tahu?!”
“Sumpah ya! Maksud kamu itu apa sih, Bi! datang-datang nggak seperti biasanya, sekarang bicara yang Mama nggak ngerti! ada apa sih?”
“Coba tanyakan pada sahabat Mama satu ini.”
Jihan beralih menatap Jecin. Entah ini sandiwara mereka atau bukan, tapi Biru melihat Jihan menginginkan penjelasan dari sikap Biru. Ia mengernyit, semakin tak paham saat Jecin memainkan tangannya seperti orang kebingungan.
“Jecin.”
“Maaf Tante, Je nggak tahu apa-apa,” secepat kilat Jecin menarik clutch bag lalu pergi dari apartemen Jihan tanpa pamit. Jihan yang terkejut melihat sikap Jecin berbalik menuntut penjelasan dari Biru.
Bingung? Benarkah Jihan tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu. Tetapi dia seorang model bukan? manusia dengan seribu topeng. Barangkali ini hanya sekedar acting mereka karena kepergok sedang merayakan keberhasilan bersama.
“Jawab Mama, Bi."
“Bukan Biru yang harus jawab, tapi Mama!”
“Apa yang harus Mama jawab?!”
Biru menenggak juice hingga tandas tak tersisa. Kerongkongannya mulai terasa panas, ia sandarkan punggung, seraya merogoh ponsel dari saku. Setelah membuka ponsel dan mencari apa yang ingin ia tunjukkan, Biru melemparkan ponsel pada Jihan.
Jihan mengambil ponsel dan mengamati layar, menggeser satu persatu foto di galeri dengan raut wajah yang tidak dapat Biru tebak.
“Senja? sakit dia? kecelakaan?” Jihan memicingkan mata hingga membesarkan gambar dari ponsel. Dahinya mengkerut membuat Biru semakin bingung.
“Kenapa Mama tega lakuin itu?!”
“Lakuin apa?” Jihan masih juga memasang wajah datar, “Maksud kamu, kamu nuduh Mama yang lakuin ini ke Senja?!”
Biru tak menjawab, hanya saja tak melepaskan pandangannya pada Jihan.
“Kamu nuduh Mama yang nyelakain Senja? Iya, Bi?!” Jihan meradang dengan wajahnya merah padam dan mata terbelalak, keadaan yang baru Biru lihat selama ini.
“Kamu pikir Mama segila itu?! ngapain aku nyelakain Senja! Kalau aku sepicik itu, sudah sejak dulu Senja aku celakain!”
“Ma!”
“Apa! Bisa-bisanya kamu datang kesini cuma buat nuduh Mama yang tidak-tidak, Mama kecewa sama kamu, Bi!”
“Aku tahu, Papa juga tahu, orang dibalik kecelakaan Mama adalah orang suruhan Jecin, lalu sekarang? kalian kedapatan pesta wine bareng, maksudnya apa?”
Brakk!! Jihan membanting ponsel Biru, menatap Biru seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan.
“Nggak mungkin Jecin, ngapain dia celakain Senja! kenal saja tidak!” Jihan masih membela Jecin bahkan setelah melihat foto video pada ponselnya.
“Karena itu Biru kesini....”
“Karena itu kamu tuduh Mama? Nggak masuk akal kamu, Bi. Aku memang tidak suka dengan wanita yang sudah merebut Papa kamu dari Mama, tapi Mama nggak sebodoh itu. Setidaknya dia berjasa menggantikan Mama buat jadi Ibu kamu.”
Ucapan Jihan nampak tidak wajar ditelinga Biru, dia masih mengingat jasa Senja saja suatu ketidakmungkinan yang bisa lolos dari mulut Jihan. Tetapi persoalan Jecin juga tidak dapat ia kesampingkan. Jika bukan Jihan dibalik ini semua, lalu siapa? Apa motif Jecin sebenarnya.
Berkali-kali ia melirik layar ponsel yang cahaya berpendar. Tertulis nama wife pada layar ponsel. Biru meraih ponsel, ia melangkah keluar balkon lalu menjawab panggilan Kha.
Assalamualaikum, Mas... Kata Papa kamu lagi pergi sebentar menyelesaikan urusan, apa masih lama?
“Nggak, sayang. Ini sudah selesai, aku langsung balik ke rumah sakit, kamu tunggu sebentar nanti kita pulang sama-sama.” Biru memutuskan sambungan, saat kembali masuk ia melihat Jihan tengah bersiap.
“Mama akan cari Jecin, Mama bakal tanyakan sama dia maksudnya apa mencelakai Senja. Kalau ternyata Mama tidak terbukti bersekongkol sama Jecin, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.”
Biru masih diam mematung saat Jihan keluar dan dengan kasar menutup pintu. Ia mengusap wajahnya berkali-kali, semakin bingung, sikap Jihan yang tidak terima di tuduh membuat Biru meragu. Benarkah bukan Jihan pelakunya?
Yang kemarin sempat negatif thinking sama Jihan, waktu dan tempat dipersilahkan bestieeee 😂
Thanks Luv yang masih setia baca sampai saat ini ,❤️